Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.
"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peluk rindu
Lonceng kecil di atas pintu toko bunga "Adree" berdenting pelan setiap kali angin sore masuk, namun bagi Sebria, suaranya kini terasa asing. Sudah tujuh hari, denting itu tidak diikuti oleh derap langkah sepatu kets yang terseret dan sapaan cempreng yang biasanya memecah keheningan.
Toko bunga itu biasanya penuh dengan aroma lili dan mawar, namun kini Sebria menyadari ada satu aroma yang hilang. Bau matahari dan keringat khas anak kecil. Byan, bocah berusia delapan tahun dari seberang jalan, mendadak hilang dari rutinitasnya.
Biasanya, setiap pukul dua sore, Byan akan menyerbu masuk bertanya tentang nama-nama bunga yang sulit diucapkan atau sekedar duduk di pojokan sambil mengunyah biskuit sementara Sebria merangkai pesanan. Kini, kursi kayu tempat Byan biasa duduk tampak terlalu rapi dan kosong.
Sebria mencoba menyibukkan diri, namun matanya terus tertuju pada hal-hal kecil. Gunting bunga yang biasanya harus ia jauhkan dari tangan jahil Byan kini tergeletak begitu saja. Satu tangkai bunga matahari yang sengaja Sebria sisihkan setiap pagi berharap anak itu muncul. Berakhir layu di dalam vas pajangan. Kursi kecil dekat meja kasir kini hanya jadi penampung debu tipis.
Setiap kali bayangan seseorang melintas di depan toko, jantung Sebria berdegup sedikit lebih kencang. Ia berharap itu adalah Byan dengan cengiran khasnya, siap menceritakan petualangannya di sekolah. Namun, yang muncul selalu saja orang asing yang hanya ingin membeli buket formal, lalu pergi tanpa meninggalkan kesan.
Malam ini, saat ia memutar papan tanda menjadi 'Tutup' Sebria menatap jalanan yang mulai basah karena gerimis. Ia menyadari bahwa toko bunganya bukan sekedar tempat usaha dan ia bukan sekedar penjual bunga. Tanpa kehadiran bocah itu, keindahan bunga-bunga di sekelilingnya terasa pucat, seolah ikut kehilangan warna karena kehilangan satu-satunya orang yang paling tulus mengagumi kecantikan mereka.
...----------------...
Jehan sangat bingung karena Byan berubah dalam satu minggu terakhir. Waktu yang di ambilnya sore hari untuk pulang lebih awal dari kantor. Tidak memberikan apa-apa, terbukti dari Byan yang sering mengurung diri di kamar.
Tidak terdengar lagi celotehan putranya tentang hari-hari sekolah atau membawa setangkai bunga matahari. Byan, terlalu pendiam akhir-akhir ini.
"Bi Merry, apa Byan punya masalah? Saya perhatikan dia banyak diam dan mengurung diri di kamar. Biasanya ketika saya pulang bekerja Byan selalu keluar menyambut saya."
Tidak hanya Sebria yang merasakan kesunyian tapi Jehan pun lebih merasakannya.
"Tidak ada, Pak. Semuanya seperti biasa saja tapi Nak Byan sudah tidak pernah datang lagi toko bunga."
"Apa?" Jehan mendaratkan tubuhnya di kursi. "Kenapa, apa pemilik toko itu memarahi Byan." Gurat wajahnya terlihat marah.
"Tidak, nak Byan bilang bapak melarangnya."
Jehan termenung lalu berusaha mengingat apa benar sudah melarang Byan menemui pemilik toko bunga. Ingatnya berhenti pada satu minggu yang lalu. Jehan lekas berdiri dan melangkah meninggalkan ruang tengah.
Setiba di depan kamar Byan. Ia mengetuk pelan lalu mendorong daun pintu. Manik matanya menangkap jari-jari mungil putra nya mengumpulkan kelopak bunga matahari yang sepenuhnya layu.
"Papa mau ngomong sama Byan." Ujar Jehan setelah masuk dan berdiri di samping kursi belajar Byan.
"Mau bicara apa?"
"Papa perhatikan kamu akhir-akhir ini sering diam di kamar. Papa pulang kerja kamu tidak turun. Ada apa?"
Byan menoleh sekilas lalu menaruh remahan bunga layu di atas tisu. "Tidak apa-apa."
"Kamu tidak senang papa pulang cepat?"
Anak itu menggeleng. "Aku senang."
Jehan menarik nafas panjang lalu membawa tubuh Byan ke atas pangkuannya. "Apa karena perkataan papa waktu itu? Papa tidak melarang kamu bertemu tante bunga. Tapi usahakan jangan merepotkan nya. Pertama, dia cuma kenalan kamu. Kedua, kita tidak boleh semau nya dengan orang lain meskipun ada hubungannya dengan kita, apa lagi orang itu asing. Kita harus tahu batasan. Byan boleh ketemu dan main ke tokonya sambil menunggu jemputan dan waktu nya hanya sebatas itu. Tapi bila sudah di rumah waktu tante bunga sudah untuk keluarga nya."
Byan mengangguk memahami penjelasannya. "Iya aku mengerti." Sebaris senyum tertarik di bibirnya.
...----------------...
Pagi yang hangat cahaya keemasan menyusup ke dalam 'Toko bunga Adree' Aroma lili dan mawar menguar mengisi tiap sudut bangunan kecil itu. Sebria mengganti bunga matahari yang telah layu dengan yang baru. Berharap hari selalu baik dan penuh semangat. Seperti bunga matahari itu.
Musik jazz mengalun di pojok dinding. Aroma kopi terasa kental di terbangkan angin. Sebria menata bunga di atas etalase nya. Tidak lupa gunting dan peralatan lainnya ia letakan.
Tiba-tiba gemerincing lonceng berbunyi. Sepasang mata mengintip di antara daun pintu terbuka. Wajah itu, wajah yang dirindukan Sebria menampakan diri disana.
"Kenapa baru terlihat." Sebria merentangkan tangan.
"Aku kangen sama tante." Byan menabrak tubuh mungilnya ke dalam pelukan Sebria.
Mereka berpelukan erat melepaskan kerinduan. Sebria tersenyum sambil merapikan seragam anak itu.
"Tante juga kangen sama Byan. Sana ke sekolah dulu nanti siang baru kita ngobrol."
Byan mengangguk. "Iya tante, tunggu aku ya..."
Sebria mengantarkan anak itu sampai ke depan mobil lalu melambaikan tangan setelah roda empat itu meninggalkan halaman tokonya. Ah, ada yang ringan rasa nya. Sebria merasa bersemangat menyelesaikan pekerjaan nya.
Tiap jam di laluinya merangkai bunga. Tidak lupa memesan buah yang nanti akan dimakan bersama Byan. Nanti Sebria akan bertanya kenapa anak laki-laki itu menghilang satu minggu ini.
Lonceng terus berbunyi dan pelanggan terus berdatangan mengambil pesanan. Sebria melayani dengan senyuman. Tidak lupa menjelaskan definisi bunga yang akan di pesan.
Waktu terus bergerak Sebria juga memesan makan siang. Ia mengambil waktu istirahat di pojok ruang. Mengeluarkan buah dari plastik dan juga menyiapkan wadah. Akhirnya kursi kecil dekat kasir tidak berdebu lagi. Meja jati itu akan hidup lagi setelah terlihat mati satu minggu ini.
Sebria menikmati makan siangnya sambil menonton acara variety show di ponselnya. Musik jazz sengaja di matikan untuk mengistirahatkan pendengaran. Sampai tiba-tiba suara ramai terdengar di depan tokonya.
Beberapa orang terlihat dari kaca sambil menunjuk-nunjuk arah jalan dalam keadaan emosi. Tidak jauh dari situ seorang laki-laki muda di tahan beberapa orang.
"Kamu tidak lihat lampunya sudah berubah. Kenapa menerobos !"
Sebria langsung keluar dari toko menghampiri kerumunan. "Ada apa ini?" Ia bertanya sambil melihat ke arah security.
"Orang ini melaju kencang dari arah sana. Lampu menyebrang sudah menyala tapi dia memaksa lewat. Saya mengantar Byan menyeberang." Sahut security yang luka-luka lecet.
Sebria membelah kerumunan ibu-ibu menyebrang karena kejadian. "BYAN !"