NovelToon NovelToon
Kapan Cinta Datang?

Kapan Cinta Datang?

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Evelyn12

"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."

" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."

"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berdiam Diri

Dimas terbangun dari tidur, ia terlihat kebingungan karena mendapati dirinya berada di kamar Naina. Matanya berputar ke segala arah tapi tidak mendapati Naina di sana. Dimas lantas beranjak. Ia berjalan keluar walau sedikit sempoyongan.

Rumah yang terlihat berbeda. Sepi.

"Sudah bangun, Mas?" Naina yang tiba-tiba saja datang saat Dimas hendak masuk ke kamarnya.

"Nai..." Lirih Dimas dan memperhatikan Naina dengan seksama. Naina hanya membalas dengan senyum kecil.

"Mandi dan kemudian sarapan." Jawab Naina kemudian. Dimas mengangguk. Pria itu seperti merasakan ada yang berbeda, tapi susah untuk dijelaskan. Dirinya pun menyadari mata Naina sembab, seperti habis menangis semalaman.

"Apa yang terjadi?" Benak Dimas yang sama sekali tidak mengingat apapun yang terjadi tadi malam.

***

Suasana meja makan kali ini sedikit berbeda. Hening, yang terdengar hanya suara sendok yang beradu dengan piring. Tidak ada obrolan, yang membuat Dimas semakin bingung. Ia menatap Naina yang hanya diam menikmati sesuap demi sesuap nasi goreng yang ada di piringnya.

Apalagi sikap Naina. Gadis itu sedari tadi hanya diam saja dan seperti sengaja menghindari kontak mata dengan Dimas.

"Aku sudah selesai." Ucap Dimas kemudian beranjak.

Untuk pertama kali Naina hanya menyalami tangan Dimas dan membiarkan pria itu berjalan sendiri menuju garasi mobil untuk berangkat kerja.

Dimas berangkat ke kantor tanpa sepatah kata, tanpa lambaian tangan, serta tanpa senyuman dari Naina yang membuat Dimas semakin bertanya-tanya.

Sementara itu di dalam rumah.

Naina masih duduk di meja makan. Ia berdiam diri dan membiarkan dirinya terlelap dalam lamunan.

"Aku hanya ingin memberi tahu mu tentang perasaan ku dalam diam ku, Mas. Aku ingin kamu menyadari kamu sudah menyakiti aku. Aku hanyalah manusia biasa yang juga bisa merasakan sakit, ingin di mengerti dan ingin dihargai. Sesulit itu kah?"

"Sampai saat ini aku selalu bertanya. Sampai kapan... sampai kapan rumah tangga kita terus seperti ini?"

*

Parkiran kantor sudah di penuhi oleh kendaraan karyawan. Seperti biasa, mereka semua telihat sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Lembaran kertas, komputer, angka, data seperti sudah menjadi makanan sehari-hari.

"Kusut kali!" Sapa Tony. Ia menggeser kursi kerjanya hingga sekarang berada di sebelah Dimas.

"Iya. Ton." Jawab Dimas dengan senyum kecil.

"Ada masalah?"

Dimas mengusap wajahnya, ia mendengus.

"Gua bingung sekarang."

"Kenapa?"

"Gua bingung Ton, gimana bikin Naina bahagia. Gua udah mencoba mencintai dia dan membuka hati, tapi kenapa rasanya sulit sekali. Bukan bahagia yang gua kasih, tapi malah kesedihan. Gua menyadari itu. Sudah berapa bulan berlalu, gua merasa belum menjadi suami yang baik untuk Naina."

"Gua masih belum bisa menjalani rumah tangga ini seutuhnya, Ton. Jujur saja. Di depan ortu gua, di depan kalian mungkin rumah tangga kita terlihat baik-baik aja. Tapi tidak di dalamnya." Sambung Dimas.

"Gua masih asik dengan dunia gua sendiri. Naina pun demikian. Gua tau dia gak bahagia tapi hanya bisa memendam. Rumah tangga kita penuhi dengan keheningan."

Tony menyimak ucapan Dimas dengan seksama. Raut wajah Dimas seolah berbeda kali ini. Tony sangat paham, Dimas banyak memendam perasaan.

"Pelan-pelan jangan terburu-buru. Gua paham posisi lu, Dim. Gua sebagai sahabat lu dan orang yang berpengalaman dalam rumah tangga cuma bisa memberi saran, baiknya kalian sering luangkan waktu berdua. Contohnya liburan, atau apalah yang bisa bikin hubungan kalian menjadi akrab. Kalau sama-sama keras dan sering diam-diaman mau sampai kapan?"

"Entahlah. Rasanya sangat sulit membangun komunikasi. Karena gua pun bingung mau membahas apa, bicara apa."

Tony menyimak ucapan Dimas dengan seksama. Raut wajah Dimas seolah berbeda kali ini. Tony sangat paham, Dimas banyak memendam perasaan.

Sesaat mereka hening.

"Gua jadi merasa bersalah sama lu, Dim. Karena gimana pun, gua turut andil dalam pernikahan lu."

Dimas menyunggingkan senyum. "Gak lah! Ini semua keputusan gua."

"Gua sebagai sahabat peduli sama lu, Dim. Gua bisanya cuma kasih nasihat. Cinta itu bisa tumbuh ketika lu nemuin sesuatu yang sulit di jelasin pada diri seseorang, hal yang bikin lu mantepin hati untuk menaruh cinta. Semoga lu bisa nemuin itu pada diri Naina."

"Makasih ya, Ton. Semoga aja."

"Lu juga jangan sungkan-sungkan buat cerita biar gak mumet pala lu."

Dimas menepuk bahu Tony di sertai senyum kecil.

"Masalahnya sekarang, Sarah kembali. Dan itu yang membuat gua semakin tersiksa rasanya. Hati gua udah terkunci buat dia." Benak Dimas.

***

1
pojok_kulon
Kamunya setia belum tentu dia yang disana juga setia sama kamu Dim 🤭🤭
pojok_kulon
Duh gemasnya
pojok_kulon
Pasti Dimas menunggu cinta pertamanya ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!