Di bawah langit London yang selalu kelabu, Juliatte Fontaine hidup dalam jadwal yang diatur ketat. Baginya, keamanan adalah segalanya.
Maka, ketika gerombolan motor The Ravens menderu di depan gerbang sekolah dengan asap knalpot dan aroma pemberontakan, Juliatte hanya merasakan satu hal, kejijikan.
Puncaknya adalah William Wilson. Cowok itu adalah personifikasi dari semua yang Juliatte benci. William adalah alasan adiknya hampir celaka dalam sebuah tawuran antar-geng motor di Camden. Bagi Juliatte, William adalah kriminal, bagi William, Juliatte hanyalah gadis kaca yang akan pecah jika menyentuh realita.
Namun, sebuah insiden memaksa mereka dalam satu situasi pelarian. Juliatte melihat sisi London yang tak pernah ada di buku sejarahnya, dan William menyadari bahwa gadis kaca ini punya api yang lebih besar dari percikan mesin motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dibalik Botol Soda
Setelah kehebohan di sekolah mereda, William tidak membawa Juliatte kembali ke sangkar emas di mansion Fontaine.
Alih-alih pulang, raungan motor William justru mengarah menuju gedung tua berlantai dua yang menjadi markas The Ravens. William memutuskan untuk menyembunyikan Juliatte di sana sampai malam, sebelum nantinya mereka kembali ke pelukan hangat Mommy Eleanor.
Di dalam markas, suasana sudah pecah. Sonia sudah duduk manis di sofa bedol desa sambil mengunyah piza, sementara Jax duduk di sampingnya dengan laptop yang terbuka, meskipun matanya tidak benar-benar menatap layar.
"Lihat siapa yang datang! Pasangan paling Sayang se-London!" seru Ethan disambut sorak-sorai anggota geng motor lainnya.
Juliatte hanya bisa menutupi wajahnya dengan jaket William, sementara William merangkul bahunya posesif. "Diam atau aku akan memotong jatah piza kalian," ancam William santai.
Sore itu berlalu dengan tawa yang tidak ada habisnya. Leo, yang selalu punya ide gila, tiba-tiba menggebrak meja kayu di tengah ruangan. Di atas meja itu terdapat botol soda kosong.
"Oke, semuanya kumpul! Kita main Truth or Dare," tantang Leo.
"Aturannya sederhana, berbohong berarti kau harus minum ramuan ajaib buatan Ethan yang isinya saus tabasco dicampur susu."
Sonia bersemangat paling depan. "Ayo! Aku butuh bahan gosip baru!"
Permainan dimulai. Botol berputar cepat, melambat, lalu berhenti tepat ke arah Jax.
Sonia menyeringai nakal. "Jax, Truth or Dare?"
"Truth," jawab Jax pendek, berusaha tetap tenang meski keringat dingin mulai muncul di keningnya.
"Jaxie..." Sonia mencondongkan tubuhnya, membuat aroma parfum stroberinya menusuk hidung Jax.
"Aku perhatikan sejak tadi kau terus mencuri pandang ke bibirku saat aku bicara. Jujur, apakah kau sedang membayangkan bagaimana rasanya menciumku?"
Seketika markas menjadi sunyi. Jax membeku. Ia menatap bibir Sonia yang bergerak cerewet sejak tadi, merah dan basah karena saus piza. Jax tidak bisa berbohong di depan William dan teman-temannya. Ia hanya bisa memperbaiki letak kacamatanya dengan kaku.
"Secara biologis... ada ketertarikan visual yang meningkat," gumam Jax pelan.
"BAHASA MANUSIA, JAX!" teriak Leo sambil tertawa ngakak.
"Iya, aku ingin tahu rasanya," jawab Jax akhirnya dengan wajah semerah tomat, membuat Sonia bersorak kegirangan.
Botol kembali berputar. Kali ini, botol berhenti tepat ke arah William.
Leo menyeringai licik. Ia tahu ini adalah kesempatannya untuk menjebak sang pemimpin. "William Wilson, Truth or Dare?"
"Truth," sahut William tenang, sambil memainkan jemari Juliatte dalam genggamannya.
Leo mengambil napas panjang, memasang wajah serius yang dibuat-buat. "Oke, ini pertanyaan paling krusial untuk persaudaraan kita. Kita sudah bersama sejak umur 15 tahun. Jadi jujur sekarang di depan Juliatte... Siapa di antara kita yang sebenarnya sudah tidak perjaka?"
Pertanyaan itu seperti bom atom yang diledakkan di tengah ruangan.
Seluruh anggota The Ravens langsung meledak dalam tawa yang luar biasa kencang. Ethan sampai jatuh dari kursinya, sementara Juliatte mendadak merasa suhu ruangan naik drastis.
"Leo, pertanyaanmu sampah sekali!" teriak Ethan sambil memegangi perutnya yang kaku karena tertawa.
William hanya menyeringai miring, menatap satu per satu sahabatnya dengan tatapan meremehkan yang khas. Ia tidak menjawab dengan kata-kata, tapi ia sengaja mengeratkan pelukannya di pinggang Juliatte dan menoleh ke arah gadis itu dengan kerlingan mata yang penuh arti.
"Kalian pikir kenapa aku terlihat lebih santai daripada kalian semua yang masih jomblo tragis?" balas William santai, yang langsung disambut sorakan "BOOOO!" dari teman-temannya yang iri.
Di tengah kehebohan itu, Juliatte merasa dunia di markas ini begitu nyata. Tidak ada kepalsuan, tidak ada obsesi gila seperti Sebastian.
Di sini, ia hanya seorang gadis yang dicintai oleh pria berandalan yang punya sejuta cara untuk melindunginya.
Suasana di markas yang tadinya riuh mendadak menjadi hening yang mencekam, namun penuh dengan aura jahil. Leo, dengan wajah tanpa dosa dan rasa penasaran yang sudah di ubun-ubun, tidak puas dengan jawaban William. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap William lekat-lekat.
"Jawabanmu itu menggantung seperti jemuran, Will! Tidak jelas!" seru Leo dengan nada menantang.
"Jadi apa jawabannya? Kau masih perjaka atau sudah menyerahkannya pada seseorang? Jangan bilang sang pemimpin The Ravens ternyata masih sehijau Jax!"
Mata William menyipit, ada kilat berbahaya namun penuh tawa di sana. Juliatte sudah benar-benar menenggelamkan wajahnya di bahu William, tangannya mencubit pinggang William dengan keras sebagai tanda agar pria itu tutup mulut.
Sebelum William sempat membuka bibirnya untuk memberikan jawaban yang mungkin akan membuat seisi ruangan pingsan, Ethan dengan sigap melompat dari kursinya. Ia langsung membekap mulut Leo dengan telapak tangannya yang lebar.
"Diam, bodoh! Kau mau kita semua mati digilas motornya?!" teriak Ethan sambil menyeret Leo mundur. "Ada Juliatte di sini, jaga bicaramu! Kau tidak lihat wajahnya sudah lebih merah daripada saus?"
William tertawa rendah, suara beratnya bergema di ruangan yang remang itu. Ia menarik Juliatte lebih rapat ke dalam dekapannya, mencium pelipis gadis itu dengan santai seolah ingin menunjukkan bahwa dialah pemenangnya di sini.
"Leo, rasa penasaranmu itu akan membuatmu berakhir di rumah sakit suatu hari nanti," kata William tenang, namun tatapannya yang penuh rahasia tetap tidak memberikan jawaban pasti, membuat teman-temannya semakin gila karena penasaran.
Sonia yang melihat itu hanya bisa tertawa terbahak-bahak sambil memukul-mukul paha Jax. "Lihat mereka, Jax! Mereka seperti anak kecil yang sedang meributkan mainan!"
Jax, yang masih dalam mode kaku, hanya bisa bergumam pelan, "Secara, privasi adalah hal yang sangat langka di ruangan ini." Namun diam-diam, matanya kembali mencuri pandang ke arah Sonia, teringat pertanyaannya tadi yang belum benar-benar ia tuntas eksekusi.
Malam mulai turun, dan meski tawa masih meledak di markas, William tahu waktunya sudah tiba. Ia berdiri, meraih kunci motornya, dan menatap Juliatte dengan lembut.
"Ayo, Fontaine. Sebelum mereka mulai bertanya tentang ukuran sepatumu, lebih baik kita pergi," ajak William.
Juliatte berdiri dengan lega, merasa terselamatkan dari interogasi gila para sahabat William.
Namun, saat mereka berjalan menuju pintu, William sempat menoleh ke arah Leo dan mengedipkan mata, sebuah kode yang hanya dipahami oleh para pria di sana, membuat Ethan dan Leo kembali bersorak heboh seolah baru saja mendapatkan jawaban paling mengejutkan sepanjang sejarah geng mereka.
Setelah suara deru mesin motor William dan taksi yang membawa Sonia menghilang di kejauhan, suasana markas yang tadinya tegang namun meriah berangsur-angsur sedikit tenang. Namun, tenang bagi seorang Leo berarti kesempatan untuk melanjutkan investigasi yang tertunda.
Leo melepaskan tangan Ethan yang tadi sempat membekap mulutnya. Ia mengatur napas sejenak, lalu menatap Ethan dengan ekspresi yang sangat serius, seolah-olah ia sedang menanyakan masalah hidup dan mati.
"Oke, sekarang mereka sudah pergi," bisik Leo sambil menoleh ke arah pintu untuk memastikan William tidak mendadak kembali karena ketinggalan kunci. "Jawab jujur, Ethan. Kau kan yang paling dekat dengannya selain Jax. Apakah pemimpin kita itu sebenarnya sudah tidak lagi perjaka? Maksudku, lihat caranya menatap Juliatte tadi... itu bukan tatapan amatir!"
Ethan terdiam sejenak. Ia menatap langit-langit markas yang berdebu, seolah sedang merenungi beban memiliki teman seperti Leo. Tanpa peringatan, Ethan mengangkat tangannya dan memukul pelan kepalanya sendiri dengan telapak tangan, sebuah gestur frustrasi yang sudah sangat sering ia lakukan.
"Dia masih perjaka, bodoh!" seru Ethan dengan suara tertahan agar tidak terdengar sampai keluar.
Leo melongo. "Apa?! Serius? Dengan wajah seperti itu? Dengan motor keren dan otot seperti itu? Kau bercanda, kan?"
"Dengar, Leo," Ethan menghela napas panjang, kali ini ia menatap Leo dengan tatapan iba. "William itu mungkin terlihat seperti berandal yang bisa mendapatkan wanita mana pun hanya dengan satu kedipan mata. Tapi kau tahu sendiri bagaimana prinsipnya. Dia tidak pernah membiarkan sembarang orang masuk ke dunianya, apalagi ke kamarnya."
Ethan mengambil sepotong sisa piza yang sudah dingin. "Sebelum ada Juliatte, hidupnya hanya soal mesin motor, kita, dan ibunya. Dia itu tipe yang sangat setia pada satu hal. Jika dia belum menemukan seseorang yang bisa membuatnya merasa hidup, dia tidak akan pernah memberikan miliknya yang paling berharga hanya untuk kesenangan satu malam."
Leo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Jadi... Juliatte adalah yang pertama?"
"Dia adalah yang pertama untuk segalanya bagi William," jawab Ethan sambil mengangguk mantap.
"Kau lihat sendiri kan semalam di pesta? William bahkan tidak membiarkan satu pria pun mendekati radius satu meter dari Juliatte. Dia menjaganya seperti berlian. Jadi berhenti menanyakan hal konyol itu sebelum William benar-benar menanammu di bawah aspal sirkuit."
Jax yang sedari tadi hanya menyimak sambil merapikan kabel laptopnya, akhirnya angkat bicara tanpa mengalihkan pandangan. "Secara teknis, William memiliki tingkat kontrol diri yang jauh di atas rata-rata manusia di ruangan ini. Terutama dibandingkan denganmu, Leo."
Leo akhirnya terdiam, ia tampak merenung sambil membayangkan betapa mahalnya seorang William Wilson. "Wah... jadi si porselen itu benar-benar mendapatkan versi terbaik dari bos kita, ya?"
Ethan hanya memutar bola matanya, bersyukur bahwa sesi tanya jawab mesum ini berakhir, setidaknya sampai botol permainan Truth or Dare diputar lagi di lain waktu.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading dear😍