“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”
Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.
— Cinta Ribuan Duri —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 – Laporan yang Terpaksa
Pagi datang perlahan di rumah besar keluarga Rafa. Sinar matahari menembus tirai ruang makan yang lebar, jatuh di atas meja panjang yang sudah dipenuhi berbagai hidangan sarapan.
Namun suasana di meja itu tidak terasa hangat. Justru sebaliknya. Udara terasa tegang sejak pagi.
Ardila duduk di salah satu kursi dengan tubuh yang agak kaku. Di sampingnya, Resa duduk di kursi kecil yang tadi diminta oleh salah satu pembantu rumah.
Anak kecil itu terlihat masih mengantuk. Rambutnya sedikit berantakan, tetapi wajahnya tetap polos.
Resa memegang sendok kecil sambil sesekali menatap Ardila.
“Mama…”
Ardila langsung menoleh. Ia tersenyum kecil, walaupun senyum itu terasa pahit di hatinya.
“Iya?”
Namun sebelum Ardila sempat menyuapi Resa lagi, suara seseorang terdengar dari ujung meja
“Itu anak siapa sebenarnya?”
Suara itu milik Mama Rafa. Wanita paruh baya itu menatap Resa dengan wajah yang jelas tidak senang. Ardila menunduk sedikit sebelum menjawab. “Aku menemukannya di pom bensin.”
Mama Rafa langsung menghela napas tidak sabar. “Kamu sudah menjelaskan itu sejak tadi.” Ia menjatuhkan bobotnya, di Kursi makan
Papa Rafa yang duduk di samping istrinya ikut berbicara dengan nada serius. “Yang kami tanyakan adalah… apa kamu tahu siapa orang tuanya?”
Ardila menggeleng pelan. “Belum.”
Jawaban itu membuat Mama Rafa meletakkan sendoknya dengan cukup keras di atas meja. “Ini masalah besar.”
Ardila menatapnya. “Maksud Mama?”
Mama Rafa menatap tajam ke arah Ardila.
“Kamu membawa anak yang tidak jelas asalnya ke rumah ini.”
Ardila mencoba menjelaskan. “Dia sendirian dan menangis. Aku tidak mungkin meninggalkannya.”
Papa Rafa menghela napas panjang. “Kami mengerti niatmu mungkin baik.”Lalu melanjutkan perkataan nya “Namun orang lain tidak akan melihatnya seperti itu.”
Ardila mulai merasa tidak nyaman.
“Apa maksud Papa?”
Papa Rafa menatapnya dengan serius. “Bagaimana kalau orang tua anak itu sedang mencarinya?”
Ardila terdiam. Mama Rafa langsung menambahkan dengan nada tajam.“Bagaimana kalau mereka melapor ke polisi?”
Ardila sedikit menegang. Mama Rafa menatap Resa lagi dengan wajah tidak suka. “Kalau sampai polisi datang ke rumah ini…”cetusnya
“Orang bisa saja berpikir kita menculik anak itu.”tambah papa Rafa Kalimat itu membuat Ardila langsung mengangkat kepalanya.
“Aku tidak menculik siapa pun.” Mama Rafa menyilangkan tangannya.“Polisi tidak akan langsung percaya begitu saja.” Cibirnya
Suasana meja makan menjadi sangat sunyi. Rafa yang sejak tadi hanya diam akhirnya berbicara dengan nada datar.
“Mama benar.”
Ardila menoleh ke arahnya.
“Mas…”
Namun Rafa tidak terlihat membelanya. “Kamu seharusnya langsung melapor sejak tadi malam.”
Ardila menggenggam tangannya di bawah meja.“Aku hanya ingin memastikan dia aman dulu.”
Mama Rafa langsung memotong. “Sekarang kamu sudah memastikan itu.”
“Jadi tidak ada alasan lagi.”
Ardila menatap wajah mereka satu per satu.Ia tahu jelas apa yang mereka inginkan.Papa Rafa berkata dengan tegas, “Kamu harus melaporkan anak itu ke polisi hari ini.”
Ardila menunduk. Tangannya tanpa sadar mengusap rambut Resa yang duduk di sampingnya.Anak kecil itu masih terlihat sibuk dengan makanannya, tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Mama Rafa kembali berbicara,“Kami tidak mau keluarga ini terlibat masalah hukum hanya karena keputusanmu yang gegabah.”
Ardila menghela napas pelan.Ia sebenarnya tidak ingin berpisah dengan Resa begitu cepat.Entah kenapa hatinya terasa berat memikirkan anak kecil itu harus pergi.Namun ia juga tahu… ia tidak punya pilihan.
Ardila menoleh ke arah Rafa lagi. “Maksud Mas juga begitu?” Rafa menjawab tanpa ragu.
“Iya.” Jawaban singkat itu terasa seperti menutup semua kemungkinan.
Ardila akhirnya berkata pelan, “Baik.”
Mama Rafa langsung bertanya, “Baik apa?”
Ardila menarik napas dalam-dalam. “Aku akan melapor ke polisi.” Suasana meja makan kembali sunyi beberapa detik.
Papa Rafa mengangguk kecil. “Itu keputusan yang benar.”
Namun bagi Ardila… keputusan itu terasa seperti sesuatu yang dipaksakan. Beberapa saat kemudian sarapan selesai.
Ardila kembali ke kamar untuk mengambil tasnya. Resa berjalan kecil di belakangnya dengan langkah yang masih sedikit goyah. Ardila berjongkok di depan anak kecil itu.
“Resa.”
Anak itu menatapnya dengan mata besar.
“Iya, Mama?”
Hati Ardila kembali terasa aneh mendengar panggilan itu. Ia mengusap pipi kecil Resa dengan lembut. “Kita akan pergi sebentar.”
Resa mengangguk tanpa banyak bertanya. Ardila berdiri perlahan. Di dalam hatinya ada perasaan berat yang sulit dijelaskan.
Ia tidak tahu kenapa.Anak ini bukan anaknya.
Namun sejak semalam… kehadirannya terasa seperti sesuatu yang mengisi kesunyian di dalam hidupnya.
Beberapa menit kemudian mobil sudah siap di halaman.Ardila masuk ke dalam mobil dengan Resa di sampingnya.
Sopir rumah menutup pintu mobil dengan hormat. Mobil itu perlahan meninggalkan halaman rumah. Sepanjang perjalanan, Ardila hanya menatap keluar jendela dengan pikiran yang penuh.
Resa duduk di sampingnya sambil memegang tangan Ardila. Anak kecil itu terlihat sangat tenang. “Mama.”
Ardila menoleh.“Kenapa?”
Resa berkata dengan suara kecil, “Kita mau ke mana?”
Ardila menelan ludahnya. Ia menjawab dengan pelan,“Kita akan mencari rumahmu.”