NovelToon NovelToon
Api Jatayu Di Laut Banda

Api Jatayu Di Laut Banda

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kutukan / Dokter / Romansa Fantasi / Ruang Bawah Tanah dan Naga / Harem
Popularitas:383
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan di Antara Api dan Ombak

Pagi di lereng bawah Merapi terasa lebih dingin dari biasanya, meski abu gunung masih menyelimuti udara dengan kehangatan samar. Mereka berempat berjalan menuruni jalur berbatu menuju desa kecil di kaki gunung, tempat mereka berencana mencari perahu atau kereta untuk melanjutkan perjalanan ke lokasi kristal berikutnya—kristal abu-abu yang konon tersembunyi di tanah tandus Jawa Tengah, wilayah yang dulu dikuasai Naga Tanah sebelum kutukan menyebar.

Kristal merah dan biru di tas Banda terus berdenyut selaras, tapi sejak ciuman malam tadi, getaran itu terasa lebih… pribadi. Setiap langkah membuat Banda merasakan Jatayu lebih dekat—bukan hanya secara fisik, tapi seperti ada benang tak terlihat yang menghubungkan jantung mereka. Panas di dadanya tidak lagi menyakitkan; malah terasa seperti pelukan yang terus-menerus, mengingatkannya bahwa ikatan ini sekarang adalah bagian dari dirinya.

Jatayu berjalan di sampingnya, lebih dekat dari biasanya. Ia tidak lagi menjaga jarak seperti dulu. Tapi matanya sesekali melirik Kirana yang berjalan di depan bersama Bayu—tatapan penuh rasa bersalah yang belum hilang.

“Kau baik-baik saja?” tanya Banda pelan.

Jatayu mengangguk kecil. “Aku baik-baik saja. Hanya… merasa aneh. Sejak kristal merah bergabung dengan biru, api Phoenix-ku terasa lebih stabil. Tidak lagi liar. Seperti ada ombak yang menenangkannya.”

Banda tersenyum tipis. “Dan aku merasa api itu tidak lagi membakar dari dalam. Seperti… kau yang mengendalikannya sekarang.”

Jatayu menoleh, matanya kuning keemasan bertemu mata biru gelap Banda. “Itu yang membuatku takut. Kalau ikatan ini semakin kuat, apa yang akan terjadi kalau kutukan memaksa kita memilih? Aku tidak mau menjadi alasan kau kehilangan dirimu… atau sebaliknya.”

Banda berhenti sejenak, menyentuh lengan Jatayu lembut. “Kita sudah memilih malam tadi. Kita memilih bersama. Dan Garini bilang—api dan air bisa menyatu. Kita bukti hidupnya.”

Jatayu tidak menjawab langsung. Ia hanya memandang tangan Banda di lengannya, lalu menggenggamnya pelan. Sentuhan itu sederhana, tapi cukup untuk membuat cahaya emas tipis muncul lagi di antara jari mereka—kilau yang sekarang terasa hangat, bukan mengancam.

Di depan, Kirana berhenti di tikungan jalur. Ia menoleh ke belakang, melihat mereka berdua bergandengan tangan. Ekspresinya campur aduk—senyum kecil yang dipaksakan, tapi matanya berkaca-kaca.

Bayu memperhatikan. “Kirana… kau yakin mau ikut terus? Kau bisa pulang ke klan kalau—”

“Tidak,” potong Kirana tegas, meski suaranya sedikit bergetar. “Aku sudah memilih. Aku tidak akan tinggalkan Jatayu. Dan aku… aku ingin lihat akhir dari cerita ini. Apa pun akhirnya.”

Jatayu melepaskan tangan Banda dan mendekati Kirana. Ia memeluk sahabatnya erat—pelukan yang penuh maaf dan syukur. “Terima kasih, Kirana. Kau tidak harus melakukan ini. Kau bisa tetap aman di klan.”

Kirana menggeleng di pelukan itu. “Aman tanpa kau? Tidak ada artinya. Dan melihat kau bahagia… meski bukan denganku… itu cukup.”

Ia melepaskan pelukan, menyeka air mata dengan cepat. “Ayo lanjut. Kristal abu-abu menunggu. Dan kalau Naga Tanah mulai bergerak, kita tidak punya banyak waktu.”

Mereka melanjutkan perjalanan. Siang itu, mereka tiba di desa kecil di kaki gunung. Penduduk desa—kebanyakan petani dan pengrajin—memandang mereka dengan curiga, tapi Kirana dengan cepat berbicara dalam bahasa setempat, mengaku sebagai peziarah yang mencari tempat suci kuno. Mereka diizinkan menginap di sebuah rumah panggung sederhana milik seorang kakek tua yang pernah melayani klan Phoenix dulu.

Malam itu, di beranda rumah panggung, Banda dan Jatayu duduk sendirian lagi. Bayu dan Kirana sudah tidur di dalam. Kristal merah dan biru diletakkan di antara mereka, cahayanya menerangi wajah mereka dalam warna emas lembut.

Banda memecah keheningan. “Kirana… dia menyembunyikan rasa sakitnya dengan baik. Tapi aku tahu dia terluka.”

Jatayu mengangguk pelan. “Aku tahu. Aku sudah merasakannya sejak lama. Dia selalu ada untukku, bahkan saat aku tidak layak. Dan sekarang… aku memilihmu. Itu tidak adil baginya.”

Banda menatap Jatayu lama. “Apa kau menyesal?”

Jatayu menggeleng cepat. “Tidak. Aku tidak menyesal memilihmu. Tapi aku menyesal membuatnya menderita. Dia bagian dari hidupku selama ratusan tahun. Dan sekarang… aku tidak tahu bagaimana memperbaikinya.”

Banda menggenggam tangan Jatayu lagi. Cahaya emas muncul lebih terang. “Kita tidak perlu memperbaiki semuanya sekarang. Kita fokus mematahkan kutukan dulu. Setelah itu… kita cari cara agar tidak ada yang terluka lagi.”

Jatayu tersenyum kecil—senyum yang lelah tapi tulus. “Kau mulai terdengar seperti pemimpin. Raja Laut yang sebenarnya.”

Banda tertawa pelan. “Aku masih anak nelayan yang kebetulan punya darah naga. Tapi kalau itu artinya bisa melindungimu… aku rela belajar.”

Mereka diam sejenak, hanya memandang kristal yang berdenyut selaras dengan detak jantung mereka.

Tiba-tiba, tanah bergetar pelan. Bukan gempa biasa—lebih seperti napas dalam dari dalam bumi. Kristal abu-abu yang belum mereka miliki seolah merespons dari kejauhan.

Jatayu menegang. “Naga Tanah… dia tahu kita punya dua kristal sekarang. Dia mulai bangun.”

Banda berdiri. “Maka kita harus lebih cepat. Besok pagi kita berangkat ke tanah tandus. Kristal abu-abu harus kita ambil sebelum dia mengambil kita.”

Jatayu bangkit juga, berdiri di sampingnya. “Bersama.”

Mereka saling pandang. Di bawah cahaya kristal, wajah mereka terlihat lebih tenang—bukan karena tidak takut, tapi karena mereka tahu: apa pun yang menunggu, mereka tidak lagi sendirian.

Di dalam rumah, Kirana terbangun karena getaran tanah. Ia duduk di tikar, memeluk lutut. Bayu yang tidur di sebelahnya membuka mata.

“Kau tidak tidur?” tanya Bayu pelan.

Kirana menggeleng. “Aku… aku takut. Takut kalau akhirnya aku hanya jadi penutup cerita mereka. Bukan bagian dari cerita itu.”

Bayu diam sejenak. Lalu ia menggeser duduk lebih dekat. “Kau bukan penutup. Kau bagian penting. Tanpa kau, mereka mungkin tidak akan sampai sejauh ini. Dan kalau kau mau… aku di sini. Bukan sebagai pengganti. Tapi sebagai teman yang tidak akan pergi.”

Kirana menatap Bayu. Untuk pertama kalinya, senyum kecil muncul di bibirnya—senyum yang tulus, meski masih penuh luka.

“Terima kasih, Bayu.”

Di luar, getaran tanah semakin kuat. Di kejauhan, dari arah tanah tandus, suara gemuruh rendah terdengar—seperti batu raksasa bergeser, atau naga yang lama tertidur mulai membuka mata.

Kristal abu-abu menunggu.

Dan Naga Tanah tidak akan membiarkan mereka mengumpulkan semuanya dengan mudah.

1
Sibungas
Alur cerita mudah d mengerti dan mengalir lancar.
Sibungas
patahkan kutukan emang perlu perjuangan.. semngat💪💪💪
Sibungas
mantab thor ceritane lanjutttt. 👍
Kashvatama: makasih supportnya🙏
total 1 replies
Sibungas
alur cerita nya bagus. 👍
Kashvatama: terimakasih banyak. semoga bisa kasih karya yg konsisten menarik 🙏
total 1 replies
Sibungas
cerita cukup menarik utk d ikuti.. lanjutt thor🤭
Kashvatama: terimakasih supportnya 😍
total 1 replies
Kashvatama
kisah fantasi petualang dan romansa antara Jatayu dari kaum Phoenix dan Banda sang reinkarnasi Naga Laut 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!