NovelToon NovelToon
Psikopat Itu Suamiku

Psikopat Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
​Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
​"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
​Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
​"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
​Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

​"Ambil ini, Sayang," ujar Rangga lembut, jemarinya yang dingin menyentuh telapak tangan Alya yang gemetar. "Buktikan bahwa hanya aku yang ada di hatimu. Tunjukkan bahwa pria ini tidak lebih dari sekadar gangguan kecil bagi kita."

​Alya menerima suntikan itu. Beratnya terasa seperti berton-ton baja. Ia berjalan mendekati pintu besi, sementara Rangga berdiri tepat di belakangnya, mengawasi setiap gerakannya seperti singa yang memantau mangsanya.

​"Bagus. Masuklah. Aku akan melihatmu dari sini," perintah Rangga.

​Alya masuk ke dalam sel yang dingin itu. Bau darah dan obat-obatan menyeruak. Rendi mengerang pelan, matanya terbuka sedikit, menatap Alya dengan pandangan kosong dan penuh penderitaan. Bibirnya yang pecah mencoba menggumamkan sesuatu, tapi hanya suara desisan yang keluar.

​"Maafkan aku, Rendi..." bisik Alya sangat pelan, nyaris tak terdengar.

​Alya mengangkat suntikan itu tinggi-tinggi. Rangga memperhatikannya dengan tatapan intens, pupil matanya membesar karena kegembiraan yang sakit.

​"Sekarang, Alya! Lakukan!" seru Rangga.

​Alya berbalik dengan sangat cepat. Bukannya menyuntik Rendi, ia justru menerjang ke arah Rangga yang berdiri di ambang pintu. Namun, Rangga jauh lebih sigap. Dengan satu gerakan tangan yang terlatih, ia menangkap pergelangan tangan Alya dan memelintirnya hingga Alya memekik kesakitan.

​Suntikan itu jatuh ke lantai, isinya tumpah sia-sia di atas karpet.

​"Ah, Alya..." Rangga mendesah kecewa, suaranya terdengar seperti seorang ayah yang sedang memarahi anak kecil yang nakal. "Aku benar-benar berharap kau memilih jalan yang mudah."

​Rangga mendorong Alya hingga punggungnya menghantam dinding sel yang dingin. Ia mengurung Alya dengan kedua lengannya, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Alya.

​"Kau tahu apa yang paling aku benci dari pengkhianatan?" Rangga mengelus rahang Alya dengan kasar. "Fakta bahwa aku harus menyakitimu untuk membuatmu mengerti betapa berharganya kejujuran."

​Rangga mengeluarkan sesuatu dari saku piyamanya. Bukan pisau, bukan senjata. Sebuah borgol kecil yang berkilau.

​"Karena kau sangat suka berada di sini bersama Rendi, mungkin kau harus tinggal di sini sebentar. Sampai kau menyadari bahwa dunia di luar sana terlalu menakutkan untukmu tanpa pengawasanku."

​Klik.

​Satu sisi borgol mengunci pergelangan tangan Alya ke terali ranjang besi tempat Rendi terbaring.

​"Mas! Lepaskan! Kamu gila!" teriak Alya frustrasi.

​Rangga mundur selangkah, merapikan kembali tatanan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia memungut jarum suntik yang kosong di lantai dan membuangnya ke tempat sampah medis dengan sangat rapi.

​"Aku tidak gila, Alya. Aku hanya terlalu mencintaimu. Sekarang, selamat malam. Besok pagi aku akan membawakan sarapan favoritmu. Kita akan memulai hari baru, tanpa ada lagi rahasia di antara kita."

​Rangga mematikan lampu sel, menyisakan Alya dalam kegelapan total bersama Rendi yang sekarat. Suara pintu besi yang berat itu berdentum keras saat dikunci dari luar.

​Alya terduduk lemas di lantai semen yang dingin, tangannya terbelenggu. Di tengah kegelapan, ia mendengar suara parau Rendi.

​"Alya... lari... dia... dia tidak akan pernah... membiarkanmu... hidup..."

Kegelapan di dalam sel itu terasa mencekik. Hanya ada suara napas Rendi yang pendek dan tersengal, serta detak jantung Alya yang berpacu liar. Rangga telah pergi, namun auranya yang dingin seolah masih tertinggal di udara.

​Alya teringat sesuatu. Gunting kecil.

​Dengan tangan kiri yang bebas, ia meraba saku piyamanya. Jari-jarinya menyentuh benda logam kecil itu. Beruntung, Rangga terlalu percaya diri dengan kekuatannya sehingga ia tidak memeriksa saku Alya saat menyeretnya tadi.

Alya mencoba memasukkan ujung gunting kecil itu ke lubang borgol. Ia bukan ahli kunci, namun keputusasaan memberinya ketajaman indra yang luar biasa.

​"Rendi... bertahanlah," bisik Alya sambil terus mengotak-atik kunci.

​"Percuma..." suara Rendi terdengar seperti gesekan amplas. "Kuncinya... khusus. Alya... lihat... di bawah ranjang..."

​Alya menghentikan gerakannya. Dengan susah payah, ia menjangkau area di bawah ranjang besi yang bautnya sudah berkarat. Jemarinya menyentuh sesuatu yang kasar—seperti ukiran di lantai semen yang tertutup debu tebal.

​Ia menyalakan layar ponselnya yang tinggal 5% sebagai senter darurat. Di sana, di bawah ranjang, terukir deretan nama dan tanggal.

​Siska - 2021

Maya - 2023

Indah - 2024

​Darah Alya berdesir hebat. Ia bukan wanita pertama. Arka tidak hanya seorang psikopat, dia adalah seorang kolektor. Dan setiap nama itu berakhir pada tanggal yang sama.

​"Dia... dia punya siklus," bisik Rendi lagi, terbatuk darah. "Cari... kotak merah... di ruang kerjanya. Itu... kelemahannya."

​KLAK!

Bersambung.....

1
🖤Qurr@🖤
Luar biasa! Aku suka novel ini!

- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/
Naelong: terimakasi sudah mampir😍
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
Ih, ayah apa seperti kamu, Baskara? Mending kamu aja deh yang mati.
🖤Qurr@🖤
Mas Rangga red flag deh..
Hazelisnut
seru banget ceritanya semalaman aku baca gak berhenti😭🫶🏻
Hazelisnut: sama² kakaknya😘
total 2 replies
Hazelisnut
chapter 2 di mana mau baca😭aku udah gak sabar mau baca selanjutnya
Naelong: insyaallah hari saya up lagi
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
What the heck..?
🖤Qurr@🖤
/Sob/waduh...
🖤Qurr@🖤
🤣seram banget sih
Naelong: nggak seram ko😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!