💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞
______________________________________________
"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?
Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.
Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.
Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.
Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Cia, Vano, dan Varo melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan, setiap putaran roda motor mereka seperti memompa adrenalin. Lampu-lampu neon kota yang mereka lewati berkelebat bagai kilatan cermin yang memantulkan kecemasan di wajah mereka. Hembusan angin malam yang menerpa wajah mereka terasa seperti bisikan amarah Ratu yang sudah menanti di mansion. Mereka tahu betul, mamanya tak pernah mentolerir keterlambatan, apalagi tanpa kabar seperti ini.
"Gawat, kita pasti kena omel habis-habisan," ujar Vano, suaranya nyaris tenggelam di tengah deru mesin motor. Ia melirik jam tangannya, jarumnya sudah melewati batas waktu yang ditetapkan Ratu. Desahan pasrah lolos dari bibirnya.
"Belum lagi hukuman yang kemarin belum kelar, alamat nambah hukuman lagi kita. Pasti bakal lebih berat deh!" timpal Varo dengan nada lesu. Ia membayangkan hukuman yang menanti, mungkin membersihkan seluruh halaman mansion dengan sikat gigi atau lebih buruk lagi, mereka akan dikirim ke sekolah asrama militer di Swiss. Bulu kuduknya meremang seketika.
Cia hanya diam membisu. Ia udah pasrah dengan segala kemungkinan hukuman yang akan ia dapatkan nanti. Dan dia sudah mempersiapkan beberapa alasan untuk meringankan hukumannya nanti.
Saat Cia, Vano, dan Varo tiba di depan gerbang mansion, suasana yang menyambut mereka bagai sebuah lukisan surealis. Gerbang besi menjulang tinggi, seolah mengawasi setiap gerak-gerik mereka. Halaman luas yang biasanya dipenuhi lalu lalang pelayan kini tampak sepi dan mencekam.
Mereka bertiga saling bertukar pandang, membaca kegelisahan yang sama di mata masing-masing. Perasaan lega karena sosok Ratu tidak ada di hadapan mesion membuat mereka sedikit bernafas lega.
Namun, perasaan was-was akan badai yang akan segera menerjang. Dengan gerakan hati-hati, bak agen rahasia yang menyusup ke wilayah musuh, mereka memasukkan motor ke dalam garasi. Suara pintu garasi yang terbuka dan menutup seolah memecah keheningan sore menjadi serpihan-serpihan tajam yang menusuk telinga mereka. Setelah memastikan tak ada yang melihat, mereka bergegas menyelinap masuk ke dalam mansion.
Cia menghela napas lega saat kakinya berhasil menjejak lantai kamarnya yang terasa bagai oase di tengah gurun pasir. Ia menutup pintu dengan perlahan, seolah takut menimbulkan suara yang akan membangunkan naga yang tengah tertidur. Ia bersandar di pintu, memejamkan mata, dan mencoba mengatur napas. Debu jalanan dan aroma keringat bercampur aduk dengan aroma lavender dari lotion tubuhnya, menciptakan aroma aneh yang membuatnya sedikit mual. Kemudian, dengan langkah pelan, ia menyusuri lorong menuju ruang tamu, memenuhi rasa penasarannya akan keberadaan sosok Ratu.
Di sana Ia berpapasan dengan salah satu maid yang tengah lewat.
"Selamat sore, Nona Muda," sapa maid itu dengan suara lembut, nyaris berbisik. Ia membungkuk hormat, gestur yang selalu membuat Cia merasa risih.
"Sore, Bi! Mama mana ya, Bi? Kok sepi?" tanya Cia. Ia menatap maid itu dengan tatapan menyelidik, mencari informasi sekecil apapun.
"Oh, Nyonya Ratu keluar sama Nyonya Alisa sejak siang tadi. Belum balik," jawab maid itu, dengan senyum simpul yang tak sampai ke matanya. Seolah ia tahu sesuatu yang tak ingin ia katakan.
"Kalau Papa?" lanjut Cia, sedikit meninggikan suaranya.
"Tuan sepertinya ada jadwal penerbangan, karena pagi tadi pamit sama Nyonya Ratu dengan seragam pilotnya," jawab maid itu, sedikit ragu.
"Kalau Tuan besar ada di ruang kerjanya," lanjut maid itu, menutup informasinya.
Cia mengangguk mengerti. Lega karena terhindar dari amukan Ratu. "Oh gitu! Pantas aja. Kalau gitu makasih infonya ya, Bi!" ucapnya ceria, menyembunyikan kegelisahan yang masih bergelayut di benaknya.
"Sama-sama, Non," jawab maid itu, dengan senyum yang sama. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya, seolah tak terjadi apa-apa.
Setelah memastikan situasi aman, Cia kembali ke kamarnya dengan langkah ringan. Senyum kemenangan menghiasi bibirnya. Ia merasa bagai seorang buronan yang berhasil lolos dari kejaran polisi.
Sesampainya di kamar, Cia langsung meraih handuk dan bergegas menuju kamar mandi. Di bawah pancuran air yang mengalir deras, ia mencoba melenyapkan semua kekhawatiran dan ketegangan yang membelitnya. Aroma sabun lavender yang memenuhi kamar mandi seolah membius indranya, membuatnya merasa rileks dan tenang.
Setelah selesai mandi, Cia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar dan cerah. Ia mengenakan tank top putih dan celana pendek denim, pakaian kebesarannya saat bersantai di kamar. Rambutnya yang basah ia biarkan tergerai, meneteskan air di bahunya. Dengan langkah malas, ia menghampiri balkon kamarnya.
Udara sore yang sejuk menyambutnya dengan lembut. Cahaya matahari yang mulai meredup menciptakan gradasi warna yang indah di langit. Cia memejamkan mata, menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya. Namun, kedamaian itu tak berlangsung lama. Pikirannya kembali melayang pada sosok Aksa. Ia penasaran dengan permintaan apa yang akan diajukan cowok itu. Apakah ia akan memintanya untuk menjadi pacarnya? Jantung Cia berdebar kencang membayangkan kemungkinan itu.
Tiba-tiba, ketukan pintu mengagetkannya.
Tok!
Tok!
"Masuk!" seru Cia, dengan sedikit terkejut.
Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok maid perempuan dengan wajah tegang. "Non! Opa, Non! menyuruh Nona dan Tuan Muda Varo dan Vano untuk menemuinya di ruang kerja. Katanya sekarang!" ucap maid itu dengan nada tergesa-gesa. Seolah menyampaikan pesan dari seorang raja yang sedang murka.
"Oh! Baik, terima kasih, Bi!" jawab Cia, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Maid itu membungkuk hormat dan menghilang di balik pintu, meninggalkan Cia yang terpaku di tempatnya.
Cia menghela napas panjang. Merasakan firasat tak enak yang semakin kuat mencengkeram hatinya. "Kenapa Opa mendadak ingin bertemu? Pasti ada yang gak beres?" gumamnya lirih, dengan nada penasaran.
______&&______
Sementara itu, jauh dari hingar bingar mansion, di markas The Mavericks yang remang-remang, Aksa tengah dilanda kegelisahan. Ia duduk di sofa, memutar-mutar bola basket di tangannya. Pikirannya terpaku pada Cia, pada senyum sinisnya, pada tatapan tajamnya, pada seluruh pesona yang membuat jantungnya berdebar kencang. Ia tak mengerti mengapa gadis itu selalu menghindarinya. Apakah ia terlalu agresif? Apakah ia melakukan kesalahan?
"Apa mungkin dia takut?" gumam Aksa dalam hati, dengan nada ragu.
Ia menggelengkan kepalanya, menepis keraguan yang mulai merayap di benaknya. Ia tahu Cia bukan gadis lemah yang mudah ditaklukkan. Gadis itu kuat, mandiri, dan memiliki prinsip yang kuat. Mungkin, ia hanya perlu menemukan cara yang tepat untuk menaklukkan hatinya.
"Gue nggak akan nyerah, Cia," gumam Aksa dalam hati, dengan nada penuh tekad. Ia mengepalkan tangannya, bola basket itu nyaris remuk dalam genggamannya. "Gue pasti akan mendapatkan lo."
Ia menyunggingkan senyum tipis, membayangkan Cia berada di sisinya, tertawa bersamanya, mencintainya. Ia membayangkan sentuhan lembutnya, bisikan mesranya, dan semua momen indah yang akan mereka lalui bersama. Ia bangkit dari sofa dan berjalan menuju jendela dengan yang menghadap lapangan tempat ia dan Cia bertanding tadi seulas senyum menghiasi bibirnya.
Bersambung ...
yg disini kalang kabut yg disana tenang tenang saja😄
waah mereka emang berjodoh ya😄
suka banget ma story ny kk
beda level sama km
🤭🤭
kak dtggu next bab ny yx ,,
cerita ny baguuuus ,,