Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - My Dangerous Kenzo
...----------------...
...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...
...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...
...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...
...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...
...Cerita ini fiksi yaa ✨...
...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...
...No plagiarism allowed ❌📝...
...----------------...
“Nay.”
Suara Kenzo muncul di ambang pintu kelas, tenang tapi langsung bikin kepala Naya refleks terangkat. Cowok itu berdiri santai, seragamnya rapi, satu tangan menenteng beberapa paper bag yang kelihatan penuh—bahkan agak berat.
“Nih,” katanya sambil melangkah mendekat. “Nggak usah ke kantin. Kamu sama Citra istirahat di sini aja.”
Beberapa anak di kelas otomatis nengok. Ada yang senyum-senyum, ada yang bisik kecil, tapi Kenzo sama sekali nggak peduli.
Ia meletakkan paper bag itu di atas meja Naya. Bunyi plastik bersentuhan terdengar jelas. Begitu dibuka sedikit, kelihatan isinya—susu kotak favorit Naya, roti, snack kecil, bahkan buah potong.
Lengkap. Terlalu lengkap buat sekadar jam istirahat.
“Iihhh,” Citra langsung mendekat, matanya berbinar. “Sweet banget deh. Ayangnya sakit, dibawain makanan seabreg gini.”
Naya refleks menarik ujung lengan bajunya sendiri, pipinya langsung hangat. Senyumnya mau muncul tapi dia tahan setengah mati.
“Berisik,” gumamnya pelan, nyaris nggak kedengaran.
Kenzo cuma senyum kecil. Nggak komentar, nggak membalas godaan Citra. Tangannya justru merapikan tas Naya, digeser sedikit ke samping biar nggak ketabrak anak-anak yang lewat di sela bangku.
Gerakan kecil, tapi perhatian.
“Reno mana?” tanya Citra sambil masih kepo ngubek-ngubek isi paper bag.
“Rapat basket,” jawab Kenzo singkat.
“Ohh pantesan,” Citra manggut-manggut. “Fix ya, Nay. Lo tuh sekarang dirawat satu keluarga.”
Naya melirik Kenzo sekilas.
Kenzo berdiri di situ—tenang, sigap, seolah memastikan semuanya beres sebelum dia pergi. Dan entah kenapa, dada Naya terasa hangat. Bukan cuma karena makanan di mejanya, tapi karena cara Kenzo datang… tanpa ribet, tanpa pamer, tapi selalu tepat.
Seolah dunia Naya aman. Bahkan di jam istirahat sekolah.
“Aku rapat dulu yaa, myprincess.”
Kenzo mencondongkan badan sedikit, mengusap rambut Naya pelan. Sentuhannya singkat, tapi cukup bikin Naya berhenti bernapas sepersekian detik.
“Nitip Naya,” ucap Kenzo ke Citra. “Kalau ada apa-apa, telpon.”
“Siap!” jawab Citra sambil hormat lebay, tangannya ditegakkan dramatis.
Kenzo tertawa kecil, lalu melangkah keluar kelas. Sosoknya menghilang di balik pintu, meninggalkan suasana yang entah kenapa jadi lebih hening.
Begitu kelas agak sepi dan suara ribut berkurang, Naya bersandar ke kursinya. Bahunya sedikit turun, seperti baru saja melepas sesuatu yang ia tahan dari tadi.
“Biasa aja, Ra,” katanya sok santai.
Citra mendekat, duduk di bangku sebelahnya. Senyumnya lebar, penuh arti.
“Biasa aja tapi hati lo udah kayak petasan,” katanya sambil ketawa kecil.
“Duar. Duar. Duar.”
Naya menunduk, pura-pura fokus buka susu. Pipinya terasa panas.
“Apaan sih lo…”
Tapi senyum kecil itu tetap muncul. Nggak bisa disembunyiin.
Di dalam hatinya, Naya sadar—
ini bukan cuma soal dibawain makanan.
Ini soal diperhatiin. Dijagain. Dianggap penting.
Dan untuk pertama kalinya, perasaan itu nggak bikin dia takut.
Justru bikin dia betah.
Citra sudah berdiri di samping mobil supirnya saat Naya, Kenzo, dan Reno masih di area parkir. Tas sekolahnya sudah disampirkan di bahu, tapi langkahnya belum juga menjauh.
“Ke rumah nggak?” tanya Citra ke Reno, suaranya dibuat santai.
Karena Reno lebih tinggi, Citra otomatis sedikit mendongak buat menangkap tatapan cowok itu. Reno menatapnya sebentar, lalu senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
“Iya,” jawab Reno ringan. “Nanti aku ke rumah.”
Tangannya terangkat, mengusap rambut Citra pelan—kebiasaan yang sudah terlalu sering dia lakukan tanpa sadar. Ujung jarinya turun, berhenti di leher belakang Citra. Gerakannya refleks, narik Citra sedikit lebih dekat ke tubuhnya.
Citra nggak protes. Justru senyum jahilnya makin lebar.
“Cius,” ucap Citra pelan sambil refleks nempelin jarinya sendiri ke bibir. Matanya berkilat nakal.
Reno langsung tersadar. Pandangannya gesit celingak-celinguk ke sekeliling parkiran. Beberapa siswa masih lalu-lalang, ada yang duduk di motor, ada juga yang berdiri sambil ngobrol.
“Ra,” bisiknya pelan, setengah ngingetin, setengah panik.
Tapi Citra cuma nyengir.
Tanpa banyak drama, Reno akhirnya menunduk cepat. Gerakannya singkat—hampir seperti reflek.
Kecupan kecil mendarat di bibir Citra.
Cepat. Hangat. Nggak sampai sedetik.
Citra bengong setengah detik, matanya sedikit membulat sebelum akhirnya senyum lebarnya balik lagi, kali ini lebih puas.
Reno langsung menjauh, pura-pura santai, padahal telinganya mulai panas.
“Iya,” katanya, berdehem kecil. “Sekarang pulang dulu ya.”
Dia menuntun Citra ke mobil. Bukain pintu belakang, nunggu sampai Citra duduk rapi di dalam. Tangannya masih menahan pintu beberapa detik sebelum akhirnya ditutup pelan.
Sebelum mobil jalan, Reno sempat melambaikan tangan kecil.
Citra membalasnya dari balik kaca jendela, senyumnya masih nggak hilang.
Reno berbalik. Baru dua langkah menjauh, dari dalam mobil Kenzo terdengar suara familiar.
“Perpisahannyaaa,” celetuk Naya sambil senyum penuh arti dari kursi belakang.
Reno mendengus kecil. “Apasih,” balasnya sambil masuk ke kursi penumpang depan.
Kenzo melirik sekilas dari balik kemudi, sudut bibirnya terangkat tipis.
“Udah nih? Mau OTW.”
“Gass,” jawab Reno singkat.
Mesin mobil menyala. Mobil melaju perlahan keluar dari parkiran sekolah.
Di kursi belakang, Naya masih senyum sendiri, kepikiran adegan barusan.
Di kursi depan, Reno menyandarkan kepala sebentar ke sandaran kursi, berusaha terlihat santai—padahal pikirannya masih muter di kecupan singkat yang terlalu cepat buat dilupain.
Kenzo cuma senyum kecil sambil fokus ke jalan.
Mobil Kenzo meluncur keluar dari parkiran sekolah. Lagu random muter pelan. Kenzo nyetir santai, Reno selonjoran di kursi depan, Naya di belakang sambil ayun-ayunin kaki yang masih digips dikit.
Sepi lima detik.
Terus—
“Udah ngapain aja sama Citra?” tanya Naya tiba-tiba, nadanya sok casual.
Reno tanpa mikir,
“Nggak ngapa-ngapain.”
Naya langsung nyengir miring.
“Yakin?”
“Yakin,” Reno jawab cepat.
“Itu tadi di parkiran apaan?” Naya nyender ke sandaran kursi depan.
Reno melirik spion.
“Dikit doang.”
“Dikit doang tuh level apa?”
“Level… aman,” jawab Reno.
Kenzo batuk kecil. Aman versi lo, Ren?
“Kalo aku gimana?” lanjut Naya, matanya berbinar usil.
Reno refleks nengok.
“Gimana apanya?”
“Ciuman,” jawab Naya polos.
“Hah? JANGAN!” Reno langsung duduk tegak. “Lo ngapain nanya ginian?!”
Terus—kepalanya muter ke Kenzo.
“LO CIUM ADEK GUE?!”
Kenzo tetap fokus ke jalan.
“Gue jawab pake pilihan ganda apa esai?”
“WOY.” Reno mulai emosi. “Lo cium apa nggak?!”
Kenzo mikir pura-pura lama.
“Hmm… iya.”
“AH BRENGSEK LO—”
Reno langsung geleng-geleng kepala.
“Ish,!” Naya nyelak. “Cium kening doang!”
Reno freeze.
“…Kening?”
Naya ngangguk serius.
“Iya. Tapi aku pengen BIBIR.”
REM MOBIL HAMPIR KEJUT.
“DENGER YA,” Kenzo refleks ngerem dikit. “Jangan ngomong gitu di mobil.”
Reno langsung nunjuk Kenzo.
“AWAS LO. GUE SERIUS.”
“Serius apaan sih,” Kenzo ngelirik santai. “Santai dikit napa. Ini masih zona kening.”
“ZONA KENING KEPALA LO,” Reno kesel. “Naik kelas dikit langsung gue pindahin lo ke zona ICU.”
Naya ketawa ngakak di belakang.
“Lebay banget sih.”
“LEBAY?” Reno nengok. “LO ADEK GUE.”
Kenzo nyengir.
“Tenang. Masih aman. Gue tau batas.”
Reno mendesah.
“Gue tau batas juga. Batas sabar gue tipis.”
Mobil lanjut jalan.
Naya nyengir puas.
“Seru ya pacaran. Banyak yang panik.”
Reno & Kenzo barengan:
“DIEM.”
Naya makin ketawa.
Dan Kenzo—walau pura-pura fokus nyetir—nggak bisa nahan senyum.
...----------------...
...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...
...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...
...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...
...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...
...----------------...