Meila Ayunda Aksara, mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Dia membatalkan pernikahannya dengan tunangannya, Zayan Wijayakusuma. Dia tidak peduli jika keputusannya itu akan membuat nama baik keluarga Aksara rusak. Bagi Meila, keluarga itu sudah rusak sejak lama.
Sudah saatnya Meila membuka topeng keluarganya yang selalu memperlakukan dirinya dengan tidak adil. Selama ini, kedua orang tuanya dan kedua kakaknya menganggap Meila sebagai anak pembawa sial. Cacian dan makian menjadi makanan sehari-hari yang harus Meila terima.
Keputusan besar Meila itu justru membuatnya bertemu dengan Abyan Rayendra Hasan, pria yang siap memberikan Meila sebuah keluarga.
Bagaimana kehidupan Meila setelah dia meninggalkan keluarganya dan Zayan?
Bagaimana kehidupan Meila bersama Abyan?
Yuk simak kisahnya di Setelah Aku Pergi hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Bukan Paman Beni
Di kontrakan Hana dan keluarganya, Melisa dan oma Risa baru saja tiba. Mereka baru pulang dari rumah sakit Wijaya. Kedatangan Melisa ke rumah sakit tersebut sengaja untuk menemui Meila dan memprovokasi istri Abyan tersebut. Melisa dan oma Risa sudan merencanakan hal ini dengan matang. Sebelumnya, Melisa sudah mendapatkan informasi dari orang yang bisa dipercaya tentang kedatangan Meila ke rumah sakit pagi ini untuk menemui Beni.
Sementara Melisa ribut dengan Meila, oma Risa menemui dua preman yang dia bayar untuk menjalankan rencananya mengakhiri hidup Meila. Ini bukan pekerjaan baru bagi wanita tua itu. Bukan hal sulit bagi oma Risa merencanakan sebuah pembunuhan terhadap targetnya.
Saat kejadian Meila ditabrak mobil, nenek dan cucu itu menyaksikan dari dalam mobil Melisa yang terparkir di depan rumah sakit.
"Kita tunggu beberapa jam lagi. Oma sangat yakin, anak pembawa sial itu tidak akan selamat."
Melisa hanya menganggukkan kepalanya. Dia sudah merencanakannya sebaik mungkin. Melenyapkan Meila, mempermudah dia untuk mendapatkan Abyan. Karena itu, dia bersedia bekerjasama dengan oma Risa untuk menyusun skenario kecelakaan Meila.
Tapi Melisa sedikit kesal, karena ada yang membantu Meila dan Mariska. "Siapa pria itu? Kenapa dia tiba-tiba muncul. Kalau tidak, Meila pasti sudah tewas di tempat." Melisa bergumam dalam hati.
"Aku tidak bisa hanya menunggu. Aku harus memastikan keadaan Meila." Lagi, Melisa bergumam dalam hati.
"Sudah waktunya Aku berangkat kerja, Oma. Aku pergi dahulu. Hari ini Aku pulang malam Oma. Aku ikut bos meeting diluar." Melisa pamit pada Risa.
Saat Melisa keluar dari rumah, dia bertemu Hana. "Mau kemana Kamu?" Tanya Hana.
Sebenarnya Hana sudah mengusir Melisa. Menurut Hana, Melisa lah penyebab dia kehilangan kekayaan Aksara. Tapi sang ibu masih saja mempertahankan Melisa, karena selama ini Melisa adalah cucu kesayangan oma Risa. Terlebih lagi, sifat mereka juga sama. Sama-sama iri dengan kebahagiaan orang lain.
"Aku mau bekerja Ma."
Hana menyipitkan matanya. Tidak percaya Melisa mau bersusah payah mencari uang. Selama ini Melisa selalu menolak setiap Beni memintanya untuk membantu Beni dan Mirza di perusahaan.
"Kerja di mana yang siang hari seperti ini baru berangkat dan pulang sesuka hati kamu saja?" Tanya Hana curiga.
"Aku bekerja di perusahaan milik ayah temanku. Aku izin masuk siang karena hari ini Aku mengantar oma ke rumah sakit."
"Jangan bohong kamu!" Hana tidak bisa percaya begitu saja dengan apa yang Melisa katakan saat ini.
Akibat kebohongan Melisa, membuat Beni menceraikannya dan kembali miskin seperti sebelumnya. Hana sangat marah dan kesal. Apalagi usahanya untuk kembali bersama ayah Mirza pun gagal. Pria itu sudah menikah dengan putri salah satu pejabat pemerintahan. Sulit bagi Hana untuk bersaing, karena tidak memiliki dana yang cukup.
"Hana, kamu kenapa bawaannya curiga terus sama Melisa. Dia memang mau berangkat kerja. Dia tadi mengantar Mami berobat ke rumah sakit. Dia cucu mami yang berbakti. Tidak seperti putra kamu. Jangankan mengantarkan Mami ke rumah sakit, menjenguk saja dia tidak datang."
Hana mendengus kesal. Setiap kali dirinya bicara dan memarahi Melisa, ibunya selalu saja membela. Mendapat pembelaan, Melisa segera pamit. Dia tidak ingin lebih lama lagi berada di rumah. Melisa melangkah dengan cepat meninggalkan kontrakan.
Di rumah sakit Alamanda, Arbie mencoba menghubungi bibi Lusi yang masih berada di rumah sakit Wijaya. "Baik Bi, Aku paham. Amankan dia dengan baik. Segera bawa ke markas paman Narendra."
"Bagaimana?" Tanya Narendra untuk memastikan dugaan mereka benar.
"Seperti yang Meila sampaikan pada kita. Yang berada di rumah sakit bukan paman Beni. Dia orang lain yang mengoperasi wajahnya mirip dengan paman Beni."
"Meila tidak mungkin salah mengenali orang, sekalipun dia operasi wajah. Dia ahli dalam bidang ini. Kepintaran yang dia dapatkan dari ibu kalian. Dia datang ke rumah sakit dan bersandiwara untuk memastikan hal ini. Sayang Meila harus membayar mahal untuk semua ini. Kita gagal Arbie."
"Kalau begitu, jangan sia-siakan pengorbanan adikku Paman. Ini kesempatan kita untuk membalas. Kita tidak perlu bersembunyi lagi."
"Meila pernah mengatakan padaku, ada orang lain yang menginginkan perusahaan Aksara." Erik menimpali obrolan paman dan keponakan itu. Sejak tadi dia hanya menyimak saja.
"Kemungkinan, orang itu juga yang menghasut Zayan untuk menarik sahamnya dan membatalkan kerja sama dengan Aksara."
"Siapa?" Tanya Arbie dan Narendra bersamaan.
"Kenapa kami tidak bisa mendapatkan informasi ini?" Sambung Narendra pertanyaannya.
"Aku juga tidak tahu, Meila masih merahasiakannya. Sepertinya, permintaan Meila untuk menyelamatkan paman Beni ada hubungannya dengan orang tersebut."
"Kita tanyakan nanti pada Meila kebenarannya." Putus Narendra.
"Lalu siapa pria paruh baya yang menurut Mariska adalah Beni. Pengawal bayangan Abyan juga mengatakan kalau pria itu Beni."
"Mungkin itu benar paman Beni," ucap Erik.
"Atau mungkin ayah Barra?"
Erik dan Narendra kompak melihat pada Arbie. "Kamu tidak salah bicara?" Erik yang bertanya.
"Waktu Aku menemui paman Beni, dia menceritakan pertemuan terakhirnya dengan ayah Barra."
"Jadi kamu sudah mendengar cerita versi Beni." Arbie mengangguk.
"Ayah menitipkan Meila pada paman, karena tahu nyawanya terancam. Sementara Meila butuh ketenangan. Setelah itu ayah pergi. Tak lama dari itu, mobil ayah dikabarkan kecelakaan. Mobilnya terbakar, begitu juga dengan jasad yang berada di samping mobil yang terbakar itu, sehingga tidak bisa dikenali. Beni yakin itu ayah karena, ada kartu identitas milik ayah yang ditemukan petugas saat itu. Bisa saja ayah selamat. Jasad yang ditemukan justru mayat orang lain."
Narendra diam, mencoba mencerna penjelasan Arbie. Pengalamannya terjun langsung di dunia bawah dengan didikan opa Alan, tentu bukan hal yang sulit untuk membuat orang seolah-olah menjadi korban kecelakaan.
"Mariska." Suara Abyan menarik perhatian mereka semua.
Abyan baru sampai bersama Feri, keduanya menghampiri Mariska yang duduk di kursi roda sambil menyimak percakapan Narendra, Arbie, dan Erik. Feri langsung membawa Mariska kedalam pelukannya. Sementara Abyan memperhatikan kondisi adik sepupunya itu.
"Kamu terluka. Kamu harus dirawat Mariska. Feri akan mengantarkan kamu ke kamar rawat."
Mariska yang menangis dalam pelukan Feri, menegakkan tubuhnya dan menoleh menatap Abyan.
"Bang, Aku sudah gagal menjaga kakak ipar. Dia terluka Bang. Bagaimana bisa Aku berbaring di kamar?"
Abyan memejamkan matanya sejenak, lalu berjongkok menghadap Mariska. "Semua akan baik-baik saja. Kamu sudah menjaga Meila dengan baik. Abang yang lalai menjaga kalian. Sekarang kamu harus dengarkan Abang. Kamu harus istirahat Mariska. Abang tidak mau kamu kenapa-kenapa. Pergilah dengan Feri ke kamar kamu."
Feri berdiri, dia juga sedih melihat Mariska yang terlihat kacau. "Ayo Abang antar ke kamar kamu. Abang mau dengar kondisi kamu dari dokter langsung."
"Baiklah," ucap Mariska pasrah.
Tidak lama setelah kepergian Mariska dan Feri. Pintu ruang operasi terbuka. Arbie dan Abyan langsung menghampiri dokter William.
"Bagaimana keadaan mereka dok?" Tanya Abyan cepat.
"Kami masih memengobati luka-luka nyonya Meila. Nyonya membutuhkan darah tambahan. Tapi kami tidak memiliki stok darah yang sama dengan nyonya, karena langka. Untuk laki-laki yang bersama nyonya, dia sudah melewati masa kritisnya. Kami akan memindahkan beliau ke kamar rawat."
"Apa golongan darah istri saya, Dok?"
"Golongan darah Meila sama dengan Arbie dan Paman, Abyan." Narendra yang menjawab.
"Kami paman dan saudara Meila. Kami akan memberikan darah kami, Dok." Arbie yang sempat lemas mengetahui kondisi adiknya segera memberikan keputusan.
Arbie dan Narendra mengikuti perawat untuk melakukan pemeriksaan. Sedangkan Abyan menunggu di depan ruang operasi dengan perasaan cemas, ditemani Erik.
Dewi, Opa Alan, dan oma Amanda yang baru datang, segera menghampiri Abyan dan Erik. Mereka langsung berangkat ke rumah sakit setelah mendapat kabar Meila kecelakaan.
"Abyan, Erik, bagaimana keadaan Meila?"
"Masih di dalam Opa. Meila membutuhkan tambahan darah. Arbie dan paman Narendra sedang mendonorkan darah untuk Meila."
"Syukurlah, Arbie dan Narendra memiliki golongan darah yang sama," balas oma Amanda, atas penjelasan Abyan.
Semua setuju dengan pernyataan oma Amanda. Mereka harus bersyukur diberikan kemudahan, sehingga Meila bisa segera mendapatkan perawatan yang terbaik.
Tidak begitu lama, Arbie dan Narendra kembali. Erik langsung memberitahu keduanya. "Om, Arbie, orang yang menolong Meila, sudah dipindahkan ke kamar rawat. Feri yang mengurusnya."
"Kami keruangan orang itu dulu untuk memastikan orang yang menolong Meila adalah orang yang kami maksud."
"Tunggu! Maksud kalian apa?" Abyan yang bertanya.
"Menurut Mariska dan orang-orang kamu, yang menolong Meila adalah Beni."
"Beni sudah sehat?" Tanya opa Alan. Arbie dan Erik menggeleng bersamaan.
"Lalu?" Tanya opa Alan lagi.
"Ini yang Aku dan Arbie akan pastikan Pa."
"Pergilah Nak. Kita harus tahu, siapa orang baik itu, yang rela mengorbankan nyawanya untuk Meila." Oma Amanda yang bicara.
Arbie dan Narendra meninggalkan keluarga mereka untuk bertemu orang yang menolong Meila. Ada harapan besar dalam benak Arbie, jika pria itu benar ayah Barra. Seandainya bukan pun, Arbie tetap akan mengucapkan beribu-ribu terima kasih, telah menyelamatkan Meila.
berasa kalian tu janjian hamil ny ,, 😁😁😁😁
Waahhh......kompak bnr nih clon ibu....
kpn bs hdp tnang kl pnjhtnya msh bnyak.....🤦♀🤦♀🤦♀
trnyta mak lampir ni yg jd biang keroknya.....jgn smp lolos kli ni,hbisi smp k akarnya biar klian hdp tenang....
mreka msti d krim k alam lain dlu,baru pd diem....kl ttp d dnia yg sma,mlutnya julid trs....
semoga para musuh cepat di singkirkn ,,
dsr ga waras....mngkn emng lbh baik mreka jd gmbel d jlanan sih,drpd bkin rusuh....
msuh ga ada hbisnya,enth msuh mna lg kli ini.....
kasihan meila Dan abyan selalu di kelilingi musuh truuus ,,
dalam mimpi ny juga ogah si feri rum ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
mngkn arumi ga bhgia,jdnya dia nyari meila buat crita....