NovelToon NovelToon
Rumah Yang Kami Pilih

Rumah Yang Kami Pilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Healing / Chicklit / Dark Romance
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Anggriani

Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”

Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19- Mulai Ditunggu

Jam dinding kayu di atas rak sastra itu berdetak lambat sekali, atau mungkin cuma perasaan Alea saja yang sedang tidak sabar. Sejak jarum jam menunjukkan pukul lima sore, fokusnya sudah tidak lagi tertuju pada buku-buku yang dia susun. Matanya lebih sering melirik ke arah pintu kaca yang mulai berembun, lalu ke arah jam, lalu kembali ke tumpukan novel di depannya tanpa benar-benar mencerna isinya.

“Cuma rutinitas, Alea. Jangan berlebihan,” bisik Alea pada dirinya sendiri. Dia mencoba menyibuk-nyibukkan diri dengan merapikan kembali deretan buku yang sebenarnya sudah sejajar sempurna.

Tepat pukul 18.05, suara mesin mobil yang khas berhenti di depan toko. Alea refleks menoleh. SUV hitam itu lagi. Begitu dia keluar dan mengunci pintu kaca, Aksa sudah berdiri di sana, bersandar di pintu mobil sambil menatap layar ponselnya.

“Sudah siap?” tanya Aksa tanpa basa-basi begitu menyadari kehadiran Alea.

“Sudah. Maaf ya telat lima menit, tadi ada pelanggan yang nanya soal edisi lama, jadi harus cek gudang dulu,” jawab Alea sambil merapikan tas selempangnya.

Aksa cuma mengangguk, lalu membukakan pintu mobil buat Alea. Begitu pintu tertutup dan mobil mulai membelah kemacetan, keheningan di dalam mobil terasa berbeda.

“Capek banget hari ini?” tanya Aksa tiba-tiba, memecah kesunyian.

Alea menoleh, sedikit terkejut karena biasanya Aksa tidak memulai obrolan ringan. “Lumayan. Hari ini banyak mahasiswa yang cari referensi buat skripsi. Kamu sendiri? Kelihatannya habis rapat berat.”

Aksa menghela napas panjang, melonggarkan sedikit dasinya dengan satu tangan sementara tangan lainnya tetap di setir. “Rapat direksi. Isinya cuma orang-orang yang saling sikut soal angka. Memuakkan.”

“Tapi bukannya itu duniamu? Angka dan kompetisi?”

“Duniamu juga isinya cuma kertas dan tinta, tapi kamu nggak selalu suka semua judul buku di tokomu, kan?” Aksa balik bertanya dengan nada menyindir halus.

Alea tertawa kecil. “Poin bagus. Tapi setidaknya buku nggak bisa berdebat atau nyikut aku dari belakang.”

“Makanya aku lebih suka ke tokomu daripada ke klub golf bareng kolega,” sahut Aksa. Dia melirik ke arah Alea.

“Sudah makan? Atau mau mi instan lagi?”

“Rencananya sih gitu. Murah, cepat, dan nggak perlu cuci banyak piring,” jawab Alea jujur.

Aksa mendengus pelan, tangannya memutar setir dengan luwes. “Nggak ada mi instan malam ini. Aku nggak mau penjaga toko buku favoritku tumbang karena kurang gizi.”

“Aksa, nggak perlu repot-repot. Aku beneran nggak enak kalau setiap hari harus makan di luar bareng kamu.”

“Siapa bilang aku repot? Aku juga lapar. Dan makan sendirian di apartemen itu rasanya kayak rapat tanpa peserta. Sepi,” ucap Aksa telak. “Kita ke tempat ramen di depan saja. Nggak berisik, rasanya lumayan.”

Alea akhirnya menyerah. Mereka sampai di kedai ramen kecil yang tersembunyi di antara bangunan tua. Suasananya hangat, dengan uap panas yang mengepul dari dapur terbuka.

“Aksa,” panggil Alea saat mereka sudah duduk berhadapan menunggu pesanan.

“Hmm?” sahut Aksa.

“Kenapa kamu nggak nanya apa-apa lagi soal orang bermotor itu? Maksudku, kamu nggak penasaran siapa dia? Atau kenapa dia ngikutin aku?”

Aksa meletakkan sumpitnya, menatap Alea dengan pandangan yang sulit dibaca. “Aku lebih suka fokus ke solusinya daripada pertanyaannya, Alea. Mencari tahu siapa dia itu urusanku. Kamu cuma perlu fokus supaya nggak ketakutan setiap kali mau pulang.”

“Tapi ini kan urusanku, bukan urusanmu. Aku ngerasa nggak enak kalau kamu harus ikut campur sedalam ini. Kita kan cuma pelanggan dan penjaga toko.”

Aksa sedikit memajukan tubuhnya, menatap Alea lurus-lurus. “Apa seorang pelanggan biasanya begadang depan kostan penjaga tokonya?”

Alea terdiam, wajahnya terasa sedikit panas. “Ya itu dia. Makanya aku nanya.”

“Anggap saja aku sedang melindungi investasiku,” jawab Aksa santai.

“Hidupku ini isinya cuma orang-orang yang punya topeng. Ketemu kamu dan toko buku itu rasanya jujur. Aku nggak mau kejujuran itu hilang cuma karena ada orang gila yang ganggu kamu.”

“Jadi aku ini oase kamu?”

Aksa sedikit berdeham, seolah sadar kalimatnya tadi agak terlalu terbuka. “Maksudku, ketenangan di tokomu itu yang aku maksud. Jangan terlalu percaya diri,” candanya untuk mencairkan suasana.

“Tapi jujur ya, Aksa.” Alea memainkan jemarinya di atas meja. “Kadang aku bingung. Kamu baik banget, tapi di saat yang sama kamu kayak tembok besar yang nggak bisa ditembus. Aku bahkan nggak tahu apa-apa soal kamu selain namamu dan merk mobilmu.”

Aksa tersenyum tipis, jenis senyum yang jarang Alea lihat. “Nggak ada yang menarik soal aku, Alea. Hidupku cuma soal rumah, kantor, dan sekarang, toko buku itu. Kamu mau tahu apa lagi? Ukuran sepatuku?”

“Bukan itu!” Alea tertawa. “Maksudku, apa kamu nggak punya hobi lain? Atau pacar? Pasti banyak perempuan yang antre buat dijemput CEO kayak kamu.”

Aksa menatap Alea cukup lama sebelum menjawab. “Antre karena siapa aku, bukan karena aku siapa. Ada bedanya. Dan sejauh ini, aku lebih suka jemput perempuan yang hobi ngomel soal keselamatan dirinya sendiri di mobilku.”

Alea tertegun. Kalimat itu barusan, apakah itu godaan? Dia buru-buru meminum teh hijaunya untuk menyembunyikan kegugupannya. “Kamu pinter banget balikin omongan ya.”

Setelah selesai makan, perjalanan pulang ke kostan terasa lebih cepat. Saat mendekati gerbang hijau itu, Alea secara otomatis melirik ke arah pohon beringin di seberang jalan.

“Kosong,” ucap Aksa sebelum Alea sempat bertanya. “Dia nggak ada di sana. Aku sudah minta orang kantor yang bertugas di lapangan untuk patroli ringan di sekitar sini.”

Alea menoleh cepat. “Patroli? Aksa, kamu beneran minta orang kantormu buat patroli di depan kost-anku?”

“Cuma lewat saja, Alea. Nggak usah dibayangkan kayak penjagaan presiden. Aku cuma mau mastiin area ini nggak jadi tempat favorit orang gila buat mangkal.”

“Tapi tetap saja, ini berlebihan.”

“Berlebihan itu kalau aku pasang kawat berduri di depan kamarmu,” potong Aksa telak sambil menghentikan mobil tepat di depan gerbang. “Ini cuma pencegahan standar.”

Alea menghela napas panjang. “Makasih ya, buat ramennya dan buat semuanya. Aku beneran nggak tahu harus gimana kalau nggak ada kamu beberapa hari ini.”

Aksa mengangguk singkat. “Besok jam delapan. Jangan telat, atau aku bakal klakson sampai semua penghuni kostmu bangun dan protes ke kamu.”

Alea tertawa, lalu turun dari mobil. “Iya, Pak Bos! Janji nggak telat!” seru Alea.

Sesampainya di kamar, Alea duduk di tepi tempat tidur, memegangi dadanya yang berdegup tidak karuan. Dia menyadari satu hal yang menakutkan, dia mulai merasa nyaman dengan keberadaan Aksa. Dia bukan lagi hanya menunggu jemputan karena takut.

Dia menunggu karena dia ingin mendengar suara berat pria itu lagi.

Sementara itu, di dalam mobilnya yang melaju menjauh, Aksa meraih ponselnya dan menekan satu tombol cepat. Wajah ramahnya tadi hilang seketika, digantikan oleh rahang yang mengeras.

“Gimana?” tanya Aksa dingin.

“Kami sudah dapat fotonya, Pak. Orang di motor itu... dia bukan orang asing bagi Nona Alea. Dia dari masa lalunya. Kami sedang telusuri di mana dia tinggal sekarang,” suara di ujung telepon memberikan laporan.

Aksa mencengkeram setir dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. “Pantau terus. Jangan lakukan gerakan apa pun sebelum saya suruh. Pastikan dia nggak menyentuh Alea, walau cuma seujung rambut pun.”

“Baik, Pak. Apa perlu kita beritahu Nona Alea siapa orangnya?”

Aksa diam sejenak, menatap jalanan yang gelap. “Jangan. Belum saatnya. Saya tidak mau ketenangannya pecah sekarang. Biar saya yang selesaikan urusan bajingan itu.”

Aksa mematikan telepon. Dia tidak peduli siapa pun orang dari masa lalu Alea itu. Baginya, satu hal sudah pasti, dia tidak akan membiarkan siapa pun merusak oase yang baru saja dia temukan.

1
falea sezi
Lea ini egois bgt males
Aviciena
thor, aku tinggal dulu ya,. nanti aku balik lagi klo sdh sengganng waktunya
AtNy Aby
😭apa sesulit itu alea keluaf dari zona itu
Ika Anggriani: orang klo kecintaan ya susah kak😭
total 1 replies
Aviciena
kayaknya lbh enak di baca dlm bentuk buku nih novel
Ika Anggriani: kenapa kak?😭
semoga yaa kak
total 1 replies
Aviciena
nungguin arahnya kmn
Aviciena
misterius
Ranita Rani
cwe bego gk pny otak,,,,jelas2 cwonya dh gk beres tetep ja ngemis2 kyak gk pny hrg dri ja,,,mbok yo sadar,pngalaman ortumu jgn d bikin truma tp bikin itu sebuah pelajaran,,,,
Ika Anggriani: emang ngeselin banget si alea ya kak😭
total 1 replies
Aviciena
karya sastra luar biasa
Aviciena
maaf thor, d awal penulisan , pake sudut pandang orang 1 ya... kemudian setelahnya jadi berubah
Ika Anggriani: tetap sudut pandang orang ketiga kok kak dari pertama juga
total 1 replies
falea sezi
wanita malu maluin aja ngemis2
Ika Anggriani: sabar kak😭
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Aduh-aduh siapa ya
Panda%Sya🐼
giliran selingkuh gak malu tuch
Panda%Sya🐼
Kenapa sih lelaki selalu gini, udah bagi harapan malah di balas santapan 😤
Anonymous
brengseknya nggak kira" bangett tuh cowok
Anonymous
dominan banget auranya si aksa
Panda%Sya🐼
Alea please sadar, kamu gak kurang apa-apa dia aja yang tidak tahu menghargai 🤧
Ika Anggriani: Han yang kurang padahal😭
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Ihhh Han lu benar-benar bego! 😡
Panda%Sya🐼
Dia laki-laki gak tahu apa itu wanita setia! emang kampret lu ya Han, gue masak lu campur seblak biar lu tahu panasnya hati Al yang selalu nungguin pesan-pesan chat lu 😤😤
Ika Anggriani: banyak modelan han di dunia nya wkwkw
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Ada baiknya kadang lepasin aja Al. Siapa tahu dia memang gak ada otak
Gaza Nesia
playing victimmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!