NovelToon NovelToon
My Kaisar

My Kaisar

Status: tamat
Genre:Romantis / Percintaan Konglomerat / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

Enam bulan setelah pesta pernikahan yang menggemparkan negeri, kehidupan Freya kembali ke realitas—setidaknya realitas versinya. Sebagai mahasiswi tingkat akhir di Fakultas Seni Rupa, ia tidak bisa selamanya bersembunyi di balik tembok istana yang nyaman. Kini, ia sudah memasuki Semester 6, dan itu artinya satu hal yang paling ditakuti oleh seluruh protokoler kerajaan: Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Di ruang makan pribadi, suasana pagi yang tenang mendadak riuh. Freya sedang mengepak tas gunung berukuran besar, sementara beberapa asisten rumah tangga istana tampak bingung melihat sang Permaisuri Muda sibuk memasukkan sepatu boots penuh lumpur ke dalam tas bermerek.

"Kai, pokoknya aku berangkat besok! Lokasinya di Desa Sukamaju. Itu di pelosok, sinyalnya susah, dan aku bakal tinggal di rumah warga bareng temen-temen sekelompok," ujar Freya antusias sambil mencoba menutup ritsleting tasnya.

Kaisar yang sedang menyesap kopi hitamnya hampir saja tersedak. Ia meletakkan cangkirnya dengan perlahan, namun matanya memancarkan kilat keberatan yang nyata.

"Pelosok? Tanpa sinyal? Dan tinggal di rumah warga bersama laki-laki lain dalam satu kelompok?" tanya Kaisar, suaranya rendah dan penuh penekanan. "Freya, aku bisa meminta rektor untuk memindahkan lokasimu ke area yang lebih... terjangkau. Atau setidaknya, kamu bisa pulang-pergi menggunakan helikopter."

"Kai! Namanya juga KKN, bukan glamping!" protes Freya. "Aku mau ngerasain jadi mahasiswi normal. Lagian aku mau ngajar melukis buat anak-anak desa di sana."

Ethan, yang kebetulan lewat sambil mengunyah apel, langsung tertawa terpingkal-pingkal begitu mendengar perdebatan itu. Ia bersandar di pintu sambil menatap Freya dengan pandangan meremehkan yang jenaka.

"Hahahaha! Kak Freya mau KKN? Di pelosok?!" Ethan memegang perutnya. "Aduh, gue nggak bisa bayangin. Kak Kaisar pasti bakal pasang satelit pribadi di atas desa itu cuma buat mantau lo. Terus apa? Lo mau mandi di sungai bareng warga? Emangnya kulit ningrat lo nggak bakal gatal-gatal kena air kali?"

"Ethan, diem nggak! Gue ini tangguh ya, nggak manja kayak lo!" semprot Freya.

"Tangguh apanya? Paling baru dua hari di sana, lo udah nangis-nangis telepon Kak Kai minta dijemput karena kangen kasur empuk," ledek Ethan lagi. "Terus nih, bayangin muka cowok-cowok sekelompok lo pas tahu kalau temen KKN mereka itu calon Ratu Welas. Bukannya ngerjain proker, mereka malah bakal sujud tiap pagi!"

"Gue bakal nyamar, Ethan! Nggak ada yang boleh tahu siapa gue di sana," sahut Freya mantap.

Di tengah perdebatan itu, Putri Sherena masuk ke ruangan. Berbeda dengan enam bulan lalu, kali ini tidak ada lagi tatapan sinis atau bibir yang mencibir. Sejak kejadian penculikan itu, Sherena merasa sangat berutang budi dan perlahan mulai mengagumi keberanian Freya.

Sherena mendekati Freya, lalu menyodorkan sebuah kotak kecil berisi berbagai macam botol skincare dan obat-obatan pribadi.

"Nih, bawa ini," ujar Sherena sedikit canggung. "Itu ada krim anti-nyamuk khusus, sabun antiseptik, sama vitamin. Di desa itu pasti banyak serangga. Aku nggak mau pas kamu pulang, muka kamu bentol-bentol terus Kak Kaisar nyalahin aku karena nggak jagain kamu."

Freya tertegun, lalu tersenyum lebar. Ia memeluk Sherena dengan gemas. "Makasih ya, Sher! Ternyata lo perhatian juga sama gue."

Sherena memutar bola matanya, wajahnya memerah. "Dih, lepasin! Geli tahu! Aku cuma nggak mau reputasi kecantikan keluarga kita turun gara-gara kamu kucel pas pulang KKN."

Meskipun bicaranya tetap ketus, semua orang di ruangan itu tahu bahwa Sherena sudah benar-benar menerima Freya sebagai bagian dari keluarga.

Malam harinya, di kamar mereka, Kaisar masih tampak gelisah. Ia memperhatikan Freya yang sibuk mengecek palet catnya. Kaisar mendekat dan memeluk Freya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu istrinya.

"Kamu benar-benar harus pergi?" bisik Kaisar.

"Cuma 40 hari, Kai. Nggak lama kok," jawab Freya lembut, membelai tangan Kaisar yang melingkar di perutnya.

Kaisar membalikkan tubuh Freya agar menghadapnya. "Aku punya syarat. Dan kali ini, kamu tidak boleh membantah."

"Apa lagi, Pangeran Posesif?"

"Pertama, kamu harus membawa ponsel satelit yang sudah aku siapkan. Tidak ada alasan 'tidak ada sinyal'. Kedua, dua orang tim keamanan intelijen akan menyamar sebagai warga lokal di desa itu. Mereka tidak akan mengganggumu, mereka hanya memastikan tidak ada 'Kholid' lain di sana."

Freya hendak protes, namun Kaisar meletakkan jari telunjuknya di bibir Freya.

"Dan yang ketiga..." Kaisar merendahkan suaranya, matanya menatap tajam namun penuh kerinduan yang prematur. "Setiap Sabtu malam, aku yang akan datang ke sana. Secara rahasia. Aku tidak peduli jika harus menempuh perjalanan darat sepuluh jam atau hutan belantara. Aku tidak bisa tidur tanpamu selama 40 hari."

Freya tertawa kecil, melingkarkan tangannya di leher Kaisar. "Kai, kamu ini lebay banget sih. Tapi... oke deh. Sabtu malam aku tunggu di balai desa, ya?"

Keesokan paginya, sebuah bus kampus tua berhenti di gerbang belakang istana (agar tidak mencolok). Teman-teman sekelompok Freya—yang hanya tahu Freya adalah anak orang kaya yang tinggal di perumahan elit—sudah melambai-lambai.

"Woy, Freya! Cepetan!" teriak salah satu teman cowoknya, Bimo, dari jendela bus.

Kaisar berdiri di balik bayangan pilar istana, mengenakan kacamata hitam, menatap Bimo dengan pandangan yang seolah ingin mengirim pria itu ke pengasingan saat itu juga.

"Inget, Kai. Jangan pasang muka galak gitu!" bisik Freya sebelum berlari menuju bus.

"Hati-hati, Kak Freya! Jangan sampe jatuh ke sumur warga ya!" teriak Ethan dari balkon, masih sempat-sempatnya meledek. Sementara Sherena hanya melambaikan tangan kecil dengan gengsi yang masih tinggi.

Saat bus mulai melaju, Freya duduk di kursi paling belakang. Ia melihat sosok Kaisar yang terus menatap busnya sampai hilang di tikungan. Ia tersenyum, menyentuh cincin pernikahannya yang ia tutup dengan plester agar tidak mencolok.

Petualangan baru dimulai. KKN di desa terpencil tanpa fasilitas istana? Bagi Freya, ini adalah kanvas baru yang siap ia warnai. Namun, ia tidak tahu bahwa di belakang busnya, sebuah mobil hitam biasa yang berisi tim keamanan terbaik kerajaan diam-diam mengikuti, memastikan bahwa Sang Permaisuri tetap aman dalam pelukannya—meski dari jauh.

"Desa Sukamaju, siap-siap ya! Freya Welas datang!" seru Freya dalam hati, penuh semangat.

1
Nita Aprika Nita
🤣🤣
Nita Aprika Nita
Ya Allah.. karya mu bagus banget kak.. tapi kok sepi yang baca dan like y..
Nadhira Ramadhani: bantu kasih bintang 5 dong kak🤣
total 1 replies
Thata Ayu Lestary
bagusss bgttt karya nya kak , besttttt
Nadhira Ramadhani: baca ceritaku juga yang lain kak 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!