"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."
" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."
"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Yang Sama
Dimas terlihat mencari-cari sesuatu, sesekali ia berdecak kesal. "Dimana, sih?! Perasaan semua sudah aku taroh di sini." Berkali-kali ia membuka laci lemari, melihat kesegala lipatan baju, serta menyibak beberapa baju yang tergantung, tapi hasilnya nihil.
Lalu Naina datang, ia terlihat membawa sebuah dasi berwarna biru dongker. "Mas mencari ini, kan?" Tanya Naina. "Aku menemukan ini terjatuh di lantai kemarin, lalu aku mencucinya." Sambungnya.
"Iya," jawab Dimas.
Naina lantas memasangkan dasi itu ke kerah baju Dimas. Tubuhnya yang sedikit lebih pendek, membuat ia harus menjinjitkan kaki. Aroma parfum yang dipakai Dimas tercium sangat lembut membuat kenyamanan tersendiri untuk Naina. Berada dekat dengan Dimas seperti ini membuatnya semakin bertumbuh perasaan.
"Lain kali, kalau perlu bantuan tinggal panggil aku, Mas. Aku istri kamu, dan aku siap membantu kamu." Ucap Naina, ia seperti dengan sengaja mendekatkan wajahnya pada Dimas, dan menatap pria itu dengan sangat lekat.
Dimas hanya bisa terdiam dan membalas tatapan mata Naina.
"Sudah rapi, Mas." Ucap Naina yang membuyarkan lamunan Dimas.
"I--iya. Terimakasih."
"Ayo sarapan."
Naina berjalan ke meja makan di ikuti oleh Dimas.
"Dia selalu saja bersikap manis, seolah tidak pernah terjadi apa-apa." Benak Dimas yang merasa heran pada Naina.
***
"Kamu kenapa?" Tanya Dimas saat memperhatikan wajah Naina yang terlihat seperti orang kebingungan.
"Semalam aku nungguin Mas pulang dan sepertinya aku ketiduran di sofa. Tapi, pagi ini aku malah sudah berada dikamar. Aneh."
"Mungkin perasaan kamu saja. Waktu aku pulang kamu sudah berada di kamar." Dimas berusaha menyembunyikan raut wajahnya dan sengaja berbohong.
"Iya, ya?" Wajah Naina semakin kebingungan. "Tapi aku juga merasa seperti ada yang menciumku. Dalam samar, itu mas Dimas." Pertanyaan ini hanya bisa Naina pendam dalam hati, karena malu untuk mengungkapkannya.
"Lain kali, kalo aku belum pulang dan kamu mengantuk, kamu langsung tidur saja gak usah nungguin aku. Kasian kamunya."
Naina tersenyum kecil, dalam hati ia bergumam. Ternyata Dimas juga perhatian padanya. Hal kecil, tapi berhasil membuat Naina berbunga-bunga.
"Tapi tidak apa-apa, kok Mas. Entah kenapa, kalau aku sudah melihat Mas pulang kerumah dengan selamat, aku merasa lega."
Dimas tertegun.
"Mulai hari ini, aku usahakan gak pulang malam lagi." Ucap Dimas yang membuat Naina sangat senang.
Selesai sarapan, Dimas bergegas meninggalkan meja makan di ikuti oleh Naina yang juga sudah selesai. Tidak lupa ia menyalami tangan Dimas, sebelum pria itu masuk ke mobil untuk berangkat ke kantor.
"Hati-hati ya, Mas." Ucap Naina,
"Iya. Kamu juga, hati-hati di rumah." Balas Dimas.
*****
Seperti biasa, malam yang sama.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Dimas tidak kunjung pulang, hal ini membuat Naina merasa kecewa.
"Tadi pagi Mas bilang akan pulang cepat, tapi ternyata masih sama seperti malam sebelumnya. Baru saja aku berharap akan ada awal yang baik, ternyata harapan itu sirna."
"Siang bisa aku lalui dengan cara menyibukkan diri mengerjakan apapun yang bisa aku kerjakan untuk mengusir kesepian dan kegundahan hati, tapi saat malam tiba, kesepian justru sangat menusuk. Hidup di atap yang sama tidak membuat aku merasakan kehadirannya."
"Siapa yang salah? Dia, atau aku yang terlalu menaruh harapan?"
***
"Belom balik, Bro." Tanya Angga saat Dimas datang menghampirinya di Warkop langganan mereka biasanya.
"Belom. Biasa. Lagi ruwet."
"Emang bini lu gak nanya, kenapa lu selalu pulang malem terus?"
"Udah biarin aja. Gua juga berhak untuk menenangkan pikiran."
Angga geleng-geleng kepala. "Hah! Sudahlah. Gua gak mau ikut campur masalah rumah tangga orang." Ucap Angga yang melanjutkan bermain game online.
*
"Wei! Asik kali kalian nongkrong disini." Tiba-tiba Tony datang menepuk bahu Dimas. Dimas yang melihat Tony sedikit terperangah.
"Ton?" Ucap Dimas
"Hoi, Bro! Biasa, lagi mabar." Jawab Angga yang masih sibuk dengan handphonenya.
Tony celingak-celinguk, seperti mencari seseorang.
"Sendirian, Bro? Kirain sama Naina." Tanya Tony. Angga yang mendengar percakapan mereka sengaja seperti menyibukkan diri tidak ingin terlibat.
"Naina di rumah. Tadi gua udah izin buat ngopi bentar."
Tony mengangguk.
"Yok duduk, gua pesenin kopi." Dimas berusaha mencairkan suasana.
"Enggak bisa weh! Udah malem. Ini gua lagi beli nasi goreng, biasa bini lagi ngidam." Ucap Tony sambil menunjuk gerobak nasi goreng yang ada di seberang jalan.
"Kebetulan gua nampak kalian berdua, makanya gua kesini sambil nunggu pesanan kelar." Sambung Tony lagi.
"Oh, yaudah. Kirain mau ikutan ngopi."
"Udah ada bini mah di rumah saja. Apalagi bini gua lagi hamil. Kasian ditinggal-tinggal." Ucap Tony seakan disengaja untuk menyinggung Dimas, yang membuat pria itu semakin salah tingkah.
"Mas! Pesanannya sudah siap!" Panggil penjual nasi goreng pada Tony yang membuat Tony bergegas menghampiri.
"Pamit, ya!" Ucap Tony pada Dimas dan Angga.
"Yok, Bro! Tiati." Hanya Angga yang menjawab, sedangkan Dimas hanya diam saja. Ucapan Tony berhasil meninggalkan bekas di hatinya.
Sementara Tony, ia menyadari ucapannya tadi pasti membuat Dimas sedikit tersinggung. "Sori, ya Bro. Gua tau kok, lu pasti masih rada canggung dengan Naina. Gua sangat paham. Tapi, kalo lu nya menghindar mulu, gimana mau deket?" Tony mendengus pelan.
*
"Gua juga mau balik." Ucap Dimas kemudian.
"Lah? Pesanan kopi juga baru sampe." Angga kebingungan, tapi tidak di hiraukan oleh Dimas. Pria itu segera masuk ke dalam mobil, dan meninggalkan tempat itu.
***