Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.
Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.
Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.
Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KASUS 3 bagian 7
Hari berlalu dengan cepat hingga keesokan harinya. Andre tiba beberapa detik sebelum bell masuk berbunyi, ia membanting sebuah map tebal berisi kertas-kertas yang tidak ia mengerti apa gunanya. Bima menitipkan ini untuk diberikan kepada Daniel, ia tidak tahu jenis bisnis apa yang mereka jalani sehingga mereka bisa sedekat ini. Ia tidak ingat pernah menjadi sedekat itu dengan Bima, satu-satunya hal yang menghubungkan mereka adalah mereka tinggal di satu rumah yang sama. Entah kapan orang tua itu akan menikah.
“Titipan dari Om Bima, katanya kembalikan dalam keadaan utuh. Itu file asli, kamu tidak boleh mempublikasikan apa pun yang tertuang di dalamnya. Jangan sampai terlipat atau ada coretan tambahan. Lalu barang yang kamu serahkan kemarin, mungkin hasilnya akan keluar lusa, sebenarnya darimana kamu dapat barang seperti itu?” ucap Andre setelah duduk. Beberapa menit lagi guru agama akan masuk dan mereka tidak punya banyak waktu untuk membicarakan banyak hal. Atau hukuman akan siap kapan saja.
“Aku kemarin penasaran dengan TKP, jadi aku kesana dan menemukan itu” jawab Daniel seadanya. Barang yang dimaksud Andre adalah sebuah anting berbentuk semanggi 4 yang terbuat dari emas. Ada arwah yang menunjukannya
“Ada arwah yang membimbing mu?” Tanya Andre memastikan.
“Ya, dia menunjukkannya padaku. Aku sudah memastikan tidak ada sidik jariku di sana” jawab Daniel sambil membuka dokumen itu.
Daniel memperhatikan dokumen itu dengan tatapan penasaran. Sepertinya itu bukan milik Bima, beberapa halaman kertasnya sudah ditandai dengan stabilo atau pulpen merah. Pemiliknya pasti orang yang teliti, mempelajari dokumen yang hanya berisi tulisan bukan lah hal yang mudah. Daniel tidak yakin Bima bisa melakukan hal seperti itu
“Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan? Kau bisa saja tertuduh karena terlalu banyak tahu. Dan lagi kepolisian tidak akan menerima alasan ada arwah yang menuntun mu ke tempat itu” ucap Andre sedikit geram. Jika Daniel terlibat kemungkinan besar ia juga akan ikut diselidiki, dia tidak suka berhubungan dengan polisi.
“Makanya aku menyerahkannya pada Pak Bima. Aku sudah menyuruhnya untuk mengatakan kalau itu penemuannya di patroli terakhir” jawab Daniel tanpa minat. Andre masih ingin membantah tapi Ilyas sudah terlebih dahulu menyelanya.
“Weh, berkas apa nih? Bukankah kamu hanya menyanggupi permintaan Yulia dan Miki, kenapa tiba-tiba sampai terlibat kepolisian, mana dengan dokumen setebal ini?” Tanya Ilyas. Ia sudah merinding melihat dokumen setebal itu.
“Ini sesuai request kalian, tidak sesederhana itu. Sudah bahasanya nanti saja” jawab Daniel sambil menyimpan dokumen itu dalam laci mejanya. Guru agama berkepala pelontos itu sudah masuk dengan senyum yang tidak menyenangkan, sepertinya akan ada ulangan dadakan.
“Oke hari ini kebetulan bapak ada keperluan rapat di kota, jadi tutup semua buku kalian dan keluarkan selembar kertas dan pulpen kalian, pastikan semua orang menggunakan ukuran kertas yang sama, saya tidak ingin ada dokumen yang oversize. Hari ini kita akan ulangan soalnya hanya satu kalian boleh melihat apa yang teman kalian tulis tapi tidak boleh menulisnya di kertas kalian” ucap guru itu dengan nada yang datar
“Wah, lalu apa gunanya kita melihat pak?” Tanya Ilyas.
“Ya jadikan itu referensi kalian untuk menulis. Waktu kalian 2 jam mata pelajaran, tidak boleh ada tulisan yang terlalu besar atau kecil, jadi satu baris buku itu minimal berisi 7 kata. Kalian faham kan?” Tanya guru itu.
“Iya faham pak, tapi mana soalnya?” Tanya Ilyas lagi.
“Sabar. Soalnya hanya satu ya, saya tekankan sekali lagi” jawab guru itu.
“Iya pak” sahut anak-anak itu serempak.
“Tuliskan rangkuman setiap bab yang kalian pelajari selama semester 1 minimal 2 halaman kertas tanpa ada coretan atau noda Tipe-X. Kumpulkan di meja kantor saya sebelum jam pelajaran berikutnya. Sekian ada pertanyaan?” ucap guru itu.
“Wah pak, ini penyiksaan. Kalau mau buka buku pun pasti tidak ada hasil, materinya saja tidak sama. Ilmu kita sudah ter-reset ulang karena liburan pak” teriak Ilyas yang disetujui oleh semua siswa.
“Ya itu masalah kalian, bukan masalah saya. Ini kan baru awal semester, memangnya saya sudah memberikan materi apa? Ulangan itu ditugaskan ketika materi pembelajaran sudah diberikan, saya kan sudah mengajar kalian satu semester nih, ya itu yang mau saja jadikan materi ulangan” bantah guru itu.
“Tapi kan sudah diujikan di semester lalu pak” jawab Jonatan lagi.
“Ya itu lebih mempermudah kalian kan karena sudah diujikan” ucap guru itu lagi.
'Ah, salah ngomong' batin Jonatan
“Tapi pak,”
“Semakin banyak protes kalian semakin besar waktu yang terbuang, cepat kerjakan. Bapak pergi dulu, selamat pagi anak-anakku tercinta” pamit guru itu. Ia keluar dari kelas tanpa beban, mengabaikan para siswa yang ingin protes.
Desahan frustasi terdengar dari 4 siswa penghuni bangku pojok itu. Jangankan materi semester lalu, pelajaran yang mereka dapat hari Selasa kemarin pun sudah tidak terdeteksi keberadaannya. Mereka terlalu sibuk berkeliaran dan mencari pengalaman, mengabaikan banyak hal yang seharusnya mereka perhatikan.
“Dan, ada arwah yang bisa dimintai tolong tidak?” Tanya Andre tanpa berpikir. Sepertinya ia juga hampir menyerah.
“Kan kamu tahu arwahnya sudah kembali ke tempat masing-masing. Sudahlah tulis aja apa yang kalian ingat, mengarang itu diperbolehkan” jawab Daniel pelan. Ia sebenarnya juga tidak mengingat begitu banyak, namun sepertinya cukup untuk memenuhi 2 halaman kertas.
“Woy, materi bab pertama apa gaes?” Tanya Ilyas pada semua orang. Namun tidak ada satu orang pun yang menjawab, entah karena mereka terlalu fokus dalam mengerjakan soal atau memang tidak tahu.
Setelah teriakan Ilyas, tidak ada satu pun orang yang mengatakan sepatah kata pun. Kelas itu menjadi sangat hening dan itu adalah kejadian langka. Hanya bunyi pulpen yang beradu dengan kertas lah yang mengisi kekosongan. Hingga akhirnya 2 jam berlalu begitu saja, Hani dengan cepat mengumpulkan semua lembar ulangan, seharusnya mereka sudah selesai sebelum bell berbunyi. Tapi menulis 2 lembar rangkuman dengan materi yang mereka lupakan bukan lah hal yang mudah. Berharap saja guru mata pelajaran selanjutnya tidak datang tepat waktu.
Bell pulang berbunyi tempat pada pukul 15.00. Suasana kembali mendung setelah seharian suhu udara sangat panas. Semua orang segera meninggalkan kelas menyisakan 4 orang siswa dan 2 orang siswi yang masih ingin membahas sesuatu. Mereka berkumpul di pojok kelas dan menunggu salah satu membuka percakapan.
“Baiklah sekarang katakan padaku apa yang kalian dapatkan kemarin, Andre silahkan berpendapatan” ucap Ilyas setelah beberapa saat hening. Ia berkata seolah tengah berada dalam rapat besar.
“Ya mana aku tahu, kemarin aku di rumah” jawab Andre.
“Woy, jadi kalian hanya pergi berdua? Sungguh di luar prediksi BMKG, kenapa kalian tidak bilang padaku? Kita bisa double date” sahut Jonatan tidak percaya. Namun setelah kalimatnya selesai sebuah buku paket mampir ke tubuhnya.
“Kami melakukan misi penting, bukan berzina” ucap Hani bercanda.
“Sudah sudah, cepat katakan apa hasilnya?” Tanya Andre berusaha menengahi.
“Kami datang ke rumah Miki, tapi tidak sempat bertemu Miki karena dia adalah acara keluarga. Jadi kami pergi langsung ke rumah Yulia. Saat itu orang tuanya masih di rumah dan mereka tampak tidak menyukai kami. Menurutku tidak ada yang aneh dari rumah Yulia, hanya tempatnya memang terlihat kotor dan tidak terawat. Tapi aku memakluminya sih, dengan rumah sebesar itu tanpa pembantu tentu akan repot. Apalagi orang tuanya sangat sibuk” jelas Sora. Ia memperhatikan teman-temannya sesaat.
“Tunggu. Bukankah orang tuanya kaya, mengapa mereka tidak punya pekerja?” Tanya Andre menyuarakan kebingungannya.
“Kata Yulia sih meminimalisir perselingkuhan” jawab Hani.
“Alasan macam apa itu? Tinggal cari pekerja yang sudah berumur dan memang niat bekerja apa susahnya?” sahut Andre.
“Oke itu tidak penting. Han lanjutkan!” Perintah Ilyas.
“Tanyakan pada Daniel karena sejak saat itu yang aku lakukan hanya diam. Aku tidak tahu apa-apa dan dia menolak untuk mengatakan apa pun” jawab Hani sedikit kesal.
“Bukankah aku mengatakan apa yang aku lihat saat kita di restoran?” ucap Daniel.
“Woy, kalian bahkan sempat mampir ke restoran. Sungguh luar biasa, untung saja aku tidak ikut kalau iya bisa jadi nyamuk demam berdarah nanti” sela Andre begitu kalimat Daniel selesai.
“Kalian mau mendengar cerita selanjutnya atau memojokkan ku?” Tanya Daniel kesal.
“Ayo cepat ceritakan detailnya kami akan diam” jawab Jonatan panik.
“Pertama kali aku masuk ke tempat itu, rasanya seperti memasuki istana iblis. Ada begitu banyak entitas kuat yang ada di sana dan itu hampir membuat kepalaku meledak. Tapi begitu Yulia menunjukkan kamarnya, semua makhluk itu tidak mendekat. Dan memang ada arwah di kamar Yulia, dan itu lebih dari satu. Makanya aku perlu pertolongan dari Pak Bima, mungkin ia pernah menangani kasus ini” jelas Daniel. Ia mencoba mengingat semua hal yang penting dan tidak menceritakan detail tambahan lainnya.
“Salah satu dari mereka yang membawamu ke taman kota?” Tanya Andre begitu mengingat Daniel sempat ke TKP temuan mayat itu.
“Ya, dan itu arwah yang dilihat oleh Yulia. Apa kalian pernah melihat dokumen milik Yulia?” Tanya Daniel, dan sayangnya hanya dihadiahi gelengan kepala teman-temannya.
“Kau pasti mencurigai mengapa Yulia tidak mirip kedua orangtuanya atau kakaknya. Menurut cerita ayah Yulia, si Yulia ini sangat mirip dengan neneknya. Aku ingat saat itu dia juga memperlihatkan foto nenek Yulia yang menggendong bayi. Dan itu benar-benar mirip. Sayangnya aku tidak menyimpan foto itu, tidak tahu kalau akan berguna” ucap Jonatan setelah beberapa saat hening.
“Kalau Jonatan yang bilang mirip, itu pasti mirip” timpal Ida.
“Memangnya kalian sudah pernah lihat kakeknya?” Tanya Ilyas setelah lama diam.
“ Ya tidak sih, nanti lah tanyakan saja pada Yulia langsung” jawab Jonatan.
Bersamaan dengan itu suara ketukan pintu terdengar. 2 orang gadis yang tidak menggunakan kerudung terlihat ragu untuk memasuki kelas. Mereka tampak memastikan tidak ada banyak orang yang ada di kelas.
“Masuk saja kami tidak akan memakan kalian” ucap Ida “tuh orangnya datang, tanyakan sekarang” sambungnya sambil menyenggol bahu Jonatan.
“Kalian sedang membicarakan kami?” Tanya Miki setelah dengan ragu duduk di dekat Hani.
“Tidak, kami hanya sedang membicarakan Yulia” jawab Jonatan agak ragu.
“Kenapa kalian membicarakan aku, apa kasusnya benar-benar serius?” Tanya Yulia panik. Sejak kedatangan Daniel dan Hani ia tidak lagi merasakan perasaan diawasi itu, meski mimpi dan bayangan arwah itu masih ia lihat. Sebenarnya ia datang kesini untuk menemani Miki yang masih ngeyel, ia bilang masih ada sesuatu yang memperhatikannya ketika ia sendiri. Padahal Yulia sudah mengatakan apa yang Daniel katakan.
“Tidak yul, kami cuman mau memastikan sesuatu. Dalam kasus Mitha, ayahnya adalah kariyawan Pak Erwin itu membuat kami lebih mudah mencari informasi atau data yang kami perlukan. Sedangkan kamu, maaf nih. Kami tidak menemukan secuil pun data yang kami butuhkan” jawab Andre mewakili teman-temannya.
“Ah bukankah itu hanya penyelidikan arwah, mengapa memerlukan banyak data? Bukankah kalian bisa bertanya pada arwah itu lalu selesai?” Tanya Miki bingung.
“Andaikan semuanya bisa semudah itu” gumam Daniel.
“Jika kami melakukan tanpa bukti itu akan jadi fitnah, dan tidak semua orang mempercayai apa yang kita lakukan. Bagaimana jika kita terkena pasal dan dilaporkan ke polisi?” ujar Andre memperjelas gumaman Daniel.
“Ah, aku tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Aku sudah merasa jauh lebih baik sejak kedatangan kalian kemarin, meski masih ada rasa takut ketika aku berada di rumah sendiri. Jadi apa yang kalian butuhkan, aku akan mencoba memberitahu kalian? Keluargaku memang menjaga privasi, sebenarnya aku bahkan tidak tahu banyak” jawab Yulia agak ragu.
“Oke pertanyaan pertama dan paling mendasar, apa kamu anak kandung mereka?” Tanya Jonatan dengan bersemangat sebelum dihadiahi sabetan buku dari Ida dan pandangan tidak percaya dari Miki.
“Aku anak kandung. Tapi sebenarnya juga tidak tahu, aku mulai meragukan keaslian data diriku sejak beberapa tahun ini. Ibu dan ayah sangat pilih kasih, dan akhir-akhir ini aku semakin merasakannya. Kan tidak mungkin tiba-tiba aku minta tes DNA” jawab Yulia tanpa keberatan membuat rasa tidak enak menjalar di hati setiap orang.
“Bagaiman dengan keluarga kedua orangtuamu?” Tanya Daniel memecah rasa berat yang menyelimuti ruangan.
“Ayah dan ibuku yatim piatu, mereka tidak pernah bertemu dengan orang tua mereka karena sejak awal mereka berasal dari panti asuhan” jawab Yulia. Dia kembali menciptakan keheningan yang berat dalam ruangan itu. Ini benar-benar di luar prediksi dan seketika mematahkan cerita Jonatan tentang kakeknya Yulia.
“Ah, ini plot twist yang luar biasa” gumam Jonatan.
“Sudahlah jangan bahas keluarga Yulia lagi. Lalu bagaimana denganku?” Tanya Miki. Ia bukan egois, ia hanya tidak ingin Yulia menceritakan hal-hal yang menyakitinya. Jika mereka ingin bertanya sesuatu, mereka bisa bertanya padanya atau Harry. Dia tahu banyak hal tentang Yulia.
“Tapi aku sudah bilang tidak ada masalah di rumahmu. Itu hanya perasaan paranoid mu, berbeda dengan Yulia yang jelas punya masalah lain. Arwah yang kau lihat di balkon kamarmu itu memang arwah orang yang sudah mati, atau mungkin sekarat. Dia mengeluarkan begitu banyak energi untuk muncul di hadapanmu. Dia juga arwah yang pemalu karena hanya terlihat sekilas saat aku datang” jelas Daniel akhirnya.
“Oh, seperti arwah Yuan” cetus Hani.
“Yuanita, teman sekelas kalian yang meninggal itu?” Tanya Miki menanggapi Hani.
“Ya, itu kasus kedua yang kami pecahkan semester lalu setelah Mitha, anggap saja mayat di ruang kepala sekolah itu bonus” jawab Ilyas tanpa ragu.
“Dan Harry adalah korbannya. Bisa-bisanya dia berpacaran dengan Arvian padahal saat itu statusnya adalah kekasih Harry. Sudah berpacaran dengan 2 orang laki-laki masih saja jalan dengan salah satu teman ayahku. Itu kalau hamil pasti yang tertuduh 2 orang itu, kolega ayahku pasti terlupakan” cetus Yulia seketika melupakan apa yang baru saja terjadi.
“Kau bilang apa?” Tanya anak-anak IPS itu bersamaan.
“Kenapa kalian terkejut? Itu fakta, kalian tidak tahu?” Tanya Miki kaget. Ia memperhatikan mereka yang saling lempar pandang tidak percaya.
“Tapi itu tidak penting. Aku masih mendapatkan rasa takut itu, bagaimana cara menghilangkannya?”
Daniel segera memberikan sebuah kotak persegi kecil yang dibalut kain berwarna hitam pekat pada Miki.
“Ambil saja kau akan baik-baik saja. Sekarang bubar aku mau pulang, Mas Rian sudah meneleponku sejak tadi. Aku khawatir dia akan pergi jika aku tidak datang” ucap Daniel sambil merapikan barang-barangnya dan keluar lebih dulu diikuti Hani di belakangnya.
“Apa itu sesuatu yang disebut jimat?” Tanya Hani begitu mereka sudah jauh dari teman-temannya.
“Bukan itu hanya kertas kosong yang dibalut kain” jawab Daniel tanpa rasa bersalah.