NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20 Detik yang Tercuri dari Kematian

Keheningan yang mematikan menyelimuti toko Ki Ganda. Anita mendekap tubuh Saka yang kini tampak jauh lebih tua dari usia aslinya, sementara butiran cahaya perak dari tulisan di dinding terus mengalir masuk ke dalam diri Anita. Angka di punggung tangan Saka telah mencapai titik 0. Secara hukum alam semesta, Saka seharusnya sudah lenyap, terhapus dari lembaran realitas karena energinya telah terkuras habis untuk menyalin sejarah Alexandria.

Namun, di dalam "Detik Terakhir"—sebuah celah mikro di antara satu kutipan waktu ke kutipan lainnya—Saka tidak mati. Ia terbangun di sebuah ruang tanpa batas yang berwarna putih mutlak. Tidak ada lantai, tidak ada langit. Hanya ada dia dan sebuah meja kerja raksasa yang membentang hingga ke cakrawala.

Di balik meja itu, duduk seorang pria yang wajahnya terus berubah-ubah: kadang tampak seperti anak kecil, kadang seperti pria dewasa, dan kadang seperti kakek tua yang sangat renta. Inilah The Architect (Sang Arsitek Waktu).

"Kau sangat keras kepala, Saka," suara Sang Arsitek terdengar seperti jutaan jam dinding yang berdetak serentak. "Kau mencuri Tinta Keabadian, kau menelan Perpustakaan Alexandria, dan sekarang kau mencoba menipu kematian dengan menggunakan gadismu sebagai medium penyimpanan. Tindakanmu tidak hanya ilegal, tapi juga sangat... tidak rapi."

Saka berdiri dengan tubuhnya yang ringkih dan rambut memutih. "Aku tidak melakukannya untuk menipu siapa pun. Aku melakukannya agar sejarah manusia tidak menjadi lubang hitam yang kosong."

"Dan sebagai gantinya, kau menciptakan lubang hitam dalam hidupmu sendiri," Sang Arsitek bangkit dari duduknya. Setiap langkahnya menciptakan riak air di ruang putih itu. "Kau sudah nol, Saka. Kau tidak punya sisa detik untuk kembali ke tubuhmu. Kau sekarang adalah bagian dari arsipku. Sebuah catatan kaki yang menarik, tapi tetap saja hanya catatan kaki."

Saka mengepalkan tangannya. "Jika aku adalah catatan kaki, maka biarkan aku menulis penutupku sendiri. Aku tidak butuh hidup abadi. Aku hanya butuh kembali untuk memastikan Anita tidak hancur membawa beban pengetahuan yang aku berikan padanya."

Sang Arsitek berhenti di depan Saka. Ia menatap mata perak Saka. "Kau ingin menukarnya? Baiklah. Aku akan memberimu kembali masa mudamu. Aku akan menghapus beban Alexandria dari otakmu dan otak gadismu. Namun, harganya adalah Gema Keberadaanmu."

"Apa maksudnya?"

"Kau akan hidup kembali sebagai Saka yang muda. Ibu dan ayahmu akan mengenalmu. Anita akan mencintaimu. Tapi, setiap kali kau merasa sangat bahagia, satu orang di dunia ini yang pernah kau kenal akan kehilangan ingatannya tentangmu selamanya. Kau akan menjadi pria yang perlahan-lahan menghilang dari memori kolektif manusia demi kebahagiaan pribadimu. Apakah kau siap menjadi 'Orang Asing' di tengah orang-orang yang mencintaimu?"

Saka terdiam. Ini adalah kutukan yang lebih kejam daripada kematian. Jika ia sangat bahagia dengan Anita, mungkin Luna akan melupakannya. Jika ia merayakan ulang tahun bersama ibunya, mungkin Ki Ganda akan hilang dari ingatannya.

"Lakukan," ucap Saka tegas. "Kebahagiaan mereka lebih penting daripada namaku yang tersisa di kepala mereka."

Jalan Braga, Masa Kini (Detik ke-1 setelah nol)

Cahaya perak yang menyelimuti toko Ki Ganda meledak dengan lembut. Anita terlempar ke belakang, namun ia segera bangkit. Ia melihat ke tengah ruangan. Saka tidak lagi terbaring lemas dengan rambut putih.

Saka berdiri di sana, mengenakan kaus hitamnya yang semula, rambutnya kembali hitam legam, dan wajahnya kembali segar seperti remaja berusia 17 tahun. Tulisan-tulisan cahaya di dinding telah lenyap, seolah-olah tidak pernah ada pembakaran Alexandria atau perpustakaan berjalan.

"Saka?" Anita mendekat dengan ragu. "Apa... apa yang terjadi? Tadi aku merasa melihatmu menjadi tua..."

Saka tersenyum, namun ada gurat kesedihan yang dalam di matanya. Ia memeluk Anita dengan erat. "Cuma mimpi buruk, Nit. Semuanya sudah berakhir. Perpustakaannya sudah tutup."

Anita melepaskan pelukannya dan menatap sekeliling toko yang kini bersih, bahkan garis polisi pun hilang. "Tapi, siapa pemilik toko ini, Saka? Kenapa kita ada di sini?"

Jantung Saka mencelos. Kutukan itu dimulai.

Anita telah melupakan Ki Ganda. Bagi Anita, toko ini hanyalah sebuah bangunan tua kosong tempat mereka berteduh. Anita tidak lagi ingat bahwa Ki Ganda adalah orang yang selama ini membantu mereka.

Saka menelan ludah, mencoba menahan air mata. "Ini... ini cuma toko jam tua yang mau dijual, Nit. Ayo kita pulang. Ibu pasti sudah menunggu."

Saat mereka berjalan keluar dari Jalan Braga, Saka melihat Luna berdiri di seberang jalan. Saka melambaikan tangan padanya, namun Luna hanya menatapnya dengan pandangan dingin dan asing. Luna—sang pelindung dan mentornya—telah kehilangan seluruh memori tentang siapa itu Saka. Bagi Luna, Saka hanyalah seorang remaja biasa yang lewat di jalanan.

Saka menunduk, menggenggam tangan Anita lebih erat. Ia telah memenangkan hidupnya kembali, namun ia mulai kehilangan jejaknya di hati orang-orang yang berjuang bersamanya.

Di langit malam, angka Romawi di tangan Saka benar-benar hilang, namun di dalam sakunya, Arloji Void bergetar pelan. Sebuah pesan muncul di kaca kristalnya.The Forgotten Guardian (Penjaga yang Terlupakan)

1
Fadhil Asyraf
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!