NovelToon NovelToon
A WINTER OF MY HEART

A WINTER OF MY HEART

Status: tamat
Genre:Karir / Angst / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab spesial 6 : Sisa abu jakarta

​Malam itu, listrik di seluruh desa sedang padam. Sebuah pohon kelapa tua di ujung jalan tumbang akibat angin kencang, menimpa tiang penyangga dan memutus sirkuit kehidupan modern kami. Namun bagi kami, kegelapan bukanlah ancaman. Kami justru duduk tenang di beranda, ditemani sebatang lilin yang apinya menari-nari ditiup angin laut, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang meliuk di dinding kayu rumah kami—seperti hantu-hantu masa lalu yang ingin ikut bercakap.

​Di atas meja kayu jati yang kasar, terletak sebuah koper kecil berbahan kulit yang sudah diselimuti debu tipis. Biru membawanya dari Jakarta dengan sisa tenaga terakhirnya dulu, namun selama dua tahun ini, koper itu seolah menjadi artefak tabu. Di dalamnya tersimpan dokumen-dokumen legal pembubaran Laksmana Creative Studio, raksasa industri kreatif yang pernah ia bangun dengan darah, keringat, dan obsesi yang nyaris menghancurkan jiwanya.

​Biru mengeluarkan sebuah plakat penghargaan Photographer of the Year yang kacanya sudah sedikit retak di bagian sudut. Ia mengusap namanya yang terukir di sana dengan ibu jarinya, gerakannya pelan, seolah sedang menyentuh batu nisan.

​"Tadi siang, saat aku ke pasar untuk membeli ikan, ponselku menangkap sinyal yang cukup kuat," ujar Biru memecah keheningan. Suaranya terdengar berat, seolah ada butiran pasir yang mengganjal di tenggorokannya. "Mantan asistenku menelepon. Dia bilang, klien-klien lama dari agensi besar mencariku. Mereka menawarkan satu proyek kampanye global. Nilai kontraknya... Na, nilainya bisa membangun sepuluh rumah seperti ini lengkap dengan seluruh isinya hanya dalam sebulan."

​Aku terdiam seribu bahasa. Tanganku secara naluriah membelai perutku yang kini sudah mulai membuncit—rumah bagi kehidupan baru kami. Ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dadaku. Sebagai seorang wanita yang dulu terbiasa bekerja dengan logika editor yang tajam dan taktis, otakku mulai menghitung secara otomatis. Uang sebanyak itu bisa menjamin pendidikan anak kami hingga ke luar negeri. Uang sebanyak itu bisa memberikan Biru peralatan kamera tercanggih yang selama ini ia idamkan namun ia tunda demi membeli kayu-kayu untuk memperkokoh rumah ini.

​"Lalu, apa jawabanmu?" tanyaku pelan, mencoba sekuat tenaga menyembunyikan getaran di suaraku yang mulai goyah oleh keraguan.

​Biru menatap plakat itu cukup lama, lalu beralih menatapku. Cahaya lilin memantul di matanya, memperlihatkan pergolakan batin antara tanggung jawab seorang calon ayah dan idealisme seorang manusia merdeka.

​"Dia bilang mereka merindukan 'sentuhan emas' Biru Laksmana Langit. Mereka bilang dunia kreatif di sana sedang membosankan tanpa visiku," ia terdiam sejenak, lalu tertawa kecil, namun tawa itu terdengar begitu pahit di telingaku. "Tapi mereka tidak tahu, Na. Di sana, aku hanyalah sebuah mesin yang dipoles. Aku memotret produk yang tidak pernah kubutuhkan untuk memuaskan orang-orang yang bahkan tidak kukenal, hanya demi validasi di atas papan reklame raksasa. Di sini... aku memotret Pak Darma yang bangga dengan hasil lautnya. Aku memotretmu yang sedang bergelut dengan kata-kata di depan jendela. Di sini, objekku punya jiwa, bukan sekadar harga."

​Aku bangkit dari kursi, mendekatinya, dan duduk di lantai di sampingnya, membiarkan kain dasterku menyentuh debu beranda. Aku mengambil plakat kaca itu dari tangannya. Sebagai mantan editor senior, aku tahu kapan sebuah narasi harus mencapai titik dan kapan ia harus memulai bab baru tanpa harus menoleh ke belakang.

​"Biru," kataku sambil menatap matanya dalam-dalam, mencoba menyalurkan seluruh kekuatanku. "Kamu tidak berutang apa pun pada Jakarta. Perusahaan itu sudah selesai. Nama besar itu adalah beban yang sengaja kamu titipkan di dermaga lama agar kamu bisa berenang sampai ke sini. Jika kamu kembali ke sana hanya karena rasa takut akan masa depan anak kita, maka kita akan kehilangan hal paling berharga yang kita miliki di sini: kemerdekaanmu. Dan aku tidak ingin anak kita tumbuh melihat ayahnya sebagai orang asing yang terpenjara oleh angka."

​Biru menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa syukur yang mendalam dan kelegaan yang luar biasa, seolah aku baru saja membukakan pintu sel yang ia kunci sendiri. Ia menarik napas panjang, sebuah helaan napas yang melepaskan beban berton-ton dari pundaknya.

​"Kamu benar, Aruna," bisiknya parau. "Fajar yang kucari selama ini bukan ada di bawah sorot lampu studio atau di halaman depan majalah fashion. Fajar itu ada pada dirimu—sosok yang menghangatkanku saat aku hampir mati kedinginan oleh egoku sendiri."

​Malam itu, di bawah gelapnya desa yang hanya diterangi bintang, kami membawa koper itu ke halaman belakang. Biru menyalakan perapian kecil tempat kami biasanya membakar sampah daun kering. Satu per satu, dokumen bertanda tangan notaris, kartu nama berlapis emas yang mengkilap, hingga sertifikat aset yang sudah ia cairkan, ia lemparkan ke dalam api.

​Api menjilat kertas-kertas mahal itu dengan rakus, mengubah angka-angka miliaran menjadi abu abu-abu yang ringan dan rapuh. Plakat penghargaan itu ia letakkan di pinggir perapian, membiarkan kacanya menghitam dan retak oleh panas, melepaskan gelar yang pernah membuatnya merasa setinggi langit namun sebenarnya sangat kesepian.

​Abu itu terbang tertiup angin laut, menghilang ke dalam kegelapan samudera, kembali ke ketiadaan dari mana ia berasal.

​"Sekarang, tidak ada lagi Laksmana yang terikat gedung pencakar langit," katanya sambil merangkulku dari belakang, menyandarkan dagunya di bahuku sementara kami menatap sisa-sisa api. "Hanya ada Biru yang menjadi milikmu, dan milik desa ini."

​Kami berdiri di sana hingga api mengecil menjadi bara merah yang tenang. Di bawah langit pesisir yang tidak pernah berbohong tentang luasnya, aku tahu bahwa kami telah benar-benar bebas. Masa lalu kami telah menjadi abu, dan dari abu itulah, kami akan membangun fondasi yang jauh lebih kuat untuk putra kami—sebuah rumah yang tidak akan pernah bisa rubuh oleh tawaran materi mana pun.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Wiwik Darwasih
bagus👍
deepey
bikin meleleh..
deepey
salam kenal kk.
Isti Mariella Ahmad: Salam kenal 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!