Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.
Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.
Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.
Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Pintu depan rumah utama terbuka hampir tanpa jeda sejak Nick berangkat.
Satu mobil van hitam berhenti, lalu datang satu lagi dan satu lagi.
Tessa yang sedang duduk di ruang tengah sambil menikmati secangkir teh hanya bisa terdiam ketika kepala pelayan mendekat.
“Nyonya, pengiriman pertama sudah tiba.”
“Pengiriman?” ulang Tessa kebingungan,
Belum sempat ia mencerna, empat orang pria berpakaian rapi masuk membawa kotak-kotak besar berwarna hitam dan krem. Beberapa di antaranya memiliki logo emas timbul yang bahkan belum pernah ia lihat seumur hidupnya.
Kotak sepatu, tas dan perhiasan, lalu disusul gantungan pakaian yang masih terbungkus plastik bening tebal.
Seorang wanita berpenampilan elegan dengan tablet di tangan melangkah masuk setelahnya.
“Selamat pagi, Nyonya. Saya Clara, stylist pribadi Anda mulai hari ini.”
Tessa yang terkejut, reflek berdiri,
“Pribadi?”
“Ya. Tuan sudah memberikan daftar standar dan preferensi.” nada bicaranya sopan, tapi profesional.
Beberapa orang lain masuk ke kamar Tessa.
Wardrobe besar di sudut ruangan langsung menjadi pusat perhatian.
“Rak bagian kiri kita kosongkan,” ucap salah satu staf interior.
“Tambahkan modul sepatu di bagian bawah.”
“Lampu LED harus diganti. Warna putih hangat, bukan kuning.”
Tessa berdiri di ambang pintu kamar, melihat orang-orang asing mulai memindahkan beberapa barang,
Tessa menoleh pada wardrobe besar itu, kotak demi kotak mulai dibuka.
Sepasang heels dengan sol merah mengilap.
Tas kulit dengan jahitan tangan sempurna.
Gaun panjang berbahan silk yang jatuhnya nyaris seperti air.
Satu per satu semua digantung rapi.
Tessa merinding melihat label harga yang masih menempel.
“Kita menyesuaikan dengan seluruh agenda publik Anda ke depan,” jelas Clara seolah membaca pikirannya. “Mulai dari makan siang formal, acara amal, hingga kemungkinan konferensi pers.”
Konferensi pers? Batin tessa,
Dunia ini memang tidak berjalan pelan.
Tessa masuk ke dalam wardrobe, ruangan itu kini terasa berbeda.
Lebih terang dan lebih penuh.
Seorang staf interior mengukur tinggi rak.
“Kita perlu menambah satu sisi lagi, Nyonya. Koleksi tas saja sudah lebih dari dua puluh, itu pun belum sampai semua,”
Dua puluh? yang benar saja....
Tessa bahkan tidak pernah memiliki lebih dari dua tas dalam satu waktu.
Ia menyentuh salah satu gaun yang baru digantung.
Bahannya dingin dan halus terasa jelas ditangannya,
Clara berdiri di belakangnya.
“Tuan sangat jelas dalam instruksinya.”
“Apa katanya?” tanya Tessa penasaran,
Clara menjawab tanpa ragu,
“Tidak boleh ada yang meragukan posisi Anda.”
Kalimat itu kembali terngiang, sama seperti di ruang makan tadi.
Tessa menatap bayangannya di cermin wardrobe.
Ia masih orang yang sama.
Wajah yang sama.
Tapi dunia di sekelilingnya berubah terlalu cepat.
Beberapa pelayan terlihat saling berbisik kecil saat melewati pintu kamar, bukan meremehkan, lebih seperti terkejut.
Statusnya kini nyata.
Diakui dan dipamerkan.
Seorang staf membawa kotak perhiasan terakhir.
“Ini untuk malam ini, Nyonya.”
Clara membukanya perlahan, kalung berlian limited edition dari brand ternama namun dengan desain sederhana memantulkan cahaya lampu,
Elegan, tidak berlebihan, tapi jelas mahal dan sudah pasti menjadi incaran para wanita sosialita,
Tessa menelan ludah.
“Aku tidak pernah memakai yang seperti ini.”
“Kita akan latihan sebelum sore,” jawab Clara lembut, “Cara berjalan, cara duduk, cara menyapa keluarga besar.”
Latihan.
Bukan hanya pakaian yang sedang disiapkan, tapi dirinya.
Di luar kamar, suara palu kecil terdengar saat modul rak tambahan dipasang.
Dunia Tessa tidak dihancurkan, Ia sedang direkonstruksi.
Tessa mulai menyadari, Nick tidak membawanya ke rumah ini untuk disembunyikan.
Tapi tessa tahu, Nick sedang menempatkannya di etalase.
capek banget keknya jadi tessa
kalo aku jadi tessa keknya gak akan sanggup deh soalnya aku gtogian arangnya😁🤭
sweet banget😍😍😍
padahal baru kenal tessa tapi di bertanggung jawab dengan statusnya sebagai suami dg begitu sempurna