Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Sinar matahari pagi yang hangat menyambut kepulangan Akhsan dari rumah sakit.
Meskipun langkahnya masih sedikit kaku dan punggungnya masih dibalut perban, sorot matanya kini tampak jauh lebih jernih.
Tidak ada lagi obsesi gelap yang menghantui; yang tersisa hanyalah keinginan untuk menebus waktu yang hilang.
Mobil mewah Akhsan berhenti tepat di depan apartemen Christian.
Di lobi, Christian berdiri tegak, memegang tangan Aruna dengan protektif. Namun, kali ini tidak ada ketegangan di antara kedua pria itu.
Kesepakatan besar telah dibuat demi kebahagiaan Aruna.
Christian kini telah resmi menjabat sebagai CEO Hermawan Group, posisi yang ia ambil untuk menjaga aset istrinya sementara Aruna fokus pada pemulihan mentalnya.
"Jaga dia, dan aku akan menjemputnya nanti sore," ucap Christian kepada Akhsan dengan nada bicara yang tegas namun tidak lagi mengandung kebencian.
Akhsan menganggukkan kepalanya dengan tulus.
"Aku berjanji, Christian. Dia aman bersamaku."
Aruna memberikan kecupan singkat di pipi suaminya sebelum melangkah masuk ke dalam mobil Akhsan.
Ini adalah perjalanan yang sangat berat bagi hatinya.
Ia akan kembali ke rumah tempat ia pernah dihina, namun kali ini sebagai pemilik sah dan sebagai putri yang diakui.
Di dalam mobil, suasana sempat hening. Akhsan melirik Aruna dari kaca spion tengah.
"Zahra, maksudku, Aruna. Terima kasih sudah mau ikut denganku menemui Papa."
"Aku melakukannya bukan untuk melupakan masa lalu, Mas," jawab Aruna tenang sambil menatap jalanan.
"Aku melakukannya agar aku bisa benar-benar melangkah maju. Aku butuh jawaban langsung dari mulutnya."
Mobil pun melaju meninggalkan hiruk pikuk kota, menuju ke kawasan perumahan elit tempat rumah besar keluarga Hermawan berdiri tegak.
Rumah yang dulu menjadi saksi bisu jeritan Zahra di dalam gudang gelap, kini tampak sunyi menanti kepulangan sang pemilik darah yang sebenarnya.
Akhsan memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu utama.
Dengan lembut, ia membukakan pintu untuk Aruna.
"Mari. Papa sudah menunggumu di dalam. Dia tidak bisa turun dari tempat tidurnya, tapi dia tahu kamu akan datang."
Aruna menarik napas panjang, menguatkan hatinya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah yang pernah menjadi nerakanya itu.
Langkah Aruna terdengar pelan namun mantap di atas lantai marmer yang dingin.
Saat pintu kamar utama terbuka, aroma obat-obatan menyambutnya.
Di atas ranjang besar, sosok Papa Hermawan tampak ringkih dan lumpuh, jauh dari kesan pria perkasa yang dulu ia takuti.
Melihat Aruna datang, mata Papa Hermawan langsung berkaca-kaca.
Ia mencoba bicara, namun suaranya hanya berupa rintihan serak.
Dengan tangan yang gemetar hebat, ia menunjuk ke sebuah laci kayu di samping tempat tidurnya.
Akhsan membantu mengambilkan sebuah kotak kayu berukir kuno yang tampak sangat terawat.
"Bu, maafkan Papa..." bisik Papa Hermawan dengan air mata yang membasahi bantalnya.
Ia menyerahkan kotak itu ke tangan Aruna. Di dalamnya terdapat surat-surat lama dan perhiasan milik ibu kandung Aruna bukti sah bahwa Aruna adalah satu-satunya pewaris darah dan harta Hermawan.
Di sudut ruangan, Mama Hermawan yang selama ini bersikap dingin hanya bisa tertunduk lesu.
Ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk membela diri.
Dengan langkah ragu, ia mendekati Aruna.
"Zahra, aku tahu kata maaf tidak akan pernah cukup," ucap Mama Hermawan dengan suara bergetar.
"Aku membiarkan semua ketidakadilan ini terjadi karena rasa iriku pada ibumu. Maafkan aku."
Suasana haru itu pecah ketika pintu kamar diketuk.
Sosok yang sangat dirindukan Aruna muncul: Bibi Renggo. Wanita tua itu adalah satu-satunya orang yang memberikan kasih sayang tulus saat Aruna masih disiksa di rumah ini.
"Neng Zahra..." Bibi Renggo berlari kecil dan memeluk Aruna dengan erat, tangisnya pecah seketika.
Aruna membalas pelukan itu dengan hangat. "Bi, aku ingin Bibi kembali. Aku ingin Bibi bekerja di sini lagi untuk menjaga rumah ini dan menjaga Mas Akhsan."
Bibi Renggo mengusap air matanya dengan ujung kebaya.
"Demi Neng Zahra, Bibi akan kembali bekerja di sini. Bibi tidak akan membiarkan Neng sendirian lagi kalau mampir ke sini."
Melihat ketulusan itu, Mama Hermawan tiba-tiba melangkah maju dan memeluk Bibi Renggo juga.
Sebuah pemandangan yang mustahil terjadi di masa lalu; sang majikan yang angkuh kini memeluk pelayannya sebagai tanda bahwa kesombongan rumah itu telah runtuh dan digantikan oleh penyesalan yang mendalam.
Suasana ruang makan yang dulu terasa kaku dan dingin, kini tampak lebih hidup.
Aroma masakan Bibi Renggo yang khas—semur daging dan sayur lodeh kesukaan Zahra dulu—memenuhi ruangan.
Aruna duduk dengan tenang, mengunyah makanannya dengan anggun, sesekali tersenyum tipis saat Bibi Renggo menambah porsi nasi di piringnya.
Akhsan duduk di seberangnya. Ia memegang sendoknya, namun matanya lebih sering tertuju pada sosok Aruna daripada makanannya sendiri.
Ia memperhatikan bagaimana cara Aruna merapikan rambut di balik telinganya, sebuah gerak-gerik yang sangat identik dengan Zahra kecil yang dulu selalu mengekor di belakangnya.
"Makanlah, Mas. Jangan hanya dilihat," ucap Aruna tanpa mendongak, menyadari tatapan Akhsan yang intens.
Akhsan tersentak, lalu menunduk dalam-dalam. Di dalam benaknya, memori masa lalu berputar seperti film tua.
Ia ingat bagaimana Zahra dulu selalu mencoba duduk di dekatnya, menatapnya dengan mata berbinar penuh pemujaan, sementara ia justru membalasnya dengan bentakan dan pengusiran.
'Andaikan waktu bisa diulang, aku akan mencintaimu dengan cara yang benar, Zahra," gumam Akhsan dalam hati.
Dada pria itu terasa sesak oleh kata "seandainya" yang kini sudah tidak berguna lagi.
Ia menyadari satu hal yang menyakitkan: wanita di hadapannya ini bukan lagi Zahra yang bisa ia miliki.
Dia adalah Aruna, istri sah dari Christian, pria yang telah memberikannya perlindungan saat dunia menghancurkannya.
"Zahra—maksudku Aruna," suara Akhsan terdengar serak.
"Setelah ini, apakah kamu akan sering berkunjung ke sini? Rumah ini, terasa sangat kosong jika hanya ada aku dan Papa."
Aruna meletakkan sendoknya, menatap Akhsan dengan tatapan yang sudah tidak lagi mengandung kebencian, namun juga tidak ada cinta romantis di sana.
"Aku akan datang sebagai adikmu, Mas. Sebagai keluarga. Tapi ingat, duniaku kini sudah bukan di sini lagi."
Mama Hermawan yang duduk di ujung meja hanya bisa menunduk, menyadari bahwa ia telah menghancurkan kesempatan putranya sendiri untuk bahagia karena hasutan kebencian yang ia tanamkan sejak dulu.
Tiba-tiba, ponsel Aruna bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat dari Christian masuk.
"Aku sudah di depan rumah untuk menjemputmu, Sayang."
Aruna tersenyum, sebuah senyum tulus yang membuat hati Akhsan kembali berdenyut perih. Ia tahu, waktu untuknya telah habis.
Tak lama kemudian, pintu besar jati itu terbuka, dan Christian melangkah masuk dengan setelan jas yang masih rapi sosok CEO yang kini memegang kendali penuh atas kekaisaran bisnis Hermawan.
Langkah kakinya menggema di ruang makan, membuat suasana mendadak hening.
Akhsan berdiri, menyambut kedatangan pria yang kini telah mengambil alih semua yang pernah ia banggakan: perusahaan, takhta, dan wanita yang dicintainya.
"Sudah selesai makan siangnya?" tanya Christian tenang sambil merangkul pundak Aruna, menunjukkan kepemilikan yang halus namun tegas.
Aruna mengangguk kecil. "Sudah, Chris."
Christian kemudian mengalihkan pandangannya pada Akhsan.
Tidak ada lagi kilat amarah di matanya, yang ada hanyalah tatapan dingin seorang profesional.
"Besok temui aku di perusahaan tepat jam sembilan pagi," ucap Christian.
"Aku ingin Anda bekerja di sana untuk memantau operasional. Anggap saja ini kesempatan untuk menjaga warisan keluarga Anda sendiri dari dekat."
Akhsan tertegun. Ia tidak menyangka Christian akan memberinya tempat di perusahaan yang sudah secara sah berpindah tangan.
"Tapi Christian, aku seorang dosen. Aku berencana kembali ke kampus," jawab Akhsan ragu.
Christian tersenyum tipis, sebuah senyum yang sulit diartikan.
'Aku sudah mengeceknya. Karena skandal yang melibatkan Sisil dan namamu akhir-akhir ini, pihak universitas sudah menutup pintu. Di kampus sudah tidak ada lowongan lagi untuk dosen dengan rekam jejak sepertimu, Akhsan."
Kalimat itu bagai tamparan keras bagi harga diri Akhsan.
Ia sadar bahwa dunia akademis yang ia cintai telah menolaknya karena dosa-dosa masa lalunya.
"Hanya aku yang bisa memberimu posisi sekarang. Bukan sebagai pemimpin, tapi sebagai pengawas," lanjut Christian.
"Pikirkan baik-baik. Ini demi masa depan Papa Hermawan juga."
Akhsan terdiam sejenak, menatap Aruna yang hanya diam mematikan reaksinya. Akhirnya, Akhsan menganggukkan kepalanya perlahan.
"Baik. Aku akan datang besok pagi. Terima kasih, Christian."
"Bagus. Ayo, Aruna, kita pulang," ajak Christian.
Christian menuntun Aruna keluar dari rumah itu. Sebelum benar-benar pergi, Aruna sempat menoleh sekali lagi ke arah Akhsan dan rumah masa kecilnya.
Ia melihat Akhsan berdiri mematung di tengah kemegahan rumah yang kini terasa sunyi.
Kini, peran mereka telah benar-benar tertukar; Aruna pergi menuju cahaya, sementara Akhsan harus belajar hidup di bawah bayang-bayang pria yang dulu ia remehkan.
ga mau jujur punya penyakit
mas bacanya, ini aja bacanya langsng lompat