"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: KEBENARAN YANG TERGORES
BAB 29: KEBENARAN YANG TERGORES
Sel tahanan sementara di markas rahasia Adiwangsa itu tidak memiliki jendela. Hanya ada satu lampu bohlam yang menggantung rendah, memberikan bayangan panjang yang menyeramkan pada sosok Bi Sumi yang kini terduduk lesu dengan tangan terborgol ke meja besi. Wajahnya yang biasa terlihat teduh dan penuh kasih sayang sebagai pengasuh, kini tampak seperti topeng yang retak, memperlihatkan kebencian yang sudah membusuk selama belasan tahun.
Di seberang meja, Alana duduk dengan punggung tegak. Ia tidak lagi mengenakan gaun yang sobek; ia kini memakai kemeja putih bersih milik Kenzo yang kebesaran di tubuhnya, memberikan kesan rapuh namun sekaligus berwibawa. Di sampingnya, Elvan berdiri dengan tangan bersedekap, matanya tidak pernah lepas dari gerak-gerik Bi Sumi.
"Berapa lama, Bi?" tanya Alana pelan. Suaranya tidak lagi penuh amarah, melainkan penuh kekecewaan yang mendalam. "Berapa lama Bibi merencanakan untuk membunuhku?"
Bi Sumi mendongak. Ia tertawa parau, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan kertas pasir. "Sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di rumah ini, Alana. Setiap kali aku menyuapimu saat kau kecil, setiap kali aku mengusap rambutmu... aku selalu membayangkan bagaimana rasanya jika tangan ini mencekik lehermu sampai kau tidak bernapas lagi."
Elvan menggebrak meja hingga menimbulkan bunyi dentum yang memekakkan telinga. "Jaga bicaramu, Sumi! Kami sudah memberikan segalanya untukmu!"
"Kalian memberikan uang!" balas Bi Sumi dengan teriakan yang melengking. "Tapi kalian tidak pernah memberikan keadilan untuk adikku, Sartika! Dia hanya seorang perawat muda yang punya mimpi, tapi ibumu, Elena, menjadikannya wadah untuk memurnikan darahmu yang cacat itu! Dia mati dengan organ yang hancur, dan ibumu membuangnya seperti bangkai di hutan Berlin!"
Alana memejamkan mata, mencoba menahan air mata yang mendesak keluar. "Jika ibuku bersalah, kenapa Bibi tidak melaporkannya? Kenapa Bibi harus menghancurkan hidupku selama sepuluh tahun lewat Raka?"
Bi Sumi tersenyum sinis. "Karena melaporkannya tidak akan cukup. Aku ingin kau merasakan apa yang aku rasakan. Kehilangan harga diri, kehilangan cinta, dan akhirnya... kehilangan nyawa. Dan kau tahu siapa yang membantuku mendapatkan akses ke Raka?"
Alana menahan napas. "Siapa?"
"Bukan Wilhelm. Tapi pria yang kau panggil 'Ayah' dari kekasihmu itu," Bi Sumi mencondongkan tubuhnya ke depan. "Tuan Besar Dirgantara. Dia yang menemukanku di Jerman. Dia yang tahu dendamku, dan dia yang menyarankanku untuk masuk ke keluarga Adiwangsa. Dia ingin kau hancur secara mental agar kau mudah dikendalikan saat waktunya tiba untuk mengambil darahmu."
Ruangan itu mendadak sunyi. Alana merasa seolah-olah seluruh oksigen di sekitarnya tersedot habis. Jadi, ini bukan sekadar dendam pribadi seorang pembantu. Ini adalah konspirasi besar yang melibatkan dua kekuasaan raksasa: Von Heist dan Dirgantara.
Di Kamar Pemulihan Kenzo – Lantai Atas.
Kenzo sedang duduk di tepi ranjang, menatap sebuah amplop cokelat tua yang baru saja diantarkan oleh Satya secara rahasia. Bahunya masih dibalut perban tebal, namun rasa sakit fisiknya tidak sebanding dengan kengerian yang ia baca di dalam dokumen itu.
Itu adalah laporan audit internal Dirgantara Group dari sepuluh tahun yang lalu. Ada aliran dana gelap yang sangat besar menuju sebuah yayasan riset medis di Jerman. Dan di bawah laporan itu, terdapat tanda tangan ayahnya yang sangat jelas.
"Kenapa, Yah?" bisik Kenzo dengan suara parau. "Kenapa Ayah melakukan ini pada wanita yang aku cintai?"
Pintu kamar terbuka. Alana masuk dengan langkah gontai. Ia melihat Kenzo memegang dokumen itu dan ia segera tahu bahwa Kenzo sudah mendapatkan kebenarannya.
Alana berjalan mendekat, lalu duduk di lantai di depan kaki Kenzo, menyandarkan kepalanya di lutut pria itu. "Dia sudah tahu segalanya, Kenzo. Bi Sumi menceritakan semuanya."
Kenzo meletakkan dokumen itu dan mengusap rambut Alana dengan tangan yang gemetar. "Ayahku... dia adalah bagian dari semua ini. Alana, aku tidak tahu harus berkata apa. Aku merasa separuh dariku adalah bagian dari monster yang menghancurkanmu."
Alana mendongak, menatap mata Kenzo yang penuh dengan rasa bersalah yang teramat dalam. "Kau bukan ayahmu, Kenzo. Tapi sekarang kita punya masalah besar. Bi Sumi bilang, Wilhelm dan ayahmu sedang merencanakan sesuatu yang disebut 'Proyek Mawar Abadi'. Dan mereka membutuhkan sampel terakhir dari tulang belakangku dalam waktu 48 jam ke depan, atau mereka akan mulai melenyapkan kakak-kakakku satu per satu."
Kenzo tertegun. "Mereka mengancam kakak-kakakmu?"
"Satya baru saja menemukan bukti bahwa perusahaan Elvan sedang diserang oleh auditor pemerintah yang disuap oleh Dirgantara. Bima dan Arya juga sedang diselidiki atas tuduhan kepemilikan senjata ilegal. Ini adalah serangan total, Kenzo. Mereka ingin mengisolasi aku agar aku menyerahkan diri."
Kenzo mengepalkan tinjunya. Ia berdiri meski tubuhnya masih goyah. "Jika mereka ingin perang, maka kita akan berikan mereka perang yang tidak akan pernah mereka lupakan. Kita tidak akan lari lagi, Alana."
Di Lokasi Tersembunyi – Penjara Pusat.
Raka dan Siska duduk di dalam sel yang berbeda, namun dipisahkan hanya oleh jeruji besi. Raka tampak tenang, seolah ia tahu ia tidak akan lama di sana. Sedangkan Siska terus meratapi nasibnya, kuku-kukunya yang dulu cantik kini patah karena mencakar dinding sel.
"Diamlah, Siska," geram Raka. "Kau pikir Wilhelm akan membiarkan kita membusuk di sini? Kita tahu terlalu banyak. Dia akan mengirim tim untuk menjemput kita malam ini."
"Kau selalu bilang begitu!" jerit Siska. "Tapi lihat kita sekarang! Kita kalah, Raka! Alana menang!"
"Alana belum menang," Raka tersenyum miring, sebuah senyum yang memperlihatkan kegilaan yang belum padam. "Dia baru saja mengetahui rahasia ibunya. Itu akan menghancurkannya dari dalam. Dan saat tim pembebas datang nanti, aku tidak akan lari ke luar negeri. Aku akan kembali untuk mengambil apa yang tersisa dari mawar itu."
Tiba-tiba, lampu penjara berkedip dan mati total. Suara alarm tanda bahaya tidak berbunyi, justru kesunyian yang mencekam yang datang. Dari kejauhan, terdengar suara langkah sepatu bot yang berat dan teratur.
Raka berdiri, memegang jeruji besi dengan semangat. "Lihat? Mereka sudah datang."
Namun, saat pintu blok sel terbuka, yang muncul bukanlah tim penyelamat berpakaian hitam. Melainkan sosok pria tua dengan setelan jas mahal dan tongkat berkepala perak.
Tuan Besar Dirgantara.
Pria itu berdiri di depan sel Raka dengan tatapan dingin yang bisa membekukan darah. "Kau gagal melakukan tugasmu dengan rapi, Raka. Dan kau tahu apa yang kami lakukan pada alat yang sudah tumpul?"
Raka mundur setapak, wajahnya yang tadinya penuh kemenangan kini berubah menjadi pucat pasi. "Tuan... saya bisa menjelaskan... Alana hampir saja menandatangani—"
"Tidak perlu," potong Tuan Besar Dirgantara. Ia menoleh ke arah pengawalnya. "Bersihkan tempat ini. Jangan tinggalkan jejak apa pun. Termasuk wanita di sebelah itu."
Siska menjerit saat melihat salah satu pengawal mengeluarkan sebuah jarum suntik berisi cairan bening. Malam itu, di balik jeruji besi yang gelap, sebuah rahasia besar berusaha dikubur selamanya dengan cara yang paling kejam.