Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.
Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.
Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.
Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?
#areakhususdewasa ⚠️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 (Part 1) Air yang Tenang dan Api yang Tersembunyi
Matahari baru saja naik setinggi galah, namun hawa panas sudah mulai memanggang aspal SMA Wijaya Kusuma. Bagi sebagian besar siswa, jam olahraga adalah waktu yang dinanti untuk bersantai. Namun bagi Kella, setiap pergantian jam pelajaran adalah langkah kaki menuju medan perang yang baru.
Pagi ini, suasana di koridor terasa lebih gerah dari biasanya. Bisik-bisik siswa yang lewat di sampingnya terdengar seperti dengungan lebah yang mengganggu.
"Liat tuh, 'peliharaan' kesayangan Gala datang."
"Denger-denger hari ini dia mau dikasih 'pelatihan' khusus sama Reno."
Kella terus berjalan menunduk, memeluk buku catatannya erat-erat. Ia sudah membasuh wajahnya berkali-kali di wastafel sekolah, mencoba menghapus sisa kantuk dan bayangan air mata Gala semalam. Di dalam tasnya, kartu memori yang berisi rahasia besar itu sudah tidak ada, ia telah menyembunyikannya di tempat yang paling tidak terduga—di dalam boneka kecil gantungan kunci yang ia jahit sendiri, yang kini tergantung tenang di tas lusuhnya.
Pukul 09.00 WIB – Area Kolam Renang Sekolah
Kolam renang SMA Wijaya Kusuma adalah simbol kemewahan sekolah ini. Airnya yang biru jernih dikelilingi oleh lantai pualam putih yang mengkilap. Namun bagi Kella, tempat ini terasa seperti penjara terbuka.
Di pinggir kolam, Reno sudah berdiri dengan angkuh bersama teman-temannya. Ia memegang sebuah ember besar berisi air sabun yang sangat pekat. Di sampingnya, Gala duduk di kursi panjang milik pengawas kolam, mengenakan kacamata hitam dan memegang minuman kaleng dingin.
"Nah, ini dia bintang tamu kita!" seru Reno saat melihat Kella muncul di pintu masuk area kolam.
Gala tidak bergerak. Dari balik kacamata hitamnya, ia menatap Kella dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia mengambil satu tegukan minumannya, lalu memberikan isyarat dengan jempolnya yang mengarah ke bawah—sebuah perintah untuk memulai "eksekusi".
"Kella, sayang," panggil Reno dengan nada mengejek yang memuakkan. "Kolam ini udah mulai licin. Gue nggak mau anggota tim renang kita terpeleset gara-gara lo males kerja. Jadi, tugas lo simpel: sikat seluruh lantai di sekeliling kolam ini sampai nggak ada satu pun lumut atau noda. Paham?"
Kella menatap luasnya area kolam. "Seluruhnya, Reno? Sendirian?"
"Oh, lo mau bantuan?" Reno menoleh ke arah Gala.
"Gal, dia minta bantuan nih. Gimana?"
Gala menurunkan kacamatanya sedikit, menatap Kella dengan dingin. "Lo asisten gue, Kalau Reno bilang sikat, ya sikat. Kalau lo nggak selesai sebelum jam istirahat kedua, lo nggak boleh makan siang. Dan gue bakal mastiin lo berdiri di tengah lapangan upacara sampai sore."
Kella menelan ludah. Hatinya mencelos, meski ia tahu ini adalah bagian dari sandiwara. Namun, cara Gala mengucapkannya terasa begitu nyata hingga menimbulkan perih di dadanya.
Kella mengambil sikat besar bergagang panjang dan mulai berlutut. Ia mulai menyikat lantai pualam itu satu demi satu. Sinar matahari mulai membakar tengkuknya. Keringat mulai bercucuran, membasahi seragamnya yang tipis.
Reno tidak membiarkannya bekerja dalam tenang. Setiap kali Kella selesai menyikat satu area, Reno dengan sengaja menumpahkan sisa minuman sodanya ke area yang sudah bersih tersebut.
"Ups, kotor lagi. Ulangi ya, Kella," tawa Reno pecah, diikuti oleh tawa teman-temannya.
Gala tetap diam. Ia bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Kella yang sedang membungkuk. Saat ia melewati Kella, ia sengaja menendang ember air milik Kella hingga tumpah membasahi rok gadis itu.
"Jangan lambat. Gue nggak suka orang lelet," desis Gala.
Namun, saat ia menendang ember itu, Gala menjatuhkan sesuatu dari saku celananya—sebuah botol kecil berisi cairan bening. Benda itu berguling tepat ke arah kaki Kella. Kella melirik botol itu, itu adalah tabir surya tingkat tinggi.
Di label botol itu, tertulis catatan kecil dengan spidol permanen: "Pakai ini saat mereka nggak liat. Di gudang ada air mineral di balik tumpukan pelampung."
Kella segera menyembunyikan botol itu di balik lipatan bajunya saat Reno sedang sibuk merayu salah satu siswi yang lewat.
....
Sementara Kella berjuang di bawah terik matahari, Gala kini berada di dunia yang berbeda. Ia baru saja turun dari mobil mewah ayahnya di depan sebuah gedung pencakar langit yang didominasi kaca gelap.
"Ingat, Gala," suara ayahnya, Bramantyo Alangkara, terdengar berat dan penuh wibawa di dalam mobil.
"Hari ini kamu hanya akan duduk di ruang rapat dan mendengarkan. Jangan banyak bicara. Perhatikan bagaimana cara Ayah mengendalikan orang-orang itu. Suatu saat, gedung ini akan menjadi milikmu."
Gala mengangguk patuh. "Baik, Ayah."
Gala berjalan di belakang ayahnya, melewati lobi yang luas di mana semua karyawan menunduk hormat. Ia merasa muak. Di setiap sudut gedung ini, ia seolah mencium bau darah dan keringat kakaknya, Gabriel. Ia teringat dokumen semalam—bagaimana gedung ini mungkin berdiri di atas tanah yang dirampas secara paksa.
Mereka masuk ke ruang rapat di lantai 50. Di sana sudah berkumpul beberapa direksi dan pengacara perusahaan.
"Kita akan membahas percepatan proyek Green Residence di sektor timur," ujar Bramantyo memulai rapat.
Gala duduk di pojok ruangan, membuka tabletnya seolah sedang mencatat poin-poin penting. Namun, diam-diam ia sedang memindai jaringan Wi-Fi internal perusahaan. Ia mencoba mencari celah untuk memasukkan kartu memori yang ia miliki ke server utama tanpa terdeteksi oleh sistem keamanan tingkat tinggi ayahnya.
Sepanjang rapat, Gala mendengarkan ayahnya berbicara tentang "pembersihan area" dan "kompensasi minimal". Setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya membuat kemarahan Gala semakin memuncak. Gabriel benar. Ayah mereka adalah seorang monster yang mengenakan setelan jas mahal.
Tiba-tiba, seorang asisten masuk dan membisikkan sesuatu ke telinga Bramantyo.
"Ada masalah di lapangan?" tanya Bramantyo dengan nada tajam.
"Hanya masalah kecil, Pak. Ada beberapa warga dari panti asuhan lama yang masih mencoba mengajukan tuntutan lewat pengacara jalanan. Tapi kami sudah menanganinya."
Gala mempererat genggamannya pada tablet. Menanganinya. Kata itu terdengar sangat dingin. Ia tahu betul apa artinya "menangani" dalam kamus ayahnya. Dulu, Gabriel juga "ditangani" dengan cara dibuang dan dianggap mati.
....