Anggika Rosalia, gadis cantik berusia 27 tahun, baru kembali dari Jakarta dan harus menerima kenyataan dijodohkan dengan calon kepala desa. Luka hatinya belum sembuh setelah ditinggal menikah sang kekasih, ditambah gosip kejam yang melabelinya perawan tua. Demi kepentingan masing-masing, Rosalia akhirnya menikah kontrak dengan Mario Langit Pradana, pria tampan yang membutuhkan pasangan untuk maju sebagai lurah. Lalu, bagaimana kelanjutan rumah tangga mereka? Saksikan kisah selengkapnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Setelah bubur ayamnya habis, Anggika berdiri sambil merapikan plastik bekas sarapan.
“Aku ke depan dulu ya, mau urus administrasi. Mana KTP sama BPJS kamu?”
Mario menguap kecil.
“KTP ada. BPJS nggak aku pakai.”
Anggika langsung menoleh.
“Lho, kenapa? Kan semalam kamu masuk lewat UGD, bisa pakai BPJS.”
Mario mengangkat bahu santai.
“Aku pilih umum aja.”
“Kenapa pilih umum? Lumayan loh kalau pakai BPJS, nggak keluar biaya banyak,” protes Anggika.
Mario tersenyum tipis.
“Bukan soal biayanya. Biasanya pelayanan umum lebih cepat dan lebih fleksibel.”
Anggika menyipitkan mata.
“Sombong banget sih kamu. Mentang-mentang punya duit.”
“Bukan sombong,” Mario terkekeh. “Aku cuma nggak mau kamu ribet ngurus rujukan atau berkas tambahan.”
Anggika terdiam sebentar, lalu menghela napas.
“Yaudah, sini KTP-nya. Aku yang urus.”
Mario menyerahkan dompetnya.
“Ambil aja di slot depan. Jangan kabur bawa dompetku.”
Anggika mendengus.
“Siapa juga yang mau kabur bawa KTP kamu.”
Mario tersenyum jahil.
“Siapa tau kamu mau langsung daftarkan pernikahan kita ke KUA .”
Anggika memutar bola mata.
“Sembuh dulu sana baru mimpi.”
Anggika mengambil KTP dari dompet Mario, lalu melangkah keluar menuju meja pendaftaran.
Di depan loket, ia tersenyum sopan.
“Permisi, Mbak. Saya mau daftar rawat inap atas nama Mario Banaspati. Tadi malam masuk lewat UGD.”
Petugas administrasi mengetik di komputer.
“Baik, Mbak. Boleh saya lihat KTP pasiennya?”
Anggika menyerahkan KTP itu.
“Ini, Mbak.”
Petugas membaca sebentar.
“Mario Banaspati… sudah terdata dari UGD. Untuk sementara masuk sebagai pasien umum ya?”
“Iya, Mbak. Pasien umum,” jawab Anggika.
“Baik. Nanti ada formulir persetujuan tindakan dan rincian biaya yang perlu ditandatangani oleh keluarga atau penanggung jawab.”
Anggika sedikit ragu.
“Penanggung jawab bisa calon istri?”
Petugas tersenyum tipis.
“Bisa, Mbak. Yang penting ada tanda tangan dan nomor yang bisa dihubungi.”
Anggika mengangguk.
“Baik, saya tanda tangan.”
Petugas menyerahkan berkas.
“Silakan dibaca dulu sebelum tanda tangan.”
Anggika membaca cepat, lalu menandatangani.
“Sudah, Mbak.”
“Terima kasih. Nanti kalau ada tambahan tindakan atau obat, akan kami informasikan dulu.”
“Iya, Mbak. Terima kasih.”
Selesai dari loket, Anggika menarik napas pelan.
“Mario maaf ya gara-gara aku kamu jadi sakit begini.Andai aja aku gak jail in kamu ini gak akan terjadi,” gumamnya sendiri sebelum kembali ke ruang perawatan.
Aisyah dan Huda berjalan cepat dari arah lobi. Begitu melihat Anggika, Aisyah langsung menghampiri dengan wajah cemas.
“Gi, gimana keadaan Mario sekarang?” tanya Aisyah khawatir.
“Alhamdulillah, Tante… juragan Huda. Mario sudah mendingan. Tadi malam sempat bolak-balik kamar mandi, tapi sekarang sudah lebih stabil,” jawab Anggika mencoba tersenyum.
Huda mengangguk pelan. “Syukurlah kalau begitu.”
Tiba-tiba seorang gadis berpenampilan modis melangkah mendekat.
“Tante, Om… aku boleh jenguk Mas Mario sekarang?” ujarnya lembut.
Anggika melirik dalam hati.
Siapa lagi ini? Bukannya Mario anak tunggal?
Aisyah tersenyum hangat.
“Oh iya, Gi. Kenalin dulu ya. Ini Tasya, anak sahabat Tante. Dia juga sahabatnya Mario. Baru pulang dari Jakarta mau bantu-bantu di pernikahan kalian besok.”
Tasya tersenyum tipis ke arah Anggika.
“Hai. Aku sama Mario sudah dekat banget dari dulu. Bahkan dulu sempat mau dijodohkan,” katanya santai.
Anggika menegang, tapi tetap tersenyum sopan.
“Oh… ya?”
Dalam hati ia mendidih.
Kenapa sih harus ditekankan banget soal dijodohkan? Ekspresinya juga begitu. Jangan-jangan dia naksir,Mario? Nggak akan aku biarin dia deketin,Mario. Dia itu calon suami aku.
Huda berdehem kecil, mencoba mencairkan suasana.
“Ya sudah, kalau mau jenguk, gantian saja. Jangan terlalu ramai di dalam.”
Anggika menatap Tasya sekilas.
“Silakan. Mario masih di UGD . Tapi jangan lama-lama, pasiennya butuh istirahat,” ucapnya halus, meski nada kepemilikannya sulit disembunyikan.
Tasya bergegas lari masuk ke ruang UGD tanpa banyak pikir. Begitu melihat Mario di atas ranjang, ia langsung menghampiri.
“Rio! Kamu kenapa sih? Kok bisa sampai masuk UGD? Kamu kan nggak kuat makan sambal, kenapa masih nekat?” suaranya panik bercampur kesal.
Tanpa ragu, Tasya langsung memeluk Mario erat.
“Eh… Tasya, pelan-pelan…” Mario terbatuk kecil. “Lepasin dulu, aku susah napas.”
Terdengar suara berdehem pelan dari arah pintu.
“Ehem.”
Anggika berdiri dengan tangan terlipat, tatapannya tajam.
Tasya buru-buru melepaskan pelukannya.
“Maaf ya, Rio. Aku kangen banget. Dari mobil aku langsung ikut Tante Aisyah ke sini. Kaget dengar kamu sakit.”
Mario menarik napas panjang.
“Aku cuma kebanyakan makan sambal. Nggak kenapa-kenapa.”
Tasya menoleh sekilas ke arah Anggika, lalu kembali menatap Mario.
“Kamu itu nggak pernah berubah. Dibilangin nggak bisa pedas masih aja keras kepala. Sampai masuk UGD begini.”
Anggika melangkah mendekat.
“Dia bukan keras kepala. Dia cuma lagi sok kuat,” ucapnya datar.
Tasya tersenyum tipis.
“Sayang banget ya kamu,Mas … punya calon istri gak bisa menjadi makanan kamu. Sampai ‘keracunan’ begini.”
Mario langsung mengangkat tangan lemah.
“Eh, jangan lebay. Nggak ada yang ngeracunin aku.”
Anggika menatap Tasya tanpa berkedip.
“Keracunan sambal karena gengsi, bukan karena diracun orang.”
Suasana mendadak canggung.
Mario mencoba mencairkan keadaan.
“Udah, udah… ini cuma diare biasa. Besok juga pulang. Nggak usah dibikin kayak drama sinetron.”
Tasya menyilangkan tangan.
“Ya aku cuma khawatir. Kamu itu terlalu baik Mas jadi nurut aja apa kata orang.”
Anggika membalas tenang, tapi tegas.
“Lebay kamu Mario gak apa-apa juga.”
Mario menelan ludah, merasakan hawa dingin di antara dua perempuan itu.
“Kayaknya aku lebih takut sama suasana ini daripada sakit perutku,” gumamnya pelan.
Perawat masuk sambil membawa nampan.
“Permisi, ini sarapan untuk Mas Mario dan obatnya. Jangan lupa diminum setelah makan, ya.”
“Terima kasih, Sus,” jawab Mario pelan.
Begitu perawat keluar, Tasya langsung mengambil mangkuk bubur.
“Aku suapin ya, Mas. Kamu masih lemes, kan?”
Anggika bergerak cepat mendekat.
“Nggak usah. Ada aku di sini. Kamu bisa tunggu di luar.”
Tasya menoleh dengan alis terangkat.
“Kamu itu galak banget, sih. Nggak bisa lembut sedikit? Kasian Mas Mario, nanti makin drop kalau kamu yang urus.”
Anggika menyilangkan tangan.
“Daripada sok manis kaya kamu dasar caper. ”
“Tolong ya, jangan sinis begitu,” balas Tasya. “Aku cuma peduli sama Mas Mario.”
“Peduli atau peduli nih?” Anggika menatap tajam.
Mario menghela napas panjang.
“Tasya, tolong tunggu di luar dulu. Aku mau disuapin sama Anggika aja.”
Tasya terdiam, tak menyangka.
“Kamu bentak aku, Rio? Aku datang jauh-jauh buat jenguk kamu, malah diusir?”
“Aku nggak bentak,” jawab Mario tegas tapi rendah. “Aku cuma nggak mau ribut di sini. Aku lagi sakit.”
Tasya menatapnya kecewa.
“Dulu kamu nggak pernah kayak gini ke aku.”
“Dulu beda,” sahut Mario singkat.
Anggika mengambil sendok, meniup bubur perlahan.
“Ayo, makan dulu. Jangan kebanyakan drama, nanti obatnya telat diminum.”
Mario menurut, membuka mulutnya pelan.
Tasya menggigit bibir, merasa tersisih.
“Baiklah. Aku tunggu di luar,” katanya akhirnya, lalu berbalik pergi.
Begitu pintu tertutup, Mario menatap Anggika.
“Kamu puas?”
Anggika menyuapkan lagi buburnya.
“Aku cuma nggak suka wilayahku dimasukin orang.”
Mario tersenyum tipis.
“Wilayah, ya?”
“Jangan GR. Makan yang bener.”
Mario tersenyum miring, menatap Anggika yang masih memegang sendok.
“Aku suka kamu cemburu kayak gini.”
Anggika langsung mendengus.
“Siapa yang cemburu? Jangan halu deh.”
“Barusan kamu pasang badan kayak satpam UGD,” goda Mario pelan.
“Aku cuma nggak suka ada cewek peluk-peluk calon suami orang sembarangan.”
“Oh… jadi aku calon suami kamu, ya?” Mario menaikkan alis.
“Udah, jangan dibelokin pembicaraan. Makan yang bener,” Anggika menyuapkan lagi dengan sedikit kasar.
Mario meringis pura-pura kesakitan.
“Pelan dong, sayang. Aku pasien, bukan karung beras.”
“Manja banget. Tadi katanya kuat makan sambel segunung.”
“Itu demi kamu,” jawab Mario lirih.
Anggika terdiam sesaat.
“Jangan lebay.”
Mario menatapnya lembut.
“Serius. Aku seneng kamu cemburu. Berarti kamu peduli.”
Anggika memalingkan wajahnya yang mulai memerah.
“Aku peduli karena kamu tanggung jawabku sekarang. Jangan kegeeran.”
“Kalau bukan cemburu, kenapa kamu pasang muka jutek begitu?”
“Karena dia annoying,” balas Anggika cepat.
Mario tertawa pelan.
“Yaudah, aku seneng kamu ‘annoyed’ demi aku.”
“Berisik. Habis ini minum obat terus tidur,” kata Anggika.