Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.
"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebahagiaan mana lagi yang diimpikan
Di depan sekolah, sebuah perpisahan kecil yang manis terjadi, lambaian tangan Sebria di gerbang sekolah menjadi penyemangat sebelum Byan berlari masuk. Tepat di seberang sekolah itu, Sebria memutar kunci toko bunganya. Saat pintu terbuka, aroma mawar, lili, dan tanah basah menyambutnya seperti sahabat lama.
Sungguh ia rindu toko kecilnya ini. Sebria mulai menyiapkan peralatan untuk merangkai. Sambil merangkai kelopak-kelopak segar, ia sesekali melirik ke arah sekolah di seberang jalan, tersenyum kecil melihat dunia barunya yang kini mekar sesempurna bunga-bunga di tokonya.
"Aku senang kakak bahagia." Keona melangkah masuk diiringi suara lonceng berdenting. Beberapa menit ia berdiri diluar memperhatikan raut wajah kakaknya yang berseri dan tersenyum tipis sendiri.
"Iya, kakak bahagia." Sahut Sebria tersenyum.
"Aku merindukan kakak." Keona mendekat lalu memeluk tubuh mungil kakaknya itu. "Nanti sore pulang ke rumah ya, sudah lama kakak tidak pulang."
"Baru beberapa hari, Keo." Tubuh Sebria tenggelam di dalam lingkaran tangan Keona. "Iya nanti kakak pulang ke rumah."
"Tapi menginap ya, kalau pria itu tidak mau ikut, biarkan saja dia sendirian di rumah. Kakak sama Byan saja yang pulang."
Sebria terkekeh. "Dia kakak ipar kamu, Keo."
...----------------...
Matahari tepat di ubun-ubun, membakar aspal hingga tampak bergetar, namun langkah kaki kecil itu tetap riang menyambut teduh yang menanti di ujung jalan. Lonceng pintu berdenting renyah, menyapa aroma tanah basah dan wangi mawar yang seketika memeluk raga, membasuh sisa peluh dari seragam.
Tak ada riuh klakson di sini, hanya bisik kelopak bunga dan tawa lirih yang pecah saat sang anak meletakkan tasnya di pojok ruangan, lalu ikut menyesap segelas air dingin di antara rimbunnya kelopak bunga. Di toko kecil ini, siang yang terik tak pernah sampai ke dalam. Ia kalah oleh sejuk kasih sayang dan harum kuncup yang mekar perlahan.
"Ganti baju, tadi Bi Merry sudah antar baju kamu. Terus cuci tangan makan dulu baru istirahat." interupsi Sebria sambil menatap makanan di atas meja jati biasanya.
"Iya, Ma. Itu di belakang kenapa ramai sekali." Byan tertarik dengan keramaian di belakang toko.
"Ah, itu para pekerja bangunan. Papa menambah bangunan di belakang biar toko bunganya luas terus kamu punya kamar tempat istirahat nanti."
Byan mengangguk mengerti. Demi kenyamanan anak dan istrinya. Jehan langsung meminta asistennya untuk menyambung bangunan ke belakang sesuai keinginan Sebria.
"Bagaimana sekolahmu hari ini, sayang?" tanya Sebria tanpa mengalihkan pandangan dari tangkai anyelir yang sedang ia rapikan.
Byan menarik kursi kayu, duduk bersandar sambil menghirup dalam-dalam aroma sedap malam yang menenangkan. "Melelahkan, Ma. Matematika tadi seperti benang kusut," jawabnya manja, menyandarkan dagu di atas meja yang penuh kelopak bunga.
Sebria terkekeh pelan, lalu menyodorkan sekuntum matahari kecil yang baru saja dipotongnya. "Hidup itu seperti merangkai bunga ini. Kadang ada duri yang menusuk, ada daun yang harus dibuang, tapi kalau kamu sabar, hasilnya akan indah dipandang."
Anak itu tersenyum, menyentuh mahkota kuning cerah di tangannya. "Berarti besok aku coba lagi ya, Ma?"
"Tentu," sahut Sebria lembut sambil mengusap pelipis Byan yang masih lembap oleh keringat. "Sekarang kita makan dulu, makanannya sudah siap."
Matahari di luar sana masih bertahta, memantulkan silau pada kaca depan, namun di dalam sini waktu seolah memelankan detaknya. Sebria dan Byan duduk berdampingan di atas bangku panjang, diapit oleh keranjang-keranjang rotan dan gulungan pita warna-warni. Byan menyandarkan kepalanya di bahu Sebria, memejamkan mata sembari mendengarkan irama napas yang tenang dan petikan gunting yang sesekali memotong batang krisan.
"Lihat ini," Ujar Sebria, mengarahkan jemari mungil Byan pada kuncup lily yang nyaris terbuka. "Dia tidak terburu-buru untuk mekar, meski matahari di luar sana sedang berteriak."
Byan menyentuh kelopak yang masih kaku itu dengan ujung telunjuknya. "Apa dia sedang menunggu sore yang lebih sejuk, Ma?"
Sebria mengangguk, lalu menarik napas panjang, menikmati perpaduan aroma tanah basah dan daun segar di dalam toko. "Sama seperti kamu. Pulang sekolah bukan berarti duniamu selesai. Ini waktunya kita 'menyiram' hati yang layu karena pelajaran tadi dengan segelas air dan cerita-cerita kecil."
Byan tertawa kecil, rasa penatnya seolah menguap di antara barisan pot anggrek. "Kalau begitu, aku mau jadi seperti bunga di pojok itu, Ma. Warnanya tenang, tidak peduli betapa panasnya aspal di luar sana."
Sebria merangkul bahu kecil itu, mengecup puncak kepalanya yang masih berbau matahari. "Jadilah apa pun yang membuatmu merasa sejuk, Nak. Di toko ini, kita punya semua waktu untuk tumbuh perlahan. Sekarang istirahat nanti sore kita pulang ke rumah Oma."
"Yeay ! Ketemu om Keo."
...----------------...
Matahari mulai meluruh, menyisakan sepenggal cahaya jingga yang tumpah di aspal yang masih menyimpan sisa hangat siang tadi. Di sepanjang jalanan ini, bayang-bayang mulai memanjang seolah-olah ingin memeluk setiap langkah yang melintas.
Lampu-lampu jalan mulai terjaga satu per satu, berpijar ragu di antara remang yang kian menebal. Di sela riuh klakson dan deru mesin, ada sunyi yang menyelip pelan—sebuah jeda bagi mereka yang tengah memacu rindu menuju rumah.
Angin sore berbisik di antara dedaunan, membawa aroma tanah dan kenangan yang kerap kali singgah tanpa mengetuk pintu hati.
Setiap persimpangan menjadi saksi bisu atas pertemuan dan perpisahan yang tak sempat diucapkan. Sore ini, jalanan bukan sekadar lintasan, melainkan hamparan sajak yang ditulis oleh langkah-langkah lelah namun penuh harap, menanti malam melipat hari dalam ketenangan.
Jehan berkendara dengan santai dan tenang. Tujuannya adalah rumah sang mertua. Menemui anak dan istrinya. Hari pertama bekerja dan pulang ditunggu istri dan anak yang sangat Jehan cintai. Kebahagiaan mana lagi yang ia impikan.
Roda empat itu berhenti di pelataran rumah sang mertua. Di teras putra tampannya duduk bersama Pak Fendy. Entah apa yang mereka bahas sampai Byan tertawa lebar.
"Kamu sudah pulang?" Pak Fendy menyapa hangat disertai senyuman.
"Iya pah, aku masuk dulu." Jehan mengecup lembut pucuk kepala Byan sekilas sebelum membawa langkahnya masuk. Manik matanya mencari keberadaan sang istri tapi ruang tengah nampak tenang dan sepi.
Jehan langsung naik tangga ke kamar Sebria. Tapi tidak menemukan juga keberadaan wanita mungil itu. Jehan memutuskan langsung membersihkan diri baru mencari keberadaan istrinya lagi. Di atas kasur sudah tergeletak sepasang pakaian santai. Hanya menghabiskan waktu lima belas menit pria itu sudah selesai dengan ritual kamar mandinya.
"Dimana istri saya?" Jehan bertanya pada Bi Yuni kepala asisten rumah tangga.
"Nona Sebria ada di belakang bersama Tuan Keo. Mereka menyiapkan pemanggangan katanya ingin bakar-bakar."
Jehan mengangguk lalu mengucapkan terimakasih. Ia melangkah ke halaman belakang. Disana Sebria sangat cantik mengenakan pakaian rumahan. Rambut panjangnya dicepol satu tanpa riasan. Sebria sedang duduk menunggu Keona menyetel kompor portable.
"Sayang." Jehan mendekat memeluk gemas sambil mengecupi daun telinga istrinya. "Aku cari-cari kamu ternyata disini."
"Jangan memeluk kakak saya !" Seru Keona tidak suka. "Masih banyak batang pohon disini yang bisa anda peluk." Sambung nya masih formal.
"Kakak kamu ini, sekarang istri ku." Jehan berucap dengan wajah menyebalkan sengaja memanasi si bungsu itu.
"Ck... Menyebalkan !"
Makasih, Kakak Ririn, sudah menuliskan kisah yg indah ini. Tep semangat berkarya 🥰