Aurora menyeringai, "Kakak maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti mu. Selama ini kami saling mencintai. Karena kamu memaksa, akhirnya Jake menikahi mu. Jadi aku mengambil yang sudah menjadi hak ku."
"Apa maksud mu? Jake suami ku," ucap Caroline dengan nada menekan. Air matanya sudah mengalir, entah semenjak kapan. Ia tidak tau. Sakitnya seperti tercabik-cabik.
Tommy tertawa dan melangkah ke arah Caroline. "Jake suami mu." Sekali lagi ia mengulang ucapan Caroline. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Caroline. "Apa selama ini kau menikmati pelayanan ku?"
.....
Demi balas dendam untuk kekasihnya. Jake Willowind dan Tommy Willowind menggunakan sandiwara. Mereka bergantian tidur dengan Caroline. Seolah Caroline adalah barang. Sehingga suatu hari, Caroline mengetahui semuanya bahwa Jake memiliki saudara kembar dan sering kali berperan sebagai suaminya. Bahkan suaminya diam-diam masih bersama dengan adik tirinya Aurora.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua puluh tujuh
Jake langsung bergegas menemui Aurora di rumah yang telah ia belikan untuk Aurora agar wanita itu tidak mengatakan yang tidak-tidak pada publik. Demi membungkamnya ia bagaikan boneka yang melakukan apa saja demi Aurora.
Jake menghubungi Tommy, Luca, Caroline, Nenek dan Kakeknya serta mantan ayah mertuanya Daddy Dion untuk ke rumah Aurora.
"Test DNA mengatakan anak Aurora bukan anak ku. Mari kita bertemu di rumah Aurora."
Setelah mengirim pesan singkat itu, Jake menatap kertas di tangannya.
"Aurora kali ini aku benar-benar akan membunuh mu." Geramnya. Ia tidak akan melepaskan Aurora sampai wanita itu merasakan kematian yang menyakitkan.
"Siapkan air sampah," ucap Jake pada pelayan Aurora. Sebelum ia datang. Semua sampah itu harus ada.
Jake menatap bangunan dua lantai. Dia pun masuk dan seorang pelayan membawa satu ember sampah.
"Masih kurang, bawakan yang banyak." Tegasnya dengan dingin.
"Baik Tuan.."
Sementara itu, Daddy Dion tertawa. Dia yang berada di kantornya bergegas pulang lalu menemui Mommy Melisa. Dia melihat Mommy Melisa sedang mengepel lantai.
"Melisa, ikut aku. Akan ada pertunjukan yang menarik."
"Apa yang mau kamu lakukan? Kamu tidak bisa menghina kami lagi setelah anak Aurora terbukti anak Jake," ucap Mommy Melisa dengan nada sombong.
"Oh, benarkah?" tanya Daddy Dion terkekeh. Dia menarik lengan Mommy Melisa dengan kasar dan menyeretnya keluar.
...
Caroline tersenyum, ia tidak perlu terburu-buru menemui Aurora dan Jake. Ia harus datang terlambat. Biarkan mereka meredang dulu. Rasanya ia ingin sekali tertawa melihat wajah mereka.
"Sayang sekali Aurora. Tubuh mu rusak dan kau tidak bisa memenuhi keinginan mu."
"Mommy tidak mau pergi?" tanya Luca. Dia sudah tau keadaan mereka. "Mau melihat wajah mereka? Mereka pasti menunggu Mommy."
Luca memberikan ponselnya. Caroline melihatnya dan tersenyum.
"Jake aku akan datang terlambat. Maaf ya, aku masih menemani Luca."
"Baiklah."
Jake hanya tersenyum, dia menyuruh pelayan untuk membawa Aurora.
"Tidak mungkin. Aurora pasti di jebak," ucap Mommy Melisa sambil meyakinkan mereka.
Sedangkan dari tangga. Terlihat Aurora sedang menggendong anaknya. Dia tersenyum dan yakin pasti mereka akan minta maaf padanya karena sudah memperlakukannya dengan buruk.
"Mommy."
Aurora menatap Mommy Melisa yang gelisah. Kedua matanya berair hampir menjatuhkan air matanya. "Mommy kenapa?"
Jake berdiri sebelum Mommy Melisa menyela. wanita itu hanya bisa menatap Jake.
"Apa benar anak itu anak ku Aurora?" tanya Jake dengan nada dingin.
Aurora merasa yakin. "Kau sudah mempertanyakan yang sudah jelas. Anak ini anak mu Jake. Kenapa kau tidak yakin." Dia memberikan anak itu
Jake memberikan hasil test DNA. Dia melemparkan ke wajah Aurora.
Aurora mengambilnya laporan itu dan membacanya. Dia menggelengkan kepalanya. Jelas malam itu adalah Jake.
"Apa kau yakin malam itu adalah aku bukan pria lain?" tanya Jake.
Aurora menatap lekat wajah Jake. Ia ingat bahwa malam itu ia tidak melihat wajah Jake.
"Maaf aku datang terlambat."
Aurora menoleh dengan kedua mata memerah bercampur amarah. Ia dengan jelas menatap Caroline dan pastinya semua rencana Caroline untuk menjebaknya.
"Ini semua gara-gara kamu Caroline." Teriak Aurora dengan murka. Dia berlari dan mencekik Caroline.
Semua orang terkejut. Jake dan Tommy memisahkan tangan Aurora. Dengan cepat Jake menampar Aurora hingga wanita itu jatuh ke lantai.