Kevin Argantara, pewaris tunggal Argantara group. Namanya terkenal di dunia bisnis sebagai pengusaha muda ternama
Pertemuannya dengan seorang gadis cantik bernama Alanna Kalila, seorang pelayan disebuah Night Club membuatnya jatuh dalam pesona gadis tangguh itu
Keluarga besar jelas menolak seorang gadis dengan latar belakang yang jauh dibawah keluarga Argantara
Pernikahan Kevin dan seorang penulis cantik bernama Raina Soesatyo, putri keluarga Soesatyo akhirnya ditetapkan dan Kevin tak bisa lari dari perjodohan dua keluarga besar itu
Lalu akan seperti apa kisah cinta Kevin dan Alanna? Akankah pernikahan bersama gadis berhijab itu membawanya pada kebahagiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pandangan Pertama
"Cheers" Malam itu beberapa orang tengah menikmati malam mereka di sebuah Night club ternama di tengah kota, demi untuk merayakan hari ulang tahun seorang teman
Dentuman musik DJ menggema, mengisi suasana malam dengan pencahayaan minim
Kevin Argantara terpaksa ikut dalam pesta itu demi seorang teman. Sebenarnya ia tak begitu suka dengan tempat seperti ini, mengingat dari keluarga mana ia berasal
"Came on Vin! Ayo nikmati pestanya!" Ujar seorang teman
Beberapa teman wanita mulai duduk disamping pria tampan nan mempesona itu, dan Kevin tak suka ini
"Bentar! Gue kesana dulu!" Kevin menghindar, memilih melangkah meninggalkan sofa dimana teman-temannya berada
Baru saja beberapa langkah, tiba-tiba tubuh tegapnya menabrak seorang pelayan, membuat nampan berisi gelas yang dipegang oleh seorang gadis jatuh berserakan
"Maaf, maaf!" Kevin merasa bersalah, ia bersimpuh membantu sang pelayan
"Tidak apa-apa tuan, maafkan saya!" Sebagai seorang pelayan, ia tahu apa yang tidak boleh ia lakukan
"Alanna!" Gadis cantik itu mengangkat wajahnya, dengan cepat berdiri menunduk dihadapan seorang pria bertubuh gempal
"Maaf bos saya tidak sengaja!" Ucapnya seraya menunduk takut, tangannya menggenggam nampan dengan kuat
"Kamu tuh yaa! Baru kerja dua hari sudah bikin saya rugi!" Bentak pria yang merupakan seorang manager
"Maafkan saya bos, tolong jangan pecat saya!" Ucapnya memelas, membuat pria tampan disampingnya menatap kagum
"Maaf tapi saya yang salah bukan dia" Ujar Kevin
"Tapi tuan! Dia memang karyawan baru jadi tidak becus" Pria yang diketahui bernama Baron itu menunduk dihadapan Kevin yang merupakan tamu VVIP
"Tidak seperti itu! Saya harap anda tidak memecat dia!" Mendengar itu, Baron setuju dan membiarkan Alanna kembali bekerja
"Saya permisi tuan!"
Gadis cantik itu telah menghilang namun pandangan Kevin terus saja mengarah padanya
"Kevin, kamu kok gak nikmatin pestanya sih?" Seorang teman wanita bernama Meisya bergelayut manja di lengan kokoh nya
"Sorry May!" Kevin melepas tangan putih yang melingkar di lengannya
"Kamu kenapa sih?" Kevin tak menjawab, membuat Meisya merasa kesal
"Permisi!" Salah satu teman Kevin memanggil seorang pelayan
Seorang wanita dengan kemeja putih serta rok span berwarna hitam mendekat, tersenyum hormat dengan pandangan senantiasa menunduk
"Iya tuan!"
"Kamu beresin meja ini! Dan bawakan kami minuman baru!" Ujar sahabat Kevin bernama Aldo
"Baik tuan!" Pelayan wanita itu bersimpuh, memindahkan gelas yang kosong diatas meja beserta beberapa botol minuman beralkohol
Meisya tak sengaja melirik kearah Kevin yang sepertinya tak mengalihkan pandangannya dari pelayan itu. Hal itu tentu saja membuatnya kesal
Wanita seksi itu sengaja menyenggol tangan Alanna yang tengah memegang gelas hingga membuatnya jatuh dan membasahi kakinya
"Kamu!" Bentaknya membuat Alanna menunduk takut "Kamu gak tau berapa harga sepatu saya? Gaji kamu seumur hidup juga gak akan mampu menggantinya!"
"Maafkan saya nona!" Alanna benar-benar takut, ia tidak mungkin kehilangan pekerjaannya
"Saya akan panggil manager kamu!"
"Tolong jangan nona! Saya butuh pekerjaan ini!" Gadis cantik itu mengatupkan kedua tangannya didepan dada
"Cukup Mey, lo sengaja kan nyenggol dia?" Kevin menatap tajam sahabatnya itu
"Kamu belain dia!" Meisya menunjuk kearah wajah gadis yang sudah hampir menangis itu
"Dia gak salah! Lo yang sengaja!" Meisya mengepal, bagaimana bisa Kevin membentaknya demi membela seorang pelayan
Meisya duduk dengan kesal, terlebih melihat bagaimana sikap pria pujaannya yang terkesan lembut
"Kamu bisa pergi! Maaf untuk semuanya!" Ujar Kevin lembut
"Terima kasih tuan!" Alanna berlalu dengan membawa nampan, lalu tak lama seorang pelayan pria datang dan membawa pesanan orang-orang yang tengah berpesta
***
Alanna pulang kerumah dengan perasaan yang benar-benar lelah, hari kedua bekerja ia sudah dua kali hampir dipecat
"Aku capek banget! Gini banget sih nyari duit!" Keluhnya lalu berjalan gontai menuju rumah
"Baru pulang lo?" Seorang pria menghampirinya, pria itu memegang sebuah botol dan sepertinya tengah mabuk
Alanna tak menjawab, ia memilih mengabaikan dan berlalu menuju kamarnya, namun pria itu mencekal lengannya
"Mau kemana lo? Udah berani lo sama Abang lo sendiri?" Bentaknya
"Apaan sih bang! Lepasin! Lanna mau istirahat"
"Bagi duit!"
Alanna menghela napasnya, pekerjaan hari ini yang berat ditambah dengan pria tidak berguna seperti kakak sepupunya ini
"Lanna baru kerja dua hari bang! Lanna belum punya duit!"
Cengkraman di lengannya semakin kuat membuat gadis cantik itu meringis "Lepas bang!"
"Gue udah bilang buat jual diri aja! Tapi lo belaga sok suci!" Ucapan itu jelas melukai harga diri Alanna
"Lanna buka cewek kayak gitu!" Alanna memberanikan diri menatap kakak sepupunya itu membuat pria bernama Raja itu menatap tajam
"Kalau gitu biar gue nyicipin apa yang berusaha lo jaga ini!" Raja mendekatkan wajahnya pada area leher Alanna membuat gadis itu meremang
"Raja!" Suara seorang pria menghentikan aksi Raja membuat pria kurang ajar itu mendengus kesal
"Ngapain sih pak? Ganggu aja!" Ujarnya kesal
"Lo mau nyentuh adik sendiri?" Kesal pria paruh baya itu
"Ck, kita bukan saudara kandung jadi gak masalah!"
"Breng___" Pria paruh baya itu tampak marah "Masuk Alanna! Dan kunci pintu kamar kamu!"
Alanna menurut, dengan langkah cepat ia masuk kedalam kamar dan menutup rapat pintunya
Alanna bersandar didepan pintu, air matanya luruh mengingat apa yang baru saja ia alami
Ini bukan hal baru, selama beberapa bulan tinggal bersama keluarga sang bibi membuatnya kerap mengalami hal tidak menyenangkan dari kakak sepupunya
Andai kedua orang tuanya masih ada, tentu ia tak akan mengalami semua ini. Mungkin pendidikan nya juga tidak harus putus
Alanna bangun lebih awal, matanya tampak sembab karena terlalu banyak menangis. Pagi ini ia harus membuat sarapan lalu berangkat kerja
Jika malam hari ia bekerja di klub malam maka siang harinya ia bekerja disebuah mini market
"Kamu sudah bangun Alanna!" Gadis cantik itu terlonjak, tiba-tiba saja suami dari tantenya berdiri dibelakangnya
"Iya om!" Alanna selalu menunduk, terlebih tatapan pria paruh baya itu terlihat menakutkan
Alanna terlonjak kala tangan pria setengah baya itu mengusap bahunya "Kamu jangan capek-capek! Kasian kamu nanti!"
Alanna mundur, tubuhnya mulai gemetar namun berusaha untuk tetap tenang. Melihat Alanna mundur, Bara mendekat, beruntung Silvia sang istri datang
"Udah siap sarapannya Lan?" Tanya Silvia
Alanna mengangguk "Alanna siap-siap dulu yaa Tan, mau kerja soalnya!"
Silvia hanya mengangguk lalu pandangannya tertuju pada sang suami yang terlihat kesal
"Ada apa mas?" Tanya wanita empat puluh tahunan itu pada suaminya
"Gak pa-pa, udah ayo sarapan!" Bara duduk di kursinya, menahan rasa kesal karena kesenangannya terganggu