NovelToon NovelToon
Menjadi Guru Sihir Putra Mahkota Kerajaan Sihir

Menjadi Guru Sihir Putra Mahkota Kerajaan Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Irara

Rhea Celeste hanyalah mahasiswi jurusan pendidikan biasa yang malas, sampai sebuah panci listrik meledak dan merenggut nyawanya.

Saat membuka mata, ia terbangun di dunia fantasi sebagai Rhea Celeste lain.

Dia adalah seorang archmage berbakat dan guru sihir putra mahkota Kerajaan Sihir. Tanpa ingatan pemilik tubuh asli, Rhea harus berpura-pura kehilangan ingatan dan mencoba melanjutkan kariernya sebagai guru putra mahkota dengan baik untuk hidup damai.

Namun, kehidupan damainya hanyalah angan-angan setelah mengetahui identitas tersembunyi pemilik tubuh aslinya yang lain.

“Rhea-ku, sayang... Kenapa kau melupakanku? Kekasihmu?”

Seorang pria tampan dari kekaisaran suci mengaku sebagai kekasihnya dan menangis.

Sedangkan di sisi lain, muridnya yang keras kepala, merengek, mengajaknya tinggal.

“Guru! Ayo pulang! Buatkan aku kue ulang tahun!”

Lebih baik tidak ikut campur, atau kedua kekaisaran akan musnah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mantra baru untuk kabur, berhasil?

Ruangan itu tampak remang-remang. Tirai menutup jendela kaca besar, menyisakan cahaya pagi yang lolos dari celah-celahnya.

Di atas kasur besar bertabur warna ungu dan keemasan, Rhea mencoba menutup matanya kembali dengan gelisah. Selimut hangat menyelimuti sebagian tubuhnya, tetapi ia sama sekali tidak bisa tidur.

Akhirnya, Rhea menyingkap selimut dan duduk di tepi ranjang dengan linglung.

“Sial,” gumamnya sambil menggigit jarinya dengan gelisah. “Terlalu lama. Aku ingin tahu situasi di luar.”

Sejak kemarin siang, Rhea tidak diizinkan keluar dari kamar dan dipaksa berbaring seharian. Dia bahkan tidak diizinkan mandi sore, dan makanannya selalu diantar langsung ke tempat tidur.

Yang paling menjengkelkan, ia hanya diberi bubur hambar tanpa setetes kaldu pun. Padahal, John dan para pelayan di White Lotus pasti tahu bahwa ia tidak masalah mengonsumsi kaldu ayam atau daging lain, asalkan tidak memakan dagingnya secara langsung.

Namun, orang-orang di sini tidak pernah bertanya. Mereka terlalu cuek dan hanya mematuhi perintah putra mahkota yang melarang hidangan daging dengan pandangan sempit.

Seharusnya John dan dokter tua itu datang sesuai perintah putra mahkota sore kemarin. Namun, hingga pagi ini mereka tidak kunjung muncul. Rhea yakin kesalahan itu berasal dari kepala pelayan yang menganggap remeh hubungannya dengan mereka.

Pasti dia berpikir Rhea tidak benar-benar membutuhkan keduanya dan memilih mengesampingkan urusan itu demi tugas lain.

“Hei! Apa ada seseorang di luar?” teriak Rhea sambil mengetuk pintu ganda kamar mewah itu dengan keras.

Rhea harus berteriak dua kali sebelum suara langkah kaki perlahan mendekat, lalu pintu terbuka.

“Kenapa Anda bangun pagi-pagi sekali, Nyonya Celeste?” Kepala pelayan tua istana berdiri di ambang pintu. Ia sendirian, tanpa pelayan lain mengikutinya.

“Tentu saja karena ini sudah hampir siang,” jawab Rhea dengan nada jengkel.

Dia berbalik dan mencoba melangkah keluar, tetapi sebuah tangan terentang menghalanginya.

“Anda harus tetap di kamar, Nyonya Celeste. Tubuh Anda belum pulih. Putra mahkota memerintahkan Anda untuk beristirahat,” ucap kepala pelayan itu tanpa mengubah ekspresinya.

“Oh, ya?” balas Rhea dingin.

Dia mundur selangkah dan mengamati kepala pelayan itu dari ujung rambut hingga kaki.

“Kau begitu berani memerintahku, Kepala Pelayan,” ucap Rhea tanpa ekspresi. “Kau pikir karena aku kehilangan ingatanku, aku jadi mudah ditindas lagi? Tidak, bukan?”

Raut wajah kepala pelayan sedikit berubah. Pupil matanya bergetar sebelum senyum sopan kembali terpatri di wajahnya.

“Tidak, saya tidak berani, Nyonya. Saya hanya menjalankan perintah putra mahkota. Sama sekali tidak berniat menyinggung Anda.”

Rhea memperhatikan reaksinya dan merasa puas. Gertakannya berhasil.

“Kalau begitu, jangan hentikan aku,” ucapnya tegas sambil merapikan rambutnya yang berantakan. “Tolong minggir. Aku punya janji bertemu seseorang.”

Namun, kepala pelayan itu tidak bergerak. Tangan kanannya tetap terentang, menutup jalan keluar. Wajahnya penuh tekad dengan kesetiaan mutlak pada perintah tuannya. Meski begitu, keringat dingin menetes di pelipisnya.

“Kalau kau tetap menghalangiku,” ujar Rhea pelan, “aku tidak akan bertanggung jawab atas kerusakan setelah ini.”

Rhea merinding mendengar kalimat klise yang baru saja ia ucapkan, tetapi menahannya.

Di bawah pengawasan kepala pelayan, Rhea mengangkat lengan kanannya dan mulai merangkai sebuah mantra di udara.

Tubuhnya tampak membeku, tangan kanannya terangkat dengan senyum kecil terukir di wajahnya.

Kepala pelayan bersiap menghadapi serangan, tetapi sesuatu yang tak terduga terjadi.

Tubuh Rhea di hadapannya retak seperti kaca.

Retakan itu melebar dengan cepat, dan sebelum kepala pelayan sempat bereaksi, sosok tersebut hancur berkeping-keping menjadi ratusan pecahan kaca kecil.

Saat itulah ia menyadari Rhea telah kabur.

“Aku harus melapor kepada Yang Mulia,” gumamnya panik sambil berlari menjauh.

................

Di salah satu sudut rumah kaca Istana Rosemaline, sesosok tubuh muncul dari kehampaan.

Rambut putih keperakan itu tampak berantakan, dan sebuah senyum tipis terukir di sudut bibirnya.

“…Ini benar-benar berhasil,” bisik Rhea sambil mengamati pemandangan di sekelilingnya.

Tadi malam, ia diam-diam bereksperimen menciptakan mantra dari contoh-contoh di buku sihir yang dibawanya.

Mantra adalah bahasa yang tersusun dari simbol-simbol unik. Orang-orang Kekaisaran Arcana mengklasifikasikannya sebagai Bahasa Arcana Kuno.

Berbeda dengan bahasa sehari-hari, bahasa ini terpatri jauh di dalam pikiran seorang mage sejak ia mendapatkan lingkaran sihir pertamanya. Dengan bahasa inilah para mage merangkai mantra untuk memanipulasi energi sesuai kehendak mereka.

Namun, kata-kata yang diterima setiap mage berbeda-beda dalam sejumlah kategori. Karena itulah Departemen Sihir Kekaisaran mengumpulkan berbagai mantra dari para mage dan membukukannya untuk dipelajari.

Dari sekian banyak bahasa Arcana yang dibacanya, otak Rhea paling mengingat mantra-mantra yang berkaitan dengan ilusi, air, penyembuhan, dan serangan mental. Kategori lain masih ia ingat, meski tidak sedetail itu.

Kemungkinan besar, pemilik asli tubuh ini memang memiliki afinitas pada kategori tersebut sebelumnya.

Mantra ilusi yang digunakan untuk membalas dendam pada para pria juga dikabarkan memiliki sifat ilusi. Meski menurut Rhea, itu lebih menyerupai serangan mental.

Mantra kaburnya kali ini pun berbasis ilusi.

Mantra itu tidak berbahaya. Dengan keterampilannya mengolah kata setelah bertahun-tahun menulis puisi di sekolah, Rhea berhasil menciptakan ilusi yang memiliki fungsi serupa dengan teleportasi.

Ia melangkah menyusuri jalan setapak yang dipenuhi tanaman berbunga, hingga akhirnya menyadari di mana dirinya berada.

Seorang tukang kebun tampak bersenandung riang sambil memangkas daun layu. Saat mendongak, pandangannya tertuju ke kubah rumah kaca.

Angin dari luar berembus masuk.

Di kubah yang seharusnya tertutup rapat, terdapat sebuah lubang persegi panjang setinggi manusia.

Tukang kebun itu terdiam. Gunting di tangannya terjatuh, lalu ia mundur dengan wajah pucat.

“Wilson! James! Kemari! Ada lubang besar di kubah kaca!” teriaknya panik.

Rhea buru-buru bersembunyi di balik tanaman, menyimak pembicaraan mereka.

Lubang itu berada tepat di titik kemunculannya tadi.

“Tidak ada retakan lain. Potongannya bersih, seolah memang dibuat begitu,” ujar salah satu dari mereka.

“Apa mungkin bagian itu memang sudah seperti ini?”

“Tidak! Aku merawat area ini setiap hari. Tadi pagi masih utuh!”

“Sebaiknya kita lapor ke kepala pelayan. Kalau Yang Mulia Putra Mahkota tahu rumah kaca kesayangannya rusak, dia pasti murka.”

Jantung Rhea berdegup kencang. Ia menahan napas, menurunkan kehadirannya sebisa mungkin.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki baru terdengar.

“Kaca di kubah rumah kacaku hilang?” suara putra mahkota terdengar tenang. “Panggil tukang. Ganti saja.”

“Mungkin ulah orang iseng. Tidak masalah. Aku tidak kekurangan uang.”

Rhea merasa seluruh dunianya runtuh.

Ia tidak mengerti mengapa Putra Mahkota berada di sini sekarang. Tetapi jika ia tidak salah ingat, putra mahkota selalu mampir ke taman bunganya setiap pagi.

Rhea merenung sebentar, berpikir lebih baik kabur diam-diam atau menemui putra mahkota langsung dan menanyakan maksud sikapnya setelah mengetahui intoleransi dagingnya kemarin?

Apakah benar itu ada hubungannya dengan kekaisaran suci, jadi dia dicurigai?

Beberapa saat merenung, suara langkah kaki berjalan mendekati tempatnya bersembunyi. Rhea menegang, menimbang baik buruk di antara kedua pilihan itu dan pada akhirnya memilih berdiri.

Sosoknya yang berambut putih keperakan dan ramping langsung menarik perhatian begitu muncul.

Ketiga tukang kebun sebelumnya terlihat terkejut, sementara putra mahkota, Azz Romanov, memperhatikannya muncul dari persembunyiannya sebelum melangkah dengan tergesa ke arahnya.

“Guru!”

1
Manisaja
Sudah kuduga /Yawn/Akuh bilang tahan atu
Lily air: apa si kak gak ngerti, aku pusing ;)
total 1 replies
Andi Ilma Apriani
hadiiirrr thooorr
Manisaja
Aku tau dari kebiasaan mu buat sama baca cerita sukanya buat mc lemah gampang sakit atau pingsan padahal latarnya op, aku tahu tapi tolonglah dikendalikan ya ya? gak maksud ngajak berantem aku jangan maragh 🙏🙏 Jangan ngambeg awas
Lily air: ❤️┐(︶▽︶)┌❤️
total 1 replies
Manisaja
Lanjut!!!! Udah lumayan ngalir lancar gak kaku kayak pertams
Manisaja
Keliatan banget ini putra mahkota kalau gak regresi atau reikarnasi juga tingkahnya gak kayak bocah, bener gak dugaanku? 🧐
Lily air: kamu maunya gitu? oke kutulis gitu (¬‿¬ )
total 1 replies
Manisaja
Ulah gurumu itu Yang mulia sihirnya gak bener ngerusak kaca
Manisaja
Bisa sok keren juga dia 🤣
Manisaja
Gilakk pantesan cowo pada takutt tapi pelayan cewe gak diapa apain ya sama dia
Manisaja
Tak kusangka sangka ternyata kejadiaannya kayak ginj
Manisaja
Mi apa to?
Manisaja
Lah iya siapa yang nyangka kalau ngancemnya pake candaan ggak masuk akal?
Manisaja
Sebenarnya gak lucu tapi apa hah? Makan daging bisa nguras energi sihir?? aku baru tahu di sini
Manisaja
Lo Kok di skip gimana ceritanya? Cerita yang diceritain John mana?!!
Manisaja
Lah elah dipotong gini gak jelas iih
Manisaja
Apaan tuh 🧐🧐
Manisaja
Cowo imut
Manisaja
Putra mahkota siapa namanya? Belum disebuttin
Manisaja
Mmemuji di bawah sinar bulan? aku bayanginnya ko lucu ya🤣 Apa si yang lo tulis ra aamh
Manisaja
Novel baru ya raaa 🤣 Oke ku baca
Lily air: terserah baca aja gak ada yang larang :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!