NovelToon NovelToon
A Killer Reborn

A Killer Reborn

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Elizabeth Valerie, seorang pembunuh bayaran yang terkenal kejam dan dingin, mati diracun oleh orang-orang kepercayaannya. Namun, kematian bukanlah akhir baginya. Alih-alih pergi ke alam baka, jiwanya justru terjebak di tubuh seorang gadis miskin yang mati dengan mengenaskan.

Bersama ingatan dan rasa sakit milik Elijah, Elizabeth bertekad bahwa ia harus membalaskan dendam gadis itu jika ingin pergi dengan damai. Elizabeth pun menjalani kehidupan keduanya yang sulit dan miskin demi membalaskan dendam sang gadis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AKR 19 — Pria Asing

Malam sudah turun ketika Elizabeth meninggalkan rumah keluarga Raine. Udara terasa lembap, lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kuning pucat di atas aspal yang masih menyimpan sisa panas siang. Ia berjalan dengan langkah pelan, sementara pikirannya sibuk merangkai ulang percakapan-percakapan hari itu.

Ketika ia berbelok ke jalan yang lebih sepi menuju rumahnya, suara langkah lain terdengar samar di belakangnya. “Ada yang mengikutiku,” gumamnya seraya memasang sikap waspada. 

Elizabeth tidak menoleh. Ia justru memperlambat langkahnya sedikit, memberi ruang pada suara itu untuk mendekat. Jantungnya berdetak pelan seirama dengan langkahnya. 

 

Namun sebelum ia sempat berbalik dan memastikan siapa yang mengikutinya, sebuah tangan tiba-tiba menarik lengannya dengan kuat.

Dalam sekejap, tubuhnya diseret ke sebuah gang kecil di antara dua bangunan tua. Punggungnya menabrak dinding yang dingin, dan sebuah tangan lain menutup mulutnya.

“Ssst, diam,” bisik suara pria di dekat telinganya. “Jangan bersuara.”

Elizabeth membeku sepersekian detik, bukan karena takut, melainkan karena terkejut pada keberanian orang asing ini. Ia menatap pria itu dengan tajam. Wajahnya tertutup bayangan, hanya garis rahang dan sorot matanya yang samar terlihat dalam cahaya redup dari ujung gang.

Pria itu mengurung tubuhnya dengan posisi yang cukup kuat, satu tangan menahan bahunya, satu lagi masih siap membungkamnya jika perlu. Elizabeth mencoba menggerakkan lengannya, tetapi ruang geraknya terbatas.

Ia jelas tahu ia sedang dalam bahaya.

Pria itu mengintip ke arah jalan utama, napasnya tertahan seolah menunggu sesuatu. Lalu ia menunduk sedikit dan berbisik lagi, “Ada seseorang yang mengikutimu,” katanya seraya melepaskan tangannya dari bibir Elizabeth. 

Elizabeth memicingkan mata. “Aku tahu,” balasnya dengan suara serendah mungkin. “Dan aku berniat melawannya saat ada kesempatan.”

Ia sudah memperhitungkan jarak, posisi, dan sudut serangan. Satu langkah lagi dan ia bisa memancing penguntit itu mendekat lalu menghajarnya seperti yang biasanya ia lakukan. 

Namun sebelum rencananya sempat berjalan, pria asing itu justru menariknya lebih dalam ke balik bayangan gang.

“Jangan bodoh,” gumamnya. “Kau tidak tahu siapa dia.”

Elizabeth mendengus pelan. “Aku tidak butuh diselamatkan oleh siapapun, terutama kau!”

Pria itu menoleh padanya, sorot matanya kini jelas terlihat. Ada sesuatu di sana yang membuat Elizabeth lama menatapnya, bukan ketakutan, melainkan kewaspadaan yang terlatih.

Beberapa detik kemudian, suara langkah yang tadi mengikutinya benar-benar terdengar melewati ujung gang. Siluet seseorang melintas, berhenti sejenak, lalu melanjutkan jalan.

Keduanya tetap diam sampai suara itu benar-benar menghilang. Baru setelahnya pria tersebut melepaskan cengkeramannya dari bahu Elizabeth. 

Ia mundur satu langkah, tetapi masih berdiri cukup dekat. Senyum tipis terukir di bibirnya. “Tidak semua orang bisa kau lawan sendirian,” katanya pelan. “Apalagi kau perempuan. Kau bisa saja terluka. Atau mungkin kalah dalam satu serangan.”

Kalimat itu menggantung di udara, terdengar seperti nasihat yang dibungkus kesombongan.

Elizabeth menatapnya tanpa berkedip. Ada nada meremehkan yang tidak ia sukai.

Ia mendengus. “Aku bukan perempuan yang lemah,” katanya seraya menepuk-nepuk bahunya pelan, seolah ingin menghapus jejak tangan pria itu dari tubuhnya. 

Sebelum pria itu sempat merespons, Elizabeth mengangkat kakinya dan menendang lutut pria tersebut dengan keras dan tepat sasaran.

Pria itu terhuyung, wajahnya berubah terkejut ketika rasa nyeri menjalar dengan cepat. Ia nyaris kehilangan keseimbangan, tangannya refleks menyentuh dinding untuk menahan diri.

Elizabeth tidak menunggu semenit pun untuk pergi dari sana. Ia melangkah keluar dari gang itu dengan cepat, meninggalkan pria asing yang masih memulihkan diri di belakangnya. Langkahnya tegas, tidak menoleh sedikit pun.

Di balik rasa kesalnya, pikirannya tetap bekerja. “Siapa sebenarnya yang mengikutiku tadi?” Gumamnya pelan, masih bersikap waspada. Matanya yang tajam melirik sekitar, mungkin saja penguntit itu masih bersembunyi. 

“Sialan, semuanya karena pria aneh itu. Siapa dia sebenarnya? Berani sekali dia menghalauku tadi, jika tidak, aku pasti sudah bisa menghajar penguntit itu tadi,” monolog Elizabeth, masih merasa kesal. 

Tanpa Elizabeth duga, pria aneh tadi masih mengikutinya di belakang. Pria itu bahkan memanggil-manggilnya dengan langkah terseok. 

“Hei, Nona. Tunggu aku! Kenapa jalanmu cepat sekali?” teriaknya beberapa langkah di belakang Elizabeth. 

Elizabeth memilih tidak memedlikannya dan terus berjalan maju. Tinggal beberapa tikungan lagi hingga ia bisa sampai di rumahnya. 

Namun, tanpa diduga, pria itu mencekal tangannya. Napasnya terengah, tetapi wajahnya tetap tersenyum saat ia berhasil mengejar langkah Elizabeth. 

“Setidaknya, berterima kasihlah kepadaku, Nona,” katanya dengan cengirannya yang lebar. 

Elizabeth menatap tangan pria tak dikenal itu lalu menepisnya kasar. “Apa tendanganku masih kurang?” ledeknya menatap lutut pria itu. 

“Aku suka caramu berterima kasih,” katanya dengan percaya diri. Lalu, ia mengulurkan tangan. “Namaku Sullivan.” 

Elizabeth mengernyit, sama sekali tak ingin menyambut uluran tangan pria itu. “Mau apa kau mengikutiku?” tanyanya penuh selidik. 

Alih-alih menjawab, pria bernama Sullivan itu tertawa. “Mengikutimu? Siapa yang bilang aku mengikutimu?” tanyanya balik seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. 

Selama beberapa saat, Elizabeth menelisik penampilan pria itu dari atas hingga ke bawah. Pria itu memiliki postur tubuh yang tegap, wajahnya bersih tanpa cela dengan hidung yang mancung, alis tebal dan rahang yang tegas. 

Pria itu menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Elizabeth. “Hei, Nona. Namamu … Elijah, kan?” 

“Dari mana kau tahu namaku?” tanya Elizabeth lagi, antara penasaran dan curiga. 

Pria itu tersenyum tipis, mempersempit jaraknya dengan Elizabeth. “Aku tahu banyak hal,” katanya setengah berbisik. “Kelak, kau akan tahu … dan mungkin, kau juga akan membutuhkan bantuanku.”

Lalu, Sullivan melangkah pergi dari sana dengan santai, seolah tak ada yang terjadi.

Sementara Elizabeth masih terheran-heran di tempatnya berdiri. “Siapa sebenarnya dia? Aneh sekali,” gumamnya, lalu kembali berjalan. 

***

Di apartemennya, Benjamin tak henti-hentinya menatap ponselnya, menunggu kabar penting dari seseorang sambil terus melirik jam.

"Dia berhasil atau tidak? Kenapa lama sekali?" gumamnya tak sabar.

Tak lama kemudian, ponselnya bergetar pelan. Benjamin langsung membuka ponselnya dan membaca pesan dari orang bayarannya.

"Sial! Kenapa dia bisa gagal? Padahal ini hanyalah tugas sederhana!" makinya kesal. "Sepertinya, aku harus melakukannya sendiri. Dan kali ini harus berhasil, bagaimanapun caranya."

1
awesome moment
mesti mengumpulkan ingatan utk merangkai cerita meski cm sekedar baca
Night Watcher
mood ku mulai hilang tor, karna terlalu lama teka teki sulivan.
kalo bab berikutnya masih gak terungkap, kyknya mending gak lanjut deh..😇
❤️⃟Wᵃf༄SNѕ⍣⃝✰🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ🦀
mulai curiga.
awesome moment
smg eliz ttp tersamar dlm tubuh elijah
awesome moment
d yg jd stalker eliz
awesome moment
eliz sdg bermain. spt mrk mempermainkan elijah dlu. melecehkan elijah. merekam dan menjual. bahkan dajjalpun spt.nya hrs berguru ke mrk soal kekejian
awesome moment
good. kehadiran eliz jd bukti kesakitan yg slama n elijah derita
awesome moment
bikin perkara n manusia buzuk 1
awesome moment
smg eli tdk dihalangi
awesome moment
😄😄😄mrk butuh disiksa, eli
Night Watcher
sayangnya elij gak bisa menyamarkan sikapnya agar gak menimbulkan kecurigaan, utk memuluskan langkah selanjutnya.
awesome moment
👍👍👍cerdik
awesome moment
duh...kasihan bgts ternyata elijah..
awesome moment
duh...smg elijah bukan sasaran pelecehan berkali2
Night Watcher
sudah saatnya ikutan sukreb..👌
Night Watcher
hingga bab ini, alurnya bagus & penyajiannya simpel dan asyik diikuti.👌💪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ada, Elijah buktinya 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Fisik nya sama tapi roh nya beda 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang sudah berubah 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
dan sekarang akan balas dendam 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!