Elizabeth Valerie, seorang pembunuh bayaran yang terkenal kejam dan dingin, mati diracun oleh orang-orang kepercayaannya. Namun, kematian bukanlah akhir baginya. Alih-alih pergi ke alam baka, jiwanya justru terjebak di tubuh seorang gadis miskin yang mati dengan mengenaskan.
Bersama ingatan dan rasa sakit milik Elijah, Elizabeth bertekad bahwa ia harus membalaskan dendam gadis itu jika ingin pergi dengan damai. Elizabeth pun menjalani kehidupan keduanya yang sulit dan miskin demi membalaskan dendam sang gadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKR 02 — Ingatan yang Tertinggal
Elizabeth tidak tahu berapa lama ia terduduk di lantai yang dingin itu. Waktu terasa aneh seolah berhenti, lalu bergerak terlalu cepat. Lampu di sudut ruangan berkedip sekali lagi sebelum akhirnya mati, meninggalkan kamar sempit itu dalam cahaya remang dari jendela kecil yang tertutup tirai lusuh.
Kesunyian terasa memeluknya begitu erat, ia masih mencoba memahami apa yang terjadi padanya. Semuanya, apa yang ia alami sekarang terasa sangat mustahil dan aneh.
“Aku benar-benar hidup kembali? Ini … benar-benar aneh. Mungkinkah penjaga neraka juga takut bertemu denganku?” Gumamnya tertawa getir.
Elizabeth menarik napas panjang, lalu terhenti. Dadanya terasa sesak, entah oleh karena apa, seolah tubuhnya memang terbiasa menahan semuanya dan tak pernah bisa bernapas lega.
Elizabeth menekan dadanya sendiri, ia merasa seperti sudah lama hidup dalam keadaan menahan diri. “Apa yang sebenarnya sudah kau alami?”
Kemudian, ia bangkit perlahan, kakinya sedikit gemetar saat berdiri. Lantainya yang dingin terasa menusuk telapak kakinya. Di sekelilingnya, dunia Elijah terhampar dalam kesederhanaan yang menyakitkan.
“Menyedihkan sekali. Semiskin apa kau saat hidup?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Ia menatap seisi kamar sempit itu, hanya ada satu kasur tipis, meja kecil yang penuh buku catatan dan sebuah tas lusuh yang tergantung di paku dinding. Tak ada kemewahan ataupun kenyamanan seperti kehidupan Elizabeth sebelumnya.
Elizabeth mengamati semuanya dengan mata seorang pembunuh, ia terbiasa membaca ruangan, mencari ancaman yang mungkin ada ataupun menghitung kemungkinan. Namun kali ini, ia hanya melihat kemiskinan di depan matanya.
Yang ada hanyalah kehidupan yang dikepung rasa ketakutan.Ia mendekat ke meja, jemarinya menyentuh buku catatan dengan sampul kusam. Saat ia membukanya, dadanya terasa ditusuk sesuatu yang tak terlihat.
Tulisan tangan kecil dan rapi memenuhi halaman itu. Ia membacanya perlahan dengan rasa marah dan jijik yang bercampur bersamaan. Namun ia tak bisa berhenti, ia terus membalik halaman demi halaman.
“Bedebah sialan!” makinya,esal sendiri usai membaca catatan-catatan gadis bernama Elijah itu.
Elizabeth menutup buku itu perlahan. Sesuatu bergetar di dadanya, perasaan yang asing, berat, dan menyakitkan. Apapun nama perasaan itu, Elizabeth sama sekali tidak menyukainya, sebab ia tak pernah memiliki perasaan itu sebelumnya.
Tiba-tiba kepalanya terasa berdenyut. Pandangannya menggelap. Ia terhuyung dan berpegangan pada meja tepat saat ingatan itu datang tanpa izin, tanpa ampun.
Hujan turun deras. Eliah berjalan sendirian. Jaket tipisnya basah, menempel di kulit. Jalanan sepi. Lampu-lampu toko sudah tutup. Langkahnya cepat. Ada suara langkah di belakang. Ia menoleh. Tidak ada siapa-siapa.
Langkah itu terdengar lagi. Lebih dekat. Napas Elijah mulai tidak teratur. Jantungnya berdentum keras di telinga. Ia mempercepat langkah. Tangannya mencengkeram tali tas sekuat tenaga, satu-satunya pegangan yang ia punya.
Tiba-tiba, bayangan muncul dari samping. Seseorang menahan lengannya. Elijah terkejut. Mulutnya terbuka, tapi tak ada satu kata pun yang berhasil keluar dari lisannya. Dunia seolah mengecil, menyisakan wajah-wajah asing yang terlalu dekat, terlalu banyak.
“Tenang saja,” seseorang itu berkata. Suaranya terdengar santai namun tangannya mulai menjamah tubuh Elijah pelan. “Jangan berteriak atau kau akan langsung mati.”
Elijah menurut dengan terpaksa. Lalu, tangan-tangan lain mulai menyentuhnya. Elijah mencoba melawan. Ia mencoba untuk lepas dari cengkraman tangan-tangan kotor itu.
Namun tubuhnya terasa kecil dan lemah.
Elizabeth jatuh berlutut saat kilasan ingatan yang menyakitkan itu menghantam kepalanya tanpa ampun. Napasnya tersengal. Tangannya mencengkeram dada, seolah ingin merobek sesuatu dari dalam. Ia merasa ada sesuatu dari dalam dirinya yang mendesak keluar.
Elizabeth menyeka air matanya dengan kasar, padahal ia tak pernah membuang air matanya secara sia-sia, entah karena apa ia jadi merasa terikat dengan penderitaan Elijah.
Matanya memerah dengan urat rahang yang mengeras. Hasrat membunuhnya jadi begitu kuat. “Aku bersumpah akan membalaskan dendam untukmu, Elijah. Aku pasti akan menemukan para pelaku itu dan menghukum mereka dengan setimpal!”
Kemudian, Elizabeth berjalan mendekati cermin di dinding, menatap wajah Elijah dengan lekat. Wajahnya tampak tirus, Elizabeth yakin selama hidup Elijah pasti tidak makan dengan benar hingga tubuhnya begitu kurus dan lemah.
“Baiklah, ayo lakukan hal pertama, memperbaiki tubuh yang rapuh ini,” katanya menatap wajah Elijah di cermin dan tersenyum.
Elizabeth berjalan ke pintu, hal pertama yang ingin ia lakukan adalah makan. Ia akan makan sebanyak mungkin hingga perutnya terisi penuh.
Namun, hal mengejutkan terjadi saat ia membuka pintu kamarnya perlahan. Seorang perempuan tua berdiri di depan kamarnya dengan memegang sapu. Elizabeth menatapnya selama sepersekian detik, lalu …
Bug! Bug! Bug!
Tiga pukulan kasar tepat mengenai lengan kirinya. Elizabeth bahkan tak sempat menghindarinya dengan cepat, seperti saat ia menghindari serangan-serangan musuhnya.
“Aw!” Elizabeth mengaduh pelan, merasakan nyeri di bagian lengan kirinya. Lalu menatap perempuan di depannya itu dengan tajam.
Perempuan tua itu berkacak pinggang padanya. “Apa?! Kenapa kau menatapku begitu? Kau mau kupukul lagi? Kenapa kau tidak mati saja? Dasar menyusahkan!” hardiknya kesal lalu berjalan pergi meninggalkan Elizabeth yang masih ternganga begitu saja.
“Dia benar-benar sudah gila. Apa dia tidak tahu siapa yang dia hadapi itu?” gumam Elizabeth, kesa. Tak pernah ada yang bertindak semena-mena terhadapnya seperti itu.
Belum selesai rasa terkejutnya, seorang anak laki-laki berusia 15 tahun dengan pakaian lusuh menarik-narik ujung bajunya. Matanya yang sayu menatap Elizabeth. Di tangan kirinya ada kantong plastik hitam.
“Kakak,” panggilnya dengan suara berbisik-bisik. Kemudian, ia menyerahkan kantong plastik berisi roti itu kepada Elizabeth.
“Apa ini? Kenapa kau memberikannya padaku?” tanya Elizabeth heran. Ia balik menatap mata anak itu. Mata yang memiliki tatapan yang sama dengan milik Elijah. Tatapan yang penuh penderitaan dan rasa sakit.
“Makanlah ini, Kak. Dan jangan coba gantung diri lagi,” katanya lirih menahan tangis. “Hanya Kakak yang aku miliki, jika Kakak pergi meninggalkanku juga. Aku … aku bisa ….” Anak laki-laki itu langsung memeluk tubuh kecil Elijah.
Lagi-lagi, Elizabeth merasa matanya memanas dan sebulir bening jatuh ke pipinya tanpa diminta. Entah dorongan dari mana, tangannya terangkat ke atas dan mengusap pucuk kepala anak kecil yang Elizabeth yakin adalah adik dari Elijah.
“Tidak, aku tidak akan mati dengan sia-sia lagi,” kata Elizabeth dengan yakin. “Karena aku harus tetap hidup untuk membalas dendam.”
kalo bab berikutnya masih gak terungkap, kyknya mending gak lanjut deh..😇