NovelToon NovelToon
Di Balik Darah Yang Kucinta

Di Balik Darah Yang Kucinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Sci-Fi
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.

Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.

Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.

Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Suasana ruang tamu keluarga Bahng mendadak terasa seperti ruang interogasi milik kepolisian yang tidak ramah. Sinar matahari musim semi yang menerobos masuk melalui celah tirai tidak mampu menghangatkan atmosfer yang membeku.

Di hadapan Axel, yang duduk dengan sikap yang terpaksa rileks di sofa, duduk Tuan Kim—Papa Lusy—dengan setelan jas hitam formal yang masih rapi tanpa satu pun kerutan yang terlihat. Namun, wajahnya yang biasanya tampak tenang dan penuh dengan kepercayaan diri kini menyiratkan ketegasan yang mengintimidasi; alis yang tebal terkunci menjadi satu, dan rahang bawahnya tampak mengeras seolah-olah ia sedang menggertakkan gigi dalam hati.

Di sebelahnya, Ibu Kim duduk dengan tubuh yang sedikit membungkuk ke depan, kedua tangannya terus-menerus meremas sapu tangan yang sudah mulai kusut di antara jemari-jemarinya yang kecil. Matanya tampak sembab dan merah karena kecemasan yang berlarut-larut, dan bibirnya terus-menerus digigit hingga hampir memerah.

"Tiga hari..." Suara Papa Kim terdengar berat. Ia menjulurkan tangan kanannya untuk mengambil cangkir teh yang sudah disajikan di atas meja tamu, namun tidak menyentuhnya—hanya menempatkan telapak tangannya di atas permukaan cangkir.

"Tiga hari sejak Lusy mendarat dari bandara Incheon, dan dia bahkan tidak menunjukkan batang hidungnya di rumah kami. Pesan singkat yang dikirimkan melalui aplikasi pesan hanya berisi beberapa kalimat yang terasa tidak alami, sama sekali tidak seperti gaya bahasa putriku yang biasanya penuh dengan semangat dan candaan kecil."

Axel merasakan bagaimana keringat dingin mulai menetes perlahan dari pelipisnya ke lehernya, meskipun ruangan sebenarnya tidak terasa panas. Ia mengeratkan pegangannya pada cangkir teh hijau yang sudah mulai mendingin di tangannya. Jantungnya berdegup kencang, menghantam dinding dadanya dengan ritme yang menyakitkan seolah-olah ingin keluar dari dalam tubuhnya.

Setiap denyut nadi seolah mengingatkannya akan apa yang ada hanya beberapa meter di bawah lantai yang mereka injaki. Lusy mungkin sedang merintih kesakitan dalam pengaruh bius yang diberikan oleh Ana, tubuhnya bergelut dengan transformasi yang mengerikan yang tidak bisa dikendalikan. Satu kesalahan bicara saja, satu ekspresi wajah yang salah, dan seluruh benteng kebohongan yang mereka bangun selama ini akan runtuh dengan cepatnya tanah longsor.

𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘮𝘦𝘵𝘢𝘳. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵. 𝘒𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘓𝘶𝘴𝘺. 𝘜𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢. Bisik suara batinnya.

"Maafkan kami, Tuan Kim." Suara Doni menyela dengan tepat waktu, datang dari kursi di pojok ruangan di mana ia telah duduk dengan tenang namun waspada selama ini.

Ia berdiri perlahan dan berjalan ke arah Axel, kemudian menempatkan tangannya di bahu anaknya. Gerakan itu tampak seperti bentuk dukungan yang penuh kasih sayang, namun sebenarnya adalah upaya untuk menahan tubuh Axel yang mulai tidak sadar menggigil karena ketegangan.

"Ini semua terjadi begitu mendadak, benar-benar tidak ada waktu untuk melakukan persiapan yang matang. Lusy... dia tiba-tiba dipanggil oleh kampusnya untuk bergabung dalam sebuah proyek riset darurat yang sudah direncanakan sejak lama tapi baru saja mendapatkan persetujuan resmi."

Tuan Kim menyipitkan mata dengan tajam, dan tatapannya yang seperti pisau yang diasah mulai terkunci pada wajah Axel. Garis rahangnya menjadi lebih jelas, menunjukkan bahwa ia sedang mengendurkan otot-otot wajahnya dengan keras untuk tetap tenang.

"Proyek riset apa yang bisa begitu mendesak sampai dia tidak punya waktu untuk sekadar datang ke rumah dan memeluk ibunya sendiri?" Tanyanya dengan nada tajam dan penuh kecurigaan. Ia akhirnya mengambil cangkir teh di hadapannya dan meneguknya sedikit, namun ekspresinya tetap tidak berubah—masih penuh dengan keraguan yang mendalam.

"Kita sudah tidak bertemu dengan Lusy selama tiga bulan karena dia sedang melakukan penelitian di luar negeri. Akankah satu atau dua jam saja untuk berkunjung ke rumah terlalu banyak untuk sebuah proyek riset?"

Axel merasa seperti sedang ditindas oleh batu besar yang terus menerus menekannya ke bawah. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan diri dan memaksakan dirinya untuk menatap mata pria yang seharusnya menjadi mertuanya itu suatu saat nanti dengan tatapan penuh dengan keyakinan.

"Ini proyek kolaborasi besar antara Universitas Melbourne di Australia dan Kementerian Kesehatan Republik Korea, Pa. Mereka sedang melakukan riset tentang variasi baru patogen yang ditemukan di wilayah pedalaman Provinsi Gangwon. Kondisi alam di sana sangat unik dan belum banyak diteliti, sehingga mereka membutuhkan spesialis dengan latar belakang ilmu biologi molekuler seperti Lusy untuk melakukan observasi lapangan segera setelah musim salju mulai mencair. Lokasinya benar-benar sangat terpencil—bahkan berada di luar area yang memiliki akses jalan raya yang layak—dan sinyal satelit pun sering terganggu karena bentuk alam yang bergelombang dan banyaknya pepohonan tinggi yang tumbuh di sana."

"Pedalaman Gangwon?" Ibu Kim menyela, menunjukkan bahwa kekhawatirannya sudah mencapai titik yang tidak bisa lagi ditahan.

"Tapi dia baru saja pulang dari luar negeri. Dia pasti sangat lelah setelah perjalanan yang jauh dan jadwal kerja yang padat selama ini. Bagaimana bisa mereka memintanya untuk pergi lagi dengan begitu cepat?"

"Itulah Lusy yang kamu kenal, Ma." Axel memaksakan sebuah senyum tipis.

"Dia selalu mengutamakan perkembangan ilmu pengetahuan daripada kenyamanan pribadinya. Dia bilang padaku bahwa ini adalah kesempatan sekali seumur hidup untuk berkontribusi pada penelitian yang bisa bermanfaat bagi banyak orang di masa depan. Dia sangat menyesal tidak bisa mampir dulu ke rumah kalian sebelum berangkat, tapi dia berjanji akan segera menghubungi kalian secara langsung begitu dia kembali ke zona yang memiliki jaringan komunikasi yang stabil."

Tuan Kim tidak langsung menyahut. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dengan rileks namun tetap penuh dengan kekuasaan, kemudian mulai mengetuk-ngetuk ujung jemarinya pada sandaran tangan sofa. Suara ketukan itu terdengar jelas di ruangan, membuat Axel semakin berkeringat dingin dan jantungnya berdebar semakin cepat.

Sebagai seorang pengusaha sukses yang telah mengelola perusahaan tekstil besar selama lebih dari dua puluh tahun, Tuan Kim dikenal memiliki intuisi yang sangat tajam terhadap kebohongan dan hal-hal yang tidak masuk akal. Ia bisa merasakan ketika seseorang sedang menyembunyikan sesuatu darinya, dan saat ini, ia jelas sedang merasakan hal itu.

"Nada bicaramu aneh..." Ucap Tuan Kim dengan tiba-tiba, menghentikan gerakan mengetuk jarinya dan kembali menatap Axel dengan tatapan yang menusuk.

"Kamu tidak menatapku dengan cara yang sama seperti biasanya—kau selalu melihat langsung ke mata orang yang kamu bicarakan dengan penuh rasa hormat dan kejujuran. Kali ini, kamu sering mengalihkan pandanganmu, seolah-olah kamu sedang menghindari sesuatu. Selain itu, kamu terlihat... ketakutan. Kamu takut aku akan menemukan sesuatu yang kamu sembunyikan dariku."

"Pa, tolong jangan mulai lagi..." Nyonya Kim mencoba menenangkan suaminya dengan menyentuh lengan kirinya dengan lembut, namun tatapan Tuan Kim tetap terkunci pada wajah Axel tanpa sedikit pun bergerak. Ekspresi wajahnya semakin mengerut, dan ketegasan yang ada di dalamnya semakin terasa jelas.

"Aku hanya... aku hanya merindukannya dengan sangat, Pa. Aku juga tidak senang dengan keputusannya untuk pergi begitu cepat setelah dia baru saja pulang. Tapi sebagai orang yang mencintainya, aku harus mendukung kariernya dan impiannya, bukan? Aku merasa bersalah karena tidak bisa melindunginya atau menjaganya saat dia berada di lapangan yang begitu terpencil dan berbahaya seperti itu."

Doni segera mengambil kesempatan untuk menimpali dan mengalihkan fokus pembicaraan dari Axel, yang sudah mulai terlihat kesulitan untuk menjaga kebohongan itu. Ia berjalan mendekat ke meja tamu dan berdiri dengan sikap yang tegap namun ramah, matanya menatap keluarga Kim dengan tatapan penuh kesopanan dan keyakinan.

"Kami sebenarnya memiliki surat tugas resmi dari kampus Lusy—maksudku, salinan digital yang dikirimkan melalui surel ke alamat Axel." Jelas Ayah Doni dengan suara yang tenang dan jelas.

"Jika Tuan Kim ingin melihatnya untuk memastikan bahwa semua ini memang benar-benar sebuah proyek resmi, Axel bisa segera mencarinya di laptopnya dan menampilkannya kepada Anda. Kami juga bisa menghubungi dosen pembimbing Lusy di kampus jika Anda merasa perlu untuk mengkonfirmasikannya secara langsung."

Tuan Kim terdiam sebentar, sedang mempertimbangkan penawaran itu dengan cermat. Kemudian ia berdiri perlahan dari tempat duduknya, dengan gerakan keanggunan meskipun tubuhnya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan akibat perdebatan yang melelahkan ini. Nyonya Kim juga segera berdiri di sebelahnya, masih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya namun sudah mulai melihat ke arah suaminya dengan tatapan penuh harapan. Tuan Kim membetulkan letak kancing jasnya, kemudian menoleh untuk melihat Axel dengan mata yang masih memancarkan keraguan yang belum tuntas.

"Aku harap bahwa riset yang sedang dilakukan Lusy itu benar-benar sebanding dengan air mata yang telah ditiupkan ibunya karena merindukan putrinya." Ucapnya dengan berat dan penuh makna.

Ia berjalan perlahan menuju pintu ruang tamu, dengan Nyonya Kim mengikutinya dari belakang. "Beritahu dia dari aku, jika dalam dua hari ke depan dia belum menghubungi kami secara langsung dan berbicara dengan kami melalui panggilan video, aku sendiri yang akan menghubungi Kementerian Kesehatan dan meminta mereka untuk menjemputnya dari lokasi penelitiannya di Gangwon. Tidak ada proyek riset yang bisa lebih penting daripada keluarga sendiri."

Setelah itu, Tuan Kim membuka pintu ruang tamu dan keluar dari dalam rumah, diikuti oleh Nyonya Kim yang masih menangis pelan dan terus mengusap-usap matanya. Beberapa saat kemudian, suara mesin mobil keluarga Kim terdengar mulai hidup, dan kemudian perlahan-lahan menjauh dari halaman rumah Bahng hingga akhirnya hilang sama sekali di kejauhan.

Saat pintu depan rumah tertutup kembali dan kedamaian mulai menghiasi ruangan yang sebelumnya penuh dengan ketegangan, Axel merasakan bagaimana semua kekuatan yang ia kumpulkan untuk tetap berdiri tiba-tiba menghilang. Ia jatuh terduduk di lantai koridor yang terletak tepat di luar ruang tamu, punggungnya bersandar pada dinding, sementara kedua tangannya menopang tubuhnya dari bawah agar tidak benar-benar roboh.

Napasnya memburu dan tidak teratur, paru-parunya seolah-olah baru saja dipompa keluar dari ruang hampa udara sehingga ia merasa sulit untuk menarik napas dengan normal. Ia merasa seperti telah berlari sejauh puluhan kilometer tanpa henti, padahal sebenarnya ia hanya berdiri dan berbicara selama beberapa menit saja.

"Kita butuh surat tugas palsu yang benar-benar meyakinkan, Yah." Bisik Axel yang hanya bisa didengar oleh Doni yang berdiri di depannya dengan wajah penuh kesedihan.

"Papa Kim sudah mulai mencium bau busuk dari cerita yang kita buat. Dia tidak akan tinggal diam begitu saja jika Lusy tidak menghubungi mereka dalam waktu yang telah ditentukan. Kita sedang menggali lubang yang semakin dalam, dan segera nanti kita tidak akan punya cara untuk keluar darinya lagi."

Doni hanya terdiam, tidak memberikan jawaban apapun. Ia hanya menatap ke arah lemari kayu besar yang menjadi pintu tersembunyi menuju laboratorium bawah tanah, matanya dengan kesadaran akan bahaya yang mengancam mereka dari segala arah.

.

.

.

.

.

.

.

ㅡ Bersambung ㅡ

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!