Setelah enam tahun tak bertemu, Senja kembali bertemu mantan kekasihnya Arsean.
Pertemuan kembali mereka, mengingatkan luka dan rasa sakit pada dirinya Senja.
Karena di saat itu dia tengah hamil anaknya Sean, namun Sean tak tau. Kedua orang tua Sean pun seolah bungkam dan menginginkan anak dalam kandungannya Senja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Masih Sama Seperti Dulu
Jam menunjukkan pukul dua belas siang, beberapa karyawan pergi beristirahat untuk sekedar makan siang. Ada juga yang memilih tetap sibuk dengan pekerjaannya.
"Mbak Nia, boleh gak kalau kita makan siangnya di ruangan ini? Aku bawa bekal dari rumah soalnya."
"Kalau dalam ruangan tentu tak boleh Senja. Tapi kalau kamu ingin makan, bisa ke rooftop aja, di sana kamu bisa nyaman makannya." Jawab Nia yang hendak pergi makan keluar.
" Owh gitu.. Terimakasih infonya, mbak!"
" Sama-sama." Nia tersenyum dan langsung melangkah ke luar ruangan.
Senja kemudian membawa bekalnya menuju rooftop dengan menaiki anak tangga darurat saja. Sesampainya di atas sana, dia malah melihat Sean yang berdiri sendiri dengan kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana.
Sean hanya menatap ke langit sambil ujung sepatunya terus di hentak-hentakkan seolah menendang sesuatu.
"Ternyata kamu masih sama dengan yang dulu!" Lirih Senja dalam hati.
"Apa kamu ada masalah?"
Senja begitu hafal dengan karakter Sean. Jika ada masalah, Sean biasanya suka menyendiri sendiri dengan melakukan seperti hal yang tadi. Sean tipe orang yang suka memendam masalahnya sendiri dan tak mau berbagi dengan siapapun.
Senja memutuskan ingin turun saja, namun Sean terlanjur melihat dirinya.
"Senja?" Ucap Sean.
Senja berbalik dengan ekspresi datar.
"Pak Sean, maaf.. Saya tidak tau jika ada anda di sini."
"Owh.. Gak apa-apa." Jawab Sean melihat tangan Senja yang sedang memegang kotak bekal.
" Kamu mau makan siang?"
Hening. Senja tak menjawab.
"Kamu makan saja di sini, saya akan turun. Saya tau kamu gak akan nyaman jika dekat-dekat dengan saya!" Lanjut Sean melangkah mendekati Senja namun tak berhenti dan terus melangkah menuju anak tangga.
Senja kemudian mencari tempat duduk yang nyaman untuk menyantap bekal sederhana yang ia bawa dari rumah. Setidaknya dengan begitu dia bisa menghemat biaya hidupnya dan Angkasa.
Ternyata Sean belum benar-benar turun dari rooftop. Dia masih memandangi punggung Senja yang sibuk makan siang sendiri.
"Maaf Senja, aku tidak tau jika selama ini kamu begitu menderita." Lirihnya dalam hati.
Dia ingat betul ketika dirinya kemaren bertemu buk Asni dan bertanya bagaimana Senja bisa tinggal di gudang belakang warung makan buk Asni. Ternyata Senja hidup luntang-lantung di jalan bersama Angkasa yang kala itu masih berusia dua bulan. Bahkan Senja membawa bayi kecil itu bekerja apapun agar bisa mendapatkan makan.
Sementara dari cerita buk Asni, kehidupan senja waktu hamil Angkasa tak kalah menyedihkan. Di saat hamil, dia tinggal di masjid-masjid dan menahan lapar dan haus. Karena sejatinya Senja tak punya sanak keluarga.
" Jika aku tau, kamu hamil, maka aku gak akan keluar negeri. Aku akan bertanggung jawab dan tak akan membiarkan kamu seperti ini."
"Mama dan papa merahasiakannya dari aku Senja. Bahkan setiap kali aku pulang ke tanah air mencari kamu, kedua orang tuaku tetap tak memberi tau apapun. Bahkan aku sudah seperti orang gila saat itu mencari kamu!"
"Jika kamu tau perjuangan aku saat mencari kamu,apakah kamu akan memaafkan aku,Senja?" Lirih Sean dalam hati.
***
Selesai makan siang, Senja kembali ke meja kerjanya. Ternyata Dirgantara sudah duduk di meja kerjanya juga sambil terus menatap Senja. Jujur saja dari tadi Senja sudah tak nyaman. Namun dia tak ingin mencari gara-gara, apalagi ini hari pertama dia kerja dan dia juga mendapat kabar kalau Dirgantara adalah sepupunya Sean.
Senja lebih memilih fokus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang diberikan Pak Rudi. Apalagi dia tak ingin nanti pulang telat, karena dia mau mengasih kejutan untuk anaknya.
Semua tugas yang diberikan pak Rudi bisa di selesaikan Senja sebelum jam empat. Pak Rudi pun menyuruh Senja memberikan laporan tersebut ke Dirgantara agar bisa diperiksa nya.
Senja berjalan sedikit ragu ke meja kerjanya Dirgantara.
"Pak, ini laporan yang disuruh pak Rudi tadi. Bapak bisa cek dulu, mana tau ada kesalahan." Ucap Senja pelan.
"Apa kamu benar-benar bercita-cita ingin kerja kantoran?" Tanya Dirgantara dingin.
"Maksudnya?" Senja cukup kaget dengan respon kasar dari Dirgantara.
"Kalau kamu memang ingin kerja kantoran,tentu kamu harus tau bahwa pekerjaan yang diberikan ke kamu itu bukan tugas kuliah yang harus diperiksa benar atau salahnya!"
"Sebelum kamu memberikannya ke atasan kamu,kamu harusnya periksa teliti dulu!"
"Bekerja itu bukan hanya semata ingin mendapatkan hasil materi saja! Tetapi sebuah proses yang menunjukkan sebuah tanggung jawab,beban dan hasil!" lanjut Dirgantara tegas.
" Maaf..Saya tak.."ucap Senja gugup.
" Kamu periksa lagi! Setelah kamu rasa benar,baru kamu serahkan ke saya!" Ucap Dirgantara melempar map ke meja.
Semua yang ada di ruangan menatap ke arah Dirgantara dan Senja. Mereka bergidik ngeri sendiri melihat sikap Dirgantara yang ternyata cukup kasar dan dingin.
Senja mengangguk dan mengambil map tersebut. Dia kembali ke meja kerjanya dengan perasaan berkecamuk. Bukan karena dimarahi Dirgantara atau dipermalukan nya. Namun Senja saat ini hanya memikirkan anaknya.
Hari ini hari ulangtahun Angkasa,dia sudah memesan kue untuk Angkasa. Namun jika dia harus mengerjakan ulang berkas-berkas ini,dijamin dia akan pulang kemalaman,dan takutnya Angkasa sedih dan mengira ibuknya lupa dengan hari ulang tahunnya.
Pak Rudi yang ikutan tak enak melihat situasi tadi,memilih mengabari Sean dan mengatakan semuanya.
Sean yang tadi berada di ruang meeting dengan client, buru-buru ke ruangan pemasaran dan menghampiri Senja.
"Kamu boleh pulang sekarang!" suruh Sean.
"Tapi pak,ini pekerjaan saya.." lirih Senja menatap Sean dan Dirgantara bergantian.
"Tidak ada pemaksaan untuk karyawan yang baru satu hari ini bekerja. Lagian kalau pekerjaan kamu salah itu wajar, karena kamu masih karyawan baru!" jawab Sean tegas.
"Wah... ternyata wakil direktur kita cukup santai sehingga mengurus bawahan saya!" Dirgantara berdiri dan menghampiri Sean.
"Dirgantara! Cukup! Apa kamu mau membuat dia trauma di hari pertamanya bekerja?"
"Tak ada istilah hari pertama dalam kamus aku!" Jawab Dirgantara tak mau kalah.
"Tidak ada yang lembur hari ini! Kalian boleh pulang semuanya!"suruh Sean kepada semua karyawan yang ada dalam ruangan tersebut.
Para karyawan pun bergegas merapikan meja kerja dan menyandang tas ingin kabur segera. Mereka tau,situasi sedang memanas antara Sean dan Dirgantara.
" Ayo Senja kita pulang!" Nia menarik tangan Senja.
" Tapi mbak.."Senja menatap berkas di depannya.
" Lupakan itu. Kamu lihat mereka.."Nia menatap takut melihat ekspresi Sean dan Dirgantara.
" Baik mbak," jawab Senja buru-buru memasukkan barang-barangnya ke dalam tas selempang nya dan tanpa sadar malah menjatuhkan dompetnya.