NovelToon NovelToon
Hening Yang Membeku

Hening Yang Membeku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Duniahiburan / Cintapertama
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: SPEKTRUM PERLAWANAN

Malam itu, ibu kota terasa lebih dingin daripada Oakhaven. Jika di Oakhaven kedinginan itu terasa jujur—sebuah musim yang memang harus dilewati—maka di sini, kedinginan itu datang dari beton, kaca, dan ketidakpedulian manusia. Kai meringkuk di dalam sebuah gudang tua di pinggiran distrik seni yang sudah lama ditinggalkan. Tempat ini adalah bekas studio milik temannya dulu, sebelum semuanya hancur. Debu tebal menutupi kanvas-kanvas kosong, namun bagi Kai, tempat ini adalah benteng terakhirnya.

Ia duduk di depan sebuah meja kayu yang sudah lapuk, hanya diterangi oleh sebatang lilin kecil. Di depannya tergeletak dua hal yang akan menjadi senjatanya: sketsa asli Lumina dan flashdisk dari Sarah.

Pikirannya melayang kembali ke wajah Yudha yang penuh kebencian di galeri tadi. Kai menyadari satu hal; ia tidak bisa melawan Yudha dengan kekuatan fisik. Yudha punya uang, senjata, dan pengaruh. Namun, Yudha tidak punya imajinasi. Yudha hanya melihat dunia sebagai angka dan aset, sementara Kai melihat dunia sebagai struktur yang bisa dimanipulasi.

"Gunakan apa yang kau punya, Kai," bisik suara di kepalanya. Suara itu terdengar sangat mirip dengan nada rendah piano Elara.

Kai mengambil sebatang arang yang tersisa. Ia tidak lagi menggambar dengan keraguan. Ia mulai membedah sketsa Lumina. Ayahnya telah menyisipkan skema keuangan itu ke dalam denah dasar gedung. Jika garis-garis itu ditarik keluar dan digabungkan dengan data di dalam flashdisk, maka skema itu akan berubah menjadi bukti tak terbantahkan tentang pencucian uang dan sabotase konstruksi.

Namun, Kai ingin melakukan lebih dari sekadar melaporkannya ke polisi. Ia tahu Yudha bisa menyuap jalan keluarnya. Ia harus mempermalukan Yudha di depan publik, di tempat yang paling Yudha puja: panggung korporat dan prestise.

Ia mulai merancang sebuah "Pameran Satu Malam".

Kai tahu bahwa lusa adalah malam peringatan ulang tahun Lumina Corp. Akan ada jamuan makan malam besar yang dihadiri oleh investor asing dan media. Itu adalah panggung di mana Yudha ingin memamerkan "visi masa depan" perusahaannya menggunakan desain curian dari ayah Kai.

"Aku akan memberimu visi yang tidak akan pernah kau lupakan, Yudha," gumam Kai, senyum tipis—yang pertama dalam tiga tahun—muncul di wajahnya.

Kai bekerja tanpa henti. Selama dua puluh empat jam berikutnya, ia hampir tidak tidur. Ia menggunakan sisa-sisa proyektor tua yang ia temukan di gudang dan menghubungkannya dengan data digital dari flashdisk. Ia membuat sebuah instalasi seni multimedia yang sangat kompleks. Ia menggabungkan seni lukis arang tradisional dengan proyeksi data digital.

Di tengah kesibukannya, ia sesekali berhenti untuk menatap kunci perak Elara. Ia merindukan keheningan Oakhaven. Ia merindukan cara Elara menatapnya tanpa bertanya. Ia mengambil secarik kertas kecil dan menuliskan sesuatu dengan arang, lalu melipatnya menjadi burung kertas. Itu adalah caranya tetap waras.

Tiba-tiba, pintu gudang berderit. Kai langsung waspada, tangannya menyambar pisau palet yang tajam.

"Ini aku, Kai."

Itu Sarah. Ia tampak lebih berantakan dari sebelumnya, napasnya tersengal-sengal. "Yudha sudah menutup semua akses keluar kota. Dia tahu kau masih di sini. Dia menyebarkan berita bahwa kau menculik ibumu dan membawanya kabur dari rumah sakit."

Kai mengepalkan tinjunya. "Dia memutarbalikkan kenyataan. Bagaimana dengan Ibu?"

"Dia masih di sana. Yudha memperketat penjagaan di Paviliun Kristal. Kau tidak akan bisa masuk lewat pintu depan," Sarah mendekat, melihat apa yang sedang dikerjakan Kai. "Apa ini? Kau sedang membuat lukisan di saat seperti ini?"

"Ini bukan sekadar lukisan, Bu Sarah. Ini adalah jebakan," Kai menunjukkan rancangan instalasinya. "Aku butuh bantuanmu untuk satu hal terakhir. Kau masih punya akses ke sistem manajemen konten di aula Lumina Corp, bukan?"

Sarah ragu sejenak, lalu mengangguk. "Aku punya kredensial cadangan yang belum mereka hapus. Tapi itu berisiko tinggi. Jika mereka melacaknya—"

"Mereka tidak akan sempat melacaknya sebelum semuanya terungkap di layar besar saat pidato utama Yudha," Kai menatap Sarah dengan intensitas yang membuat wanita itu terdiam. "Ini untuk ayahku. Dan untuk ibuku."

Sarah menarik napas panjang dan akhirnya setuju. "Baiklah. Apa yang harus kulakukan?"

Kai memberikan instruksi mendetail. Mereka akan memasukkan data tersebut ke dalam presentasi utama Yudha secara jarak jauh. Namun, untuk memastikan data itu tidak bisa dimatikan begitu saja, Kai harus berada di lokasi untuk menghubungkan perangkat keras fisiknya ke panel kontrol pusat.

"Kau akan masuk ke sana? Itu sama saja dengan bunuh diri, Kai!"

"Mereka mencari seorang pelukis yang hancur, Bu Sarah. Mereka tidak akan mencari seorang teknisi pemeliharaan gedung," Kai menunjuk ke arah seragam biru tua yang ia temukan di sudut gudang.

Malam itu, Kai mempersiapkan dirinya. Ia mencukur janggutnya yang tipis, merapikan rambutnya, dan mengenakan seragam tersebut. Saat ia melihat dirinya di cermin yang retak, ia tidak lagi melihat Kai yang selalu menengadah ke langit untuk meminta pertolongan. Ia melihat seorang pria yang siap menantang langit itu sendiri.

Sebelum berangkat, ia menyempatkan diri untuk menyalakan ponselnya sekali lagi. Sebuah pesan dari Elara masuk.

*Elara: Aku bisa merasakan kegelisahanmu dari sini, Kai. Ingatlah, salju tidak jatuh untuk menghancurkan, tapi untuk menenangkan. Jangan biarkan amarahmu membakar warna yang baru saja kau temukan. Aku menunggumu di 'The Last Note'. Selalu.*

Air mata Kai menetes, namun ia segera menghapusnya. "Aku akan kembali, Elara. Dengan warna yang utuh."

Kai melangkah keluar dari gudang, membawa tas peralatan yang berisi "bom" artistiknya. Di langit ibu kota, awan mulai berkumpul, menandakan badai akan segera datang. Namun kali ini, Kai adalah badai itu.

Ia berjalan menuju pusat kota, menuju gedung pencakar langit Lumina Corp yang bersinar terang seperti mercusuar keangkuhan. Di sakunya, kunci perak Elara terasa hangat, memberikan ritme pada langkah kakinya.

Babak baru dimulai. Bukan lagi di bawah langit abu-abu Oakhaven yang tenang, tapi di bawah lampu sorot ibu kota yang kejam. Kai tahu, mulai saat ini, tidak ada jalan untuk kembali. Hanya ada satu jalan: ke depan, menembus bayang-bayang, menuju kebenaran.

Saat ia sampai di depan gedung Lumina Corp, ia mendongak. Cahaya merah di puncaknya tidak lagi terasa seperti ancaman. Itu terasa seperti garis finis.

"Mari kita lukis malam ini dengan warna yang seharusnya, Yudha," bisik Kai, lalu ia melangkah masuk ke dalam sarang serigala.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!