NovelToon NovelToon
Mas Kapten, Ayo Bercerai!

Mas Kapten, Ayo Bercerai!

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Lima tahun lalu, malam hujan hampir merenggut nyawa Kapten Shaka Wirantara.
Seorang wanita misterius berhelm hitam menyelamatkannya, lalu menghilang tanpa jejak. Sejak malam itu, Shaka tak pernah berhenti mencari sosok tanpa nama yang ia sebut penjaga takdirnya.

Sebulan kemudian, Shaka dijodohkan dengan Amara, wanita yang ternyata adalah penyelamatnya malam itu. Namun Amara menyembunyikan identitasnya, tak ingin Shaka menikah karena rasa balas budi.
Lima tahun pernikahan mereka berjalan dingin dan penuh jarak.

Ketika cinta mulai tumbuh perlahan, kehadiran Karina, gadis adopsi keluarga wirantara, yang mirip dengan sosok penyelamat di masa lalu, kembali mengguncang perasaan Shaka.
Dan Amara pun sadar, cinta yang dipertahankannya mungkin tak pernah benar-benar ada.

“Mas Kapten,” ucap Amara pelan.
“Ayo kita bercerai.”

Akankah, Shaka dan Amara bercerai? atau Shaka memilih Amara untuk mempertahankan pernikahannya, di mana cinta mungkin mulai tumbuh.

Yuk, simak kisah ini di sini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Menyesal pun tiada guna

Pagi itu kantor pusat Wirantara Air terasa seperti sarang lebah yang terbakar. Telepon berdering tanpa henti, staf berlarian ke sana kemari membawa berkas laporan, dan ruang rapat dipenuhi suara panik. Semua mata menatap ke arah satu ruangan di lantai tertinggi, ruang CEO tempat Kapten Shaka Wirantara duduk dengan wajah menegang, tatapan kosong menatap layar laptop yang menampilkan sederet angka merah, laporan kerugian dan pembatalan kontrak.

Di luar ruangan, Haris baru saja menerima telepon dari dewan direksi, wajahnya pucat pasi. Dia menelan ludah, mengetuk pintu dengan hati-hati sebelum masuk.

“Kapten…” suaranya pelan, nyaris bergetar. “Kita kehilangan semua akses penerbangan internasional. Kementerian juga menahan izin terbang sementara. Dan jalur yang Kapten izinkan kemarin ... sudah digunakan untuk penyelundupan.”

Haris berhenti sejenak, menunduk. “Media sudah mulai memberitakan. Nama Kapten Shaka disebut sebagai penanggung jawab.”

Shaka tidak menjawab, dia hanya menatap layar yang berkedip, rahangnya mengeras. “Dan Amara?” tanyanya dingin, lirih. “Dia tahu soal ini?”

Haris ragu sejenak, lalu mengeluarkan amplop cokelat dari map hitam di tangannya. “Bu Amara menitipkan ini pada pihak pengadilan, dan pagi ini sampai ke meja saya.”

Dia menunduk dalam. “Ini surat cerai yang sudah ditandatangani pihak Bu Amara.”

Hening, suara hujan di luar jendela terdengar jelas, memantul di kaca besar ruangan itu. Shaka menatap amplop itu dengan pandangan tak percaya, kemudian berdiri perlahan, mengambilnya dengan tangan bergetar. Saat membaca tanda tangan di bawah nama Amara Marvionne, sesuatu dalam dirinya runtuh.

“Dia … benar-benar melakukannya.”

Suaranya serak, matanya memerah. “Dia meninggalkanku … di saat semuanya hancur.”

Haris menunduk, tak berani menatap atasannya yang tampak kehilangan arah.

“Kapten, mohon tenang dulu. Tuan Wirantara baru saja...”

“Baru saja apa?” potong Shaka cepat, nadanya tajam.

Haris menarik napas panjang. “Tuan Wirantara dilarikan ke rumah sakit, serangan jantung mendadak, Kapten. Setelah membaca laporan pagi ini.”

Langkah Shaka terhenti, tubuhnya seperti kehilangan keseimbangan. Dia menatap kosong, lalu menjatuhkan amplop itu ke meja.

“Tidak … ini tidak mungkin.”

Tanpa pikir panjang, Shaka langsung mengambil jaket pilotnya dan berlari keluar dari ruangannya. Haris berusaha memanggil, namun Shaka sudah menghilang di balik pintu lift.

Di dalam mobil, hujan semakin deras. Wiper bergerak cepat menghapus butiran air di kaca depan, tapi penglihatan Shaka kabur oleh emosi. Tangannya menekan setir kuat-kuat, pikirannya hanya dipenuhi dua hal, ayahnya yang kini di rumah sakit, dan Amara wanita yang kini benar-benar meninggalkannya.

“Di mana kamu, Amara?” gumamnya lirih di tengah hujan. “Sampai kapan kamu akan menghukum aku seperti ini?”

Namun, tak ada jawaban, hanya suara petir yang menggema, seolah langit pun ikut menertawakan kejatuhannya.

Malam itu langit tampak kelam, hujan baru saja berhenti tapi sisa air masih menetes dari atap rumah sakit. Di lorong yang panjang dan sunyi, langkah kaki Shaka terdengar tergesa. Wajahnya pucat, matanya merah karena kelelahan dan kemarahan yang tertahan. Begitu membuka pintu ruang perawatan ayahnya, pandangannya langsung tertuju pada sosok Merlin, yang duduk di kursi dengan wajah tegang, dan Karina yang berdiri di sisi ranjang dengan mata sembab.

“Bu…” suara Shaka serak, “bagaimana keadaan Ayah?”

Merlin menoleh pelan, tapi begitu matanya menangkap wajah anaknya, perempuan itu berdiri dengan sorot mata tajam. Tanpa peringatan,

plak!

tamparan keras mendarat di pipi Shaka.

Karina spontan menjerit kecil, “Ibu!” serunya sambil menahan tangan Merlin.

Namun Merlin menepis kasar. “Jangan bela dia, Karina! Kau bahkan tidak tahu apa yang sudah dia lakukan!”

Shaka menunduk, tidak melawan, tidak juga menatap ibunya. Suaranya lirih tapi berat, “Ini memang salahku, Bu. Aku yang biarkan Amara pergi. Aku yang kehilangan kendali atas semua ini.”

Merlin menatap anak laki-lakinya itu lama sekali, mata tuanya bergetar menahan air mata. “Kau bukan hanya kehilangan kendali, Shaka. Kau menghancurkan keluarga ini. Ayahmu terbaring tak berdaya karena perbuatanmu!”

Karina melangkah mendekat, mencoba menenangkan suasana. “Tapi, Bu, Mas Shaka juga sudah cukup menderita, semua ini...”

“Diam, Karina!” bentak Merlin, “Kau tidak tahu apa-apa tentang luka seorang istri yang kehilangan kepercayaan!”

Suasana hening, hanya suara alat medis yang berbunyi pelan dari sisi tempat tidur Tuan Wirantara. Shaka menatap ibunya dengan mata yang mulai berair, lalu perlahan berlutut di depan Merlin.

“Bu, aku mohon,” katanya pelan tapi jelas. “Tolong … katakan di mana Amara sekarang. Aku hanya ingin memperbaiki semuanya sebelum terlambat.”

Merlin menatap anaknya yang kini berlutut di lantai dingin, tubuh tegap itu tampak goyah, rapuh untuk pertama kalinya. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang.

“Amara…” suaranya bergetar. “Amara sudah kembali ke kediaman Marvionne.”

Mata Shaka membulat, ia langsung berdiri, tanpa mengucap sepatah kata pun lagi. Tangannya meraih jaket dan melangkah cepat menuju pintu.

“Mas Shaka!” seru Karina, hendak mengejar. Tapi Merlin menahan pergelangan tangannya.

“Biarkan dia,” ucap Merlin lirih namun tegas. “Dia harus menghadapi ini sendiri.”

Karina menatap punggung Shaka yang menjauh di lorong rumah sakit, langkahnya berat tapi pasti. Dalam diam, gadis itu tahu, malam itu bukan sekadar perjalanan Shaka untuk menjemput Amara, melainkan juga perjalanan seorang pria yang akhirnya harus membayar semua kesalahannya. Karina diam-diam berdiri mengepalkan tangannya menatap kepergian Shaka.

1
Suciati Suci
sumpah nangis /Sob//Sob/
Forta Wahyuni
betul itu, mungkin memaafkan mudah tapi tuk bersama lg dgn org yg memberi qt luka itu susah.
Ning Suswati
jgn sampai karinanya dibunuh, biar tau rasanya disiksa lahir dan bathin, dan biarkan dia memohon untuk dibunuh,
Ning Suswati
siapa lagi dirga,
Ning Suswati
ada2 saja kaya gk ada laki2 lagi di dunia ini, dasar kunti laknat, semoga amara selalu didepan🤭
Ning Suswati
emangnya saka bisa apa, waktu ada gangguan di perusahaan wirantara aja amara yg segera bertindak, laupun dia sdh memutuskan untuk bercerai, tapi tetap peduli dg shaka, dan shaka tetap tdk mengakui, boro percaya apa yg sdh dilakukan amara pada perusahaannya, yg dufikirannya cuma nek kunti
Ning Suswati
ya begitulah sakitnya perempuan, bibir bisa memafkan tapi sulit untuk bisa melupakan, bayangkan karena hasutan nek kunti, sampai tdk mengakui anak yg dikandung amara dan banyak lagi, kata2, prilaku yg menyakitkan, lebih percaya orang lain daripada menggunakan otaknya sendiri, aq jadi curhat nih, karena itu aq merasakan
Ning Suswati
ya terserah amara lah, dia yg merasakan, orang lain hanya bisa menasehati dan memberi masukan, tapi gk pernah merasakan pada posisi amara selama 5 thn di sia2kan suami dan berjuang sendiri.
Ning Suswati
ya tuhan semoga amara segera selamat, amara hukan orang biasa kan, paati ada cara untuk bertindak dan menyelamatkan diri
Ning Suswati
semua nya yergantung taqdir, kalau memang bukan jodoh ya paling tidak jgn masuk ke lobang yg sama
Bulan Hampa
sengaja langsung lihat bab ahir kirain benar cerai, gajadi deh.
Ning Suswati
aq suka keputusan amara, laki2 tdk akan pernah berubah total, kalau ada maunya, ber baik2, tapi akan mengulanginya lagi
Ning Suswati
semua kehancuran keluarga saka, ortunya sendiri yg membuat nasib rumah tangga anaknya se hancur2nya, sdh tau ada kunti di dln rumah tapi diam selama ber thn2,
Ning Suswati
sama dong kayanya plan plin plen, sdh basi, emang masih ingin disakiti kembali, laki2 gk akan berubah, kecuali apa y🤔
Ning Suswati
kok zico yg jadi pelampiasan, emangnya ciuaman belum tuntas, sok2an merasa gagah, tapi dikadali laki2 dodol masih aja nyosor.
Ning Suswati
woooiiiii sdh pisah masih aja bikin masalah, selama ini kemana aja gk pernah membela dan percaya sama isteri sendiri, sekarang didekati laki2 lain sewot aja lho, sinting gila miring🤭
Fitri Guntoro
lanjut thor gantung banget deh
Ning Suswati
keegoisan ortu selalu dg nafsu tanpa perasaan, apa imbas dari keegoisan mereka
Ning Suswati
gk malu apa keluarga wirantara masih menyebut cucuku, selama ini kemana aja, membiarkan ular menyebarkan racun dlm rumah tapi tetap diam, pengausaha apa, pengusaha kotoran kali y🤔, biasanya pengusaha itu selalu berfikir dan bertindak, bukan diam seribu kata
Ning Suswati
seringkali kejadian ceritanya seperti ini, terus katanya tdk ingin lagi ketemu, masih ada rasa peduli, tapi apa lukanya amara sdh sembuh, terlalu baik juga jgn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!