NovelToon NovelToon
Obsesi Gala Pada Gadis Misterius

Obsesi Gala Pada Gadis Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.

Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.

Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.

Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?

#areakhususdewasa ⚠️



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Denyut Panas di Ambang Batas (18+)

Pagi itu, udara sekolah terasa seberat timah. Kabut tipis sisa hujan semalam masih betah menyelimuti lapangan basket SMA Wijaya Kusuma, memberikan kesan suram yang mencekam. Kella melangkah melewati koridor dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Di dalam tasnya, seragam maid khusus itu terlipat rapi, tersembunyi di balik buku-buku cetak yang berat.

Namun, fokusnya teralihkan saat ia melihat kerumunan di depan mading. Bukan karena ada pengumuman beasiswa, melainkan karena sosok Gala Alangkara.

Gala masuk ke sekolah dengan langkah yang sangat tidak stabil. Wajahnya yang biasanya tegas kini tampak seperti porselen retak—putih pucat dengan semburat merah di sekitar mata dan hidungnya. Ia mengenakan masker hitam, namun napasnya yang berat terdengar hingga jarak dua meter.

Di sampingnya, Hendra—si mata-mata—berjalan dengan dalih sebagai "wali murid" yang mengantarkan keperluan administrasi, padahal matanya terus memindai reaksi setiap orang yang melihat Gala.

Kella menelan ludah. Gala, kenapa kamu tetap masuk dengan kondisi seperti itu?

...

Pukul 08.30 WIB – Di Dalam Kelas

Pelajaran Bahasa Inggris berlangsung dalam keheningan yang janggal. Gala duduk di barisan depan, namun kepalanya sudah terkulai di atas meja sejak menit pertama. Suara batuknya yang tertahan terdengar menyakitkan.

Reno, yang duduk di sampingnya, mencoba mencari muka. "Gal, kalau emang sakit banget, pulang aja. Biar gue yang urus catatan lo."

Gala tidak menjawab. Tangannya yang lemas hanya memberikan isyarat mengusir. Reno mendengus kesal, lalu melirik ke arah jendela luar di mana Hendra berdiri, sedang memperhatikannya. Reno memberikan kode kecil—sebuah anggukan—yang membuat jantung Kella yang duduk di belakang hampir berhenti berdetak.

Reno benar-benar sudah bersekutu dengan Hendra.

Tiba-tiba, Gala berdiri dengan kasar. Kursinya berderit nyaring di atas lantai. Tanpa meminta izin pada guru, ia berjalan keluar kelas dengan langkah terhuyung.

"Kella!" panggil Pak Guru. "Ikuti dia. Bawa dia ke UKS atau pastikan dia tidak pingsan di jalan. Kamu kan asistennya."

Ini adalah kesempatan, namun juga jebakan. Kella berdiri dan menyusul Gala, sadar sepenuhnya bahwa di koridor yang sepi, Hendra kemungkinan besar akan mengikuti mereka dari bayangan.

...

Pukul 09.00 WIB – Gudang Alat Olahraga Belakang

Gala tidak pergi ke UKS. Ia justru menuju gedung belakang yang lebih sepi, tempat gudang peralatan olahraga yang pernah menjadi saksi bisu janji mereka. Ia masuk ke dalam, dan Kella segera menyusul, menutup pintu rapat-rapat.

"Gala! Kamu gila?" Kella segera menghampirinya saat Gala ambruk di atas tumpukan matras judo.

"Gue... gue nggak bisa biarin Hendra... bicara sama Reno sendirian di sekolah," suara Gala parau, hampir hilang. Ia melepas maskernya, menampakkan bibirnya yang kering dan pecah-pecah. "Hendra mulai curiga... kenapa gue sering ngilang kalau lo nggak ada."

Kella berlutut di sampingnya, menyentuh leher Gala. Panasnya jauh lebih parah daripada kemarin. "Kamu harus istirahat. Biarkan aku yang urus Reno."

"Nggak bisa," Gala mencengkeram lengan Kella, meski tenaganya sudah hampir habis. "Reno punya... akses ke rumah gue buat pesta besok sebagai tamu. Dia mau nyari lo di sana."

Gala mencoba duduk tegak, namun dunianya seolah berputar. Ia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke depan. Kella secara refleks menangkap bahunya, membuat posisi mereka menjadi sangat dekat di atas matras yang empuk.

Napas Gala yang panas menyapu wajah Kella. Di dalam gudang yang remang-remang itu, hanya ada suara detak jantung mereka yang saling berkejaran dan rintik hujan yang kembali memukul atap seng.

"Gala, baringlah..." bisik Kella.

Gala menatap mata Kella. Dalam kondisi demam tinggi, pertahanan mentalnya runtuh. Tatapan yang biasanya tajam dan mengancam itu kini berubah menjadi tatapan penuh kerinduan dan keputusasaan.

"Kenapa lo... baik banget sama gue?" gumam Gala. Ia mengulurkan tangannya yang panas, menyentuh pipi Kella. "Gue yang udah... bikin hidup lo kayak neraka di sekolah ini."

"Karena aku tahu itu bukan kamu yang sebenarnya," jawab Kella pelan.

Gala seolah kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Otaknya yang terpanggang demam tidak lagi bisa membedakan antara strategi dan perasaan. Ia menarik tengkuk Kella pelan, dan di tengah ketidaksengajaan akibat tubuhnya yang goyah, bibir mereka bertemu.

Itu bukan ciuman yang direncanakan. Itu adalah sentuhan yang singkat, panas, dan penuh rasa sakit yang tertahan. Kella tertegun, matanya membelalak, namun ia merasakan getaran hebat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ada rasa pahit obat flu, namun ada kehangatan yang tulus yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Hanya dua detik.

Gala segera menarik diri, ia tampak kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Wajahnya yang tadi pucat kini merona merah bukan hanya karena demam.

"Maaf..." bisik Gala, ia memalingkan wajah, terengah-engah. "Gue... gue nggak sadar... otak gue bener-bener kacau."

Kella masih terpaku, jemarinya menyentuh bibirnya sendiri. "Gala, kamu... kamu istirahat saja."

Keheningan yang canggung menyelimuti mereka. Di luar, suara langkah kaki Hendra terdengar mendekat. Kella segera berdiri dan berpura-pura sedang membersihkan rak di dekat pintu.

...

Pukul 11.00 WIB – Konfrontasi Hendra

Pintu gudang digedor dengan keras. Hendra masuk dengan wajah tanpa ekspresi.

"Tuan Muda Gala, Ayah Anda meminta Anda pulang sekarang. Beliau tidak ingin Anda sakit di hari penting besok," kata Hendra dengan nada yang lebih mirip perintah daripada saran.

Gala berdiri dengan sisa-sisa kekuatannya. Ia kembali memasang topeng "Gala yang angkuh". "Gue bisa jalan sendiri. Nggak usah perintah-perintah gue."

Ia melirik Kella dengan tajam, seolah kejadian di matras tadi tidak pernah terjadi. "Lo, asisten gembel! Kerjakan semua tugas gue di meja. Jangan sampai ada yang kurang pas gue balik besok."

Kella menunduk dalam. "Baik, Tuan."

Hendra menatap Kella dengan tatapan menyelidik yang lama sebelum akhirnya mengikuti Gala keluar.

Begitu mereka hilang dari pandangan, Kella merosot ke lantai. Jantungnya masih berdegup tidak keruan. Sentuhan bibir Gala tadi seolah masih tertinggal, membakar setiap inci kesadarannya.

Apa yang baru saja terjadi?

...

Sore Hari – Rencana yang Retak

Kella kembali ke kafe dengan pikiran yang bercabang. Ia mencoba fokus pada pelatihan terakhir dari Bu Sandra, namun bayangan Gala terus menghantui.

Di tengah latihan membawa nampan, Pak Heru mendekatinya. "Kella, ada paket untukmu."

Paket itu tidak bernama, dibungkus plastik hitam. Di dalamnya ada sebuah earpiece kecil nirkabel dan sebuah catatan pendek:

"Ponsel Reno sudah sepenuhnya gue sadap. Dia bakal bawa kamera kecil di jam tangannya besok buat ngerekam area pribadi rumah gue dan ngasih liat ke Hendra. Di pesta nanti, lo harus tumpahin minuman ke jam tangannya. Cairan bakal bikin kameranya korsleting. Jangan sampai gagal. – G"

Kella menarik napas panjang. Reno bukan lagi sekadar perundung; dia sekarang adalah musuh dalam selimut yang sangat aktif.

...

Malam Hari – 24 Jam Menuju Pesta

Di rumah megah Alangkara, Gala berbaring di tempat tidurnya yang luas. Dokter pribadi keluarga baru saja memberinya infus vitamin dan penurun panas. Bramantyo Alangkara berdiri di ambang pintu kamar putranya.

"Besok adalah malam di mana aku akan memperkenalkanmu sebagai penerus tunggal, Gala. Jangan permalukan aku dengan wajah sakitmu itu," kata ayahnya dingin.

Gala menatap langit-langit kamar. "Aku tahu, Ayah. Semuanya akan berjalan sesuai rencana."

Bramantyo keluar dari kamar. Begitu pintu tertutup, Gala mencabut jarum infus dari tangannya dengan kasar. Ia berjalan menuju laptopnya, memantau layar yang menampilkan percakapan Reno dan Hendra di sebuah klub malam.

Hendra: "Pastikan kamu mendapatkan bukti kalau gadis asisten itu terlibat dalam pencurian dokumen panti. Jika benar, aku akan membereskannya tanpa sepengetahuan Gala."

Reno: "Tenang, Om. Besok malam, Kella nggak akan punya tempat buat sembunyi lagi."

Gala mengepalkan tangannya. Ia meraih ponsel satelit yang ia sembunyikan di balik bantal dan menekan nomor Kella.

Di kamarnya yang sempit, Kella mengangkat telepon itu.

"Gala?"

"Besok malam..." suara Gala terdengar lebih stabil namun penuh dengan nada peringatan. "Reno tahu lo bakal ada di sana. Dia belum tahu lo jadi maid, tapi dia bakal nyari lo di antara semua staf."

"Gala, soal tadi di gudang..." Kella mencoba memulai pembicaraan yang tertunda.

"Lupakan itu, Kella," potong Gala cepat. "Fokus pada rencana. Kalau lo ragu sedikit saja, lo bakal tamat. Dan gue... gue nggak bakal bisa nolong lo kalau Hendra bertindak duluan."

Kella terdiam. Rasa hangat yang tadi sempat muncul kini kembali mendingin oleh kenyataan.

"Aku mengerti," jawab Kella.

"Gunakan masker lo terus. Jangan pernah dibuka sampai lo masuk ke ruang kerja Ayah. Gue bakal bikin keributan di ruang dansa jam 10 malam tepat. Itu adalah jendela waktu lo selama sepuluh menit."

Sambungan terputus.

Kella menatap seragam maid-nya yang tergantung di balik pintu. Besok bukan hanya soal Gabriel. Besok adalah soal bertahan hidup. Dan di tengah semua bahaya itu, ia menyadari satu hal yang lebih menakutkan daripada Bramantyo Alangkara: ia mulai peduli pada pria yang seharusnya ia benci.

1
𝐈𝐬𝐭𝐲
menarik...
𝐈𝐬𝐭𝐲
hadir thor semoga ceritanya gak putus di tengah jalan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!