NovelToon NovelToon
The Spy Cultivator [Haneen And Shadow System]

The Spy Cultivator [Haneen And Shadow System]

Status: sedang berlangsung
Genre:Pembunuhan / Sistem / Pembaca Pikiran / Time Travel / Transmigrasi / Solo Leveling
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sands Ir

Haneen, mantan agen intelijen elit, dikhianati dan tewas di dunia modern. Namun, dia terbangun di tubuh gadis lemah yang namanya sama di dunia kultivasi, murid luar Sekte Pedang Langit dengan merdian rusak yang sering di-bully.

Beruntung, Haneen membawa Sistem Agen Bayangan yang memungkinkannya mengeluarkan senjata modern seperti pistol, drone intai, dan granat di dunia yang mengandalkan pedang dan jurus.

Awalnya hanya ingin bertahan hidup, Haneen justru mengungkap jaringan korupsi besar di dalam sekte. Para tetua yang terlihat suci ternyata saling melindungi sambil mencuri sumber daya. Bersama Yan Ling, murid luar yang juga jadi korban, Haneen mulai membongkar kejahatan satu persatu.

Namun setiap kebenaran yang terungkap, mereka semakin diburu. Dari tambang ilegal hingga ruang bawah tanah rahasia, Haneen dan Yan Ling harus terus berlari sambil mencari cara untuk bertahan.

Mampukah Haneen bertahan di dunia yang mengagungkan kekuatan spiritual sambil membongkar rahasia kelam para tetua?
Akankah teknologi modern dari sistemnya cukup untuk mengalahkan kultivator tingkat tinggi yang terus memburunya? Dan yang terpenting, bisakah dia dan Yan Ling saling percaya di tengah bahaya yang mengintai setiap langkah?

Penuh Aksi, strategi cerdas, dan intrik yang tak terduga.

Ikuti perjalanan Haneen membuktikan bahwa di dunia yang kejam ini, pinter dan siap bisa mengalahkan yang kuat.
Siapkah kamu mengikuti setiap langkah berbahaya mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sands Ir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 : Gema Kebangkitan di Tengah Rasa Sakit Yang Tak Berujung

...PROLOG...

...Pengkhianatan Terakhir...

...----------------...

Hujan deras membasahi jalanan kota metropolitan yang gelap. Di atap sebuah gedung pencakar langit, seorang wanita berusia dua puluh tujuh tahun berjongkok dalam posisi siaga. Jubah hitamnya menempel pada tubuh, rambut hitam panjangnya terikat rapi. Di tangannya, senapan sniper dengan scope night vision mengarah ke jendela kantor di gedung seberang.

Targetnya adalah seorang politisi korup yang menjual rahasia negara ke musuh. Misi ini seharusnya sederhana: eliminasi target, kabur, selesai. Tapi sesuatu terasa salah.

"Shadow One, posisi siap," bisiknya ke komunikasi radio.

"Copy that. Tunggu konfirmasi," jawab suara di seberang.

Haneen menunggu. Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Tidak ada konfirmasi. Justru yang datang adalah suara langkah kaki di belakangnya.

Dia berbalik cepat, tapi terlambat. Senjata terarah ke kepalanya. Bukan musuh yang datang, melainkan rekan satu timnya sendiri.

"Maaf, Haneen," ucap rekan itu dengan suara datar. "Kau tahu terlalu banyak."

Dalam sekejap, Haneen menyadari semuanya. Ini bukan misi eliminasi. Ini adalah pembersihan. Dia dijadikan kambing hitam untuk menutupi korupsi yang lebih besar di dalam agensi intelijen tempatnya bekerja.

"Jadi begini akhirnya," gumamnya.

Tembakan terdengar. Rasa sakit yang tajam di dadanya. Dia jatuh dari atap, tubuh nya terjun bebas menuju jalanan di bawah. Darah bercampur air hujan. Pandangannya kabur.

Di detik-detik terakhir kesadarannya, Haneen tidak merasa takut. Yang dia rasakan adalah kemarahan. Kemarahan karena dikhianati. Kemarahan karena keadilan tidak pernah benar-benar ada di dunia itu.

"Jika ada kehidupan berikutnya," bisiknya pada diri sendiri sebelum kegelapan menelan, "aku akan hidup dengan caraku sendiri. Dan aku tidak akan pernah lagi menjadi pion bagi siapa pun."

Kegelapan.

Lalu, cahaya.

Sakit. Seluruh tubuhnya terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Haneen membuka mata dengan susah payah. Langit-langit kayu lapuk menyambut pandangannya, bukan langit malam kota metropolitan.

Dia mencoba bergerak, tapi tubuh ini lemah. Asing. Bukan tubuhnya.

Ingatan-ingatan yang bukan miliknya membanjiri pikiran. Nama pemilik tubuh ini: Haneen. Usia tujuh belas tahun. Murid luar Sekte Pedang Langit. Meridian rusak. Di-bully oleh senior. Hidup menyedihkan.

"Tubuh baru," gumamnya serak. "Dunia baru."

Dia tertawa kecil, tapi tertawa itu berubah menjadi batuk. Nasib memang punya selera humor yang aneh. Dari agen intelijen elit di dunia modern, sekarang terjebak di tubuh gadis lemah di dunia kultivasi.

Tapi Haneen tidak putus asa. Di dunia lama, dia pernah berada di situasi yang lebih buruk dan berhasil keluar. Dia akan melakukannya lagi.

"Jika ini memang kesempatan kedua," ucapnya pada diri sendiri sambil mengepalkan tangan yang masih lemah, "maka aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku akan hidup kuat. Dan siapa pun yang mencoba mengkhianatiku di dunia ini..."

Matanya yang tajam berbinar dingin.

"...akan menyesalinya."

Di saat itulah, suara mekanis terdengar di kepalanya.

[Sistem Agen Bayangan Diaktifkan. Selamat datang tuan baru.]

Haneen tersenyum. Sepertinya kehidupan barunya akan lebih menarik dari yang dia kira.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Rasa sakit yang menusuk setiap saraf di sekujur tubuhnya bukanlah akibat dari peluru timah yang biasanya mengakhiri misi-misi berbahaya di dunia sebelumnya, melainkan sensasi aneh seolah-olah ada ribuan jarum halus yang sedang mencoba merajut kembali jaringan energi yang telah hancur lebur di dalam tubuh muda yang kini ia tempati.

Haneen membuka kelopak matanya dengan berat, melawan kabut kesadaran yang masih menyelimuti pikirannya, sambil menatap langit-langit kayu yang lapuk dan dipenuhi sarang laba-laba yang sama sekali tidak mirip dengan langit-langit beton dingin di ruang interogasi markas intelijen tempat ia menghembuskan napas terakhirnya. Bau apek campuran antara kayu basah dan obat herbal yang murah menyerbu indra penciumannya, menggantikan aroma antiseptik dan darah kering yang selalu menjadi teman setia dalam profesi lamanya sebagai agen rahasia negara terkemuka di bumi, dan seketika itu pula ingatan-ingatan asing yang bukan miliknya membanjiri otak seperti bendungan yang jebol sehingga membuatnya harus menahan erangan sakit agar tidak menarik perhatian siapa pun yang mungkin berada di luar ruangan sempit ini.

Ia mencoba menggerakkan jari-jemarinya yang terasa kaku dan lemah, menyadari bahwa tubuh ini tidak pernah dilatih untuk bertarung tangan kosong maupun menahan siksaan fisik seperti tubuh latihannya di dunia sebelumnya, karena pemilik tubuh ini hanyalah seorang murid luar dari Sekte Pedang Langit yang memiliki bakat minim serta meridian yang rusak akibat persaingan tidak sehat di antara para murid yang haus akan sumber daya kultivasi.

Saat ia berusaha duduk bersandar pada dinding kayu yang dingin, potongan memori tentang sosok bernama Song Wei, seorang kakak senior yang arogan dan kejam, muncul ke permukaan kesadaran bersama dengan pengetahuan bahwa orang tersebut berencana untuk menghabisinya sebelum Ujian Sekte dimulai esok hari demi menutupi kejahatan pencurian pil energi yang sebenarnya dilakukan oleh Song Wei sendiri.

Haneen menarik napas panjang yang terasa berat di dada, membiarkan insting tajam yang telah terasah selama bertahun-tahun dalam dunia mata-mata mengambil alih kendali atas kepanikan sesaat, sambil matanya yang kini telah berubah menjadi dingin dan kalkulatif memindai setiap sudut ruangan gelap itu untuk mencari potensi senjata atau jalur pelarian meskipun tubuhnya masih terasa seperti beban yang hampir tidak bisa digerakkan.

Langkah kaki berat yang disertai dengan suara gesekan kain kasar terdengar semakin mendekat dari arah koridor luar, membawa aura ancaman yang begitu nyata sehingga bulu kuduk di lengan tubuh barunya berdiri tanpa perintah, dan Haneen segera mengubah ekspresi wajahnya menjadi pasrah serta ketakutan sebagaimana yang diharapkan oleh seorang korban lemah yang tidak memiliki daya lawan melawan penindas yang lebih kuat.

Pintu kayu itu didorong terbuka dengan kasar hingga engselnya berderit protes, memperlihatkan sosok pemuda berbaju merah yang berdiri dengan sikap sombong sambil memegang cambuk energi yang berpendar hijau berbahaya, serta tersenyum sinis seolah-olah sedang melihat seekor serangga yang sedang menunggu untuk diinjak hingga mati tanpa ada rasa belas kasihan sedikit pun di dalam mata mereka yang telah dibutakan oleh kekuatan kultivasi.

"Hei, sampah. Ternyata kau masih bernapas," ucap Song Wei dengan suara berat yang penuh dengan ejekan. "Aku kira pukulan terakhirku sudah cukup untuk menghentikan jantungmu."

Song Wei melangkah masuk ke dalam kamar sempit itu, lalu menutup pintu di belakangnya agar tidak ada suara yang bocor keluar yang mungkin bisa menarik perhatian penjaga sekte yang bertugas di malam hari yang sepi ini. Haneen menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan kilatan tajam di matanya sambil memikirkan cara terbaik untuk menetralisir ancaman di depannya tanpa harus mengandalkan kekuatan fisik yang jelas-jelas tidak dimilikinya, namun tepat di saat keputusasaan mulai merayap di pikiran karena keterbatasan tubuh ini, sebuah suara mekanis yang dingin dan tanpa emosi tiba-tiba bergema langsung di dalam pusat kesadaran otaknya seolah-olah berasal dari dimensi lain yang terhubung dengan jiwanya.

[Sistem Agen Bayangan Diaktifkan. Mendeteksi host dalam kondisi kritis. Memindai lingkungan. Memindai ancaman. Target terkonfirmasi: Musuh Mematikan.]

[Misi Darurat: Bertahan hidup dari eliminasi segera. Metode yang disarankan: Eliminasi Preventif. Hadiah: Pistol Silent M9 + 1 Magazen Peluru Standar. Apakah Anda ingin menarik senjata ke dalam dimensi penyimpanan tangan?]

Haneen menahan napas saat suara sistem itu reda, menyadari bahwa ini adalah kesempatan tunggal yang mungkin tidak akan datang dua kali dalam kehidupan barunya di alam Xuanling yang kejam ini, dan meskipun ia tidak sepenuhnya memahami cara kerja sistem tersebut, insting profesionalnya memberitahu bahwa ini adalah alat yang akan mengubah keseimbangan kekuatan antara dirinya yang lemah dan musuh yang memiliki kemampuan kultivasi di atasnya. Dengan gerakan halus yang tidak terlihat oleh Song karena sudut pandang yang tertutup oleh rambut panjang tubuh ini, Haneen memberikan perintah afirmatif dalam hatinya, dan seketika itu pula sebuah benda logam berwarna hitam pekat yang dingin dan familiar muncul tersembunyi di balik lengan bajunya yang longgar, memberikan rasa percaya diri yang sempat hilang sejak ia terbangun di dunia asing ini.

"Aku tidak mau mendengar permintaan maafmu," ancam Song Wei sambil mengangkat cambuknya tinggi-tinggi. "Besok kau akan menjadi mayat. Tidak ada yang peduli pada nasib murid luar tidak berguna seperti kau."

Energi hijau di ujung cambuk itu mendesis ganas, siap untuk meluncur dan merobek kulit serta daging tubuh rapuh di hadapannya tanpa adanya keraguan sedikit pun mengenai tindakannya yang biadab itu. Haneen perlahan mengangkat wajahnya, dan untuk pertama kalinya sejak kebangkitannya, sebuah senyuman tipis yang tidak mencapai mata muncul di bibirnya, sebuah senyuman yang pernah dilihat oleh banyak target operasinya di dunia sebelumnya tepat sebelum mereka menyadari bahwa mereka telah membuat kesalahan terbesar dalam hidup mereka dengan menganggap remeh seorang agen intelijen.

"Kau benar, Senior Song. Tidak ada yang akan peduli," bisik Haneen dengan suara yang begitu tenang hingga terdengar aneh di tengah ketegangan yang memuncak. "Tapi setidaknya mereka akan bertanya-tanya mengapa seorang kakak senior yang kuat bisa tewas secara misterius."

Tangan Haneen yang tersembunyi di balik lengan baju telah mengarahkan moncong pistol hitam itu tepat ke arah dahi musuh yang sedang sibuk menikmati momen kemenangannya sendiri tanpa menyadari bahwa kematian sedang menatapnya dari ujung laras senjata yang tidak dikenal di dunia kultivasi ini.

[Ding! Persiapan Tembak. Kunci Target.]

Suara sistem itu menjadi tanda terakhir yang dibutuhkan Haneen untuk menekan pelatuk senjata yang tidak akan mengeluarkan suara ledakan keras yang bisa memperingatkan orang lain, melainkan hanya desingan halus yang akan menjadi suara terakhir yang didengar oleh Song sebelum cahayanya padam selamanya di dunia yang penuh dengan hukum kekuatan ini.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Bersambung…

Jangan Lupa Like dan komen 😁

1
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
mampir kak
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor🔥
Mbu'y Fahmi
huh ... thor serasa ikut dalam cerita...👍👍
Mbu'y Fahmi
deg² thor takut ketauan😄
Ahyar Alkautsar Rizky
keren thor😍
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor🔥
Mbu'y Fahmi
lanjut thor... makin seru cerita nya
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor 🔥
Ara putri
semangat kak. jgn lupa mampir juga keceritaku PENJELAJAH WAKTU HIDUP DIZAMAN AJAIB
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor🔥
Ahyar Alkautsar Rizky
izin save gambarnya ya thor 🙏
Fajar Fahri
ikut kedalam cerita
Fajar Fahri
visualnya kerenn 👍
Intan21
😍
Intan21
good
Saskia Natasya
alur cerita nya bagus
Ahyar Alkautsar Rizky
seru kali thor 😍
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor please
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!