"Ini cek satu miliar. Tapi serahkan putri mu." Dexter.
Dexter yang dikenal dingin terhadap perempuan. Tapi tertarik pada seorang gadis yang ditemuinya.
Dengan caranya sendiri, dia memaksa untuk menikahi gadis itu. Bahkan tidak segan-segan memberikan cek senilai satu miliar.
"Pa, aku tidak ingin menikah dengan pria tua dan cacat." Wilona.
Sementara gadis yang diincar Dexter adalah Kiandra. Seorang gadis yang memiliki identitas ganda.
Siapa gadis itu sebenarnya? Apa yang istimewa dari gadis itu sehingga membuat Dexter tertarik? Bahkan rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mendapatkan gadis itu.
Kalau penasaran baca yuk.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Di tempat lain ...
Disebuah markas, seorang gadis sedang duduk di kursi. Di depannya ada beberapa anak buahnya sedang berdiri. Dan disampingnya sang asisten berdiri pula.
Ponsel gadis itu berdering. Dengan sedikit malas dia menjawab panggilan telepon. Melihat nama pemanggil, raut wajah pun berubah.
"Kiandra, papamu meminta mu segera pulang."
Ya, yang menelepon itu adalah Maura ibu tirinya Kiandra. Kiandra memang tidak terlalu senang dengan ibu tirinya itu.
"Baik." Kiandra langsung menutup teleponnya secara sepihak. Tanpa ada kata halo apalagi salam.
"Ada apa Boss?" tanya asistennya.
"Louis, aku akan kembali ke rumah papaku. Semua urusan di sini aku serahkan ke kamu." Dengan nada rendah Kiandra meminta asistennya untuk menjaga tempat ini.
"Tapi Boss ...."
"Oh iya, jangan ada yang mengawal aku. Aku tidak ingin identitas ku diketahui oleh orang lain," kata Kiandra memotong ucapan Louis.
"Siap Boss," ucap anak buah Kiandra serentak.
Kiandra bangkit dari duduknya. Berjalan masuk ke sebuah ruangan. Setelah beberapa menit, Kiandra kembali keluar dengan pakaian layaknya gadis desa.
Rambut dikepang dua dan kacamata putih besar, tapi bukan kacamata minus. Bahkan riasan wajahnya pun sengaja dibuat jelek.
Tiba di rumahnya, Kiandra pun mengemasi pakaian dan barang-barang penting yang akan dibawanya. Tidak berapa lama sebuah mobil datang menjemputnya.
"Masuk!" Perintah sopir dengan nada judes.
Kiandra pun langsung masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan sikap sopir yang judes itu. Mobil pun bergerak perlahan meninggalkan rumah sederhana itu.
Dalam perjalanan, pak sopir bersikap sinis. Seolah meremehkan penampilan Kiandra. Namun Kiandra tidak perduli, hanya menatap keluar mobil.
Saat tiba di rumah kediaman Basuki Wijaya, Kiandra pun tidak berkata apa-apa. Hanya ingatannya kembali ke masa lalu, sewaktu dia masih bersama ayah dan ibunya.
Namun, semuanya berubah ketika ibunya meninggal. Dan ayahnya membawa seorang wanita dan seorang anak perempuan berusia lima tahun.
Kiandra keluar dari mobil. Pandangannya tertuju pada Wilona yang berada di balkon kamarnya.
"Silakan Nona," ucap pelayan yang dulu merawat Kiandra.
"Bu Nisa." Kiandra langsung memeluk Nisa. "Ternyata Ibu masih kerja di sini," tambahnya.
"Iya Nona. Nona apa kabar? Nona terlihat kurus," kata Nisa setelah pelukan mereka terlerai.
"Baik Bu, bagaimana dengan Ibu di sini?"
"Baik Nona."
"Bik, bawa Kiandra masuk," kata Maura. Nisa hanya mengangguk dan menunduk hormat.
"Mari Nona." Nisa menuntun Kiandra untuk masuk. Kiandra merasa senang, kerinduannya kepada pengasuh nya sudah terobati.
"Kamu tahu kenapa kamu diminta datang kemari?" tanya Basuki. Kiandra hanya menggeleng.
"Pa, nanti saja kita bicarakan masalah itu. Biarkan Kiandra istirahat dulu. Kiandra juga baru datang dari desa," kata Maura.
"Jangan pura-pura baik, Tante," kata Kiandra. Pa, katakan saja apa yang ingin dibicarakan?" tanya Kiandra.
"Kiandra, jangan tidak sopan, dia ibumu," kata Basuki Wijaya.
"Ibuku sudah meninggal Pa, dia hanya pelakor yang datang dan merusak semuanya," kata Kiandra.
"Kiandra!" Bentak Basuki sambil mengangkat sebelah tangannya hendak menampar Kiandra.
Namun Kiandra hanya terdiam membiarkan saja apa yang hendak dilakukan oleh Basuki. Maura segera mencegah Basuki yang hendak menampar Kiandra.
"Pa, jangan sampai Kiandra menolak untuk menggantikan Wilona menikahi pria tua dan lumpuh itu," bisik Maura.
Basuki pun menurunkan tangannya. Sikapnya seketika berubah manis kepada Kiandra. Kiandra hanya tersenyum tipis tanpa disadari oleh siapapun.
"Bik, bawa Kiandra ke kamarnya," kata Basuki.
"Baik Tuan." Nisa menunduk hormat kemudian membawa Kiandra ke atas.
"Nona, ini kamar nona Wilona," kata Nisa saat Kiandra berhenti di depan pintu kamar yang dulu dia tempati.
"Aku mau kamar ini Bu," kata Kiandra.
"Tapi Nona, itu ...."
"Jangan takut, aku juga pemilik rumah ini," kata Kiandra memotong ucapan Nisa.
Nisa hendak membuka pintu, namun terkunci dari dalam. Nisa mengetuk pintu kamar beberapa kali. Tapi tidak ada yang membuka.
Kemudian Kiandra pun menggedor pintu kamar tersebut. Barulah pintu terbuka. Kiandra langsung masuk dengan mendorong sedikit tubuh Wilona, karena Wilona menghalanginya di depan pintu.
"Minggir," ucap Kiandra. Wilona sedikit terhuyung.
"Hei, apa-apaan ini?" tanya Wilona tidak terima.
"Bu, bereskan semua barang-barang di sini. Aku ingin kamar ini," kata Kiandra.
"Heh, ini kamar ku," kata Wilona.
"Bu." Kiandra tidak menghiraukan ucapan Wilona.
"Baik Nona," ucap Nisa.
Nisa pun segera membereskan semua barang-barang milik Wilona. Dan mengganti sprei dengan yang baru.
Bahkan pakaian di dalam lemari milik Wilona pun disuruh singkirkan oleh Kiandra. Wilona tidak terima karena barang-barangnya dibiarkan berserakan di lantai.
"Kiandra, hei apa yang kamu lakukan? Kembalikan ke tempatnya semula," ujar Wilona.
Kiandra hanya tersenyum tipis saja, tanpa menghiraukan ucapan Wilona. Wilona pun menjadi emosi dibuatnya.
Wilona mengangkat tangan kanannya hendak menampar Kiandra. Namun kedatangan Maura dan Basuki membuat Wilona mengurungkan niatnya.
"Wilona!" Pekik Maura.
"Ma, Pa lihat deh. Semua barang-barang ku dibuang olehnya," kata Wilona mengadu kepada orang tuanya.
"Sabar, jika tidak, kita tidak bisa memintanya untuk menggantikan mu menikahi pria tua itu," kata Basuki pelan.
Meskipun pelan, namun pendengaran Kiandra cukup tajam. Sehingga Kiandra mendengar ucapan Basuki.
"Jadi untuk itu mereka meminta ku kembali," batin Kiandra.
"Biarkan saja, setelah semuanya selesai, kamu akan pindah lagi ke kamar ini. Hanya beberapa hari saja, setelah dia menyetujui pernikahan itu, kita akan usir dia dari sini," bisik Maura.
Wilona tersenyum senang mendengarnya. Dia pun terpaksa mengalah dan pindah ke kamar lain yang lebih kecil dari kamar sebelumnya.
"Aku mau semuanya diganti dengan yang baru," kata Kiandra.
Maura pun meminta pelayan untuk mengatur ulang kamar Kiandra. Setelah semuanya selesai, Kiandra pun istirahat.
Dulu dia hanya bisa menangis saat dibawa ke desa. Tapi sekarang, Kiandra sudah menjadi perempuan tangguh.
Bukan hanya itu, dia menjadi pemimpin organisasi di dunia bawah. Tapi, Kiandra tidak lupa asal usulnya. Bahkan dia sering membantu orang-orang miskin yang mengalami kesulitan.
"Bu, ibu tahu kenapa aku diminta untuk kembali ke sini?" tanya Kiandra.
Sebenarnya dia sudah mendengar ucapan Basuki. Namun Kiandra hanya ingin memastikannya saja dan bertanya kepada pengasuh nya.
"Anu Nona, mm tuan dan nyonya ...."
"Katakan saja Bu."
"Sebenarnya ...."
Nisa pun menceritakan tentang seorang pria tua dan lumpuh yang datang melamar. Nisa juga menceritakan jika Kiandra yang akan dijadikan pengganti Wilona.
Kiandra hanya manggut-manggut mendengarnya. Apa yang diceritakan oleh Nisa hampir sama dengan yang dikatakan oleh Basuki.
"Nona, saran saya, sebaiknya Nona menolak saja. Pria itu sudah tua dan juga lumpuh, tapi ...."
"Tapi apa Bu?"
"Tapi pria itu kaya, Tuan sudah menerima cek senilai satu miliar dari pria tua itu."
Kiandra hanya tersenyum saja. Menurutnya itu adalah suatu tantangan baginya menikah dengan pria tua dan juga lumpuh.