(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)
Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.
Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar Gelap Benua Tengah
Pasar Gelap di Kekaisaran Pusat tidak bersembunyi di selokan atau gudang bau. Di sini, kekuasaan dan kekayaan adalah hukum mutlak. Pasar Gelap terletak di sebuah pulau terapung buatan yang melayang terbalik di bawah kota utama, disebut "Kota Terbalik".
Pemandangan di bawah sana membuat Long Tian menahan napas.
Bangunan terbuat dari tulang monster laut raksasa, diterangi oleh lampu-lampu kristal ungu. Jalanan dipenuhi oleh kultivator tingkat tinggi. Di sini, Ranah Pondasi hanyalah pelayan, dan Inti Emas berjalan bebas seperti warga biasa.
"Jangan menatap mata siapa pun, Hei Long," bisik Han Luo. "Di sini, tatapan mata bisa dianggap tantangan duel."
Mereka berjalan menuju bangunan paling mencolok: Menara Seribu Mata. Pusat intelijen terbesar di benua.
Penjaga pintu adalah dua Golem Perunggu setinggi lima meter.
"Biaya masuk: 100 Batu Roh Murni," suara Golem itu berat.
Han Luo membayar tanpa kedip.
Di dalam, suasana hening dan dingin. Ratusan loket informasi berjejer, masing-masing dijaga oleh petugas bertopeng.
Han Luo memilih loket VIP.
"Saya ingin membeli informasi tentang Artefak Terkutuk yang baru masuk ke kota ini dalam tiga bulan terakhir," kata Han Luo, meletakkan kantong berisi 500 Batu Roh Murni.
Petugas bertopeng itu menghitung uangnya dengan cepat.
"Spesifik?"
"Pedang. Warna merah darah. Haus akan nyawa."
Petugas itu berhenti bergerak. Dia menatap Han Luo dari balik topengnya.
"Informasi itu Level A. Harganya 5.000 Batu Roh Murni."
Han Luo tidak menawar. Dia mengeluarkan 5.000 lagi. Uang hasil monopoli laut selatan sangat berguna sekarang.
Petugas itu memberikan sebuah gulungan giok hitam.
"Hati-hati, Tuan. Benda yang Anda cari ada di tangan Jenderal Wu 'Pedang Gila'. Dia adalah Panglima Perang Kekaisaran Pusat Wilayah Selatan. Tingkat kultivasi: Jiwa Baru Lahir Tingkat Menengah."
Han Luo mengambil gulungan itu dengan tenang, tapi hatinya bergejolak.
Jiwa Baru Lahir Menengah.
Itu tingkat besar di atas Han Luo saat ini.
"Terima kasih."
Saat Han Luo berbalik hendak pergi, petugas itu menambahkan.
"Satu hal lagi. Jenderal Wu sedang mencari 'Potongan Lain' dari pedang itu. Dia memasang hadiah 1 Juta Batu Roh bagi siapa saja yang membawa informasi tentang gagang atau ujung pedang itu."
Han Luo mengangguk pelan. "Informasi yang berguna."
Mereka keluar dari menara.
"Tuan," bisik Long Tian tegang. "Jenderal Perang? Kita akan merampok Jenderal Perang?"
"Bukan merampok, Hei Long. Kita akan... mengambil alih kepemilikan saat dia lengah," jawab Han Luo. "Tapi tidak sekarang. Dia terlalu kuat. Kita butuh dia terluka atau teralihkan."
Tiba-tiba, jalanan utama Kota Terbalik menjadi ribut. Orang-orang menyingkir ke pinggir jalan, menunduk hormat.
"Minggir! Jenderal Wu lewat!"
Han Luo dan Long Tian segera membaur dengan kerumunan.
Sebuah kereta perang yang ditarik oleh empat Naga Tanah lewat dengan gemuruh.
Di atas kereta, duduk seorang pria raksasa dengan zirah hitam penuh duri. Wajahnya penuh bekas luka, matanya merah menyala karena Qi Pembunuh yang meluap-luap.
Dan di punggungnya... terikat sebuah pedang besar yang dibungkus kain mantra.
DUM... DUM...
Gagang Pedang Darah Han Luo bergetar gila-gilaan, berteriak memanggil saudaranya.
Dan di punggung Jenderal Wu, pedang itu juga bergetar.
Jenderal Wu tiba-tiba berdiri. Matanya yang merah menyapu kerumunan dengan tajam.
"Ada bau darah yang familiar..." suaranya menggelegar seperti petir.
Han Luo segera menekannya dengan Sutra Hati Es Abadi, membekukan aura pedangnya sendiri hingga nol mutlak.
Jenderal Wu menatap tepat ke arah kerumunan tempat Han Luo berdiri. Tekanan spiritual Jiwa Baru Lahir menekan turun, membuat orang-orang di sekitar Han Luo muntah darah dan pingsan.
Long Tian gemetar, lututnya hampir menekuk, tapi dia menahannya dengan kekuatan fisik murninya.
Han Luo (Tuan Mo) berdiri santai, seolah tidak merasakan apa-apa (berkat Raja Ulat Sutra yang memakan tekanan mental itu).
Jenderal Wu menatap topeng emas Han Luo selama lima detik yang terasa seperti lima tahun.
"Hmph. Tikus kecil yang menarik," dengus Jenderal Wu. Dia kehilangan jejak resonansi itu setelah Han Luo membekukannya. "Jalan!"
Kereta perang itu berlalu.
Han Luo menghembuskan napas panjang yang dia tahan.
"Itu dekat," kata Long Tian, menyeka darah di sudut bibirnya.
"Dia punya Bilah Tengah," analisis Han Luo. "Bagian terpenting untuk menyambungkan gagang dan ujung. Jika aku mendapatkan itu, Pedang Teratai Darah akan berevolusi menjadi Artefak Tingkat Surga."
Tapi Jenderal Wu adalah monster.
"Kita butuh rencana, Hei Long. Turnamen Raja Laut... Jenderal Wu pasti akan menontonnya. Itu panggung kita."
Han Luo melihat ke arah poster turnamen di dinding.
"Kita harus masuk ke final. Dan kita harus membuat Jenderal Wu tertarik pada kita... sebagai aset, bukan sebagai musuh, sampai kita cukup dekat untuk menusuknya."
Mereka kembali ke permukaan.
Di penginapan, Han Luo membuka gulungan informasi lain yang dia beli (tentang peserta turnamen).
Daftar Unggulan:
Pangeran Hiu Biru (Laut Timur) - Inti Emas Menengah.
Putri Naga (Klan Naga Laut) - Inti Emas Akhir.
Biksu Gila (Sekte Vajra) - Inti Emas Puncak.
"Kompetisi yang berat," gumam Han Luo.
Tiba-tiba, Xiao Ling mengetuk pintu.
"Tuan! Ada tamu!"
"Siapa?"
"Seorang wanita. Dia bilang dia dari Sekte Langit Suci."
Han Luo dan Long Tian saling pandang. Apakah penyamaran mereka terbongkar?
Pintu terbuka.
Bukan pasukan penegak hukum yang masuk.
Melainkan seorang wanita muda dengan tudung putih. Dia membuka tudungnya.
Wajahnya cantik, suci, namun matanya memancarkan kelicikan yang familiar.
Su Qingxue.
Dia tersenyum manis.
"Halo, Rekan. Aku dengar kau mendaftar turnamen. Butuh Pendukung?"
Han Luo tertawa di balik topengnya.
"Kau lolos dari kejaran nenek tua itu?"
"Tentu saja. Aku punya banyak trik. Dan... aku butuh bantuanmu lagi."
"Bantuan apa?"
"Jenderal Wu," kata Su Qingxue, duduk di kursi tanpa dipersilakan. "Dia baru saja membeli Mata Iblis Es dari pasar gelap yang dicuri dari sekteku. Bagaimana kalau kita bekerja sama lagi?"
Han Luo menatap wanita berbahaya ini.
"Kau benar-benar tidak kapok, ya?"
"Sama sepertimu."
Tim Aliansi Gerhana + Putri Iblis berkumpul kembali di jantung musuh. Target mereka kali ini: Jenderal Perang Kekaisaran.
"Baiklah. Selamat datang kembali di kapal, Nona Suci."
tpi gw demen....