Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Darah di Bawah Bukit Harimau
Fajar belum sepenuhnya merekah, hanya menyisakan semburat kelabu di ufuk timur ketika Wang Long dan Sin Yin tiba di pinggiran Kota Danau Indah. Kabut tipis menggantung rendah, menyelimuti hamparan rumput liar yang basah oleh embun.
Tanah perbatasan di bawah Bukit Harimau itu sunyi... terlalu sunyi. Bahkan suara jangkrik pun seolah tertelan oleh keheningan yang janggal.
Yue Liang Shu, yang berjalan beberapa langkah di belakang dengan langkah seringan kucing, tiba-tiba berhenti. Matanya menyipit, menangkap getaran di udara.
“Keluar saja. Sembunyi-sembunyi hanya akan membuat maut kalian terasa lebih lama,” ucap Yue Liang Shu dingin, suaranya membelah kesunyian seperti sabetan pedang.
Tak lama kemudian, pemandangan di depan mereka berubah mengerikan. Dari balik batang-batang pohon raksasa yang tertutup kabut, puluhan bayangan muncul serentak.
Di sisi kiri, berdiri para prajurit dengan jubah hitam kelam dan topeng tengkorak berwarna perak yang memantulkan cahaya redup fajar—eksekutor Partai Tengkorak Hitam.
Di sisi kanan, berdiri barisan orang-orang berpakaian putih bersih dengan lambang serigala merah yang sedang melolong di dada mereka—Pasukan Serigala Merah, pembunuh bayaran yang terkenal haus darah.
Sin Yin berbisik pelan, tangannya sudah melekat pada hulu pedang tipisnya. “Dua partai besar sekaligus... Mereka benar-benar tidak ingin kau lolos, Wang Long.”
Wang Long mematung. Tatapannya yang biasanya jernih dan tenang, mendadak berubah. Pupil matanya bergetar hebat. Di kepalanya, tirai masa lalu tersingkap paksa—seperti kilatan petir di tengah badai.
Ia melihat kembali lidah api yang menjilat langit malam. Ia mendengar kembali jeritan memilukan. Ia mencium kembali bau anyir darah kedua orang tuanya yang membasahi tanah desa tempat ia lahir.
Di antara asap dan api yang menghanguskan dunianya itu, ia melihat dua lambang ini: Topeng Tengkorak Perak dan Serigala Merah.
Tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih, kuku-kukunya menusuk telapak tangan. “Jadi... kalian belum punah,” suaranya berubah menjadi rendah, berat, dan mengandung getaran amarah yang purba.
Seorang pria bertopeng perak maju satu langkah, pedang besarnya terhunus. “Naga muda. Serahkan kotak hitam itu sekarang juga. Jika kau kooperatif, kami akan memberimu kematian yang cepat dan tanpa rasa sakit.”
Sin Yin melirik Wang Long. Ia terkesiap. Belum pernah ia melihat aura pemuda itu seperti ini. Dingin seperti es kutub, namun bergetar hebat seperti gunung berapi yang hendak meletus.
“Wang Long...” bisik Sin Yin cemas.
Pemuda itu mengangkat wajahnya perlahan. Matanya berkilat emas kemerahan. “Aku ingat... Aku ingat setiap lekuk simbol kalian.”
Salah seorang berpakaian putih dengan lambang serigala tertawa mengejek, suaranya parau.
“Hahaha! Anak kecil yang menangis tersedu-sedu dan lolos malam itu rupanya masih hidup. Kau seharusnya tetap bersembunyi di dalam lubang, Kelinci Kecil!”
Udara di sekitar Bukit Harimau mendadak membeku. Yue Liang Shu mendesah pelan, ia tahu naga di sampingnya baru saja terbangun dari tidurnya. “Jadi benar... dendam darah ini sudah mendarah daging.”
Wang Long melangkah maju satu langkah. Tekanan angin di sekitarnya mendadak menderu kencang, menerbangkan daun-daun kering. “Aku tidak akan bertanya lagi.”
“Bunuh mereka semua! Ambil kotaknya!” teriak sang pemimpin bertopeng.
Puluhan sosok bergerak serentak bagaikan gelombang hitam dan putih yang hendak menelan mereka. Namun—sebelum pedang musuh sempat terayun, Wang Long sudah lebih dulu menghilang dari pandangan mata biasa.
Blass!
Dalam sekejap mata, Wang Long sudah berada di tengah kerumunan. Ia menggunakan jurus "Langkah Naga Menembus Awan".
Tubuhnya bergerak zig-zag meninggalkan bayangan emas. Satu telapak tangannya menghantam dada seorang bertopeng perak dengan jurus "Tamparan Naga Menggetarkan Gunung".
Tak ada suara benturan keras, hanya bunyi krak halus—retakan tulang rusuk yang hancur seketika. Tubuh itu terlempar belasan meter ke belakang, tewas sebelum sempat menjerit.
Di sisi lain, Sin Yin melesat bagaikan bayangan malam yang haus darah. Pedangnya belum sepenuhnya tercabut dari sarung kulitnya, namun ia bergerak dengan estetika mematikan. Ia melenting di udara, berputar tiga ratus enam puluh derajat.
Sring!
Dua sosok berjubah putih roboh dengan titik darah kecil yang presisi di urat nadi leher mereka. Gerakannya anggun, seolah ia sedang menari di bawah rembulan, cepat namun tak tergesa-gesa.
Yue Liang Shu tertawa pendek, pedang hitamnya berdengung. “Sudah lama aku tak bertarung di sisi yang benar! Rasanya... sangat menyegarkan!”
Ia memutar tubuhnya rendah ke tanah, menebas urat lutut tiga lawan sekaligus dalam satu putaran pedang.
Saat lawan-lawannya kehilangan keseimbangan, ia melompat dan melakukan tusukan berantai yang akurat ke ulu hati mereka.
Setiap gerakan Yue Liang Shu adalah efisiensi murni seorang pembunuh profesional.
Pertempuran itu berubah menjadi pembantaian sepihak yang mengerikan.
“Formasi Bintang Jatuh! Kepung mereka!” teriak seorang pemimpin bertopeng perak yang mulai panik.
Lima orang pembunuh elit menyerang Wang Long bersamaan dari lima arah mata angin. Pedang dan tombak mereka mengarah pada titik-titik vital. Namun, Wang Long memutar tubuhnya perlahan di tempat, kedua tangannya membentuk lingkaran imajiner.
“Tapak Naga Tiga Bayangan!”
Mendadak muncul tiga bayangan emas Wang Long yang menyerang secara bersamaan. Tiga tubuh musuh terlempar ke udara dengan dada cekung.
Dua lainnya membeku sesaat, mata mereka melotot saat menyadari energi murni naga telah menghancurkan meridian mereka dari dalam, sebelum akhirnya roboh tanpa suara.
Sin Yin berputar ringan di atas tanah yang licin. Seorang anggota Serigala Merah mencoba menusuk punggungnya dengan belati beracun. Tanpa menoleh sedikit pun, Sin Yin hanya memiringkan bahunya beberapa inci. Pedang lawan meleset tipis di samping telinganya.
Sring!
Dengan gerakan memutar pergelangan tangan yang sangat cepat, Sin Yin menyabetkan pedang tipisnya. Sebuah kilatan putih melintas secepat pikiran. Orang itu jatuh berlutut, memegangi tenggorokannya yang menyemburkan darah, sebelum akhirnya tersungkur kaku.
“Bidadari Maut! Benar-benar Bidadari Maut!” teriak seseorang dengan suara gemetar, nyalinya menciut melihat rekan-rekannya tewas begitu mudah.
“Tak satu pun dari kalian... sampah dunia persilatan, layak menyebut gelarku,” jawab Sin Yin dengan nada setenang telaga, namun matanya memancarkan kedinginan yang mutlak.
Sementara itu, Yue Liang Shu dikepung oleh tujuh orang pembunuh tingkat tinggi.
“Pengkhianat! Kau menjual rahasia organisasi demi pemuda bau kencur ini!” maki salah satu dari mereka.
“Tidak,” jawab Yue Liang Shu dingin sembari menangkis serangan pedang dari dua arah sekaligus. “Aku tidak berkhianat. Aku baru saja berhenti menjadi anjing dan mulai belajar menjadi manusia.”
Yue Liang Shu menerobos formasi lawan dengan gerakan kejam namun sangat terukur. Ia menggunakan teknik "Tusukan Bayangan Menembus Jantung". Setiap gerakannya adalah satu nyawa yang melayang. Ia tidak membiarkan satu inci pun serangannya terbuang sia-sia.
Belum sampai matahari setinggi sebatang tombak di ufuk timur, tanah perbatasan Bukit Harimau telah basah kuyup oleh darah.
Kabut pagi yang seharusnya segar kini bercampur dengan aroma logam pekat yang mualkan.
Dan Wang Long... ia masih berdiri tegak di tengah tumpukan mayat, pakaiannya bersih tanpa satu goresan atau noda pun.
Sin Yin mendarat ringan di sampingnya, napasnya tetap teratur seolah ia baru saja menyelesaikan tarian ringan. Yue Liang Shu mengibaskan pedangnya, membersihkan sisa cairan merah yang menetes dari ujung bilahnya ke tanah.
“Ini bukan sekadar penyergapan biasa,” kata Yue Liang Shu pelan sembari menyapu pandangan ke sekeliling.
Dari balik barisan mayat yang berserakan, satu sosok perlahan melangkah maju. Sosok itu tidak menggunakan topeng. Ia mengenakan jubah kebesaran yang kini berkibar tertiup angin pagi.
Tetua Tian Kin.
Wajahnya tampak tegang, namun dagunya tetap terangkat dengan angkuh. Matanya menatap nanar ke arah puluhan mayat anak buahnya yang tewas dalam sekejap.
“Anak muda...” suaranya berat, bergema di keheningan pagi. “Kau tumbuh jauh melebihi dugaan paling liarku sekalipun.”
Wang Long menatapnya tanpa ekspresi, sepasang mata emasnya mengunci sosok Tian Kin. “Kenapa? Kenapa kau memilih jalan ini, Tetua?”
Tian Kin terdiam sesaat, menatap langit fajar. “Karena dunia ini tidak pernah memihak mereka yang lemah, Wang Long. Keadilan hanyalah dongeng bagi mereka yang memegang pedang paling tajam.”
“Lalu kau memilih membunuh orang-orang tak bersalah demi menjadi kuat? Menghancurkan keluarga orang lain demi ambisimu?” suara Wang Long mulai meninggi.
“Tidak,” balas Tian Kin tajam. “Aku tidak memilih menjadi kuat. Aku hanya memilih berpihak pada mereka yang sudah pasti akan menang di akhir sejarah!”
Dengan gerakan mantap, ia mengangkat sebuah senjata yang selama ini ia sembunyikan di balik jubahnya—sebuah tombak panjang yang berkilau perak kebiruan. Bilahnya melengkung anggun namun mengerikan seperti sabit bulan yang sangat tajam.
Yue Liang Shu berdesis pelan, wajahnya berubah serius. “Itu... Tombak Dewa Bulan Sabit. Pusaka paling keramat milik Sekte Bulan Bintang.”
Tian Kin memutar tombak itu perlahan. Angin di sekeliling bilah tombak mendadak bergetar, mengeluarkan suara dengungan frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga.
“Aku tidak berniat bertarung lama-lama dengan kalian semua,” katanya dingin, matanya kini tertuju pada kotak hitam di tangan Wang Long. “Aku hanya menginginkan pedang yang kau simpan di dalam kotak itu. Serahkan, dan mungkin aku akan membiarkan kalian pergi.”
Sin Yin melangkah setengah langkah ke depan, pedangnya menyilang di depan dada. “Jika kau ingin menyentuh kotak itu, kau harus melangkahi mayat Bidadari Maut terlebih dahulu!”
Tian Kin tersenyum miring, sebuah senyum meremehkan. “Bidadari Maut... kau memang sangat cepat. Tapi tombak pusaka ini memiliki hawa murni yang bisa merobek bayangan tercepat sekalipun.”
Yue Liang Shu berdiri sejajar dengan Wang Long, mengambil posisi tempur terbaiknya. “Hati-hati, Wang Long. Dia tak lagi punya pasukan, tapi seorang pendekar tingkat tinggi yang terdesak adalah yang paling berbahaya. Terlebih dengan pusaka di tangannya.”
Wang Long akhirnya membuka suara, memecah ketegangan yang memuncak. “Ini adalah kesempatan terakhirmu, Tetua. Letakkan pusaka itu dan menyerahlah pada keadilan.”
Tian Kin tertawa rendah, sebuah tawa yang sarat akan kegilaan ambisi. “Ego seorang naga muda memang mengagumkan. Tapi mari kita lihat, apakah sisik nagamu bisa menahan tajamnya rembulan!”
Ia mengangkat tombaknya tinggi-tinggi ke langit. Mendadak, cahaya bulan sabit samar muncul di udara meskipun matahari mulai beranjak naik. Hawa dingin yang luar biasa memancar dari tombak itu.
“Jika aku harus mati hari ini... aku akan mati dengan senjata legendaris ini di tanganku dan membawa rahasia kalian ke liang lahat!”
Wang Long menatapnya lama. Angin mendadak berhenti bertiup. Burung-burung di kejauhan berhenti bersuara. Sin Yin bisa merasakan hawa yang sangat berbeda keluar dari tubuh Wang Long—energi yang lebih dalam, lebih berat, namun sangat terkendali, seperti samudera luas sebelum badai besar melanda.
“Ini benar-benar kesempatan terakhirmu,” ujar Wang Long dengan ketenangan yang menakutkan.
Tian Kin tidak menjawab lagi. Ia merendahkan tubuhnya, mengambil kuda-kuda "Rembulan Membelah Malam". Tombak Dewa Bulan Sabit bergetar hebat, mengeluarkan dengung halus yang menggetarkan batu-batu di sekitar mereka.
Satu langkah lagi—dan pertempuran yang akan mengguncang Bukit Harimau akan dimulai. Lawan mereka kali ini bukan lagi prajurit rendahan, melainkan seorang ahli bela diri yang telah menggadaikan seluruh kehormatannya demi sebuah mimpi kekuasaan.
Di bawah Bukit Harimau, di atas tanah yang telah bersimbah darah, matahari akhirnya muncul sepenuhnya di ufuk timur, menyinari pertarungan hidup dan mati yang akan segera meletus.
Bersambung… 🐉