Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 01
Hari itu hujan turun tanpa peringatan, begitu Kayvaran Cano Xavier dan Spencer Carmichael Gustavo menginjakkan kaki di salah satu kota kecil di Negara B. Sebuah restaurant klasik sederhana di sudut kota menjadi tempat berteduh. Bangunan itu penuh cahaya kuning dan aroma kopi dan kue yang baru matang. Mereka masuk tidak untuk sekadar menunggu hujan reda, tetapi juga mengisi perut yang mulai mengadakan konser di dalam sana.
Dan di sanalah waktu seakan berhenti. Perempuan itu berdiri di tengah ruangan, berdiri mematung menatap dua siluet mulai mendekat kearahnya. Tangannya gemetar. Dia tidak mengatakan apapun, namun dia tahu. Ada kehadiran yang terlalu dikenalnya. Terlalu lama dia simpan dalam sunyi.
Kay melangkah masuk, lalu membeku. Dadanya terasa sesak tanpa alasan. Napasnya tertahan. Pandangannya terkunci pada sosok perempuan itu, yang masih mematung menatap kehadirannya di sana. Tatapan mereka akhirnya bertemu. Tidak ada nama. Tidak ada kenangan. Namun ada yang kuat, menghantam, memecah keseimbangan yang selama ini dia kenal.
“Kita…” Kay berhenti tepat dihadapan perempuan itu, menelan ludah. “Apakah kita pernah bertemu?”
Perempuan itu tersenyum. Senyum yang terlalu tenang untuk sesuatu yang sedang runtuh di dalam dadanya.
“Tidak,” jawabnya pelan. Satu kata. Satu kebohongan yang menyelamatkan dan menghancurkan sekaligus.
Di belakangnya, Spencer sudah mulai memucat. Dia mengenali perempuan itu dalam sekejap bahkan lebih cepat daripada ingatan mana pun. Lorong cahaya itu. Perpisahan yang tak pernah dia lihat, namun dia pahami sepenuhnya kini. Rahasia yang dia kubur… berdiri tepat di depannya.
“Dia siapa? Kau seperti mengenalnya?” tanya Kay pada sahabatnya, begitu menyadari keterkejutan di wajah Spencer.
Spencer ingin membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Hujan di luar semakin deras, seolah dunia menahan napas bersama mereka. “Tidak! Aku tidak mengenalnya,” katanya akhirnya. Dan pada detik itu, dia tahu pertemanan mereka baru saja memasuki batas yang tak bisa ditarik kembali.
Mendengar jawaban Spencer, Perempuan itu melangkah pergi lebih dulu. Setiap langkahnya terasa seperti mengulang perpisahan lama, tapi kali ini dengan mata terbuka. “Dia benar-benar melupakan tentangku.” Gumamnya lirih.
Kay menatap punggungnya menjauh, dadanya bergetar oleh sesuatu yang tak bernama. “Kenapa rasanya,” gumamnya pelan, “seperti aku baru saja kehilangan sesuatu… lagi?”
Spencer masih diam ditempatnya. Padahal dia sudah menghindari Negara X, terutama Kota Xennor agar dia maupun Kay tidak bertemu lagi dengan orang-orang yang terlibat dalam kejadian waktu itu. Namun, siapa sangka mereka malah dipertemukan kembali dengan perempuan itu—Clauretta Axyln, wanita yang sempat dekat dengan Kay kala itu.
Namun, sepertinya keberuntungan masih berpihak padanya. Axlyn memilih diam, tak mengatakan yang sebenarnya bahkan menegaskan bahwa mereka tidak pernah saling kenal sebelumnya. Kay sendiri tidak mengingat apapun lagi tentang wanita itu, meski perasaannya mengatakan bahwa mereka bukan orang asing.
Pertemuan kembali yang tak terduga itu, kini kembali berakhir dengan perpisahan. Axlyn memilih untuk berbohong, Spencer yang memilih untuk diam dan Kay yang hanya bisa merasakan kembali kekosongan dihatinya. Pada akhirnya musuh menjadi sahabat baik, orang yang pernah sangat berarti menjadi orang yang terlupakan. Memilih jalan yang berbeda, berharap bisa menemukan kebahagiaan masing-masing.
Setelah Axlyn mengetahui segalanya tentang Kay, rupanya takdir tidak mengijinkan mereka untuk bersatu. Kay belum menikah, Axel bukan anaknya melainkan adik kandung. Spencer bukan musuhnya, tetapi saudara jauhnya. Sedangkan dia, bukan siapapun dalam hidup Kay bahkan kini menjadi sosok yang telah terlupakan begitu saja.
Derasnya air hujan kala itu, seolah menjadi penghibur bagi Axlyn yang membantunya menutupi suara tangis yang menyesakkan. Pertemuannya kembali dengan Kay, ternyata tidak berarti apapun. Cintanya tidak akan pernah sampai pada pria tersebut. Namun setidaknya, dia bisa melepaskan sedikit kerinduannya saat menatap wajah tampan itu.
“Kay, apakah aku selamanya tidak akan bisa mengatakan kepadamu bahwa aku … telah jatuh cinta sepenuhnya padamu,” ucap Axlyn lirih.
Kay sendiri merasa ada sesuatu yang salah. Dia ingin mengejar perempuan itu, tapi logikanya seolah menahannya untuk melakukan itu. Ditambah jawaban darinya yang menyatakan dengan tegas bahwa mereka tidak saling mengenalnya membuatnya hanya bisa termenung dengan perasaan yang hampa.
“Apa yang sebenarnya terjadi denganku? Kenapa rasanya … aku ingin sekali mengejar wanita itu? Benarkah aku tidak mengenal? Bahkan Spencer pun mulai bersikap aneh setelah bertemu dengan wanita itu.” Mulai muncul berbagai pertanyaan di dalam hati Kay.
Dihadapannya terlihat Spencer yang tampak melamun. Entah apa yang dipikirkan sahabatnya itu, tapi suara hujan saat itu seolah menyembunyikan banyak rahasia diantara mereka. Rahasia yang mungkin akan terkuak begitu hujan mereda.
“Apakah semua akan kembali seperti dulu? Kami akan kembali menjadi musuh, setelah Kay mengingat semuanya?” Spencer tidak menginginkan hal itu, tapi dia tidak bisa mengatur segala sesuatunya sesuai dengan keinginannya.
Pertemuan kembali itu yang berisi kesunyian, dengan riuhnya pemikiran, ketakutan dan rahasia masing-masing. Namun itu bukan pertemuan pertama kembali keduanya setelah 5 Tahun berlalu. Ini pertemuan kembali yang kedua bagi Axlyn dan Kay, karena sebelumnya mereka bahkan saling menyalurkan rasa rindu hingga di dalam perut Axlyn tengah tumbuh bibit kembar dari cinta masa lalunya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Pertemuan kedua Axlyn dengan Kay, setelah lima tahun lamanya menjadi sosok yang terlupakan. Kini membuatnya kembali teringat dengan pertemuan kembali yang pertama yang terjadi Dua bulan yang lalu.
Bersambung ….
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..
𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌