Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Logika dan Gagang Sapu
Ketakutan Genevieve sejenak kalah oleh rasa tersinggung yang luar biasa. Pria asing ini—yang entah bagaimana bisa masuk ke perpustakaan yang terkunci rapat—berbicara seolah-olah dia adalah Tuhan yang tahu segala isi hatinya. Kata-katanya tentang "menjaga" dan "memiliki" terdengar seperti igauan pria gila yang terlalu banyak membaca novel romansa picisan.
"Kau... kau sudah gila ya?!" teriak Genevieve, suaranya menggema di antara rak-rak buku.
Tanpa pikir panjang, Genevieve menyambar gagang sapu kayu yang bersandar di dekat meja sirkulasi.
Dengan gerakan refleks yang didorong oleh rasa lelah dan amarah yang memuncak, ia mengayunkan gagang sapu itu sekuat tenaga.
PLAK!
Gagang sapu itu menghantam bahu keras Valerius Theodore Lucien dengan telak.
Genevieve terengah-engah, tangannya gemetar masih memegang sapu itu seperti tombak.
"Aku tidak tahu siapa kau atau bagaimana kau tahu namaku, tapi beraninya kau bicara seperti itu! Aku bekerja keras untuk hidupku! Aku tidak butuh penguntit aneh yang muncul dari bayang-bayang untuk memberitahuku kapan aku boleh sedih!"
Valerius bahkan tidak bergeming. Hantaman sapu yang seharusnya bisa mematahkan tulang manusia biasa itu hanya membuat jubah hitamnya sedikit bergeser.
Ia perlahan menoleh ke arah bahunya, lalu kembali menatap Genevieve. Bukannya marah, sudut bibirnya justru terangkat sedikit—sebuah senyum tipis yang tampak berbahaya namun penuh kekaguman.
"Kau memukulku dengan... kayu?" suara Valerius terdengar rendah, bergetar dengan nada geli yang aneh.
"Aku akan memukulmu lagi kalau kau tidak segera keluar dari sini!" ancam Genevieve, meski ia mulai menyadari bahwa pria di depannya ini tidak tampak kesakitan sama sekali.
Valerius melangkah maju satu langkah.
Genevieve mencoba memukulnya lagi, namun kali ini dengan kecepatan yang tak masuk akal, Valerius menangkap gagang sapu itu hanya dengan satu tangan.
Ia menariknya perlahan, menyeret Genevieve yang tetap memegang erat sapu itu hingga tubuh mereka hanya berjarak beberapa inci.
"Kau punya api di dalam dirimu, Genevieve. Api yang selama ini kau padamkan demi senyuman palsu itu,
" bisik Valerius. Matanya kini berkilat merah terang, membuat nyali Genevieve menciut seketika.
"Pukul aku sesukamu jika itu membuat bebanmu berkurang. Tapi ketahuilah, sapu ini tidak akan bisa mengusir takdirmu."
Valerius melepaskan gagang sapu itu, namun ia tidak mundur. Ia justru mengambil tangan Genevieve yang gemetar dan meletakkannya tepat di atas dadanya.
Genevieve tertegun.
Di balik kain jas mahal itu, ia tidak merasakan apa-apa. Tidak ada detak jantung. Tidak ada kehangatan. Hanya ada kesunyian yang dingin dan pekat.
"Kau..." bisik Genevieve, wajahnya memucat. "Kau bukan manusia?"
Genevieve melepaskan gagang sapu itu hingga terjatuh ke lantai dengan bunyi dentang yang memekakkan telinga.
Tangannya terasa membeku setelah menyentuh dada pria itu. Tidak ada detak jantung. Tidak ada napas.
"Setan... Kau setan..." bisiknya dengan suara tercekat.
Rasa lelah yang tadi ia rasakan berubah menjadi adrenalin murni yang mematikan.
Tanpa menunggu jawaban dari Valerius, Genevieve memutar tubuhnya dan berlari sekencang mungkin. Ia melewati lorong-lorong gelap, mengabaikan rasa sakit di kakinya yang menghantam lantai marmer, dan mendaki tangga kayu menuju loteng dengan tergesa-gesa.
BRAK!
Ia membanting pintu kamar kecilnya dan langsung mengunci gerendelnya dengan tangan yang gemetar hebat.
Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah-olah ingin melompat keluar—sangat kontras dengan kesunyian mati yang ia rasakan pada dada pria itu tadi.
Dengan gerakan panik, Genevieve melompat ke atas tempat tidur kecilnya. Ia menarik selimut tebalnya hingga menutupi seluruh kepala, meringkuk seperti bola di bawah kain itu.
Tubuhnya menggigil hebat. Di balik selimut yang gelap, ia mencoba mengatur napasnya yang memburu.
"Ini hanya mimpi. Aku hanya terlalu lelah. Aku berhalusinasi karena kurang tidur," gumamnya berulang kali, mencoba meyakinkan logika yang sebenarnya sudah runtuh.
Namun, di tengah kesunyian kamarnya, ia tiba-tiba merasakan suhu ruangan menurun drastis. Udara menjadi sangat dingin hingga ia bisa melihat uap napasnya sendiri meski di bawah selimut.
Lalu, sebuah suara yang sangat halus, hampir seperti bisikan angin, terdengar tepat di sisi tempat tidurnya—meskipun pintu kamarnya masih terkunci rapat.
"Pintu kayu dan selembar kain tidak akan bisa menyembunyikanmu dariku, Genevieve."
Genevieve membeku. Ia merasa tempat tidurnya sedikit melesap di satu sisi, seolah-olah ada seseorang yang duduk di pinggir kasurnya.
"Jangan takut," bisik suara itu lagi, kini terdengar lebih dekat, seolah Valerius berada tepat di balik selimut yang ia pegang erat.
"Aku tidak datang untuk menyakitimu. Aku datang karena aku adalah satu-satunya makhluk di dunia ini yang tidak akan pernah meninggalkanmu, bahkan jika kau meminta."
Tangan pucat Valerius yang dingin perlahan menyentuh permukaan selimut, tepat di mana kepala Genevieve berada.
keren
cerita nya manis