Yin Chen menemukan papan catur ajaib di hutan bambu—setiap gerakannya mempengaruhi dunia nyata. Saat kekuatan gelap mengancam keseimbangan alam, dia bertemu Lan Wei dari kelompok Pencari Kebenaran dan mengetahui bahwa pemain lawan adalah saudara kembarnya yang hilang, Yin Yang. Bersama mereka harus menyatukan kekuatan untuk mengakhiri permainan kuno yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: KUIL TIANLONG YANG TERLUPAKAN
Keesokan paginya, Yin Chen dan Lan Wei bangun saat sinar matahari pertama mulai menerobos melalui dedaunan bambu yang rindang. Udara pagi hari sangat segar dengan campuran aroma sumber air panas dan dedaunan segar yang baru terkena embun pagi. Mereka menghabiskan waktu sebentar untuk membersihkan tempat bermalam mereka dan mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan terakhir menuju kuil Tianlong.
“Menurut perkiraan saya, kita akan mencapai kuil dalam waktu sekitar dua jam jika kita berjalan dengan cepat,” kata Yin Chen sambil mengemas barang-barang mereka ke dalam kantong kulit yang dibawanya. “Jalur terakhir akan sedikit lebih sulit karena kita harus naik ke lereng gunung, tetapi saya yakin kita bisa melewatinya.”
Lan Wei sudah siap dengan membawa pedangnya yang siap digunakan jika diperlukan. “Saya bisa merasakan energi yang semakin kuat seiring kita mendekati tujuan,” katanya dengan suara yang serius. “Energinya tidak hanya kuat—tetapi juga penuh dengan misteri dan sejarah yang panjang. Seolah-olah kuil tersebut sedang menunggu kita untuk datang.”
Mereka memulai perjalanan lagi, mengikuti arah yang ditunjukkan oleh kelompok makhluk kecil pada malam sebelumnya. Jalur sekarang mulai miring ke atas, membawa mereka naik ke lereng gunung yang tertutup oleh hamparan bambu dan pohon-pohon besar lainnya. Tanah di bawah kaki mereka semakin kasar dengan banyak batu yang tersebar di seluruh jalur, mengharuskan mereka untuk berhati-hati agar tidak terpeleset atau terluka.
Setelah berjalan selama hampir dua jam seperti yang diperkirakan Yin Chen, mereka akhirnya melihatnya—kubah kuil Tianlong yang menjulang tinggi di antara pepohonan, dengan atap yang terbuat dari genteng tanah liat merah tua yang sebagian sudah retak dan rusak akibat paparan cuaca selama berabad-abad. Dinding kuil yang terbuat dari batu besar yang diukir dengan simbol-simbol kuno tampak kokoh meskipun banyak bagian yang tertutup oleh lumut dan akar pohon yang tumbuh merambat ke atas permukaannya. Pagar kayu yang mengelilingi kuil sudah hampir hancur seluruhnya, dengan beberapa tiang yang masih berdiri tegak seperti penjaga yang setia meskipun tugasnya sudah berakhir lama sekali.
“Sangat indah,” bisik Lan Wei dengan mata yang terpana melihat keagungan kuil yang terlupakan tersebut. “Saya tidak menyangka bahwa kuil kuno seperti ini masih bisa bertahan dengan baik hingga saat ini.”
Yin Chen mengangguk dengan ekspresi yang penuh rasa hormat. “Leluhur kita membangun tempat-tempat seperti ini bukan hanya sebagai tempat ibadah,” jawabnya. “Ini juga merupakan tempat untuk menyimpan pengetahuan dan kekuatan yang penting bagi kelangsungan hidup umat manusia. Saya merasa bahwa kita akan menemukan banyak hal yang berguna di dalamnya.”
Mereka berjalan melalui gerbang kayu yang sudah hampir roboh dan memasuki halaman kuil yang penuh dengan rerumputan tinggi dan tanaman liar yang tumbuh liar. Di tengah halaman tersebut terdapat sebuah kolam kecil yang sudah mengering, dengan beberapa ikan batu yang masih bisa dilihat di dasar kolam yang kering dan retak. Di sekitar kolam terdapat beberapa patung batu yang sudah tidak jelas bentuknya akibat lapisan lumut yang tebal dan goresan waktu yang begitu panjang.
Saat mereka mendekati pintu masuk kuil yang besar dan terbuka lebar, mereka merasakan bahwa suhu udara sekitarnya menjadi sedikit lebih dingin. Udara di dalam kuil terasa sangat sejuk dan penuh dengan aroma kayu tua dan lilin yang sudah kadaluarsa. Cahaya matahari hanya bisa masuk melalui beberapa celah di atap dan jendela yang sudah retak, menciptakan pola cahaya yang indah di lantai dan dinding kuil yang penuh dengan lukisan dinding kuno.
Yin Chen mengambil sebuah lilin kecil dari kantongnya dan menyalakannya menggunakan batu pemantik yang selalu dia bawa. Cahaya lilin yang lembut menerangi bagian dalam kuil yang gelap dan penuh dengan misteri. Lukisan dinding di sekitar mereka menggambarkan berbagai adegan dari legenda kuno—manusia yang bermain dengan papan catur ajaib, makhluk-makhluk ajaib yang hidup berdampingan dengan manusia, dan adegan pertempuran besar antara kekuatan baik dan jahat yang bertempur untuk menguasai kekuatan alam semesta.
“Lihat itu,” kata Lan Wei dengan suara yang penuh kagum sambil menunjuk ke arah sebuah lukisan dinding yang terletak di bagian dalam kuil. Lukisan tersebut menggambarkan sebuah papan catur yang persis sama dengan yang ditemukan Yin Chen di tengah hutan, dengan dua pemain yang sedang bermain dengan serius. Di sebelah papan tersebut terdapat tulisan kuno yang bentuknya sama dengan simbol-simbol yang ada pada kalung dari desa Wanli.
Yin Chen mendekati lukisan tersebut dengan hati-hati, menggunakan cahaya lilin untuk melihat setiap detail dengan jelas. Dia mulai membaca tulisan kuno tersebut dengan lambat, mengingat pelajaran yang dia dapatkan dari neneknya tentang bahasa kuno yang hampir terlupakan. Tulisan tersebut bercerita tentang Permainan Cermin—bagaimana permainan tersebut dibuat untuk menjaga keseimbangan alam semesta, bagaimana setiap gerakan pada papan memiliki konsekuensi di dunia nyata, dan bagaimana ada dua pemain yang akan bertempur untuk mengendalikan arah sejarah manusia.
“Sangat menarik,” bisik Yin Chen sambil mencatat setiap kata yang dia baca ke dalam bukunya. “Menurut tulisan ini, setiap pemain memiliki peran yang telah ditentukan jauh sebelum permainan dimulai. Namun mereka juga memiliki kebebasan untuk membuat pilihan sendiri—pilihan yang akan menentukan masa depan semua orang.”
Saat mereka sedang mempelajari lukisan dan tulisan di dinding kuil, Lan Wei merasa ada sesuatu yang menarik perhatiannya di bagian belakang kuil yang lebih dalam dan lebih gelap. Dia mengambil lilin lain dari kantong Yin Chen dan menyalakannya, menerangi area tersebut dengan cahaya yang lebih terang. Di sana mereka menemukan sebuah ruangan kecil yang tersembunyi di belakang tirai kain tua yang sudah robek dan kusut.
“Kita harus melihat apa yang ada di dalamnya,” kata Lan Wei dengan suara yang penuh rasa ingin tahu. Dia mengangkat tirai kain tersebut dengan hati-hati, mengungkapkan pintu kayu kecil yang sudah terkunci dengan kunci besi yang sudah berkarat dan tua.
Yin Chen mendekati pintu tersebut dan memeriksa kuncinya dengan cermat. “Kunci ini sudah terlalu tua dan rapuh,” katanya. “Kita tidak bisa membukanya dengan cara biasa karena bisa saja merusak pintu atau apa yang ada di dalamnya. Tapi saya punya cara lain untuk membukanya.”
Dia mengambil kalung dari lehernya dan menempatkannya di atas kunci besi yang berkarat. Cahaya kebiruan dari kalung mulai menyebar, membungkus kunci dengan cahaya yang lembut namun kuat. Setelah beberapa saat, terdengar suara klik yang lembut dan kunci tersebut mulai terbuka dengan sendirinya, seolah-olah mengenali kekuatan dari kalung tersebut.
Dengan hati-hati, Yin Chen membuka pintu kayu kecil tersebut dan memasuki ruangan tersembunyi bersama Lan Wei. Cahaya lilin mereka menerangi ruangan yang kecil namun penuh dengan barang-barang kuno—rak-rak kayu yang penuh dengan buku-buku tua yang kulit sampulnya sudah menguning dan robek, beberapa peralatan ajaib yang bentuknya tidak dikenal, dan sebuah meja kayu besar di tengah ruangan dengan sebuah kotak batu yang terletak tepat di atasnya.
Di dinding ruangan tersebut terdapat tulisan kuno yang lebih jelas dan lengkap daripada yang ada di luar. Tulisan tersebut menjelaskan tentang cara mengendalikan Permainan Cermin, tentang kekuatan yang dimiliki oleh setiap bidak catur, dan tentang ancaman yang akan muncul jika permainan tersebut jatuh ke tangan yang salah. Namun bagian terpenting dari tulisan tersebut adalah tentang identitas pemain lain yang mengendalikan bidak hitam—seorang yang memiliki hubungan darah dengan pemain putih, dan yang percaya bahwa cara untuk menyelamatkan dunia adalah dengan menguasainya sepenuhnya.
“Saudara kembar,” bisik Yin Chen dengan wajah yang menunjukkan kejutan dan pemahaman. “Neneknya pernah mengatakan bahwa saya memiliki saudara kembar yang hilang saat kita masih bayi. Saya selalu mengira itu hanya cerita untuk menghibur saya saat kecil, tapi sekarang sepertinya itu benar.”
Lan Wei melihatnya dengan ekspresi yang penuh simpati. “Jadi pemain lain yang mengendalikan bidak hitam adalah saudaramu sendiri?” tanyanya dengan suara yang lembut.
Yin Chen mengangguk perlahan, matanya masih fokus pada tulisan di dinding. “Menurut tulisan ini, kita dipisahkan saat kecil untuk melindungi kita dari mereka yang ingin menggunakan kekuatan kita bersama untuk tujuan jahat,” jelasnya. “Salah satu dari kita akan menjadi pemain putih yang menjaga keseimbangan, dan yang lain akan menjadi pemain hitam yang berusaha menguasai segalanya. Tapi tulisan ini juga mengatakan bahwa kita memiliki pilihan untuk mengubah jalan yang telah ditentukan.”
Mereka kemudian mendekati kotak batu yang terletak di atas meja kayu besar. Kotak tersebut berbentuk bulat dengan ukiran simbol yang sama dengan yang ada pada papan catur ajaib dan kalung Yin Chen. Tanpa perlu dipaksa, tutup kotak tersebut mulai terbuka perlahan saat Yin Chen mendekatinya, mengungkapkan sebuah perisai kecil yang terbuat dari logam putih dengan ukiran yang indah. Di sebelah perisai tersebut terdapat sebuah lembaran kulit yang masih utuh dengan tulisan tangan yang jelas.
Yin Chen mengambil lembaran kulit tersebut dengan hati-hati dan mulai membacanya dengan keras agar Lan Wei juga bisa mendengarnya. Tulisan tersebut adalah surat dari leluhur mereka yang membuat Permainan Cermin, ditujukan khusus untuk kedua pemain yang akan muncul di masa depan. Surat tersebut menjelaskan bahwa dunia akan menghadapi masa sulit di mana keseimbangan akan terganggu, dan bahwa hanya melalui kerja sama antara kedua pemain yang bisa menyelamatkan dunia dari kehancuran yang akan datang.
“Kita tidak bisa bertempur satu sama lain,” kata Yin Chen dengan suara yang penuh keyakinan setelah selesai membaca surat tersebut. “Kekuatan kita bersama jauh lebih besar daripada kekuatan kita yang terpisah. Saya harus menemukan saudara saya dan membuatnya mengerti hal ini sebelum terlambat.”
Lan Wei menyentuh bahunya dengan lembut. “Kita akan menemukan dia bersama-sama,” janjinya. “Kamu tidak sendirian lagi dalam perjalanan ini. Kelompok Pencari Kebenaran akan membantu kita dalam setiap cara yang bisa kita lakukan.”
Mereka kemudian memeriksa perisai kecil yang ada di dalam kotak batu. Saat Yin Chen menyentuhnya, perisai tersebut mulai memancarkan cahaya kebiruan yang lembut dan kemudian menyatu dengan kalung yang dia kenakan. Sebuah pesan muncul di dalam benaknya—pesan tentang lokasi di mana dia bisa bertemu dengan saudara kembarnya untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun terpisah.
“Dia ada di desa tua Qinghe,” bisik Yin Chen dengan mata yang sudah jelas arahnya. “Tempat kelahiran kita sebelum kita dipisahkan. Kita harus pergi ke sana sekarang juga sebelum dia melakukan sesuatu yang tidak bisa diperbaiki.”
Mereka mulai mengemas barang-barang yang mereka temukan di ruangan tersembunyi—beberapa buku kuno yang masih bisa dibaca, lembaran kulit dengan surat leluhur, dan beberapa peralatan yang mungkin akan berguna dalam perjalanan selanjutnya. Sebelum mereka meninggalkan kuil Tianlong, Yin Chen berhenti di depan lukisan dinding yang menggambarkan kedua pemain Permainan Cermin. Dia menyentuh lukisan tersebut dengan hati-hati sebagai tanda rasa hormat kepada leluhur yang telah menyimpan semua pengetahuan ini untuk mereka.
“Sekarang kita tahu kebenaran,” kata Lan Wei sambil menunggu di pintu masuk kuil. “Sekarang kita hanya perlu memiliki keberanian untuk menghadapinya.”
Yin Chen mengangguk dan bergabung dengan dia. Mereka keluar dari kuil Tianlong dan mulai perjalanan kembali ke bawah lereng gunung, dengan tujuan baru yang jelas di benak mereka. Matahari sudah mulai bergeser ke arah tengah hari, memberikan sinar yang cukup untuk menerangi jalan mereka pulang. Mereka tahu bahwa perjalanan ke desa Qinghe akan lebih panjang dan lebih berbahaya daripada perjalanan ke kuil Tianlong, namun mereka juga tahu bahwa ini adalah langkah yang harus mereka ambil untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran yang akan datang.
Saat mereka menjauh dari kuil yang terlupakan tersebut, suara angin yang bertiup melalui puncak pohon-pohon besar terdengar seperti doa untuk keberhasilan perjalanan mereka. Kuil Tianlong kembali terbenam dalam keheningan dan kesendiriannya, namun kini ia telah menyelesaikan tugasnya—memberikan kebenaran yang telah tersembunyi selama berabad-abad kepada mereka yang berhak menerimanya.