Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Jarum jam menunjukkan pukul lima sore saat Rengganis melangkah masuk ke dalam rumahnya yang terasa sunyi.
Kelelahan setelah operasi Caesar yang panjang tadi pagi masih membekas di tubuhnya.
Tanpa sempat mengganti pakaian, ia langsung menuju kamar utama dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang masih menyisakan aroma parfum maskulin milik Permadi.
"Aku merindukanmu, Mas," bisiknya pada bantal yang kosong.
Pyar!
Suara benda pecah yang memekakkan telinga mendadak merobek kesunyian.
Rengganis tersentak bangun dengan jantung berdegup kencang.
Ia menoleh ke arah meja nakas dan mendapati foto pernikahan mereka yang berbingkai kaca kristal sudah jatuh hancur di lantai.
Foto itu robek tepat di tengah, memisahkan wajahnya dan wajah Permadi.
"Kenapa perasaanku tidak enak sekali?" gumam Rengganis dengan tangan gemetar.
Ia mencoba menenangkan diri, namun keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
Sebagai seorang dokter, ia biasanya logis, namun nalurinya sebagai istri berteriak bahwa ada bahaya yang sedang mengintai suaminya.
Tanpa pikir panjang, Rengganis menyambar tasnya.
"Pak Slamet! Siapkan mobil sekarang! Antar saya ke Yogyakarta!" teriaknya pada supir keluarga yang sedang berjaga.
Ia tidak peduli dengan jarak yang jauh; ia harus menyusul "Rahul"-nya malam ini juga.
Sementara itu, di Yogyakarta, jamuan makan malam formal baru saja dimulai setelah rapat besar berakhir pukul delapan malam.
Permadi duduk di kelilingi oleh klien-klien penting dari Singapura dan Jakarta di restoran mewah hotel miliknya.
Di balik dapur restoran, Laras yang menyamar dengan seragam pelayan memperhatikan dari kejauhan.
Ia memberikan sebuah botol kecil berisi cairan bening kepada seorang pelayan bernama Toni.
"Masukkan ini ke gelas air putih Pak Permadi. Sekarang. Ini uang mukanya, sisanya setelah dia pingsan," bisik Laras dengan mata yang berkilat penuh dendam.
Cairan itu adalah campuran obat tidur dosis tinggi dan obat perangsang yang kuat—sebuah kombinasi mematikan untuk menjerat mangsanya.
Toni, yang tergiur oleh uang besar, membawa nampan berisi gelas tersebut.
Permadi yang merasa tenggorokannya kering setelah presentasi panjang, langsung meminum air putih itu hingga tandas tanpa curiga sedikit pun.
Hanya berselang beberapa menit, pandangan Permadi mulai mengabur.
Kepalanya terasa sangat berat, dan suhu tubuhnya mendadak naik secara tidak wajar.
"Maaf, saya merasa kurang sehat," ucap Permadi terbata-bata kepada para kliennya.
Belum sempat ia berdiri, tubuh kekar itu lunglai dan jatuh pingsan di atas meja.
"Pak Permadi! Pak!" teriak para klien panik.
Laras segera muncul dari balik pilar dengan akting yang sempurna.
"Mohon maaf Bapak-bapak, saya staf hotel di sini. Biar kami yang mengurus Pak Permadi ke kamarnya. Beliau memang sedang kelelahan."
Laras memberi kode keras pada Toni. Dengan bantuan Toni yang memapah tubuh tak berdaya Permadi, mereka membawa Sang CEO menuju lift privat.
Laras tersenyum penuh kemenangan saat pintu lift tertutup.
"Bawa dia ke kamar Presidential Suite-nya," perintah Laras dengan suara parau.
"Malam ini, Rahul tidak akan punya pilihan selain bersamaku, dan Anjali-nya tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di kamar ini."
Di jalanan gelap menuju Yogyakarta, mobil yang membawa Rengganis melaju dengan kecepatan tinggi.
Rengganis terus menatap layar ponselnya, melihat titik GPS di cincin Permadi yang nampak berhenti bergerak di satu titik: kamar hotel.
Di dalam kemewahan Presidential Suite yang remang-remang, Laras bergerak dengan napas memburu.
Ia telah kehilangan seluruh akal sehatnya. Dengan tangan gemetar karena gairah jahat, ia melucuti pakaiannya sendiri hingga tak bersisa, lalu beralih pada tubuh Permadi yang terbaring kaku di atas ranjang.
"Kamu selalu bisa menjaga tubuhmu, Sayang... tetap kokoh dan menggoda," bisik Laras dengan suara serak yang mengerikan.
Ia menyentuh dada bidang Permadi yang naik turun tak beraturan akibat efek obat.
Laras mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibir pria yang sangat ia obsesikan itu dengan penuh kemenangan.
Ia merasa sudah menang. Ia merasa malam ini Permadi akan menjadi miliknya selamanya melalui skandal ini.
Di lobi hotel, pintu otomatis terbuka dengan kasar. Rengganis melangkah masuk dengan aura yang begitu dingin dan mencekam.
Rambutnya sedikit berantakan karena perjalanan jauh, namun matanya berkilat tajam seperti sembilu.
"Di mana kamar suami saya, Permadi Wijaya?!" tanya Rengganis dengan nada yang membuat resepsionis gemetar.
"Ma-maaf Bu, Pak Permadi sedang istirahat dan tidak ingin diganggu—"
"Berikan aku kuncinya! Sekarang! Atau saya hancurkan hotel ini!" bentak Rengganis tanpa kompromi.
Ia menunjukkan identitasnya dan cincin pelacak di jarinya.
Ketegasan seorang putri pemilik rumah sakit dan istri CEO Wijaya Group keluar sepenuhnya.
Setelah menyambar kartu akses cadangan, Rengganis berlari menuju lift privat.
Jantungnya berdegup kencang, firasat buruknya kini berubah menjadi kemarahan yang mendidih.
Brak!
Pintu kamar terbuka dengan satu sentuhan kartu. Pemandangan di depannya membuat darah Rengganis terasa berhenti mengalir.
Di atas ranjang, Laras sedang dalam posisi hendak melakukan hubungan intim di atas tubuh suaminya yang pingsan.
Tanpa suara, tanpa peringatan, Rengganis melesat.
Jrebbb!
Tangan Rengganis menjambak rambut panjang Laras dengan kekuatan penuh, lalu menariknya hingga wanita itu terjerembap jatuh dari atas ranjang.
"Aaaakh!" jerit Laras kesakitan.
Rengganis tidak berhenti. Ia menyeret Laras yang masih dalam keadaan tanpa busana itu menuju pintu depan kamar.
Dengan satu dorongan kuat, ia melemparkan Laras ke koridor hotel yang luas.
"Dasar gila!! Kamu gila, Rengganis!" teriak Laras sambil berusaha menutupi tubuhnya dengan tangannya yang gemetar.
"Iya, aku gila! Tapi kamu jauh lebih rendah dari binatang!" balas Rengganis dengan suara menggelegar yang mengguncang lorong hotel.
"Apa yang kamu lakukan pada suamiku?! Kamu tidak malu melakukan hal serendah ini?!"
Keributan itu seketika memancing perhatian. Para tamu dari kamar lain membuka pintu, dan para staf hotel berlarian menuju koridor.
Mereka semua terperangah melihat sosok Laras yang berdiri telanjang bulat di depan umum dengan wajah yang hancur karena malu. Kamera ponsel mulai menyala dari berbagai arah.
Petugas keamanan hotel akhirnya datang mengepung Laras.
Rengganis, meski dalam kemarahan luar biasa, tetap memiliki sisi kemanusiaan sebagai dokter.
Ia menyambar selimut tebal dari dalam kamar dan melemparkannya tepat ke wajah Laras yang sedang menangis histeris.
"Amankan wanita ini! Panggil polisi sekarang juga! Dia mencoba melakukan pemerkosaan berencana dan memberikan zat berbahaya pada suami saya!" perintah Rengganis pada petugas keamanan.
Laras digelandang pergi dengan selimut yang melilit tubuhnya, diiringi cacian dan tatapan jijik dari para pengunjung hotel.
Citranya sebagai wanita terhormat kini hancur lebur secara permanen di depan publik.
Rengganis segera membanting pintu kamar dan menguncinya.
Ia berlari ke arah Permadi yang masih tak sadarkan diri.
Tangisnya pecah saat melihat kondisi suaminya yang nampak tersiksa dalam tidurnya.
"Mas... bangun, Mas... ini aku, Anjali," bisiknya sambil mendekap kepala Permadi, berusaha sekuat tenaga menyelamatkan belahan jiwanya dari pengaruh obat jahat itu.
Setelah badai amarah di koridor mereda, Rengganis segera beralih ke mode profesionalnya sebagai dokter.
Ia tidak punya waktu untuk menangis lebih lama. Dengan tangan yang sudah terlatih, ia membuka tas medis darurat yang selalu ia bawa di mobil—sebuah kebiasaan yang kali ini terbukti menjadi penyelamat.
Rengganis memeriksa denyut nadi dan reaksi pupil mata Permadi.
Napas suaminya terasa berat dan tidak teratur; efek ganda dari obat tidur dan stimulan itu menciptakan kekacauan pada sistem saraf Permadi.
"Sabar ya, Mas. Aku di sini," bisiknya dengan suara bergetar namun tangan tetap stabil.
Dengan cekatan, Rengganis menyiapkan cairan elektrolit dan obat penetral racun.
Ia mencari vena di pergelangan tangan kekar Permadi, lalu dengan satu tusukan presisi, ia memasang selang infus.
Tetesan cairan itu mulai mengalir, masuk ke dalam aliran darah Permadi untuk membasuh zat-zat berbahaya yang sengaja dimasukkan oleh Laras.
Setelah memastikan aliran infus lancar, Rengganis menarik kursi ke samping ranjang.
Ia menyeka keringat dingin di dahi Permadi menggunakan handuk kecil yang dibasahi air hangat.
Suasana kamar Presidential Suite yang mewah itu kini berubah sunyi, hanya menyisakan suara detik jam dan bunyi tetesan infus yang teratur.
Rengganis duduk terdiam, menggenggam tangan kiri Permadi—tangan yang masih melingkar cincin GPS yang menjadi saksi bisu perjuangannya menyusul ke Yogyakarta.
Ia menatap wajah suaminya yang nampak sangat lelah dalam tidurnya.
Ada rasa syukur yang mendalam karena firasatnya tadi sore menuntunnya tepat pada waktunya.
Jika ia terlambat sepuluh menit saja, ia mungkin akan kehilangan kehormatan suaminya selamanya.
Malam itu, di kota Yogyakarta yang tenang, Rengganis tidak tertidur sedikit pun.
Aia duduk terjaga, menjaga setiap embusan napas suaminya, menunggu hingga Sang "Rahul" membuka mata dan menyadari bahwa "Anjali"-nya telah datang menyelamatkannya dari kegelapan.
Ku awali hariku dengan mendoakanmu
Agar kau selalu sehat dan bahagia di sana
Sebelum kau melupakanku lebih jauh
Sebelum kau meninggalkanku lebih jauh