"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Detik-Detik di Ujung Maut
Gedung The Mahendra Star berguncang hebat. Suara alarm kebakaran meraung-raung, bersahut-sahutan dengan ledakan kecil yang mulai meruntuhkan plafon di ujung koridor lantai 15. Debu semen dan percikan api beterbangan di udara, menciptakan suasana kiamat di tengah kemewahan yang kini hancur lebur.
Kenzo berdiri di sana, tertawa seperti orang kesurupan. Wajahnya yang dulu klimis kini kotor oleh jelaga, dan matanya membelalak gila. Detonator di tangannya berkedip merah—sebuah tanda bahwa hitungan mundur menuju ledakan besar di fondasi gedung telah dimulai.
"Kenzo, kau gila! Kau akan membunuh ratusan orang di bawah sana!" teriak Clarissa. Ia mencoba berdiri, meski kakinya masih lemas akibat sisa gas saraf.
"Ratusan orang? Aku tidak peduli!" raung Kenzo. "Keluarga Wijaya menghancurkanku! Kau, Clarissa... kau mengambil segalanya dariku! Kau memperlakukanku seperti sampah setelah semua yang kulakukan untuk perusahaan itu!"
Devan berdiri di depan Clarissa, melindungi gadis itu dengan tubuhnya yang penuh luka. Matanya menatap Kenzo dengan kehinaan yang mendalam. "Kau tidak pernah menjadi bagian dari Wijaya, Kenzo. Kau hanyalah parasit yang merasa diri sebagai tuan tanah. Dan sekarang, kau bertingkah seperti pecundang yang putus asa."
"Tutup mulutmu, Mahendra!" Kenzo menodongkan pistol ke arah Devan. "Kau pikir kau pahlawan? Kau hanya pencuri yang beruntung mendapatkan jiwa Clarissa!"
BIP. BIP. BIP.
"Tiga menit lagi, gedung ini akan rata dengan tanah," Kenzo menyeringai licik. "Pilihannya sederhana. Berikan kode akses utama Wijaya Group padaku sekarang, atau kita semua akan menjadi abu di sini!"
Clarissa menatap Devan sejenak. Di tengah kekacauan itu, otak jeniusnya mulai bekerja. Ia melihat sebuah panel sirkuit darurat di dinding samping Kenzo. Jika ia bisa meretas sistem pusat dari sana, ia bisa mematikan pemicu bom di fondasi utama.
"Devan," bisik Clarissa sangat pelan, hampir tak terdengar di tengah gemuruh reruntuhan. "Alihkan perhatiannya. Aku butuh tiga puluh detik di panel itu."
Devan memberikan anggukan nyaris tak terlihat. Ia melangkah maju, membiarkan moncong pistol Kenzo membidik dadanya.
"Kau mau kode itu? Ambil saja," Devan merogoh saku tuxedo-nya, mengeluarkan sebuah ponsel khusus terenkripsi. "Tapi kau tahu, Kenzo... kode ini tidak akan berguna jika tanganmu gemetar seperti itu. Kau bahkan tidak punya nyali untuk menarik pelatuknya, kan?"
"Kau meremehkanku?!" tangan Kenzo bergetar hebat. Amarahnya meluap, membuatnya fokus sepenuhnya pada Devan.
Di saat itulah, Clarissa bergerak secepat kilat. Ia berguling di lantai, menghindari reruntuhan, dan mencapai panel sirkuit. Dengan jari-jarinya yang gemetar namun pasti, ia membongkar penutup panel dan menyambungkan kabel-kabel biometrik dari gelang di kakinya—yang ternyata masih memiliki fungsi hacking darurat—ke dalam sistem gedung.
"Apa yang kau lakukan, jalang?!" Kenzo menyadari pergerakan Clarissa dan mengalihkan senjatanya.
DOR!
"ARGH!"
Devan menerjang Kenzo tepat saat peluru dilepaskan. Peluru itu menyerempet lengan Devan, namun ia tidak berhenti. Devan menghantam wajah Kenzo dengan tinju yang penuh tenaga, menjatuhkan pria itu ke lantai. Pistol Kenzo terlempar jauh ke dalam kobaran api.
"SEKARANG, CLARISSA!" teriak Devan sambil bergulat dengan Kenzo di lantai yang panas.
Jari Clarissa menari di atas sirkuit. Keringat bercucuran, mengaburkan pandangannya. Di layar panel, muncul tulisan: [SYSTEM LOCKED. ENTER ENCRYPTION KEY.]
"Kuncinya... kuncinya apa?!" Clarissa mencoba mengingat kode rahasia ayahnya. Ia mencoba tanggal lahirnya, tanggal kematian ibunya, namun semuanya gagal.
BIP. BIP. BIP. 60 detik tersisa.
"Pikir, Clarissa! Pikir!" ia memukul kepalanya sendiri. Tiba-tiba, ia teringat kata-kata ayahnya sebelum meninggal: 'Clarissa, kau adalah bintang yang takkan pernah padam.'
Bintang. Star.
Ia memasukkan koordinat rasi bintang yang sering ia pelajari bersama ayahnya di teleskop kantor dulu.
[ACCESS GRANTED. DEACTIVATING EXPLOSIVES...]
Satu demi satu lampu merah di panel berubah menjadi hijau. Suara hitungan mundur di detonator Kenzo berhenti di angka 00:05.
Clarissa jatuh terduduk, napasnya memburu. "Berhasil... aku berhasil..."
Namun, pertarungan belum selesai. Kenzo, yang sudah babak belur, mengeluarkan sebuah pisau lipat dari sakunya dan mencoba menusuk Devan yang sedang lengah.
"MATILAH KAU!"
"DEVAN, AWAS!" teriak Clarissa.
Devan menghindar, namun pisau itu sempat menyayat perutnya. Dengan kemarahan yang meluap, Devan menangkap tangan Kenzo, memutarnya hingga terdengar suara patah tulang yang mengerikan, dan menendang Kenzo hingga terpental ke arah lift yang sudah bolong.
Kenzo tergantung di pinggiran lantai, hanya berpegangan pada kabel yang menjuntai. Matanya menatap ke bawah, ke arah lubang gelap sedalam lima belas lantai.
"Tolong... Devan... Clarissa... selamatkan aku!" tangis Kenzo pecah. Sifat pengecutnya kembali muncul saat maut benar-benar di depan mata.
Clarissa berjalan mendekat, menatap Kenzo dengan tatapan tanpa ampun. "Kau mencoba membunuh ratusan orang, Kenzo. Kau mencoba menghancurkan warisan ayahku. Kau tidak layak mendapatkan pengampunan."
"Clarissa... kumohon..."
Devan berdiri di samping Clarissa, merangkul pundaknya. Ia tidak mengulurkan tangan. "Kau yang memilih lubang ini, Kenzo. Selamat menikmati perjalanan ke dasar neraka."
Kabel itu putus.
"TIDAAAKKK—!" suara teriakan Kenzo menghilang di kegelapan lubang lift, diikuti oleh suara benturan keras di dasar gedung.
Hening. Hanya suara api yang berkertak di sekitar mereka.
Devan merosot duduk, memegangi perutnya yang terus mengeluarkan darah. Wajahnya pucat pasi, namun ia tersenyum menatap Clarissa. "Kita... benar-benar... pasangan penghancur gedung, ya?"
Clarissa segera berlutut, merobek bagian bawah gaunnya untuk membalut luka Devan. "Berhenti bercanda, Devan! Kita harus keluar dari sini sebelum sisa-sisa atap ini ambruk!"
Tiba-tiba, suara baling-baling helikopter terdengar sangat dekat. Di balik jendela kaca yang hancur, sebuah helikopter militer dengan logo Mahendra Group muncul. Pintu helikopter terbuka, dan tim penyelamat melemparkan tali tambat.
"Tuan Devan! Nona Clarissa! Pegang talinya!"
Devan membantu Clarissa memasang sabuk pengaman, lalu ia sendiri mengunci dirinya pada Clarissa. Saat helikopter mengangkat mereka terbang menjauh, Clarissa menatap gedung The Mahendra Star yang sebagian besar sudah hancur. Pesta pertunangan mereka berubah menjadi abu, namun ikatan di antara mereka kini lebih kuat daripada baja.
Di dalam helikopter, Devan menarik Clarissa ke dalam pelukannya. Di bawah langit malam Jakarta yang penuh asap, ia mencium kening Clarissa dengan sisa tenaganya.
"Pertunangan yang... berkesan, bukan?" bisik Devan lemas.
Clarissa menyandarkan kepalanya di dada Devan, air matanya jatuh membasahi kemeja pria itu. "Jangan pernah... jangan pernah membuatku setegang ini lagi, Devan Mahendra."
"Janji," ucap Devan sebelum ia akhirnya kehilangan kesadaran di pelukan Clarissa.