"Di dunia para penguasa, segalanya bisa dibeli—termasuk keturunan. Namun, apa jadinya jika rahim yang disewa justru membawa cinta yang tak terduga?"
Adrian Ardilwilaga adalah definisi sempurna dari kekuasaan dan kekayaan. Sebagai CEO Miliarder dari Ardilwilaga Group, ia memiliki segalanya, kecuali satu hal yang sangat dituntut oleh dinasti keluarganya: seorang pewaris. Pernikahannya dengan Maya Zieliński, wanita sosialita kelas atas yang anggun namun menyimpan rahasia kelam tentang kesehatannya, berada di ambang kehancuran karena tekanan sang mertua yang otoriter.
Demi menjaga status dan cinta Adrian, Maya merancang sebuah rencana nekat—sebuah kontrak rahim ilegal. Pilihan jatuh kepada Sasha Vukoja, seorang mahasiswi seni berbakat asal Polandia yang sedang terdesak kesulitan ekonomi. Sasha setuju untuk menjadi ibu pengganti, tanpa pernah menyangka bahwa ia akan jatuh hati pada sang pemberi kontrak.
Ketegangan memuncak saat Arthur, sang pangeran mahkota, lahir.Bagaimana kelanjutannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Darah dan Citra
Pagi hari di The Obsidian Towers dimulai dengan sisa-sisa kehangatan malam sebelumnya. Adrian terbangun dengan aroma parfum Maya yang masih tertinggal di bantalnya. Namun, rasa hangat itu segera menguap saat ia melihat ponselnya bergetar di atas meja nakas. Ada tiga panggilan tak terjawab dari perawat pribadi yang ia tugaskan untuk menjaga Sasha di apartemen rahasia.
Adrian melirik ke samping. Maya masih terlelap, napasnya teratur, wajahnya tampak damai seolah badai manipulasi yang ia ciptakan telah reda hanya karena satu malam penuh gairah. Adrian bangkit dengan hati-hati, menuju kamar mandi, dan menelepon balik.
"Tuan Adrian," suara perawat itu terdengar cemas. "Nona Sasha mengalami kram hebat dan sedikit flek. Dokter sedang dalam perjalanan, tapi Nona Sasha terus memanggil nama Anda. Dia tampak sangat ketakutan."
Jantung Adrian mencelos. "Aku segera ke sana. Pastikan dia tidak banyak bergerak!"
Saat Adrian keluar dari kamar mandi dengan pakaian terburu-buru, ia mendapati Maya sudah duduk di tepi tempat tidur, menatapnya dengan mata yang tajam dan waspada. Kesan lembut semalam hilang, digantikan oleh kewaspadaan seorang predator.
"Mau ke mana, Mas? Kita punya janji makan siang perayaan ulang tahun pernikahan orang tuaku di Hotel Mulia. Papa Haryo dan Mama Helena akan ada di sana. Ini acara krusial untuk membungkam kecurigaan mereka," kata Maya dengan suara dingin.
Adrian berhenti, tangannya masih memegang kunci mobil. "Sasha bermasalah, May. Ada pendarahan kecil. Dia ketakutan. Aku harus memastikan anak itu... dan Sasha, baik-baik saja."
Maya berdiri, berjalan mendekati Adrian. "Dokter sudah di sana, kan? Kamu bukan dokter, Adrian. Kamu adalah CEO Ardilwilaga Group yang hari ini harus mendampingi istrinya yang 'hamil'. Jika kamu tidak muncul, orang tua kita akan tahu ada yang tidak beres. Kamu ingin menghancurkan segalanya hanya karena satu drama kecil di apartemen itu?"
"Ini bukan drama, May! Ini anakku!" bentak Adrian.
"Itu anak kita!" balas Maya tak kalah keras. "Dan anak itu akan lahir dengan nama besar jika kamu menjaga citra kita hari ini. Pergilah ke acara itu, tunjukkan wajah bahagiamu, dan setelah itu kamu bebas pergi ke sana. Pilih sekarang, Adrian: keluarga yang kamu bangun selama sepuluh tahun, atau gadis Polandia yang baru kamu kenal beberapa bulan?"
________________________________________
Adrian akhirnya menyerah pada tuntutan Maya, meski hatinya tertinggal di Dharmawangsa. Di restoran mewah itu, suasana sangat megah. Haryo Ardilwilaga tampak bangga, sesekali menyentuh pundak putranya sambil membicarakan ekspansi bisnis. Di sisi lain, Maya berakting dengan sangat sempurna. Ia mengenakan gaun longgar dengan siluet yang menonjolkan perut palsunya, sesekali mengeluh tentang "bayi yang menendang", membuat Helena Zieliński tersenyum haru.
Namun, Adrian adalah pemandangan yang kontras. Ia duduk kaku, matanya terus melirik jam tangan Rolex-nya. Setiap kali ponselnya bergetar di saku jas, ia merasa dunianya runtuh.
"Kamu tampak tidak tenang, Adrian," ujar Haryo sambil menyesap wiskinya. "Ada masalah di kantor?"
"Hanya beberapa urusan logistik di Singapura, Pa," jawab Adrian bohong.
"Ingat, Adrian," bisik Haryo, "sebentar lagi kamu akan menjadi ayah. Perusahaan ini butuh stabilitas. Jangan biarkan urusan kecil mengganggu fokusmu."
Maya menggenggam tangan Adrian di bawah meja, kukunya sedikit menekan kulit Adrian seolah memberi peringatan. "Mas sedang terlalu protektif padaku, Pa. Dia terlalu khawatir dengan kehamilanku," ucap Maya dengan nada manja yang membuat Adrian ingin mual.
Adrian menatap istrinya. Ia teringat bagaimana Maya melayaninya semalam dengan penuh gairah, sebuah upaya untuk mengikatnya kembali. Dan sekarang, di depan orang tua mereka, Maya sedang menjahit jaring kebohongan yang semakin rapat. Adrian merasa seperti karakter dalam sandiwara yang ia benci, sementara pemeran utamanya yang sesungguhnya sedang berjuang sendirian di sebuah apartemen sepi.
________________________________________
Begitu acara selesai dan mereka berhasil melepaskan diri dari orang tua, Adrian tidak membuang waktu. Ia menurunkan Maya di lobi apartemen mereka tanpa berkata sepatah kata pun dan langsung memacu mobilnya secepat kilat.
Di apartemen rahasia, suasana terasa sunyi dan dingin. Adrian masuk dan menemukan Sasha terbaring lemah di tempat tidur, wajahnya pucat pasi, matanya sembab karena tangis. Dokter telah pergi, meninggalkan sederet resep dan perintah untuk istirahat total.
"Sasha..." Adrian berlutut di samping tempat tidur, meraih tangan gadis itu dan menciumnya berkali-kali. "Maafkan aku. Aku terlambat."
Sasha menatap Adrian dengan pandangan yang kosong namun penuh luka. "Aku tadi sangat takut, Adrian. Aku berpikir, jika terjadi sesuatu padaku atau bayi ini, apakah ada yang akan peduli? Atau aku hanya akan diganti dengan 'wadah' lain?"
"Jangan bicara begitu," potong Adrian perih. "Aku peduli padamu. Lebih dari yang seharusnya aku akui."
Sasha menarik tangannya perlahan. "Nyonya Maya meneleponku tadi siang, saat aku sedang kesakitan."
Adrian tertegun. "Apa yang dia katakan?"
"Dia bilang, aku harus ingat posisiku. Dia bilang, bahkan jika aku mati saat melahirkan, anak ini akan tetap menjadi miliknya. Dia meminta perawat untuk tidak memberitahumu jika kondisiku memburuk karena kamu sedang sibuk merayakan kebahagiaan bersamanya," Sasha terisak, air matanya jatuh membasahi bantal.
Kemarahan Adrian meledak di dalam dadanya. Ia tidak menyangka Maya sekejam itu—menelepon seorang wanita yang sedang terancam keguguran hanya untuk menegaskan kekuasaannya.
"Dia tidak akan menyakitimu lagi, Sasha. Aku berjanji," bisik Adrian. Ia menaiki tempat tidur, menarik Sasha ke dalam pelukannya, membiarkan gadis itu menangis di dadanya yang bidang.
Di posisi itu, dalam keheningan apartemen yang tersembunyi dari dunia, Adrian menyadari satu hal yang mengerikan. Malam yang ia habiskan bersama Maya adalah malam penuh kewajiban dan rasa terima kasih pada masa lalu. Namun, saat memeluk Sasha yang rapuh ini, ia merasakan cinta yang sesungguhnya—cinta yang lahir dari rasa sakit, perlindungan, dan kejujuran.
________________________________________
Namun, Adrian tidak tahu bahwa Maya tidak tinggal diam. Maya mengikuti Adrian dengan mobil lain, menggunakan jasa detektif swasta untuk memantau pergerakan suaminya. Ia berdiri di luar pintu apartemen rahasia itu, mendengar isak tangis Sasha dan janji-janji manis Adrian.
Maya tidak masuk. Ia tidak ingin menghancurkan sandiwara ini sebelum bayi itu lahir. Ia menyandarkan punggungnya di dinding lorong yang dingin, meremas tas tangan mahalnya hingga buku jarinya memutih.
Kecemburuan yang ia rasakan bukan lagi sekadar tentang kepemilikan, melainkan tentang kekalahan. Ia telah memberikan tubuhnya, sejarahnya, dan kesetiaannya pada Adrian semalam, namun Adrian tetap berlari pada gadis itu.
"Kamu ingin menjadi pahlawan untuknya, Adrian?" gumam Maya pada dirinya sendiri dengan nada yang menyeramkan. "Silakan. Cintai dia sesukamu selama sembilan bulan ini. Tapi ingat, anak itu adalah darahmu. Dan aku adalah pemegang kontrak atas hidupmu."
Maya berjalan pergi dengan langkah angkuh. Ia mulai merencanakan sesuatu yang lebih besar. Jika Adrian tidak bisa dikendalikan dengan cinta dan gairah, maka ia akan dikendalikan dengan kehilangan yang paling menyakitkan.
Di dalam kamar, Adrian masih mendekap Sasha. Ia mencium kening gadis Polandia itu, sementara tangannya mengusap perut Sasha yang di dalamnya berdenyut kehidupan.
"Nama anak ini," bisik Adrian tiba-tiba. "Jika dia perempuan, aku ingin memberinya nama Polandia yang cantik. Sesuatu yang akan selalu mengingatkanku padamu."
Sasha mendongak, matanya bertemu dengan mata Adrian. "Maya tidak akan setuju."
"Ini bukan tentang apa yang disetujui Maya lagi, Sasha. Ini tentang kita," jawab Adrian tegas.
Malam itu, di istana yang tersembunyi, sebuah ikatan terlarang telah mengeras menjadi sesuatu yang lebih kuat daripada baja. Adrian Ardilwilaga, pria yang dulu merasa mandul dan tak berdaya, kini merasa memiliki segalanya untuk diperjuangkan. Namun, ia lupa bahwa di lantai 42, seorang ratu yang terluka sedang menyiapkan langkah skakmat yang akan mengubah garis takdir mereka selamanya.