NovelToon NovelToon
Aku, Kamu, Dan Takdir

Aku, Kamu, Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Kisah cinta masa kecil / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Persahabatan / Berbaikan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nita Karimah

Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.

Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22 Terungkap

Takdir tak pernah tergesa, namun selalu tiba pada waktu yang paling tepat.

—Aldivano Athariz—

Sore itu, kediaman keluarga Cendana tampak berbeda dari biasanya. Rumah besar dengan halaman luas yang selama ini berdiri anggun seperti ratu dalam diam, kini terasa lebih hidup. Lampu-lampu kecil dipasang di sepanjang pagar dan taman, berkelip lembut seperti bintang-bintang yang turun dari langit untuk ikut merayakan kebahagiaan.

Angin berembus pelan, menggoyangkan tirai putih di ruang tamu seperti kain yang menari mengikuti irama rahasia. Di dalam rumah, aroma bunga lily dan mawar bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang hangat dan haru sekaligus.

Hari itu, Celine belum tahu apa pun.

Ia masih bersama sahabat-sahabatnya, menikmati sisa euforia kelulusan. Ia tak menyangka bahwa di rumah, keluarganya sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar ucapan selamat.

Mommy Chailey berdiri di tengah ruang keluarga, memeriksa ulang dekorasi. Gaunnya berwarna pastel lembut, wajahnya berseri-seri seperti matahari pagi yang baru terbit.

“Balonnya jangan terlalu rendah, nanti nutup tulisan,” ucapnya lembut namun tegas.

Tulisan besar di dinding berbunyi:

Congratulations, Our Princess!

Di sudut ruangan, meja panjang dipenuhi makanan favorit Celine. Dari hidangan utama hingga dessert manis kesukaannya. Semua tersusun rapi seperti barisan prajurit yang siap menyambut kemenangan.

Bunda Afsheen berdiri di sampingnya, tak kalah antusias. Senyum di wajahnya tak pernah surut sejak pagi. Ia memegang kotak hadiah berwarna biru tua, dengan pita emas yang mengikatnya seperti janji yang tersimpan rapat.

“Rasanya seperti kemarin dia masih kecil,” gumam Bunda Afsheen pelan. “Sekarang sudah lulus lebih cepat dari yang kita kira.”

Mommy Chailey tersenyum haru. “Princess kita memang selalu penuh kejutan.”

Di sudut lain, Daddy Caesar berbicara dengan Ayah Aarash. Keduanya tampak tenang, namun mata mereka menyimpan kebanggaan yang dalam seperti lautan yang luas dan tak terukur.

“Anak itu punya keteguhan,” kata Daddy Caesar pelan. “Dia tidak hanya pintar, tapi juga sabar.”

Ayah Aarash mengangguk. “Dan hari ini… bukan hanya tentang kelulusannya.”

Kalimat itu menggantung di udara seperti rahasia yang siap dibuka.

Tak lama kemudian, suara mobil terdengar memasuki halaman. Semua orang spontan saling berpandangan.

“Dia sudah datang,” bisik Calvin dengan nada bersemangat.

Lampu utama dimatikan. Ruangan menjadi gelap, hanya menyisakan cahaya lilin kecil yang berkelip seperti napas yang ditahan.

Pintu terbuka.

Langkah kaki Celine terdengar pelan. Ia masuk dengan wajah lelah namun bahagia. Tangannya masih menggenggam tas kecil dan map kelulusan.

“Mommy?” panggilnya heran saat melihat rumah gelap.

Tiba-tiba—

“Surpriiiiise!”

Lampu menyala bersamaan dengan suara tepuk tangan dan tawa. Balon-balon beterbangan ringan. Konfeti kecil jatuh seperti hujan warna-warni.

Celine terdiam.

Matanya membesar, lalu berkaca-kaca. Ia menutup mulutnya dengan tangan, seolah tak percaya pada apa yang ia lihat.

“Ini… untukku?” suaranya nyaris berbisik.

Mommy Chailey mendekat dan memeluknya erat. Pelukan itu hangat seperti selimut di malam musim hujan.

“Tentu saja untuk princess Mommy.”

Celine tertawa di antara tangisnya. Hatinya terasa penuh, seperti bejana yang diisi air hingga meluap. Ia memeluk satu per satu anggota keluarganya.

Daddy Caesar menepuk pundaknya. “Kami bangga padamu.”

Ayah Aarash tersenyum lebar. “Lulus lebih cepat. Itu bukan hal kecil.”

Calvin, dengan gaya santainya, menyerahkan buket kecil. “Biar nggak kalah sama teman-temanmu tadi.”

Celine tertawa. “Terima kasih, Kak.”

Dan di sudut ruangan, berdiri seseorang yang sejak tadi hanya memperhatikan dengan tatapan lembut.

Aldivano.

Ia mengenakan kemeja putih sederhana, namun sikapnya tenang seperti pohon yang kokoh di tengah angin. Tatapannya pada Celine bukan sekadar tatapan bangga.

Ada sesuatu yang lebih dalam.

Sesuatu yang selama ini tersembunyi.

Acara kecil itu berlangsung hangat. Mereka makan bersama, tertawa, berbagi cerita tentang sidang Celine. Mommy Chailey tak henti-hentinya memuji keberanian putrinya menjawab pertanyaan dosen.

“Waktu kamu cerita tadi, Mommy sampai merinding,” katanya sambil tersenyum.

Celine tersipu. “Itu semua karena doa Mommy dan Daddy.”

Namun malam itu belum selesai.

Daddy Caesar berdiri, mengetuk gelasnya pelan. Suara itu memecah riuh kecil di ruangan.

“Ada satu hal lagi yang ingin Daddy sampaikan.”

Suasana mendadak hening. Seperti udara yang berhenti bergerak.

Celine menatap ayahnya dengan kening sedikit berkerut.

“Apa lagi, Dad?” tanyanya pelan.

Daddy Caesar tersenyum tipis, lalu memandang ke arah Ayah Aarash dan Bunda Afsheen. Mereka saling bertukar pandang, seolah telah sepakat dalam diam.

“Kelulusanmu hari ini,” lanjut Daddy Caesar, “bukan hanya membanggakan. Tapi juga menjadi waktu yang tepat… untuk membuka satu kebenaran.”

Hati Celine bergetar.

Seperti daun yang disentuh angin tiba-tiba.

Kebenaran?

Ia melirik tanpa sadar ke arah Aldivano. Lelaki itu kini menatap lurus ke depan, namun rahangnya terlihat sedikit tegang.

Mommy Chailey menggenggam tangan Celine lembut.

“Sayang… ada sesuatu yang selama ini kami simpan. Bukan untuk menyakitimu. Tapi untuk melindungimu.”

Celine merasa dunia di sekitarnya melambat. Suara detak jam di dinding terdengar jelas seperti palu kecil yang mengetuk dadanya.

Ayah Aarash melangkah maju.

“Celine,” ucapnya tenang, “beberapa waktu lalu… sebelum kamu memasuki semester akhir…”

Napas Celine tercekat.

“...kamu dan Aldivano telah terikat dalam sebuah akad yang sah.”

Kalimat itu jatuh seperti petir di siang hari.

Sunyi.

Hening yang pekat seperti malam tanpa bulan.

Celine menatap mereka satu per satu, seolah mencoba memastikan bahwa ini bukan candaan.

“Apa… maksudnya?” suaranya bergetar.

Bunda Afsheen mendekat, air mata menggenang di pelupuknya. “Nak… kamu dan Aldivano sudah menikah. Secara agama dan hukum. Namun kami sepakat untuk merahasiakannya sampai kamu menyelesaikan pendidikanmu.”

Dunia terasa berputar.

Seperti ombak besar yang tiba-tiba menggulung tanpa aba-aba.

Celine mundur selangkah. Tangannya gemetar. Ia menatap Aldivano dengan mata yang penuh tanya.

“Benarkah itu?”

Aldivano melangkah mendekat. Tatapannya lembut, namun tegas seperti garis cakrawala.

Celine terpaku di tempatnya. Air matanya jatuh.

“Jadi… selama ini…”

“Selama ini,” lanjut Aldivano lembut, “aku adalah suamimu. Tapi aku memilih menjaga jarak. Karena aku ingin kamu menyelesaikan mimpimu dulu.”

Kata-kata itu terasa seperti angin hangat yang menyentuh luka lama.

Celine menutup wajahnya sejenak. Perasaannya campur aduk seperti warna cat yang dituang bersamaan di satu kanvas.

Marah? Tidak sepenuhnya.

Terkejut? Sangat.

Tersentuh? Iya.

Mommy Chailey memeluknya dari samping. “Kami tidak ingin pernikahan itu menjadi beban untukmu. Kami ingin kamu fokus pada skripsimu. Pada mimpimu.”

Daddy Caesar menambahkan, “Dan hari ini, kamu telah menyelesaikannya.”

Celine menatap Aldivano lagi. Kali ini lebih lama.

“Kenapa kamu tidak pernah bersikap berbeda?” tanyanya lirih.

Aldivano tersenyum tipis. “Karena aku tidak ingin cinta menjadi distraksi. Aku ingin menjadi tempat pulang, bukan penghalang jalan.”

Kalimat itu membuat hati Celine bergetar seperti senar yang dipetik perlahan.

Ia menyadari satu hal.

Selama ini, Aldivano selalu ada. Namun tak pernah memaksakan diri. Tak pernah melewati batas. Tak pernah membuatnya merasa tertekan.

Seperti bayangan pohon yang setia menemani, tanpa menuntut diperhatikan.

1
Nita
Aku terlalu takut untuk mendekat..dan aku terlalu takut untuk menjauh...karena ak jgu Diam-diam mencintaimu..
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...
Nita Karimah: wahhh... siapa nih??
total 1 replies
Ai_Li
Saya mampir kak
Ai_Li: Mampir juga ya kak🥰
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!