NovelToon NovelToon
CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.

Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.

Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."

Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Malam Sebelum Keberangkatan

Bab 15: Malam Sebelum Keberangkatan

Kegelapan malam di Tanjungbalai tidak pernah benar-benar sunyi. Di luar jendela kamar Rafi, suara jangkrik bersahut-sahutan dengan deru mesin motor yang sesekali melintas di kejauhan.

Namun, di dalam kotak semen berukuran 2x3 meter itu, waktu seolah berhenti berputar. Rafi berbaring telentang di atas kasur tipisnya, menatap langit-langit yang memiliki noda rembesan air hujan membentuk pola abstrak yang tak beraturan.

Secara fisiologis, tubuhnya lelah. Ia sudah melewati ritual mandi yang menguras energi di Bab 14 dan mempersiapkan segala atribut tempurnya. Namun, secara kognitif, otaknya sedang bekerja dalam mode overclock. Ada sebuah paradoks yang sedang terjadi: semakin ia mencoba memejamkan mata, semakin terang layar imajinasinya memutar berbagai skenario untuk esok hari.

Ia melirik ke arah meja belajar. Di sana, dompetnya terletak dengan posisi yang sangat presisi, berisi "modal" 315 ribu rupiah. Secara analitis, risiko terbesar besok bukan pada kekurangan dana, melainkan pada kegagalan komunikasi.

"Jangan kaku, Rafi. Kau bukan sedang menghadap kepala sekolah," bisiknya pada kegelapan.

Ia mulai menyusun simulasi percakapan. Di dalam kepalanya, ia membagi interaksi besok menjadi tiga fase krusial:

Fase Penjemputan (Interaksi Awal)

Skenario A: Nisa sudah menunggu di depan rumah.

Rafi: "Wah, sudah siap ya? Maaf ya, nunggu lama?"

Kritik Skeptis: Terlalu klise. Kamu datang jam 9 kurang, dia yang siap duluan itu jarang. Jangan terlihat terlalu memelas.

Skenario B: Rafi harus mengetuk pintu dan bertemu orang tuanya.

Rafi: "Permisi, Om... Nisa-nya ada?"

Kritik Skeptis: Tanjungbalai itu kota kecil yang sopan santunnya tajam. Gunakan panggilan 'Cik' atau 'Wak' kalau orang tuanya kelihatan lebih tua. Jangan lupa senyum, tapi jangan senyum yang terlihat mencurigakan.

Fase Perjalanan (The Bus Talk)

Ini adalah fase yang paling ia takuti. Satu jam di dalam bus antar kota tanpa aktivitas adalah ladang ranjau bagi kecanggungan. Secara logis, ia tidak bisa mengandalkan ponsel karena ia harus menghemat baterai untuk navigasi dan foto di Kisaran nanti.

Rafi membayangkan dirinya duduk di sebelah Nisa.

Rafi: "Nis, tahu nggak kenapa bus ini sering ngetem lama di Simpang Kawat?"

Kritik Skeptis: Pertanyaan bodoh. Dia bukan kernet bus. Bahas hal yang lebih ringan. Bahas tugas akuntansi yang sering dia keluhkan di status.

Rafi mencoba lagi: "Nis, denger-denger di Irian Kisaran ada menu baru. Katanya es krimnya lebih enak dari yang di gerai biasa."

Analisis: Cukup aman. Membahas tujuan akan membangun ekspektasi positif.

Fase Penentuan

Ini adalah puncak dari seluruh investasinya. Rafi membayangkan dirinya berdiri di depan kasir yang mengkilap, kontras dengan warung nasi di dekat pelabuhan yang biasa ia datangi.

Rafi: "Pesan apa, Nis? Pilih aja, nggak usah sungkan."

Kritik Skeptis: Hati-hati, Rafi. Anggaran makanmu cuma 120 ribu untuk berdua. Kalau dia pesan paket keluarga, kau akan pulang jalan kaki dari Kisaran ke Tanjungbalai.

Secara rigoritas manajemen risiko, Rafi memutuskan untuk mengarahkan pilihan Nisa secara halus. Ia akan memesan duluan paket yang harganya menengah, memberikan sinyal batas harga secara tidak langsung. "Aku pesan Paket Panas 2 aja deh, lagi pengen ayam," adalah kalimat kode yang ia siapkan untuk menjaga stabilitas sisa saldonya.

Pukul 01.15 WIB.

Rafi membalikkan posisinya ke samping kiri. Matanya masih terjaga. Ia teringat pada sepatunya yang sudah dilem. Bagaimana jika di tengah Mal Irian, lem itu menyerah pada suhu AC dan solnya lepas? Ia membayangkan dirinya berjalan dengan sepatu yang mangap di depan kerumunan orang Kisaran yang modis. Secara statistik, peluang Alteco gagal setelah 24 jam pengeringan adalah kecil, namun kecemasan tidak peduli pada statistik.

Ia bangkit dari kasur, duduk di tepiannya, lalu meraih ponselnya yang sedang diisi daya. Hanya untuk memastikan: jam berapa bus pertama benar-benar berangkat? Ia mengecek kembali draf biayanya.

* Bus: 40.000 (Pulang-Pergi berdua)

* Makan: 120.000

* Tiket 5D: 80.000

* Cadangan/Angkot: 75.000

"Cadangan 75 ribu itu sangat krusial," gumamnya.

Di Tanjungbalai, harga-harga bisa berubah jika ada oknum calo atau jika tiba-tiba hujan dan mereka harus naik becak motor yang tarifnya lebih mahal dari angkot.

Ia kembali berbaring. Kali ini ia mencoba teknik pernapasan yang pernah ia baca di internet untuk mengatasi insomnia. Tarik napas empat detik, tahan tujuh detik, buang delapan detik.

Satu... dua... tiga... empat...

Wajah Nisa muncul di benaknya. Nisa yang di Bab 12 hanya menjawab singkat. Apakah besok Nisa akan banyak bicara? Ataukah dia akan terus-menerus menatap layar ponselnya sendiri, membuat Rafi merasa seperti supir pribadi yang tidak dibayar?

"Apapun yang terjadi esok, aku sudah sampai di titik ini," pikir Rafi mencoba membangun narasi konstruktif. "Secara objektif, keberhasilan mengajak dia keluar sudah merupakan kemenangan 50 persen. 50 persen sisanya adalah eksekusi lapangan."

Ia membayangkan aroma parfum jeruk nipisnya. Ia berharap aroma itu tidak terlalu menyengat hingga membuat Nisa pusing di dalam bus yang panas. Ia merencanakan untuk menyemprotkannya sedikit saja di titik nadi, seperti yang ia pelajari.

Keheningan malam semakin dalam. Suara detak jam dinding di ruang tamu terdengar seperti langkah kaki yang mendekat. Setiap detikan adalah pengingat bahwa "Permainan Besar" akan segera dimulai. Rafi tidak takut pada kegagalan finansial—ia sudah terbiasa miskin. Ia takut pada kegagalan harapan. Ia takut jika setelah semua nasi garam yang ia telan, hari esok hanya akan menjadi kenangan yang memalukan.

"Logika, Rafi. Gunakan logika," ia memarahi dirinya sendiri. "Kelelahan akan membuat wajahmu kusam besok. Tidurlah."

Akhirnya, sekitar pukul 02.30 pagi, kelelahan mental itu menang atas kecemasannya. Kelopak mata Rafi mulai terasa berat. Bayangan kemeja flanel, bus antar kota, dan piring makanan mulai bercampur menjadi satu dalam mimpi yang kabur.

Ia tertidur dengan tangan yang secara tidak sadar mencengkeram pinggiran kasur, seolah takut jika ia melepaskannya, seluruh rencana yang sudah ia bangun selama 15 bab ini akan terbang terbawa angin laut Tanjungbalai.

Besok adalah hari di mana saldo di celengan ayamnya akan berubah menjadi pengalaman. Dan bagi Rafi, itu adalah pertaruhan terbesar dalam hidup remajanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!