Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.
Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 08
Suatu hari, hari di mana libur semester akhirnya akan segera tiba. Namun sebelum itu, sekolah terlebih dahulu mengumumkan hasil ujian. Seluruh murid berkumpul di aula, dengan pandangan tertuju pada sebuah papan pengumuman besar.
Suara bising memenuhi ruangan. Para murid saling membicarakan hasil ujian, terutama tentang peringkat hasil ujian terbaik di semester pertama ini.
"Anak itu lagi? Bagaimana bisa?" bisik salah satu murid dengan nada tidak percaya.
Murid lain menimpali, "Sudah kubilang, dia pasti melakukan kecurangan. Tidak mungkin ada yang dapat nilai sesempurna itu, kan!"
"Kalau terus dibiarkan, kita yang belajar sungguh-sungguh tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi dia dilindungi guru BK, dasar anak emas."
"Hei, lihat peringkat keduanya!" seru murid lain.
Beberapa murid yang penasaran pun mendekat ke papan peringkat. Mereka terkejut saat melihat nama yang berada di posisi kedua—Abigail Amayah.
"Anak bodoh dan brengsek itu bisa peringkat dua? Jelas ada campur tangan guru," ujar seorang murid perempuan sinis. "Mereka bayar berapa, ya?"
"Hahaha! Lucu sekali. Sekarang hasil ujian sekolah saja bisa dipermainkan."
"Sudahlah, biarkan mereka bersenang-senang dalam kedustaan mereka."
Di sisi lain aula, Brian berdiri di barisan paling belakang, tepat di dekat bawah tangga, jauh dari kerumunan. Dari sana, ia bisa mendengar jelas semua bisikan penuh kecemburuan itu.
"Lagi dan lagi mereka tidak terima kalau kau peringkat pertama," ujar John yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
"Orang iri akan mengatakan apa saja agar dirinya tidak terlihat bodoh," jawab Brian datar.
"Wah, temanku memang bermulut tajam!" seru John ceria sambil menepuk punggung Brian.
"Argh, sakit!" keluh Brian kesal.
Brian lalu bertanya, "Oh ya, kau peringkat berapa?"
"Kali ini masuk dua puluh besar!" jawab John bangga. "Kau tidak melihatnya, ya?"
"Itu masih di bawah, jadi aku tidak peduli," balas Brian angkuh.
Suasana di antara mereka mendadak hening saat pandangan keduanya tertuju pada nama di peringkat kedua.
"Kau benar-benar membantunya, ya, Brian," ucap John dengan senyum penuh arti.
Brian langsung menoleh tajam. "Hah? Aku tidak membantunya. Itu hanya kebetulan dia bisa menduduki peringkat dua."
"Hmm… begitu ya…"
"Apa maksudmu?" tanya Brian kesal.
"Tidak ada! Sudah ya, aku pergi dulu~" kata John sambil melambaikan tangan dan berjalan menjauh.
Brian tidak memedulikannya. Ia berbalik dan menuju ke tempat yang lebih tenang, menunggu waktu pembagian rapor dimulai.
Beberapa menit kemudian, pembagian rapor pun dimulai. Brian datang seorang diri, lagi-lagi membuat wali kelasnya—yang semester lalu juga menghadapi hal serupa—menarik napas sedih.
"Sudah, Pak. Saya ingin menerima rapor dan langsung pulang," ucap Brian dengan nada lelah.
Setelah menerima rapor, Brian tanpa sengaja berpapasan dengan Amayah dan ibunya.
"Wah, kebetulan sekali!" seru Barbara dengan antusias. Suaranya yang lembut terdengar menenangkan. "Terima kasih sudah mengajari Amayah, ya!"
Barbara tersenyum manis sambil sedikit menundukkan kepala. Brian refleks merasa tidak enak.
"Tolong angkat kepala Anda, Bu," kata Brian santai.
Setelah Barbara mengangkat kepalanya, Brian melanjutkan, "Ini juga berkat usaha Amayah sendiri. Dia hanya mengasah kembali apa yang sudah dipelajarinya. Saya cuma mengawasi saja."
"Syukurlah. Saya senang sekali mendengar kalian bisa saling melengkapi sebagai teman," balas Barbara tulus.
"Meskipun nyawa saya berkali-kali terancam," gumam Brian datar.
"Itu karena kau selalu berbuat salah. Jadi berhenti merasa paling tersakiti," balas Amayah kesal.
Mendengar percakapan mereka yang jauh dari kesan akrab, Barbara tampak sedikit kebingungan. "Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu. Brian, kau ingin ikut?"
"Terima kasih atas tawarannya, tapi saya ada keperluan di kota," jawab Brian sopan menolak.
"Kapan pulangnya?" tanya Amayah singkat, meski jelas ia menahan rasa penasaran.
"Nanti sore. Urusannya hanya sebentar," jawab Brian datar.
"Begitu ya…" sahut Amayah singkat.
Brian menangkap ada sesuatu di benak Amayah yang tak ia pahami. Namun ia memilih mengabaikannya untuk sementara. Saat ini, ada urusan lain yang harus ia selesaikan—dengan seseorang.
---
Sore harinya, setibanya Brian di rumah, ia dikejutkan oleh aroma masakan yang menyeruak dari dapur.
"Wangi sekali. Apa yang kau masak?"
"Duduk saja di kursi makan, jangan mengangguku," jawab Amayah datar tanpa menoleh. Tangannya tetap sibuk mengaduk masakan.
"Baiklah."
Beberapa menit kemudian, Amayah muncul sambil membawa beberapa piring berisi makanan. Satu per satu ia meletakkannya di atas meja. Brian terpaku—hidangan yang tersaji begitu banyak, benar-benar seperti sebuah perayaan kecil.
"Tumben sekali kau memasak sebanyak ini. Ada apa?" tanya Brian penasaran.
Amayah tersenyum sombong, dagunya sedikit terangkat. "Tentu saja untuk merayakan pencapaianku!"
"Apakah hal itu memang patut dirayakan?" tanya Brian bingung.
"Tentu saja! Peringkat kedua di Empire Heights itu tidak mudah!" jawab Amayah tegas.
"Begitu ya... Aku tidak pernah merayakan hasil nilaiku selama satu semester," ujar Brian datar sambil menatap langit-langit.
"Itu karena kau terlalu sering," balas Amayah sebal.
Brian pun mengambil sendok dan garpu, bersiap menyantap hidangan yang tersaji.
Suasana sempat hening. Namun Amayah kembali memecah keheningan itu.
"Dan juga..."
Brian menoleh, menunggu lanjutan ucapannya.
"Aku memasak sebanyak ini sebagai ucapan terima kasih padamu," ucap Amayah dengan nada gugup.
Brian terdiam, alisnya sedikit terangkat. "Seorang Amayah yang dulu terkenal suka menindas orang ternyata tahu berterima kasih juga," ejeknya.
"Berhenti membahas masa laluku dan jangan bicara seolah-olah aku tidak tahu diri!" balas Amayah kesal.
Keduanya kembali terdiam. Tatapan mereka bertemu cukup lama hingga Amayah tersipu, menyadari dirinya terlalu lama menatap Brian.
Brian memejamkan mata sejenak. "Selamat atas hasil ujianmu," katanya sambil tersenyum tipis.
Amayah terpaku melihat senyum itu. Meski tipis, entah mengapa terasa berarti baginya. "Terima kasih... karena kau telah membantuku," ucapnya lirih.
"Sama-sama."
Mereka pun mulai menyantap hidangan bersama. Di tengah makan malam, obrolan ringan tentang semester ini mengalir begitu saja—hal-hal yang tak pernah mereka duga akan terjadi.
"Oh ya, di mana ibumu?" tanya Brian.
"Ibuku bilang ia akan reuni dengan teman lamanya, termasuk Pak William," jawab Amayah santai.
"Begitu ya," respon Brian singkat.
Beberapa menit kemudian, makan malam pun usai. Seperti biasa, mereka mencuci piring bekas makan bersama.
"Aku tidak menyangka kau bisa menghabiskan semua hidangannya. Memangnya perutmu tidak terasa kembung?" tanya Amayah heran.
"Porsi makanku memang begini sejak kecil," jawab Brian.
"Tapi anehnya, kenapa tubuhmu tidak gemuk?" Amayah semakin penasaran menatap tubuh Brian.
"Entahlah. Aku tidak terlalu memikirkan hal seperti itu."
Setelah semua selesai, mereka kembali dengan aktivitas masing-masing. Namun sebelum berpisah, Amayah tiba-tiba bertanya,
"Apa kegiatanmu selama libur musim dingin nanti?" Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada menyebalkan. "Sebentar, pasti kau akan bermain gim seharian, makan camilan tidak sehat, begadang semalaman, lalu membaca komik sampai matamu merah."
Brian yang sedang mengeringkan tangannya menatap Amayah tajam. Seketika, Amayah terdiam.
"Hei," kata Brian tiba-tiba. "Kau ini penyihir ya? Bagaimana caranya kau tahu niatku? Hebat sekali," pujinya dengan nada jahil, meski ekspresinya tetap datar.
Amayah mengernyit bingung. "Kau ini benar-benar pemalas," gumamnya.
"Lalu apa kegiatanmu?" tanya Brian balik, sedikit tersinggung.
Amayah melipat tangan di dadanya. "Aku akan pulang ke kampung halamanku dan berkumpul dengan keluarga," jawabnya santai. "Setidaknya aku tidak hanya diam di rumah."
Mendengarnya, Brian terdiam. Pandangannya kosong sejenak. "Keluarga ya..."
Melihat ekspresi itu, Amayah merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik sikap datarnya. "Keluargamu tidak akan pulang?" tanyanya hati-hati.
"Aku tidak tahu. Orang tuaku sangat sibuk. Mereka hanya bisa pulang beberapa bulan sekali—bahkan pernah setahun sekali," jawab Brian tenang.
"Setahun sekali? Pekerjaan apa sebenarnya orang tuamu?" tanya Amayah penasaran.
"Ibuku adalah CEO perusahaan Zaasla. Ayahku asistennya," jawab Brian santai.
Suasana mendadak hening.
"CEO Zaasla?!" teriak Amayah kaget. "Benarkah?!"
"Ya. Memangnya kenapa?"
"Kenapa? Itu perusahaan teknologi dan transportasi terbaik di dunia! Semua orang tahu itu! Lalu ibumu... dianggap sebagai orang terkaya di dunia!" ucap Amayah bersemangat.
"Oh... ya..." Brian tampak kebingungan melihat reaksinya.
Amayah menghela napas panjang. "Maaf. Aku hanya kaget. Ternyata temanku anak orang kaya raya."
"Tidak ada yang istimewa," ujar Brian. "Aku bangga, tapi tidak berlebihan. Yang kupikirkan hanya masa depanku nanti."
"Kau ingin menjadi seperti mereka?" tanya Amayah.
"Mungkin. Tapi aku ingin memilih jalanku sendiri. Itulah mimpiku."
Amayah mengangguk pelan. Ia mulai mengenal Brian, bukan hanya dari luarnya saja.
"Lain kali akan kuceritakan latar belakang keluargaku juga, supaya impas," kata Amayah ringan.
"Oh ya? Aku harap aku tidak tertidur saat mendengarnya," ejek Brian sambil tersenyum tipis.
"Kalau kau tertidur, aku punya banyak cara untuk membangunkanmu," balas Amayah dengan senyum jahil.
Brian mendengus kecil. "Oke, itu terdengar menyeramkan."
---
Suatu malam, Brian berdiri di depan rumahnya. Udara terasa cukup dingin, menusuk kulit, sementara di hadapannya Amayah dan Barbara sedang menunggu taksi yang akan mengantar mereka ke terminal bus.
"Jaga dirimu baik-baik, Brian. Amayah tidak ada, jadi kamu harus jaga kesehatanmu, ya!" seru Barbara dengan nada tenang namun penuh perhatian.
"Itu benar. Pertahankan pola tidurmu, jangan pernah begadang lagi. Lalu kau harus menjaga pola makanmu. Aku sudah menyiapkan buku menu memasak beserta bahan-bahannya di dapur, jadi gunakan sebaik mungkin! Jangan lupa bersih-bersih, dan rawat tanaman di halaman belakang!" ucap Amayah panjang lebar dengan nada tegas dan ekspresi yang sangat serius.
"Iya, iya, Bu Amayah," ejek Brian setelah mendengar ocehan itu.
Amayah langsung memalingkan pandangannya dengan ekspresi sebal. Barbara yang melihat tingkah mereka berdua hanya bisa tersenyum kecil, tampak terhibur oleh kedekatan yang terjalin secara alami di antara keduanya.
Tak lama kemudian, taksi pun tiba. Amayah dan Barbara menaiki mobil tersebut. Sebelum pergi, Barbara melambaikan tangannya ke arah Brian. Brian hanya terdiam, menatap kepergian mereka tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.
Namun jauh di dalam hatinya, rasa cemas mulai muncul. Ia akan sendirian selama tiga minggu ke depan.
"Aku tidak tahu nasibku nanti akan bagaimana..." gumam Brian datar.
Beberapa saat kemudian, Brian masuk ke dalam rumah dan langsung menuju dapur. Ia mengecek isinya, memastikan bahan-bahan makanan yang disebutkan Amayah benar-benar ada. Namun sesampainya di sana, pandangannya tertuju pada sebuah kertas yang ditempel di pintu kulkas.
Di kertas itu tertulis sebuah pesan:
"Ada beberapa makanan yang bisa kau langsung panaskan di microwave. Lalu ada buku menu yang bisa kamu jadikan referensi memasak, aku menaruhnya di laci atas. Ingat, jangan begadang, jaga kesehatanmu! Jika aku kembali dan mengetahui kalau kau demam, maka bersiaplah."
Pesan itu jelas ditulis oleh Amayah.
Setelah membacanya, bulu kuduk Brian merinding. Ia benar-benar merasa seperti dikekang olehnya.
"Kejam sekali..." gumamnya pelan.
Namun sesaat kemudian, sebuah pertanyaan muncul di benaknya.
"Tapi mengapa dia begitu peduli padaku?"
---
Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)
---
Libur musim dingin pun tiba. Brian yang biasanya hanya mengenakan kaus dan celana pendek, kini mulai terbiasa memakai pakaian yang lebih hangat sepanjang hari. Ia jarang keluar rumah, namun sesekali tetap mengecek keadaan sekitar dan membersihkan dedaunan yang menumpuk di halaman.
“Salju belum turun… mungkin sebentar lagi,” pikirnya sambil menatap langit kelabu.
Brian juga tidak melupakan pesan Amayah. Ia berusaha tidur tidak terlalu larut, menjaga pola makan, dan rutin membersihkan rumahnya.
“Melelahkan, tapi… entah kenapa ini terasa menyenangkan.”
Brian yang dulu dikenal pemalas kini berubah menjadi lebih rajin sejak kehadiran Amayah. Ia merasa Amayah menyuruhnya melakukan semua ini demi kebaikannya sendiri—dan Brian menyadari itu. Tinggal sendirian memang sering menyiksa, namun keberadaan Amayah, meski hanya lewat pesan, sangat membantunya.
Setelah selesai membersihkan rumah, Brian langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa, terengah-engah.
“Argh… lelah sekali…”
Tiba-tiba, telinganya menangkap bunyi notifikasi dari ponselnya. Brian meraih ponsel yang tergeletak di atas meja ruang tamu. Sebuah pesan dari Amayah muncul di layar.
Amayah mengirimkan foto seekor kucing peliharaan yang tampak lemas dan malas bergerak.
“Lihat kucing ini, mirip seperti dirimu, pemalas dan suka tidur.”
Membacanya, Brian sedikit tersinggung.
“Apakah ada kucing yang suka bertarung juga? Yang mirip denganmu. Tolong bawa dia saat pulang nanti,” balasnya mengejek.
Di sisi lain, Amayah yang sedang menikmati secangkir teh hangat merasa kesal. Namun ia menahan diri dan memilih untuk tidak membalas dengan nada kasar.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Amayah akhirnya.
“Aman saja,” jawab Brian singkat.
“Sudah dimakan?”
“Sudah.”
“Tidak begadang, kan?”
“Tidak. Aku menurutimu, ibu…”
“Aku bukan ibumu.”
“Maka dari itu berhenti bersikap seolah-olah kau ibuku.”
“Terserah aku!”
Setelah itu, jari mereka berhenti bergerak. Seolah-olah keduanya sama-sama terdiam, memikirkan kata-kata apa yang pantas untuk melanjutkan percakapan.
“Semoga kau bersenang-senang di sana,” tulis Brian.
Membacanya, Amayah sedikit tersenyum. Ia tak ingin terbawa suasana.
“Tentu saja. Jangan khawatirkan aku.”
“Baiklah kalau begitu.”
“Satu lagi!”
“Hah?”
Amayah tersenyum manis sebelum mengirimkan pesan berikutnya.
“Selamat Natal.”
Brian terdiam sejenak. Ia baru menyadari bahwa besok memang bertepatan dengan hari Natal. Tanpa sadar, ia mulai memikirkan apa yang akan dilakukannya esok hari.
“Selamat Natal juga,” balasnya.
“Ada yang kau inginkan dari kampung halamanku?” tanya Amayah.
“Asal jangan kucing pemalas itu.”
Membacanya, Amayah tertawa kecil.
“Aku tidak ingin menambah anak pemalas.”
“Baiklah, akan kubawakan sesuatu yang spesial untukmu. Bukan karena kau memintanya—aku hanya ingin memberi saja!”
“Iya, aku tahu soal itu.”
Percakapan pun berakhir. Brian mematikan ponselnya lalu berbaring di sofa. Pandangannya tertuju ke langit-langit, pikirannya melayang pada hal-hal yang terasa begitu penting.
“Tahun ini akan segera berakhir…” gumamnya pelan.
“Banyak sekali yang terjadi… dan aku tidak akan melupakannya.”
Ia menghela napas.
“Semoga tahun depan aku tidak merepotkan lagi…”
“Jangan sampai ada drama lagi… atau sesuatu yang mengancam kenyamananku. Aku mohon…”
Di tempat lain, Amayah duduk di kursinya sambil merenung. Pandangannya tertuju pada sebuah danau yang tenang dan indah di hadapannya.
“Semoga tahun depan aku bisa lebih mengenalnya,” bisiknya.
“Meskipun sulit… aku ingin tetap berada di sisinya.”
“Ku mohon…”
ucap keduanya—di tempat yang berbeda, namun pada waktu yang sama.
Bersambung.
semangat terus bang!!!