Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Pintu kamar terbuka perlahan. Nenek Rimbi keluar dengan wajah pucat, namun tatapannya kini kosong, kehilangan seluruh keangkuhan yang ia bawa dari Swiss.
Di belakangnya, Aisyah melangkah dengan tenang, memberikan isyarat kepada Rizal bahwa segalanya telah berada dalam kendali.
Intan yang sudah tidak sabar segera menghampiri neneknya.
"Nenek! Ayo usir mereka sekarang! Intan sudah tidak tahan melihat muka si miskin itu di rumah kita!"
Namun, sebuah pemandangan yang tak masuk akal terjadi. Nenek Rimbi justru menepis tangan Intan.
Ia berjalan mendekat ke arah Rizal, lalu berhenti tepat di depan cucunya.
"Intan," suara Nenek Rimbi bergetar, namun penuh nada perintah.
"Berlututlah."
"Apa? Nek, jangan bercanda! Kenapa Intan harus berlutut?"
"BERLUTUT!" bentak Nenek Rimbi hingga Intan tersentak kaget.
"Cium kaki Rizal dan minta maaf atas segala penghinaan yang kamu lakukan padanya!"
Seluruh ruangan mendadak sunyi. Hadi melongo, sementara Rizal sendiri tampak terkejut dengan perintah ekstrem itu.
"Nek, apa Nenek sudah gila karena wanita tua itu?!" teriak Intan histeris, menunjuk Aisyah.
Nenek Rimbi menatap Intan dengan tatapan dingin yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Dia bukan lagi Rizal yang kamu kenal. Dia adalah suami Aisyah, kepala keluarga Baskoro yang baru. Dia ayahmu sekarang, dan kamu harus hormat kepada Rizal lebih dari kamu menghormati nyawamu sendiri. Jika kamu tidak melakukannya, jangan pernah sebut namaku lagi, dan keluar dari sini sebagai orang asing!"
Intan gemetar hebat. Ia menoleh ke arah Aisyah yang hanya tersenyum tipis, lalu ke arah Rizal yang duduk dengan wibawa barunya.
Dengan derai air mata kehancuran harga diri, Intan perlahan menekuk lututnya di depan kaki Rizal yang terbungkus gips.
"Ayah, maafkan aku," bisik Intan sambil menyentuh kaki Rizal, pemuda yang dua hari lalu ia siram dengan air es.
Rizal menarik napas panjang. Ia menatap ke bawah, ke arah wanita yang dulu begitu ia puja, kini bersujud di kakinya karena kekuasaan istri yang baru dinikahinya.
"Minta maaf bukan padaku, Intan," ucap Rizal dingin.
"Tapi mintalah maaf pada ketulusan yang pernah kamu injak-injak. Mulai hari ini, belajarlah menjadi anak yang tahu diri."
Aisyah mendekat, merangkul pundak Rizal dengan bangga.
"Selamat datang di kehidupan barumu, Intan. Dan untukmu, Hadi, kurasa pintu keluar sudah terbuka lebar untuk pengkhianat sepertimu."
Suasana di ruang tamu masih mencekam setelah drama sujudnya Intan di kaki Rizal.
Intan masih terisak di lantai, sementara Hadi hanya bisa berdiri mematung, menyadari bahwa kapal mewah yang ingin ia tumpangi telah karam sepenuhnya.
Aisyah berdiri dengan keanggunan yang mematikan. Ia menjentikkan jarinya, memanggil kepala pelayan yang sejak tadi mengintip dari balik pilar.
"Bi Inah," panggil Aisyah tenang. "Naik ke atas sekarang. Pindahkan semua pakaian dan barang-barang pribadi Intan ke kamar pelayan di bagian belakang, dekat gudang."
"Apa?! Mama keterlaluan!" jerit Intan sambil bangkit berdiri. "Kamar belakang? Itu kamar sempit dan panas! Aku tidak mau!"
Aisyah menatap Intan dengan tatapan datar, seolah sedang melihat noda di lantai.
"Mulai sekarang, tidak ada lagi fasilitas cuma-cuma untukmu. Jika kamu ingin makan dan punya tempat berteduh, kamu harus bekerja. Kamu akan membantu Bi Inah mencuci setrika dan membersihkan rumah ini. Aku akan menggajimu sesuai standar asisten rumah tangga di sini."
Intan menoleh ke arah Nenek Rimbi, berharap ada pembelaan. Namun, Nenek Rimbi hanya memalingkan wajah, menyadari bahwa nasibnya sendiri pun berada di ujung tanduk jika rahasia besar itu terbongkar.
"Dan satu lagi," tambah Aisyah sambil melirik Hadi.
"Hadi, silakan angkat kaki dari properti ini sekarang juga. Kamu tidak memiliki urusan apa pun di sini. Jika aku melihatmu lagi di sekitar gerbang rumah ini, aku tidak akan segan memanggil polisi atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan."
Hadi, yang pengecut, tidak berani membantah. Ia melirik Intan sejenak, lalu pergi begitu saja meninggalkan kekasihnya tanpa sepatah kata pun. Ia tidak ingin ikut miskin bersama Intan.
"Hadi! Kamu mau ke mana?!" teriak Intan, namun pria itu terus melangkah pergi.
Aisyah kemudian berbalik menghadap Nenek Rimbi yang tampak sangat lelah.
"Nenek, silakan istirahat di kamar tamu untuk beberapa jam. Nanti malam, aku dan suamiku sendiri yang akan mengantarmu kembali ke bandara. Jet pribadimu sudah aku instruksikan untuk siap terbang jam sembilan malam."
Nenek Rimbi mengangguk lemah, pasrah pada pengaturan Aisyah.
Ia berjalan perlahan menuju kamar, tidak berani menoleh lagi pada cucunya yang kini menangis meraung-raung.
Rizal menatap pemandangan itu dengan perasaan yang campur aduk.
Ia melihat Intan yang dulu begitu angkuh, kini dipaksa menghadapi kenyataan pahit bahwa kecantikan dan nama besar tidak bisa menyelamatkannya dari kerja keras.
"Aisyah," panggil Rizal pelan setelah ruangan mulai sepi.
Aisyah mendekat, duduk di samping Rizal dan menggenggam tangannya yang gemetar.
"Ya, Mas?"
"Terima kasih. Aku tidak pernah membayangkan keadilan akan datang secepat ini," ucap Rizal tulus.
Aisyah tersenyum manis, senyum yang hanya ia berikan untuk suaminya.
"Ini baru permulaan, Mas. Besok, setelah kakimu sedikit lebih kuat, kita akan pergi ke kantor. Aku ingin memperkenalkan CEO baru kepada seluruh jajaran direksi."
Rizal menatap tongkat kayunya, lalu menatap istrinya.
Dendamnya mungkin sudah terbayar, tapi tanggung jawab besar baru saja dimulai.
Di rumah ini, ia bukan lagi pengemis cinta, melainkan penguasa yang sah.
Aisyah menuntun Rizal perlahan menuju lantai atas, tempat kamar utama berada.
Pintu ganda berbahan kayu jati ukir itu terbuka, menampakkan sebuah ruangan yang luasnya hampir setara dengan rumah kontrakan Rizal dulu.
Aroma lilin aromaterapi yang menenangkan menyerbak, menyambut mereka dalam kemewahan yang tenang.
Rizal menghentikan langkahnya di ambang pintu. Matanya menyapu pemandangan di depannya:
ranjang king size dengan sprei sutra, lampu kristal yang menggantung megah, dan balkon pribadi yang menyuguhkan pemandangan taman belakang yang indah.
"Aisyah..." Rizal bergumam dengan nada gentar.
"Ini sangat mewah sekali. Aku merasa tidak pantas berada di sini. Aku hanya pria dari jalanan, sedangkan ini adalah tempat untuk seorang raja."
Aisyah melepaskan pegangannya dari lengan Rizal, lalu melangkah ke depan suaminya.
Ia menatap lekat mata Rizal yang masih menyimpan sisa-sisa rasa minder.
"Kata siapa Mas tidak pantas?" ucap Aisyah lembut namun penuh keyakinan.
Ia maju selangkah, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Rizal, memeluk tubuh suaminya dengan hangat.
Ia menyandarkan kepalanya di dada Rizal, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup kencang.
"Mulai hari ini, apa pun yang milikku adalah milikmu. Kemewahan ini tidak ada artinya jika aku harus menikmatinya sendirian. Kamu adalah suamiku, Mas. Kamu pantas mendapatkan yang terbaik."
Aisyah mendongak, menatap dagu Rizal yang masih memiliki bekas luka kecil. Ia tersenyum penuh rencana yang brilian.
"Tapi, aku punya rencana besar untukmu. Mas, besok aku sudah memanggil guru privat terbaik. Mereka akan mengajarimu bahasa Prancis dan Jerman. Kamu harus bisa berkomunikasi dengan kolega bisnis kita di Eropa."
Rizal tertegun. "Bahasa asing? Tapi aku..."
"Sssttt," Aisyah meletakkan jari telunjuknya di bibir Rizal.
"Bukan hanya itu. Aku juga akan mengajarimu sendiri cara makan yang elegan, cara berbicara di depan podium, dan cara mengintimidasi lawan bisnis hanya dengan tatapan mata. Aku akan membentukmu menjadi pria yang paling disegani di negeri ini."
Aisyah mempererat pelukannya. "Aku tidak hanya memberimu harta, Rizal. Aku memberimu kekuatan. Agar suatu saat nanti, jika aku tidak ada di sampingmu, tidak akan ada satu orang pun—termasuk Nenek Rimbi atau Intan—yang berani memandangmu sebelah mata."
Rizal merasakan kehangatan yang merambat ke seluruh tubuhnya.
Ia menyadari bahwa Aisyah bukan hanya menyelamatkan nyawanya, tapi sedang melahirkan kembali jati dirinya.
"Terima kasih, Aisyah," bisik Rizal sambil mengusap lembut kepala istrinya.
"Aku akan belajar. Aku tidak akan mengecewakanmu."
Aisyah tersenyum puas. "Bagus. Sekarang, istirahatlah. Bi Inah sedang menyiapkan air hangat untukmu,"