Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.
"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"
Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?
Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMNB 9
"Ini udah sore, jam kerja sudah habis. Tentu saja aku pulang," jawab Arkan.
Sebenarnya Arkan merasa heran kenapa istrinya bertanya seperti itu, karena pada saat sore hari tiba dia pasti akan pulang setelah pekerjaan selesai. Arkan bukan tipe orang yang gila kerja, kalau sudah waktunya pulang dia akan pulang.
Kecuali memang kalau sedang ada pekerjaan yang mendesak dan harus segera diselesaikan. Namun, Arkan tidak ambil pusing dengan pertanyaan istrinya.
Arkan dengan santai membuka jas yang dia pakai, lalu melemparkannya ke keranjang cucian. Setelah itu, dia membuka kemeja yang dia pakai dan kembali dia melemparkan kemeja itu ke keranjang cucian.
Mata Mutiara terbelalak, dia bisa melihat dengan jelas bentuk tubuh pria itu yang begitu sempurna. Dadanya yang bidang, bahunya yang lebar dan otot perutnya yang begitu sempurna.
Walaupun dia memang sudah pernah melakukannya dengan pria itu, tetapi dalam keadaan tidak sadar. Mutiara memeluk guling erat-erat, tubuhnya tiba-tiba saja bergetar.
"Om, kenapa bajunya dilepas begitu?!"
Arkan tak menjawab, tangannya sibuk membuka ikat pinggang. Mutiara menjadi was-was dibuatnya, dia takut kalau suaminya itu akan meminta haknya saat ini juga.
"Om, kamu itu sebenarnya mau ngapain sih?"
Arkan mendekat ke arah wanita. "Aduh, Tiara. Kamu itu nanya terus, padahal aku sudah nggak tahan lagi. Sumpah, ini benar-benar menyiksa!"
Wajah Mutiara merah padam mendengar kata-kata Arkan, jantungnya berdebar dengan kencang. Dia menggigit bibir bawahnya sambil memeluk guling erat-erat.
'Duh, apakah dia mau minta lagi sekarang? Tapi kan' ini masih sore! Ya ampun, Om Arkan kenapa jadi agresif banget? Katanya nggak bakalan minta kalau tidak ada kesepakatan di antara kami berdua?' gumam Mutiara dalam hati.
Jantung Mutiara semakin berdebar dengan begitu kencang, karena Arkan sudah melepas celana bahan yang dia pakai. Kini pria itu hanya memakai celana Boxer saja.
"A--- aku paham kalau Om lagi pengen, tapi pelan-pelan aja. Ehm! Maksudnya jangan terburu-buru, aku kan' kaget."
"Pelan-pelan gimana sih, Tiara? Ini sudah di ujung tanduk loh! Rasanya udah mau meledak!"
Mutiara menarik napas dalam, mencoba menyiapkan mental. Ia merebahkan kembali tubuhnya dengan pasrah, menunggu serangan romantis dari sang suami.
Namun, yang terdengar kemudian bukan bisikan mesra, melainkan suara handuk yang ditarik dari lemari. Lalu, Mutiara bisa melihat Arkan yang mengambil tisu.
"Om, pintunya udah dikunci belum?"
Arkan melilitkan handuk di pinggangnya, kemudian dia menatap istrinya dengan dahi yang mengerut dalam.
"Ngapain dikunci? Mas paling cuma butuh dua menit!"
"Apa?! Cuma dua menit? Emang cukup wak---"
Belum sempat Mutiara menyelesaikan protesnya, Arkan sudah melangkahkan kakinya dengan cepat. Lalu, Mutiara bisa mendengar suara air yang mengalir.
"Akhirnya keluar kuga, dari tadi pengen banget pipis. Harus nahan karena tak mungkin pipis di jalan," ujar Arkan.
Mutiara terdiam kaku mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu, dia menatap punggung Arkan karena memang kamar mandi itu belum ditutup pintunya.
"Oh, mau pipis. Aku pikir mau itu," ujar Mutiara malu sendiri dan tentunya kesal karena otaknya malah berpikir ke sana.
Arkan menolehkan kepalanya ke arah Mutiara. "Aku sekalian mandi saja, kamu mau mandi bareng?"
Mutiara melempar guling ke arah pintu kamar mandi dengan mata yang melotot, entah kenapa tiba-tiba saja dia merasa kesal yang luar biasa.
"MANDI SENDIRI AJA! KALAU PERLU GAK USAH KELUAR SAMPAI TAHUN DEPAN!"