NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.

Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.

Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.

Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

IGD rumah sakit kabupaten malam itu sepi yang membuat suara sepatu Pak Darmo menghantam lantai terdengar terlalu keras. Elena masuk dengan Ara di pelukannya, kakinya yang masih telanjang menapak lantai rumah sakit yang dingin, matanya langsung mencari seragam putih.

"Tolong! Anak saya kejang! Tolong!"

Dua perawat langsung menghampiri. Tangan-tangan yang terlatih mengambil alih tubuh Ara dari pelukannya dan Elena merasakan bagaimana tubuh kecil anaknya terangkat pergi dari genggamannya seperti ada sesuatu yang tercabut dari dalam dadanya.

"Ibu tunggu di luar!"

"Saya mau ikut!"

"Ibu tunggu di luar, kami tangani dulu."

Tirai putih menutup di depan wajahnya. Elena berdiri di depan tirai itu.

Di luar tirai suara-suara terdengar, suara instruksi yang diucapkan cepat dan datar, suara alat, suara langkah kaki yang bergerak dengan tujuan. Suara-suara yang seharusnya menenangkan karena artinya ada orang yang bekerja, ada orang yang berusaha, tapi tidak menenangkan Elena sama sekali karena di balik tirai itu ada Ara, ada anaknya, buah hatinya yang sangat ia sayangi.

Bu Ratih memegang lengannya. "Elena, duduk dulu. Ada kursi di sana."

"Tidak."

"Elena!"

"Saya tidak mau duduk." Elena masih nampak tidak tenang. "Saya mau di sini."

Bu Ratih tidak berkata apa-apa lagi. Mereka berdiri di depan tirai putih itu bersama. Bu Ratih dengan tangan yang masih menggenggam lengan Elena. Elena dengan kedua tangannya yang kosong, tangan yang tadi memegang Ara, tangan yang sekarang tidak tahu harus memegang apa.

Waktu berjalan dengan caranya sendiri malam itu. Kadang terasa sangat cepat. Kadang terasa berhenti sama sekali. Elena tidak tahu sudah berapa lama ia berdiri di sana ketika akhirnya langkah kaki terdengar mendekat dari balik tirai dan tirai itu terbuka.

Seorang dokter muda keluar. Elena melihat wajahnya. Dan ia tahu.

Sebelum dokter itu membuka mulutnya. Sebelum satu kata pun keluar. Elena tahu dari cara dokter itu berjalan ke arahnya, yang terlalu pelan, dengan bahu yang sedikit membungkuk, dengan mata yang tidak langsung bertemu matanya.

Mata orang yang membawa kabar yang tidak ingin ia sampaikan.

"Ibu dari Ara?"

"Iya." Satu kata. Keluar otomatis.

Dokter itu menarik napas. Satu tarikan yang panjang dan berat.

"Kami sudah berusaha semaksimal yang kami bisa, Bu. Suhu tubuh Ara terlalu tinggi terlalu lama sebelum sampai ke sini. Kejangnya menyebabkan komplikasi yang..." dokter itu berhenti sebentar. Mengumpulkan sesuatu. "Kami minta maaf. Ara tidak tertolong, Bu."

Hening mengcekam hati Elena. Hening yang berbeda dari hening manapun yang pernah Elena rasakan sebelumnya.

Seperti dunia tiba-tiba kehilangan semua suaranya sekaligus, seperti ada seseorang yang mematikan semua bunyi di seluruh alam semesta dalam satu waktu, itulah yang Elena rasakan.

"Maksudnya?" Suara Elena keluar dari tenggorokan yang tidak lagi terasa seperti miliknya.

"Ara sudah tidak ada, Bu." Suara dokter itu terdengar sangat jauh. "Kami benar-benar minta maaf."

Sudah tidak ada. Elena menatap dokter itu. Menatapnya lama.

Terlalu lama mungkin, karena dokter muda itu akhirnya menundukkan kepalanya dan memilih menatap lantai.

Di sampingnya Bu Ratih mengeluarkan suara, suara tertahan, suara orang yang berusaha tidak menangis tapi gagal.

Elena tidak mengeluarkan suara apapun.

"Boleh saya lihat dia?"

Dokter itu mengangguk pelan dan menyibak tirai.

Ara tidur di ranjang IGD yang terlalu besar untuk tubuh kecilnya.

Diselimuti kain putih sampai dadanya. Tangannya diletakkan rapi di atas perut. Rambutnya yang selalu awut-awutan itu entah kapan sudah disisir ke samping. Wajahnya terlihat damai. Sangat damai.

Seperti anak yang tertidur setelah seharian berlari-larian di halaman. Seperti anak yang kelelahan dan akhirnya menemukan kasur yang nyaman. Seperti anak yang tidak tahu bahwa di luar sana ibunya baru saja kehilangan seluruh dunianya.

Boneka kelinci butut itu tidak ada di sini. Elena duduk di sisi ranjang. Kursi plastik itu bergeser sedikit saat ia menariknya, mengeluarkan bunyi yang terlalu keras untuk ruangan yang sesunyi ini.

Ia mengambil tangan Ara. Tangan kecil yang empat tahun lalu ia pegang pertama kali di ruang bersalin, dengan jari-jari yang begitu mungil dan sempurna sampai Elena tidak percaya bahwa sesuatu sebesar rasa cintanya bisa terkandung dalam tubuh sekecil itu. Tangan yang belajar meraih mainan. Tangan yang belajar melambai. Tangan yang selalu mencari genggamannya saat takut, saat jalan di tempat yang ramai, saat gelap. Sekarang tangan itu dingin di antara kedua telapak tangannya.

"Ara."

Suaranya keluar seperti bisikan yang tidak seharusnya, suara yang pecah menahan tangisannya.

"Ara, Sayang."

Tidak ada yang menjawab.

Tidak ada tangan kecil yang menggenggam balik. Tidak ada suara mengantuk yang bertanya mau ke mana. Tidak ada. Hanya diam yang membuat hati Elena semakin tersayat.

Elena menundukkan kepalanya ke tangan kecil yang ia genggam.

Dan ia menangis. Bahunya berguncang tanpa suara. Air matanya jatuh ke tangan kecil Ara satu per satu, membasahi jari-jari yang dingin itu dengan air mata yang hangat.

Elena mengangkat tangan Ara dan mendekatkannya ke bibirnya. Menciumnya lama. Merasakan dinginnya di bibirnya sambil matanya terus mengalirkan air mata yang tidak juga berhenti.

Di sudut ruangan Bu Ratih menangis diam-diam, menyeka matanya dengan ujung dasternya.

Di luar sana malam masih sangat gelap. Dan di tengah semua kegelapan itu, di dalam ruangan kecil yang berbau antiseptik dengan lampu yang terlalu terang, seorang perempuan duduk memegang tangan kecil yang tidak lagi hangat dan menangisi kehilangan yang tidak ada obatnya.

1
Lili Inggrid
lanjut
Ovha Selvia
Pasti si clara lah pelakunya, klo si adrian mah ngikut2 aja..
Ovha Selvia
Waaah gak nyangka ternyata clara juga pintar, dia bahkan tau niatnya elena.. Elena, kamu harus selangkah lebih maju daripada pelakor.. Buktikan klo kamu seorang Elena Wirawan 💪
As Tini
yg kyk gini br AQ suka, hrs tegas berwibawa dan TDK menye"😄
As Tini
knp GK minta bantuan ke kluarga sndiri, pdhl kaya raya, demi anak hilangkan ego dan malu. pasti bklan di bantu kok, kasian ara
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuut 💪
Dessy C: siap kak 🫰
total 1 replies
arniya
mampir kak
Dessy C: makasih kak🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!