Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.
Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.
Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.
Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Bunyi monitor hemodinamik di ruang isolasi berubah irama secara tiba-tiba—dari desisan stabil menjadi melodi kematian yang sumbang dan tidak beraturan. Beep panjang yang menusuk telinga menggema di ruangan tertutup itu, menyertai lonjakan tajam pada grafik yang muncul di layar.
Axel tersentak dari lamunannya yang tidak lebih dari keadaan setengah sadar, tubuhnya melompat dari kursi tanpa berpikir dua kali saat melihat tubuh Lusy di balik kaca mulai melenting kaku seperti kayu yang terkena petir.
Tubuh ramping Lusy bergetar hebat di atas brankar khusus yang dilengkapi tali pengaman, ototnya mengencang hingga menimbulkan lekukan yang jelas di bawah kulitnya. Busa tipis berwarna putih keruh bercampur sedikit warna merah muda keluar dari sudut bibirnya yang mulai membiru, mengalir perlahan ke arah dagu. Napasnya keluar dengan suara mengi yang menyakitkan, seolah saluran pernapasannya sedang tersumbat oleh sesuatu yang tidak bisa dilihat.
"Lusy!"
Axel menghambur ke arah kaca isolasi, jemarinya mencakar permukaan bening itu dengan kekuatan yang cukup besar hingga kulitnya mulai terbuka dan berdarah. Ia seperti ingin menembus lapisan kaca yang tebal itu dengan tangan kosong. Kaca itu hanya memantulkan wajahnya yang penuh dengan kepanikan dan kesedihan yang mendalam.
Di dalam ruang isolasi, Ana sudah bergerak dengan sigap. Wanita itu mencoba menahan posisi kepala Lusy agar tidak membentur bagian besi brankar yang keras, namun tenaga yang keluar dari tubuh Lusy terasa terlalu besar untuk ditahan sendirian. Tangan Ana gemetar saat ia mencoba menjaga agar lidah Lusy tidak menutupi jalan napasnya, keringat dingin menetes di dahinya meskipun ruangan diatur pada suhu dingin. Setelah hampir dua menit yang terasa seperti abad bagi mereka yang menyaksikan, tubuh Lusy akhirnya melemas secara perlahan, jatuh terkulai seperti boneka tali yang tali pengendalikannya sudah putus seluruhnya.
"Dokter, denyut nadinya melemah!" Teriak Ana dari dalam ruangan. Ia menekan jari telunjuk dan tengahnya pada leher Lusy, mencoba merasakan denyut nadi yang semakin lemah. "Darah yang kita berikan tadi melalui infus... dia memuntahkannya kembali semua. Tubuhnya menolak, Dokter! Aku sudah mencoba mengubah posisi kateter, tapi tidak ada gunanya!"
Axel segera berlari menuju pintu ruang isolasi, melewati protokol sterilisasi yang biasanya memakan waktu lima menit hanya dalam kurang dari setengahnya. Ia menusukkan kartu akses dengan tangan gemetar, memasuki ruangan setelah melalui shower semprot sterilis dan mengenakan baju pelindung sekali pakai dengan gerakan yang tergesa-gesa.
Tanpa membuang waktu, ia mendekati brankar dan memeriksa pupil mata Lusy menggunakan senter kecil. Pupilnya tidak merespon cahaya dengan baik dan menunjukkan dilatasi yang tidak sinkron—salah satu tanda bahwa sistem saraf pusatnya sudah mulai terganggu secara serius.
Ia menyentuh kulit Lusy dengan ujung jari telunjuknya, merasa suhunya yang kini terasa sedingin porselen yang diletakkan di lemari es dalam waktu lama. Namun, urat-urat di bagian leher dan leher bawah Lusy tetap menonjol kaku, warnanya kehitaman pekat yang lebih dalam dari sebelumnya, seolah darah di dalamnya sudah membeku atau mengalami perubahan komposisi yang ekstrem. Jari-jari Lusy yang biasanya lembut kini mengencang seperti penjepit besi, menggenggam seprai putih dengan kekuatan yang cukup untuk membuat kain itu mulai sobek di beberapa bagian.
Samuel, yang baru saja selesai membuang sisa-sisa formula gagal ke dalam tempat sampah khusus dan membersihkan alat-alat yang digunakan, masuk ke ruangan dengan wajah kuyu dan penuh dengan kekhawatiran. Tangannya membawa selembar kertas hasil pemindaian seluler terbaru yang baru saja dicetak oleh mesin analisis yang terletak di luar ruangan isolasi. Ia menggulung kertas itu dengan cepat dan menunjukkan bagian grafik yang paling mencolok pada Axel.
"Xel, lihatlah ini." Suara Samuel terdengar berat. "Darah bank yang kamu ambil dari rumah sakit pusat itu tidak cocok sama sekali. Sel-sel mutan dalam tubuh Lusy tidak menginginkan zat-zat kimia itu. Mereka menganggapnya sebagai sampah yang harus dikeluarkan dari dalam tubuhnya secepat mungkin."
"Apa maksudmu dengan itu?" Axel bertanya dengan lirih. Ia tidak bisa melihat ke arah Samuel, mata tetap terpaku pada wajah Lusy yang pucat, bibirnya yang membiru semakin jelas warnanya. "Kita sudah melakukan tes kompatibilitas golongan darah sebelum memberikannya. Golongan darahnya sama persis dengan Lusy."
"Golongan darah bukan lagi masalah utama di sini, Xel. Sel-sel ini... mereka telah berevolusi menjadi sesuatu yang lebih dari sel darah manusia biasa. Mereka membutuhkan nutrisi organik yang masih dalam keadaan hidup—hemoglobin yang masih mampu mengikat oksigen secara aktif, enzim-enzim yang masih berfungsi dengan baik, dan elemen-elemen lain yang hanya bisa ditemukan dalam darah yang masih mengalir di dalam tubuh makhluk hidup. Darah hewan atau darah bank yang sudah diproses tidak akan cukup lagi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuhnya. Jika kamu terus memberinya darah 'mati' seperti ini, tubuhnya akan mengalami kegagalan organ sistemik dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam."
Keheningan yang menyesakkan jatuh di antara mereka. Makna dari setiap kata yang keluar dari mulut Samuel menggantung di udara. Lusy membutuhkan darah manusia murni—darah segar yang mengalir langsung dari pembuluh darah yang masih berdenyut dengan kuat, darah yang masih membawa panas kehidupan dari tubuh sumbernya.
Axel menunduk perlahan, rambutnya yang sudah tidak terurus menutupi sebagian wajahnya. Ia tetap menatap wajah Lusy yang sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran sama sekali, kecuali napasnya yang masih keluar masuk dengan sangat lemah dan tidak teratur.
Cintanya yang sudah tumbuh selama bertahun-tahun kini berada di persimpangan jalan yang paling gelap dan kelam yang pernah ia temui dalam hidupnya. Pikirannya mulai berkelana ke wilayah-wilayah gila yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan bisa ia pikirkan, apalagi lakukan sebagai seorang dokter yang telah bersumpah untuk menjaga nyawa dan kesejahteraan pasiennya.
𝘋𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘳.
Kata itu terus berputar di dalam kepalanya.
𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢?
Ia bisa membayangkannya—setiap pagi ia akan menusuk jarum ke dalam pembuluh darahnya sendiri, mengambil darahnya secukupnya untuk diberikan pada Lusy. Namun, ia tahu dengan jelas bahwa volume darah yang bisa ia berikan sendiri tidak akan cukup untuk menopang metabolisme mutan Lusy yang semakin rakus seiring waktu. Ia akan mati karena anemia berat yang ekstrem bahkan sebelum Lusy punya kesempatan untuk pulih sedikit pun. Dan bahkan jika ia bersedia mengorbankan diri sendiri, apa jadinya dengan Lusy setelah ia tidak ada lagi?
𝘓𝘢𝘭𝘶, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯?
Logikanya mulai menyusun skenario-skenario mengerikan yang membuatnya merasa geli sekaligus terangsang.
𝘎𝘦𝘭𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘪 𝘱𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘭𝘪𝘵 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯? 𝘗𝘢𝘴𝘪𝘦𝘯-𝘱𝘢𝘴𝘪𝘦𝘯 𝘬𝘰𝘮𝘢 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘦𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘪𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘶𝘢𝘯𝘨? 𝘈𝘵𝘢𝘶... 𝘱𝘦𝘯𝘤𝘶𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯?
Pikiran itu menghantamnya seperti godam yang datang tanpa diundang, membuatnya merasa mual dan ingin muntah sekaligus merasa sedikit berdaya di saat yang bersamaan. Setiap skenario yang ia bayangkan semakin mengerikan dari sebelumnya, namun semua itu tampak seperti satu-satunya jalan keluar yang tersisa untuk menyelamatkan Lusy.
"Xel, jangan menatap dengan pandangan seperti itu." Samuel mendekat dan memegang bahu Axel dengan kuat, matanya melihat langsung ke dalam mata sahabatnya yang mulai menunjukkan kilatan kegelapan yang mengerikan.
"Jangan sampai kamu berpikir untuk mencari korban. Kita bisa menemukan cara lain, aku yakin ada cara lain yang tidak melibatkan orang lain yang tidak bersalah."
"Aku tidak mencari korban, Sam. Aku hanya sedang memikirkan cara agar dia tidak mati. Sebagai dokter, tugasku adalah mempertahankan nyawa pasienku dengan segala cara, bukan? Etika kedokteran dibuat untuk membantu orang, bukan untuk menghalangi kita menyelamatkan nyawa mereka ketika semua cara lain sudah tidak mungkin dilakukan."
"Bukan dengan cara menjadi jagal yang mengambil nyawa orang lain untuk menyelamatkan satu nyawa saja!" Bentak Samuel dengan suara yang lebih keras dari biasanya, membuat Ana yang sedang berdiri di sudut ruangan terkejut.
"Kamu tahu apa yang akan terjadi jika kamu melakukan hal itu. Kamu akan menjadi monster yang sama dengan zat anomali yang sedang menghancurkan tubuh Lusy!"
Axel melepaskan tangan Samuel dari bahunya dengan kasar, membuat Samuel terpeleset mundur beberapa langkah. Ia berdiri dengan sikap penuh dengan determinasi dan tanpa emosi, matanya yang tadinya penuh dengan kesedihan kini hanya menunjukkan kekerasan yang mengerikan. Ia menatap brankar di mana Lusy terbaring dengan pandangan yang tidak bisa ditawar lagi.
"Darah manusia adalah satu-satunya bahan bakar yang bisa menghentikan kejangnya dan memberikan waktu bagi kita untuk menemukan penawar yang sebenarnya. Jika dunia tidak mau memberikannya secara sukarela, maka aku yang akan mencarinya dengan cara apapun yang perlu kulakukan. Aku tidak akan membiarkan Lusy mati hanya karena aturan etika kedokteran yang terlalu kaku dan tidak bisa menyesuaikan diri dengan situasi yang tidak biasa seperti ini."
Di sudut ruangan, Ana gemetar mendengar percakapan yang semakin memanas itu. Tangan wanita itu masih menggenggam alat bantu pernapasan yang sudah tidak digunakan lagi, keringat menetes deras di bawah baju pelindungnya yang sudah basah oleh keringatnya sendiri. Ia menyadari bahwa satu miliar won yang ia terima sebagai bayaran untuk membantu merawat Lusy kini terasa seperti uang muka untuk masuk ke dalam lubang neraka yang semakin dalam dan tidak bisa keluar lagi.
Di dalam ruangan ini, darah bukan lagi sekadar cairan kehidupan yang mengalir di dalam tubuh setiap orang—melainkan komoditas yang harus dibayar dengan harga yang sangat mahal, bahkan mungkin dengan nyawa orang lain yang tidak bersalah.
Ia melihat ke arah jendela kecil di dinding ruangan isolasi, melihat langit yang sudah mulai menguning karena matahari yang akan terbenam. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok atau bahkan beberapa jam dari sekarang. Yang ia tahu hanyalah bahwa mereka semua sudah terlibat dalam sesuatu yang jauh melampaui batas ilmu pengetahuan dan moralitas manusia, sesuatu yang bisa saja menghancurkan mereka semua tanpa ada yang tersisa kecuali kesedihan dan kehancuran yang tak berujung.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ