Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.
Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"
Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.
"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."
Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.
Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.
Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karantina yang Retak
Pagi itu, aula utama kediaman bupati terasa lebih sempit dari biasanya. Cahaya matahari menyusup lewat jendela kertas tipis, menerangi meja panjang di tengah ruangan di mana para pejabat kabupaten duduk berbaris. Raden Arya Wijaya berdiri di ujung meja, tangannya mengepal di belakang punggung, wajahnya pucat tapi berusaha tegar. Di depannya, Shen Yi dan Lian'er berdiri diam, keranjang ramuan mereka diletakkan di lantai seperti saksi bisu.
“Para pejabat terhormat,” kata Raden Arya dengan suara yang berusaha mantap, meski ada getar kecil di ujung kalimatnya. “Ayahanda Bupati semakin lemah. Penyakit ini… sudah menyebar ke beberapa rumah di pasar dan kampung nelayan. Bintik hitam muncul di kulit lebih dari dua puluh orang. Demam, dingin bergantian, napas pendek. Tabib Shen dan Nona Lian sudah konfirmasi: ini bukan penyakit biasa. Ini bisa jadi wabah.”
Ruangan hening sejenak. Lalu suara ketua pedagang, seorang pria tua berjubah sutra cokelat, pecah pertama.
“Wabah? Yang Mulia, ini pasti rumor. Kota kita sehat-sehat saja kemarin. Kalau tutup gerbang, perdagangan berhenti. Pedagang dari luar tak berani masuk. Rakyat akan kelaparan. Siapa yang tanggung jawab?”
Raden Arya menelan ludah. “Kita harus karantina. Tutup gerbang, batasi pergerakan, isolasi pasien. Ini untuk lindungi semua orang.”
Seorang pejabat militer, berjubah merah dengan pedang di pinggang, mendengus. “Lindungi? Yang Mulia masih muda. Bupati Wijaya belum resmi menyerahkan jabatan. Kalau kota ditutup, rakyat akan marah. Ada yang bilang ini kutukan dari gunung Qingyun—karena tabib itu bawa penyakit dari sana.”
Shen Yi maju selangkah. “Itu tak benar. Penyakit ini mulai dari kediaman bupati. Pelayan yang rawat beliau pertama kali sakit. Ini bukan dari gunung. Ini dari dalam kota. Kalau tak ditangani sekarang, besok bisa jadi seratus orang, lusa seribu.”
Ketua pedagang menatap Shen Yi curiga. “Tabib dari gunung bilang begitu. Tapi bukti? Kalau salah, siapa yang tanggung rugi ekonomi? Pedagang seperti saya akan bangkrut.”
Raden Arya menatap meja lama. Keraguan terlihat jelas di matanya—keraguan antara tugas sebagai putra bupati yang ingin lindungi rakyat, dan takut kehilangan dukungan pejabat jika karantina gagal atau memicu pemberontakan. Ayahnya belum mati, tapi sudah tak bisa bicara. Jika Raden Arya ambil keputusan salah sekarang, posisi bupati bisa direbut paman atau saudara tiri yang sudah mengintai.
Lian'er melangkah maju, suaranya lembut tapi tegas. “Yang Mulia, saya paham kekhawatiran para pejabat. Ekonomi penting. Tapi kalau wabah ini menyebar tanpa karantina, tak ada lagi ekonomi yang bisa dijaga. Pasar kosong karena orang takut keluar. Pedagang mati karena sakit. Keluarga kehilangan pencari nafkah. Karantina bukan akhir perdagangan—itu cara untuk selamatkan perdagangan jangka panjang.”
Ketua pedagang menggeleng. “Mudah bicara. Kau bukan pedagang. Kau tak tahu kalau gudang ikan dan sayur tak bisa dijual, kami tak bisa bayar upah buruh. Rakyat akan salahkan Yang Mulia.”
Raden Arya menutup mata sejenak. “Cukup. Aku akan umumkan karantina besok pagi. Gerbang ditutup tiga hari untuk observasi. Pasien diisolasi di aula timur. Distribusi makanan dari gudang bupati. Tabib Shen dan Nona Lian akan pimpin pengobatan.”
Ruangan bergumam. Beberapa pejabat mengangguk setuju, tapi ketua pedagang berdiri. “Yang Mulia, ini keputusan berbahaya. Kalau gagal, rakyat akan ingat.”
Raden Arya menatapnya tajam. “Kalau berhasil, rakyat akan ingat juga. Dan kalau tidak, itu tanggung jawabku sebagai putra bupati.”
Pejabat itu keluar dengan wajah merah. Ruangan kosong perlahan.
Shen Yi mendekati Raden Arya. “Yang Mulia… keputusan ini benar. Tapi pelaksanaannya akan sulit. Orang akan takut, marah, mungkin coba kabur. Kami butuh bantuanmu untuk jaga ketertiban.”
Raden Arya mengangguk lelah. “Aku tahu. Aku akan perintahkan tentara jaga gerbang. Tapi… kalau ayahanda mati, aku tak yakin bisa tahan tekanan dari paman.”
Lian'er memegang lengan Raden Arya. “Kami akan usahakan Bupati sembuh. Tapi Yang Mulia harus percaya pada diri sendiri. Rakyat akan ikut pemimpin yang berani lindungi mereka, bukan yang sembunyi.”
Raden Arya tersenyum tipis. “Terima kasih. Kalian… seperti angin segar di kota ini yang sudah terlalu lama bau busuk politik.”
Pengumuman karantina dilakukan keesokan paginya di alun-alun kota. Raden Arya berdiri di panggung kayu sementara, suaranya dibantu pengeras suara sederhana dari tanduk kerbau.
“Rakyat Kabupaten Surakarta! Ayahanda Bupati sakit parah. Penyakit ini menyebar. Untuk lindungi semua, kota akan dikarantina tiga hari. Gerbang ditutup, pasar dibatasi, pasien diisolasi. Makanan dari gudang bupati akan dibagi gratis. Tabib Shen dan Nona Lian akan rawat sebanyak mungkin. Tolong patuhi. Bersama kita lawan penyakit ini.”
Reaksi campur aduk. Beberapa orang bertepuk tangan, tapi banyak yang bergumam marah.
Seorang pedagang berteriak dari kerumunan: “Kota ditutup? Daganganku akan busuk! Siapa tanggung rugi?”
Raden Arya menjawab tegas. “Bupati akan ganti rugi setelah wabah selesai. Yang penting, selamatkan nyawa dulu.”
Tapi kerumunan tak langsung bubar. Beberapa pemuda mulai berbisik tentang “kutukan dari gunung”, “tabib asing yang bawa penyakit”. Ada yang coba dorong penjagaan gerbang, tapi tentara menahan.
Shen Yi dan Lian'er kembali ke kediaman bupati, langsung ke aula timur yang sudah dijadikan tempat isolasi. Sudah ada dua puluh pasien di sana—beberapa anak, beberapa orang tua, semuanya dengan bintik hitam dan demam. Bau ramuan dan keringat bercampur, suara batuk dan mengigau memenuhi ruangan.
Shen Yi mulai akupunktur satu per satu. Lian'er bantu oles ramuan dan beri minum penghangat. Mereka bekerja tanpa henti dari pagi sampai malam. Beberapa pasien mulai membaik—demam turun, bintik memudar. Tapi yang lain semakin parah.
Malam ketiga karantina, Shen Yi duduk di sudut aula, membersihkan jarum. Lian'er mendekat, membawa mangkuk sup jahe.
“Kau harus makan. Sudah dua hari kau tak istirahat benar.”
Shen Yi menggeleng. “Masih ada pasien yang demam tinggi. Kalau aku istirahat, mereka bisa memburuk.”
Lian'er memaksa mangkuk itu ke tangannya. “Kau tak bisa rawat semua kalau kau sendiri sakit. Ingat kau manusia. Bukan dewa.”
Shen Yi tersenyum lelah. “Kau selalu ingatkan aku itu.”
Mereka makan bersama di sudut aula. Suara batuk dari pasien terdengar seperti irama sedih.
Tiba-tiba, pintu aula terbuka keras. Raden Arya masuk dengan wajah pucat. Di belakangnya, dua tentara menahan seorang pria tua yang berjuang.
“Tabib Shen! Nona Lian! Ini kakek pedagang ikan dari pasar. Dia coba kabur lewat tembok belakang. Bilang tak mau dikarantina. Katanya penyakit ini kutukan dari gunung, dan tabib kalian yang bawa.”
Pria tua itu berteriak. “Lepaskan aku! Anakku sakit karena kalian! Kota ini kutukan karena tabib gunung itu!”
Raden Arya memandang Shen Yi dengan mata penuh keraguan. “Dia bukan satu-satunya. Ada desas-desus di pasar. Orang bilang karantina ini alasan untuk tutup kota dan ambil untung. Ada yang bilang aku lemah karena ayahanda sakit. Ada yang bilang kalau tabib gunung pergi, penyakit akan hilang.”
Lian'er bangkit. “Yang Mulia, ini normal. Orang takut. Mereka cari kambing hitam. Kita harus tunjukkan bahwa kita berjuang untuk mereka.”
Raden Arya menggeleng. “Aku takut… kalau rakyat memberontak. Paman sudah kirim surat—bilang kalau aku gagal kendalikan kota, dia akan ambil alih atas nama ‘keselamatan rakyat’.”
Shen Yi berdiri. “Yang Mulia… kalau kau mundur dari karantina sekarang, wabah akan semakin parah. Rakyat akan mati lebih banyak. Dan nama kau akan lebih buruk dari sekarang. Biarkan kami bantu. Besok aku akan pergi ke pasar lagi. Bicara langsung dengan rakyat. Tunjukkan bahwa kami rawat mereka tanpa pamrih.”
Raden Arya diam lama. Lalu dia mengangguk pelan. “Baik. Tapi hati-hati. Beberapa orang sudah mulai kumpul di alun-alun malam ini. Mereka minta gerbang dibuka.”
Shen Yi dan Lian'er saling pandang. Mereka tahu karantina baru dimulai, tapi konflik sebenarnya baru akan datang.
Malam itu, dari jendela kamar tamu, mereka lihat kerumunan kecil di alun-alun. Obor menyala, suara teriakan samar terdengar: “Buka gerbang! Tabib gunung bawa kutukan!”
Lian'er memegang tangan Shen Yi. “Besok… kita harus hadapi mereka.”
Shen Yi mengangguk. “Ya. Kita harus tunjukkan bahwa penyakit ini bukan kutukan. Ini bisa disembuhkan. Dan kita… akan coba sembuhkan semua.”