NovelToon NovelToon
The Wrong Proposal

The Wrong Proposal

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.

Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Sebulan telah berlalu sejak malam di The Plaza, dan New York kini sepenuhnya diselimuti oleh warna oranye musim gugur yang mulai mengering. Hubungan antara Azkara dan Alana telah bertransformasi dengan cara yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun.

Jika dulu mereka adalah api dan air yang saling menghancurkan, kini mereka adalah harmoni yang tenang. Meskipun belum ada kata pacaran secara resmi yang terucap, namun perhatian Azkara yang intens dan perlindungan yang ia berikan membuat semua orang di sekitar mereka menganggap mereka adalah pasangan kekasih yang paling serasi di Manhattan.

Azkara telah banyak berubah. Ia kini lebih sering mengenakan kemeja rapi yang digulung lengannya, meski tato di lehernya tetap menjadi pengingat akan sisi liarnya yang kini telah tunduk pada keanggunan Alana.

Hari itu, Azkara menjemput Alana di lobi kantor firma arsitektur Adrian Richard. Mereka berencana untuk makan siang di sebuah restoran outdoor di kawasan High Line yang sedang populer. Saat Alana turun dari mobil dan berdiri di trotoar sambil merapikan hijab sutranya yang tertiup angin, Azkara yang berdiri di sampingnya tiba-tiba terhenti.

Mata tajam Azkara menangkap sesuatu yang tidak beres pada bagian belakang rok panjang berwarna pastel yang dikenakan Alana. Ada noda merah kecil yang perlahan melebar, sebuah situasi sensitif yang seringkali membuat wanita merasa sangat tidak nyaman di tempat umum.

Tanpa berkata sepatah kata pun, Azkara langsung melepas jaket bomber kulitnya yang mahal. Dengan gerakan cepat dan protektif, ia melingkarkan jaket itu di pinggang Alana dan mengikat lengannya dengan kuat di depan perut Alana.

Alana tersentak, wajahnya menunjukkan kebingungan. "Ada apa, Azkara? Kenapa kau memberiku jaket? Cuacanya tidak sedingin itu."

Azkara mendekat, berbisik tepat di telinga Alana agar tidak ada orang lain yang mendengar. "Sepertinya tamu bulananmu datang tanpa pemberitahuan, Alana. Rokmu tembus."

Wajah Alana seketika berubah merah padam, semerah noda yang baru saja disebutkan Azkara. Ia merasa dunianya seolah runtuh karena rasa malu yang luar biasa. Sebagai seorang model yang selalu tampil sempurna, situasi ini adalah mimpi buruk baginya. "Astaga... aku... aku benar-benar malu. Bagaimana ini? Aku tidak membawa baju ganti."

Azkara menatapnya dengan lembut, tidak ada sedikit pun nada ejekan di matanya. "Tenanglah. Tidak ada yang melihat selain aku. Ayo, apartemenku sudah sangat dekat dari sini. Kau bisa membersihkan diri di sana, dan kita bisa memesan baju baru lewat layanan kilat."

Alana terdiam sejenak, menimbang-nimbang. Namun melihat jaket Azkara yang kini melindunginya, ia merasa aman. "Baiklah," jawabnya pelan.

Sesampainya di apartemen Azkara yang bernuansa industrial namun kini terasa lebih hangat, kecanggungan itu perlahan mencair. Alana sudah membersihkan diri dan mengenakan salah satu kaos kebesaran milik Azkara yang dipadukan dengan celana kain santai sambil menunggu roknya dibersihkan.

"Makan siang di restoran sepertinya batal," ucap Azkara sambil membuka lemari esnya yang penuh dengan bahan organik. "Bagaimana kalau kita masak sendiri saja? Aku baru belajar membuat pasta aglio olio dengan bumbu rahasia dari Frank."

Alana tertawa, sebuah tawa renyah yang membuat sudut bibir Azkara terangkat. "Kau bisa masak? Aku ragu pria yang hobinya balapan sepertimu tahu cara membedakan garam dan gula."

"Hei, jangan meremehkan ku, Nona Richard," tantang Azkara jahil.

Mereka pun mulai memasak bersama di dapur modern yang luas itu. Alana membantu memotong bawang putih dan cabai, sementara Azkara menangani pasta dan bumbunya. Di sana, di antara aroma bawang yang ditumis dan suara tawa kecil, batasan-batasan yang dulu kaku mulai terasa lentur. Azkara tetap menjaga sopan santunnya, namun ia mulai berani menunjukkan kasih sayangnya.

Sesekali, saat Alana sedang asyik bercerita tentang proyek pemotretannya, Azkara secara alami mengelus puncak kepala Alana yang kini hanya tertutup ciput hijab rumahan. Sentuhan itu sangat lembut, seolah ia sedang menyentuh sesuatu yang sangat suci.

Suasana menjadi sangat intim saat mereka sedang menata makanan di piring. Alana terlihat sangat menggemaskan dengan hidung yang tanpa sengaja terkena sedikit tepung saat ia mencoba membantu menyiapkan hidangan penutup.

Azkara terkekeh melihatnya. Tanpa sadar, ia mengangkat tangannya, bermaksud untuk mencolek hidung Alana dengan jari telunjuknya untuk membersihkan tepung itu. Namun, tepat saat jarinya hampir menyentuh ujung hidung Alana, Azkara tiba-tiba terdiam membeku.

Jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba.

Memori lama menghantamnya seperti ombak besar. Dulu, dengan sang mantan, ia selalu mencolek dagu wanita itu setiap kali ia merasa gemas. Mencolek dagu adalah bahasa cintanya di masa lalu, sebuah kebiasaan yang berakhir dengan pengkhianatan yang menyakitkan.

Tapi ini berbeda. Tangannya kini tidak tertuju ke dagu, melainkan ke hidung Alana. Sebuah gerakan baru, untuk wanita yang baru, di dalam hidup yang baru.

Azkara menarik tangannya kembali dengan cepat, wajahnya yang tadinya ceria berubah menjadi sedikit kaku. Ia menyadari bahwa ia hampir saja mencampuradukkan kebiasaan masa lalunya ke dalam hubungannya dengan Alana yang jauh lebih berharga ini.

"Heheh... maaf, aku sudah lancang, Alana," ucap Azkara dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba menutupi kegugupannya. Ia berdehem pelan untuk menormalkan suasana. "Ayo... ayo kita makan. Pastanya akan dingin nanti."

Alana memperhatikan perubahan ekspresi Azkara. Sebagai wanita yang peka, ia tahu ada sesuatu yang baru saja terlintas di pikiran pria itu. Ia melihat Azkara yang kini sibuk menata sendok dengan gerakan yang sedikit canggung.

Mereka duduk berhadapan di meja makan kayu panjang. Alana mencicipi pasta buatan Azkara dan matanya membelalak. "Ini benar-benar enak, Azkara! Kau tidak berbohong soal bakat masak mu."

Azkara tersenyum, namun pikirannya masih pada kejadian tadi. Ia meletakkan garpunya dan menatap Alana dengan serius. "Alana, soal yang tadi... aku minta maaf jika aku membuatmu tidak nyaman."

Alana menggeleng pelan. "Bukan soal tidak nyaman, Az. Aku hanya melihatmu tiba-tiba melamun. Apa kau mengingat sesuatu?"

Azkara menarik napas panjang. Ia memutuskan untuk jujur, karena ia tahu kejujuran adalah satu-satunya cara untuk benar-benar lepas dari bayang-bayang masa lalu. "Dulu... aku selalu mencolek dagu dia. Tapi tadi, saat aku ingin mencolek hidungmu, aku tersadar bahwa kau bukan dia. Kau adalah Alana. Dan aku tidak ingin membawa kebiasaan lamaku ke dalam hidupmu."

Azkara menatap Alana dengan tatapan yang sangat dalam. "Aku tidak ingin kau menjadi pengganti siapapun. Bagiku, kau adalah awal yang baru. Mencolek hidungmu... itu adalah caraku menciptakan memori baru yang hanya milik kita."

Alana tersentuh mendengar pengakuan jujur itu. Ia meraih tangan Azkara yang berada di atas meja, menggenggamnya sebentar sebelum melepaskannya lagi untuk menjaga batasan. "Terima kasih sudah jujur, Azkara. Aku menghargai caramu menghormati masa lalu mu dan juga caramu menghargai kehadiranku sekarang."

Azkara merasakan beban di pundaknya seolah terangkat. Ia kembali tersenyum, kali ini lebih lepas. "Kalau begitu, boleh aku mencolek hidungmu sekarang? Tanpa rasa bersalah?"

Alana tertawa dan memajukan hidungnya sedikit. Azkara dengan sangat lembut mencolek ujung hidung Alana dengan jarinya yang masih bersih, lalu mereka berdua tertawa bersama di dalam apartemen yang kini tidak lagi terasa dingin.

Makan siang yang tertunda itu menjadi momen yang paling berkesan bagi mereka. Di tengah New York yang sibuk, di dalam sebuah apartemen mewah, dua jiwa yang pernah terluka itu mulai menyembuhkan satu sama lain, bukan dengan paksaan, melainkan dengan tawa, pasta buatan sendiri, dan sebuah colekan di hidung yang menandai babak baru dalam hidup mereka.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
irma hidayat
lancar sukses rencananya alana
chika aprilia
harusnya 23 tahun kemudian bukan 23 tahun lalu, othor nya salah
ros 🍂: makasih kak udah ingatin 😍🙏
total 1 replies
Mei Mei
/Kiss/
Mei Mei
suka cerita nya
ros 🍂: Makasih kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
bagus .. bagus karyamu Thor

tetep sehat
selalu semangat

karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku
ros 🍂: Ma'aciww 😍😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
ditunggu upload nya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!