Di mata dunia, Michael Brown atau Kay adalah pewaris tunggal Brown Group yang angkuh dan bad boy penggila balap liar. Namun, di balik gelar playboy palsunya, Kay menyimpan rahasia: ia telah lama memperhatikan Paris Desmon, gadis pendiam yang menjadi satu-satunya ketenangan di tengah kepalsuan sekolah elit mereka.
Dunia Kay terguncang saat ia mengetahui bahwa sahabatnya, Luciano Russo, menjadikan Paris sebagai objek eksperimen emosional demi memuaskan rasa penasaran liar Max. Kay terpaksa menyaksikan dari bayang-bayang saat Luciano berbohong telah meniduri Paris hanya demi gengsi, sementara Paris sendiri tetap tulus mencintai Luciano tanpa tahu dirinya sedang dipermainkan.
Terjebak dalam kode etik persahabatan dan rasa sesak melihat gadis yang ia kagumi dirusak secara mental, Kay menghadapi pilihan sulit: Tetap diam sebagai penonton yang dingin, atau menghancurkan reputasi "Tiga Pilar" demi menyelamatkan Paris dari kehancuran yang direncanakan sahabatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Lampu koridor apartemen mewah itu berpendar redup, menciptakan bayangan panjang yang mengikuti langkah Luciano. Pikirannya masih kacau, dipenuhi residu alkohol rendah dan mantra-mantra kosong tentang kesetiaannya pada Paris. Namun, tepat di depan daun pintu unitnya, langkah Luciano terhenti. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat sebelum berpacu dua kali lebih cepat.
Di sana, bersandar pada dinding sambil berjongkok, adalah sosok yang sejak tadi berusaha ia enyahkan dari ingatannya. Rebecca Smith. Gaun pestanya sedikit berantakan, dan wajahnya yang biasa angkuh kini tampak rapuh dengan mata yang sayu akibat pengaruh alkohol.
"Luci..." suara Rebecca serak, hampir menyerupai bisikan yang memilukan. "Aku... aku menunggumu dari tadi."
Luciano mematung. Logikanya memerintahkannya untuk mengabaikan gadis ini, untuk menyuruhnya pergi dan kembali ke pelukan Paris yang tenang. Namun, instingnya berkata lain. Kegelisahan yang ia pendam selama berjam-jam di pesta tadi malam meledak saat itu juga. Melihat Rebecca yang tampak hancur di depan pintunya membuat benteng pertahanan Luciano runtuh berkeping-keping.
Tanpa satu patah kata pun, Luciano melangkah mendekat. Ia tidak bertanya mengapa Rebecca ada di sana, atau bagaimana ia bisa masuk ke gedung ini. Luciano langsung merengkuh wajah Rebecca dan membungkam bibirnya dengan ciuman yang liar dan menuntut.
Tidak ada wajah Paris di benaknya saat ini. Yang ada hanyalah aroma hangat alkohol dari napas Rebecca dan desakan rasa rindu yang selama ini ia sangkal.
Rebecca awalnya datang dengan kemarahan. Ia baru saja mendengar rumor kotor yang beredar di kalangan elit mereka—tentang Paris dan Luciano yang sudah tidur bersama, bahkan tentang bualan "dua kali pelepasan" yang dibanggakan Luciano.
Hatinya hancur. Ia teringat masa lalu mereka, saat Luciano dengan senyum tipisnya pernah bercanda bahwa jika mereka punya anak nanti, jangan sampai sifatnya mirip Rebecca yang berisik. Meskipun itu candaan, bagi Rebecca, itu adalah janji tentang masa depan yang ia jaga rapat-rapat.
Ia ingin menuntut penjelasan. Ia ingin berteriak mengapa Luciano menyerahkan dirinya pada gadis lain sementara dirinya ditinggalkan dalam penolakan. Namun, saat bibir Luciano menyentuh miliknya, semua kata-kata itu menguap. Rebecca tidak menolak. Ia justru membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama, meluapkan seluruh rasa sakit dan kerinduan yang ia simpan sebagai medali perak yang tak diinginkan.
"Aku merindukanmu, Luciano... aku mencintaimu," rintih Rebecca di sela-sela ciuman mereka.
Luciano tidak melepaskannya. Dengan satu tangan yang masih mendekap tubuh Rebecca, tangan lainnya menekan kode akses apartemennya. Begitu pintu terbuka, mereka seolah tersedot ke dalam ruang hampa yang hanya berisi mereka berdua.
Luciano mendorong Rebecca ke dinding dalam, tangannya mulai memberikan sentuhan-sentuhan posesif di bagian tubuh Rebecca yang selama ini hanya ia bayangkan.
"Bukankah kau mau anak kita mirip denganku?" bisik Luciano dengan suara yang dalam dan penuh godaan gelap, mengulangi fantasi abstrak Rebecca yang dulu sering ia abaikan. "Kumohon, aku menginginkanmu malam ini, Rebecca. Hanya kau."
Malam itu, kamar apartemen Luciano yang biasanya steril dan dingin berubah menjadi lautan gairah yang tak terbendung. Tidak ada pikiran soal Paris, tidak ada rasa bersalah yang menghantui. Luciano seolah sedang menebus waktu-waktu di mana ia bersikap terlalu "suci" dengan Paris.
Jika bersama Paris ia hanya berani mencium pucuk kepala, maka bersama Rebecca, ia menjadi predator yang lapar.
Di atas tubuh Rebecca yang kelelahan namun tampak bersinar di bawah cahaya bulan yang masuk dari jendela, Luciano menatap gadis itu dengan pandangan pria sejati yang telah menemukan pelabuhannya. Insting maskulinnya mengambil alih sepenuhnya.
"Kau sempurna, Rebecca... terima kasih," bisik Luciano sambil mengatur napasnya yang memburu. "Aku beruntung memilikimu."
Rebecca meringis pelan, sebuah sensasi perih sekaligus nikmat menjalar di tubuhnya. Air matanya jatuh di sudut matanya—bukan air mata kesedihan, melainkan luapan emosi yang terlalu besar untuk ditampung. Luciano yang melihat itu segera menghapusnya dengan ibu jarinya yang lembut. Ia menyadari bahwa ini adalah pertama kalinya bagi Rebecca, sebuah fakta yang membuatnya merasa semakin memiliki gadis ini secara utuh.
"Maafkan aku... tahan sebentar," ucap Luciano, suaranya melunak, memberikan ciuman-ciuman kecil di kening dan pipi Rebecca.
"Luci..." Rebecca berbisik lemah, namun Luciano belum ingin berhenti.
"Kumohon, Rebecca... ini waktu yang cocok untukmu," Luciano kembali menarik Rebecca ke dalam dekapannya, membangkitkan kembali api yang baru saja padam. "Aku ingin mendengar suaramu yang berisik. Teriaklah untukku, bukan untuk orang lain."
Luciano meniduri Rebecca semalaman penuh. Tidak ada batasan, tidak ada aturan. Jika pada bualannya kepada Max ia menyebut "dua kali pelepasan", malam ini ia melakukannya berkali-kali hingga fajar hampir menyingsing. Mereka sama-sama tidak memikirkan hari esok, tidak memikirkan skandal yang mungkin timbul, atau hati siapa yang akan hancur nantinya.
Malam itu, di apartemen mewah yang menjadi saksi bisu, Luciano Russo benar-benar melupakan logikanya. Ia tenggelam dalam kebisingan Rebecca yang ia cintai, meninggalkan ketenangan Paris jauh di belakang dalam kegelapan.
Mereka menyatu dalam pengkhianatan yang terasa paling benar, tanpa menyadari bahwa ketika matahari terbit nanti, dunia mereka tidak akan pernah sama lagi.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
lnjut Thor yg bnyk yh 🥰😍